Malam itu, suasana di depan pagar rumah Alya hening dan penuh perasaan. Pengakuan Arka yang tulus dan penuh rasa takut itu masih terngiang jelas di telinga Alya. Jantungnya berdebar kencang, bukan lagi karena takut atau bingung, tapi karena rasa haru dan cinta yang meluap-luap memenuhi dadanya.
Arka masih berdiri di sana, menundukkan wajahnya seolah siap menerima apa pun jawaban atau reaksi dari Alya. Dia sudah kelepasan bicara, sudah membuka semua pertahanan dirinya, dan sekarang dia merasa sangat rentan.
"Maafin aku ya, Alya..." bisik Arka pelan, suaranya terdengar sangat sedih dan pasrah. "Maafin aku kalau selama ini bikin kamu kesal, bikin kamu bingung, atau bikin kamu benci aku. Aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma... aku cuma nggak tau cara lain buat deket sama kamu selain jadi satu kelompok tugas sama kamu."
Dia menghela napas panjang, lalu melanjutkan lagi dengan suara yang makin bergetar.
"Aku suka kamu, Alya. Udah dari pertama kali kita ketemu waktu nabrak-nabrakan itu. Waktu itu aku gugup banget, bingung harus ngomong apa, malah keluar kata-kata yang nyakitin kamu. Sejak hari itu aku nyesel banget, tapi aku makin nggak berani ngomong apa-apa karena aku tau kamu udah benci aku duluan. Aku nunggu, aku jagain kamu diam-diam, aku bantuin kamu diam-diam, cukup buat aku seneng aja liat kamu senyum, walaupun senyum itu bukan buat aku."
Air mata jatuh membasahi pipi Arka, cowok yang selalu terlihat kuat, dingin, dan tak tergoyahkan itu, kini menangis di depan Alya karena rasa cinta dan penyesalannya yang mendalam.
Alya tak kuasa menahan dirinya lagi. Dia melangkah maju, mendekat, lalu tanpa ragu dia memeluk pinggang Arka erat sekali, membenamkan wajahnya di d**a bidang yang selama ini menjadi tempat paling aman baginya.
"Jangan minta maaf..." isak Alya pelan, air matanya juga mengalir deras membasahi baju Arka. "Kamu yang harusnya maafin aku, Arka. Maafin aku karena aku bodoh banget. Maafin aku karena aku menilai kamu cuma dari luar aja. Maafin aku karena aku sempat benci kamu, padahal kamu adalah orang paling baik, paling tulus, dan paling mencintai aku di dunia ini."
Alya mengangkat wajahnya, menatap mata Arka lekat-lekat dengan senyum bahagia di antara air matanya.
"Aku salah sangka banget sama kamu, Arka. Aku kira kamu sombong, aku kira kamu angkuh, aku kira kamu nggak peduli. Ternyata... ternyata aku yang salah besar. Dan sekarang... sekarang aku mau kamu tau satu hal yang paling penting."
Dia mengusap pipi Arka dengan lembut, menghapus air mata cowok itu dengan tangannya sendiri.
"Rasa benci itu udah hilang lama banget. Diganti rasa penasaran, rasa kagum, rasa aman... dan akhirnya jadi rasa cinta. Aku cinta kamu, Arka. Aku jatuh cinta sama kamu, sama semua sifat kamu, sama kebaikan kamu, sama cara kamu mencintai aku diam-diam, dan sama ketus-ketus manja kamu itu. Aku cinta semuanya dari kamu."
Arka terpaku diam, matanya membelalak tak percaya. Dia pikir dia bakal ditolak, dia pikir dia bakal dibilang aneh, dia pikir dia bakal dijauhi. Dia sama sekali tidak pernah berharap kalau perasaannya akan terbalas. Dia pikir dia bakal mencintai Alya sendirian selamanya.
"Ka... kamu serius, Alya?" tanya Arka terbata-bata, suaranya pecah karena terharu dan bahagia yang luar biasa. "Kamu beneran nggak bohong sama aku? Kamu cinta aku juga?"
"Serius banget. Nggak bohong sama sekali," jawab Alya mantap, mengangguk dengan yakin. "Aku emang salah sangka soal sifat kamu... tapi aku beneran jatuh cinta sama kamu. Udah dari dulu, cuma aku sendiri yang nggak sadar gara-gara kebodohan aku sendiri."
Arka tersenyum lebar, senyum paling indah, paling bahagia, dan paling tulus yang pernah Alya lihat seumur hidupnya. Senyum yang menghapus semua kesan dingin dan kaku di wajahnya, membuatnya terlihat begitu muda, begitu bahagia, dan begitu dicintai.
Tanpa ragu lagi, Arka membalas pelukan Alya dengan sangat erat, seakan takut kalau dia melepaskan sedikit saja, Alya akan hilang dari sisinya. Dia memeluknya sekuat tenaga, menanamkan rasa syukur yang tak terhingga ke dalam pelukan itu.
"Makasih ya Tuhan... makasih banget..." bisik Arka di telinga Alya, suaranya penuh rasa haru. "Aku pikir aku cuma bakal jadi cowok aneh yang dicintai sendirian. Ternyata... ternyata aku seberuntung ini ya? Ternyata kamu juga ngerasain hal yang sama."
Malam itu, di bawah remang lampu jalan, dua hati yang tadinya saling salah paham, saling salah sangka, dan saling menebak isi hati, akhirnya bersatu sepenuhnya. Semua dinding tembok dingin yang dibangun Arka runtuh, semua prasangka buruk yang dibangun Alya hilang lenyap.
Kini, yang tersisa hanyalah kebahagiaan yang murni, cinta yang tulus, dan kepastian bahwa mereka berdua adalah takdir satu sama lain.
"Jadi... sekarang kamu mau kan jadi pacar aku, Alya?" tanya Arka pelan, sambil menatap Alya dengan tatapan penuh harap dan malu-malu yang sangat manis. "Aku janji, nggak bakal dingin-dingin lagi sama kamu. Nggak bakal nyembunyiin apa-apa lagi. Aku bakal buktiin kalau aku bisa jadi cowok terbaik buat kamu."
Alya tertawa renyah, tertawa bahagia, lalu mengangguk antusias.
"Mau dong! Mau banget! Dan kamu tau nggak? Arka yang dingin, aneh, dan diam-diam baik itu... justru Arka yang paling aku cintai. Nggak perlu berubah kok. Cukup jadi diri kamu sendiri aja, aku udah sangat bahagia."
Arka tersenyum makin lebar, lalu dengan perlahan dan penuh rasa hormat, dia mengecup kening Alya dengan lembut, sebagai tanda janji setia dan cinta yang abadi.
Mulai malam itu, kisah mereka berubah total. Bukan lagi kisah kesalahpahaman dan prasangka buruk, melainkan kisah cinta yang indah, manis, dan penuh kehangatan. Kisah yang membuktikan: kadang cinta itu datang dari tempat yang tak terduga, dari orang yang awalnya kita benci, dan dimulai dari salah sangka yang ternyata berakhir indah selamanya.