Tiga hari kemudian, ruang sidang yang sama dipenuhi orang yang berbeda. Kali ini ada diplomat asing di barisan pengamat, perwakilan lembaga antikorupsi internasional, dan deretan kursi yang dikhususkan untuk korban — Bu Sumarni di antaranya, mengenakan kebaya terbaiknya seolah hendak ke pesta atau ke pemakaman, ia sendiri tak yakin yang mana.
Wirananta masuk dengan cara yang sama sekali berbeda dari Salim.
Pria itu berjalan tegak meski tangannya diborgol. Rambutnya dipotong rapi, wajahnya dicukur bersih, ekspresinya tenang seperti seorang direktur yang hendak memimpin rapat pemegang saham. Setelah berbulan-bulan dalam pelarian di negara tanpa perjanjian ekstradisi, lalu dipulangkan dengan borgol setelah aset-asetnya dibekukan bank-bank internasional, ia masih membawa udara seseorang yang mengira dunia berputar mengikuti perintahnya.
Damar menatapnya untuk pertama kalinya secara langsung. Selama ini Wirananta hanya nama. "Pak W" di email. Foto di majalah ekonomi. Sosok yang ia kejar lewat angka, dokumen, dan rekaman selama berbulan-bulan tanpa pernah benar-benar bertatap muka. Kini ia di sana, dalam jarak lima belas meter, dan Damar terkejut betapa biasa-biasa saja penampilannya. Bukan monster. Hanya seorang pria tua yang sangat rapi.
Hakim Wijoyo mengetuk palu. Pembacaan putusan dimulai.
Ini berlangsung lebih lama dari sidang Salim. Hampir empat jam. Hakim membentangkan seluruh anatomi kejahatan: skema Ponzi yang menyamar sebagai PT Cakrawala Energi Nusantara; pendapatan yang dipalsukan dari delapan puluh miliar menjadi satu koma dua triliun dalam satu kuartal; tujuh pelanggan industri fiktif; enam anak perusahaan yang memutar uang dalam lingkaran setan; setoran investor baru yang dipakai membayar investor lama dan dividen; kapitalisasi pasar dua belas triliun yang sepenuhnya kosong. Lalu lapisan di atasnya: rekening cangkang di tiga yurisdiksi, fee miliaran ke sekuritas, daftar pejabat pemegang saham, dan jejak dana yang mengalir ke anggota dewan.
Dan di puncaknya, dua kematian. Gunawan. Sumber kedua Arini. Keduanya dengan persetujuan "Pak W".
"Terdakwa," Hakim Wijoyo membaca, "dalam pembelaannya berusaha menyatakan diri sebagai korban kriminalisasi, dan melempar seluruh tanggung jawab kepada bawahan. Namun majelis menimbang bukti tertulis yang berulang kali menunjukkan frasa 'sudah disetujui Pak W', tanda tangan terdakwa pada dokumen pemindahan dana, serta rekaman percakapan terdakwa dengan saksi Damar Pradipta yang berisi tawaran penyuapan agar kesaksian ditarik. Bukti-bukti ini saling menguatkan dan tidak terbantahkan."
Wirananta tidak bergerak, tapi rahangnya mengeras sedikit.
"Menimbang," lanjut hakim, "bahwa tidak ditemukan satu pun hal yang meringankan; bahwa terdakwa tidak menunjukkan penyesalan; bahwa terdakwa adalah perancang utama dan penerima manfaat terbesar dari skema yang menghancurkan kehidupan puluhan ribu keluarga; dan bahwa terdakwa menyetujui penghilangan nyawa untuk melindungi skema tersebut—"
Bu Sumarni mencengkeram lengan Damar lagi. Damar menutupkan tangannya di atas tangan perempuan tua itu.
"Mengadili. Menyatakan terdakwa Wirananta terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan penipuan, penggelapan, pencucian uang, manipulasi pasar, serta turut serta dalam pembunuhan berencana. Menjatuhkan pidana penjara dua puluh tahun, denda maksimal, dan—" Hakim Wijoyo mengangkat suaranya agar terdengar di atas dengung ruangan, "memerintahkan seluruh aset terdakwa yang telah disita dan dibekukan, baik di dalam maupun luar negeri, dirampas untuk negara dan dialokasikan bagi pengembalian kerugian para korban."
Ruangan meledak lagi, lebih keras dari sebelumnya. Tapi kali ini ada yang lain. Bu Sumarni menangis. Pak Hartono, yang sepanjang sidang duduk kaku seperti patung, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Wati hanya menatap ke depan, air matanya jatuh tanpa suara, memikirkan ayahnya yang sedang berbaring di rumah dan tidak akan pernah tahu apakah putusan ini mengembalikan separuh tubuhnya.
Wirananta berdiri perlahan saat petugas mendekat. Sebelum digiring, ia menoleh — bukan ke arah hakim, bukan ke arah wartawan, tapi ke arah Damar. Untuk sesaat keduanya bertatapan, melintasi seluruh jarak yang telah mereka tempuh untuk sampai ke ruangan ini.
"Kamu pikir kamu menghancurkanku," kata Wirananta, cukup keras untuk didengar barisan depan. Suaranya tetap tenang, tetap teratur, suara orang yang tak pernah meninggikan nada karena tak pernah perlu. "Aku membangun dua belas triliun dari udara, Mas Damar. Dari kepercayaan orang. Itu tidak bisa dipenjara. Akan selalu ada Cakrawala berikutnya. Selalu ada angka yang terlalu cantik dan orang yang ingin percaya."
Damar berdiri. Ruangan agak menyenyap, ingin mendengar.
"Mungkin, Pak," kata Damar. "Tapi sekarang ada juga orang yang akan memeriksanya. Itu yang berubah. Bukan Anda yang saya kalahkan. Tapi gagasan bahwa Anda tidak bisa disentuh."
Wirananta menatapnya sejenak lagi, lalu sudut bibirnya naik tipis — senyum yang sama yang pernah Damar lihat di foto majalah, senyum yang dulu membuat ribuan orang menyerahkan tabungannya. Lalu petugas menariknya, dan untuk pertama kali sejak ia menemukan angka yang terlalu cantik di lantai dua belas Gedung Mahanusa, Damar menyaksikan otak dari segala yang ia perangi keluar dari ruangan dengan borgol di tangannya.
Pintu menutup. Dan kali ini, tidak ada peringatan yang ditinggalkan di belakangnya. Hanya keheningan, dan tangis Bu Sumarni di sebelahnya, dan beban dua belas triliun yang akhirnya jatuh dari pundak yang salah ke tempat yang seharusnya.