Beberapa hari berlalu, rasa penasaran Alya terhadap Arka makin menjadi-jadi. Setiap kali berpapasan, setiap kali bicara, dia selalu menelaah setiap kata dan sikap Arka. Semakin dilihat, semakin dia sadar: semua ketusannya itu cuma di mulut saja. Sementara perbuatannya? Selalu berbanding terbalik, penuh perhatian dan kebaikan.
Hari itu sore, Alya harus mencari referensi buku langka di perpustakaan umum kota, tempat yang lumayan jauh dari kampus. Karena sibuk dan lupa, dia baru berangkat saat hari mulai gelap. Dia pikir bakal cepat selesai, tapi ternyata dia terjebak di sana sampai jam delapan malam karena terlalu asyik membaca dan mencatat.
Saat keluar dari gedung perpustakaan, Alya menatap jalanan yang sudah mulai sepi. Angin malam berhembus dingin, dan dia sedikit gugup. Biasanya kalau pulang malam ada teman, tapi hari ini dia sendirian. Dia berjalan cepat menuju halte bus yang agak jauh, berharap kendaraan umum lewat sebentar lagi.
Namun, belum sampai ke halte, ada dua orang pemuda berjalan berlawanan arah, lalu sengaja menghalangi jalan Alya. Mereka terlihat mabuk dan bicara dengan nada yang tidak sopan.
"Wah, cantik banget sendirian malam-malam. Mau diantar pulang neng?" kata salah satu sambil tersenyum jahat, makin mendekat.
Jantung Alya berdegup kencang karena takut. Dia mundur selangkah, tangannya gemetar memegang tas erat-erat. "Maaf, saya mau lewat. Minggir ya."
"Halah, jutek banget sih. Santai aja lah..." Pemuda itu malah merentangkan tangan menghalangi jalan, sementara temannya tertawa-tawa. Alya mulai panik, matanya berkeliaran mencari pertolongan tapi jalanan sepi sekali.
Tiba-tiba, ada sosok tinggi besar muncul dari belakang, berdiri tepat di samping Alya, menempatkannya di balik punggung lebar yang kokoh dan terasa sangat aman.
"Minggir."
Satu kata itu keluar dengan nada sangat dingin, berat, dan penuh tekanan yang mengerikan. Itu Arka. Wajahnya biasanya datar, tapi sekarang berubah sangat marah, matanya menatap tajam ke arah dua pemuda itu seolah hendak membunuh. Aura dingin yang biasanya bikin Alya kesal, kali ini justru bikin kedua pemuda itu ciut dan mundur otomatis.
"Kamu... kamu siapa sih? Urus aja diri sendiri!" sahut salah satu pemuda itu, tapi suaranya sudah berkurang nyalinya.
"Aku bilang minggir. Atau mau aku panggilkan satpam dan polisi sekarang juga?" ancam Arka lagi, suaranya rendah tapi menggetarkan. Dia maju selangkah, dan pemuda-pemuda itu akhirnya memilih pergi sambil menggerutu, takut berurusan lebih jauh.
Setelah mereka pergi, suasana hening sejenak. Alya masih diam di belakang punggung Arka, jantungnya masih berdebar kencang, kali ini bukan karena takut, tapi karena rasa aman yang luar biasa yang dia rasakan saat ini.
Arka berbalik cepat, langsung menatap wajah Alya dengan cemas yang sangat nyata di matanya. Wajah dinginnya hilang seketika, diganti raut khawatir yang belum pernah Alya lihat sebelumnya.
"Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka? Kenapa pulang selarut ini sendirian? Kamu nggak tau bahaya di luar sana?!" tanya Arka bertubi-tubi, nada bicaranya tinggi dan sedikit gemetar karena emosi campur takut.
Alya tertegun, menatap wajah Arka lekat-lekat. Di matanya, dia melihat ketakutan yang besar. Arka takut sesuatu terjadi padanya. Arka... yang katanya sombong, yang katanya dingin, yang katanya benci padanya... ternyata mengkhawatirkannya sampai sejauh ini?
"Aku... aku nggak apa-apa, Arka. Makasih..." jawab Alya lirih, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi... kamu kok ada di sini? Kok tau aku di sini?"
Arka terdiam, sadar dia hampir kelepasan bicara. Dia membuang muka sedikit, menghela napas panjang, lalu kembali memasang wajah dinginnya, meski belum sempurna menutupi rasa khawatirnya.
"Kebetulan aku ada urusan di sini. Pas lewat liat kamu. Cuma itu aja," jawabnya singkat, tapi nadanya tak seketus biasanya. "Udah, ayo pulang. Aku anterin."
Dia langsung mengambil tas berat dari tangan Alya tanpa minta izin, lalu berjalan di sisi luar jalan, posisi yang lebih dekat ke bahaya, memosisikan dirinya sebagai pelindung antara Alya dan jalanan.
Sepanjang perjalanan pulang naik motor Arka, Alya memeluk pinggang cowok itu erat sekali. Dia bisa merasakan punggung Arka yang tegap dan hangat. Di perjalanan itu, pikiran Alya berputar kencang.
"Dia bohong. Dia nggak kebetulan ada di sini. Dia pasti ngikutin aku dari kampus tadi. Dia tau aku pergi ke sini. Dia khawatir sama aku. Dia jagain aku diam-diam lagi..."
Saat sampai di depan pagar rumah Alya, sebelum Arka sempat pergi, Alya menahan lengannya.
"Arka... dengerin aku sebentar," pinta Alya lembut.
Arka berhenti, menatapnya, ada rasa gugup yang samar di matanya. "Apa lagi?"
"Kamu bilang kebetulan, tapi aku tau kamu nggak," kata Alya pelan tapi tegas. "Mulai dari jaket waktu hujan, bantuin bawa buku, catatan di buku tugas, sampai sekarang nyelamatin aku... semuanya nggak kebetulan, kan? Kamu yang ngelakuin itu semua, kan?"
Arka diam saja, mulutnya terkunci rapat. Dia menunduk, menghindari tatapan Alya.
"Arka... aku udah salah sangka sama kamu dari awal, ya?" lanjut Alya lagi, suaranya makin lembut dan penuh penyesalan. "Aku kira kamu sombong, aku kira kamu benci aku, aku kira kamu orang yang nggak peduli. Ternyata... ternyata aku yang salah besar, ya? Kamu sebenernya orang paling baik, paling perhatian, dan paling tulus yang pernah aku temui. Cuma... cara kamu nunjukinnya aja yang aneh banget."
Arka mengangkat wajahnya perlahan. Di bawah remang lampu jalan, Alya melihat raut wajah Arka yang campur aduk: malu, takut, dan ada rasa sakit yang samar.
"Aku... emang aneh," jawab Arka pelan, suaranya bergetar sedikit. "Aku nggak pandai ngomong manis. Aku nggak pandai nunjukin rasa. Tiap kali ada di dekat kamu, aku gugup banget, Alya. Aku bingung harus ngomong apa, harus ngapain. Jadinya... jadinya aku malah jadi ketus, malah jadi dingin, padahal sebenernya... sebenernya aku pengen banget deket sama kamu."
Jantung Alya seakan berhenti berdetak sejenak. Kalimat itu... nadanya... tatapannya... semuanya jelas.
"Kenapa..." bisik Alya, matanya mulai basah. "Kenapa kamu nggak pernah bilang? Kenapa kamu sembunyi di balik sikap dingin itu?"
Arka tersenyum pahit, senyum yang sangat sedih. Dia mengusap pelan rambut Alya sekilas, gerakan yang sangat lembut dan penuh rasa sayang.
"Karena aku pikir... kamu benci aku, Alya. Dari hari pertama kita nabrak dan berantem itu, aku pikir kamu nganggep aku musuh. Aku takut kalau aku nunjukin kalau aku peduli, kamu bakal makin jauh. Aku takut dibilang makin aneh. Jadi aku milih... milih jagain kamu diam-diam aja. Biar aku aja yang tau rasanya."
Di malam itu, di depan pagar rumahnya, Alya merasa dunianya berubah total. Semua kepingan teka-teki yang selama ini bikin bingung, akhirnya lengkap sudah. Dia salah sangka besar-besaran soal Arka. Cowok dingin dan menyebalkan yang dia benci itu... ternyata adalah cowok yang diam-diam paling mencintai dan menjaganya lebih dari siapa pun.
Dan di saat itu juga, Alya sadar: rasa benci yang dulu dia simpan sudah hilang lenyap. Digantikan oleh rasa hangat, rasa haru, dan rasa cinta yang tumbuh subur, makin besar dan makin dalam.
"Aku emang salah sangka soal sifatnya... tapi aku beneran jatuh cinta sama dia."