Arden menatap kedua petugas itu, lalu menatap Lingga, lalu menatap tabung-tabung berisi wajahnya sendiri.
Sesuatu di dalam dirinya menolak untuk menyerah. Bukan keberanian. Lebih seperti naluri murni, sesuatu yang mungkin ia warisi bersama setiap sel tubuhnya dari Reza Kastara. Insting orang yang terbiasa tidak punya pilihan selain bertahan.
"Tangkap dia. Jangan lukai. Subjek terlalu berharga," kata Lingga.
Petugas pertama maju.
Arden menyambar selang tebal yang menjuntai dari tabung terdekat dan menariknya sekuat tenaga. Sambungan di atas tabung pecah, dan cairan biru menyembur deras, membanjiri lantai, membuat petugas itu terpeleset. Arden melompati genangan dan menabrak petugas kedua dengan bahunya, mendorongnya ke dinding.
Ia lari ke pintu lain di ujung ruangan, pintu yang bertuliskan TANGGA DARURAT.
"Arden!" Lingga berteriak. Untuk pertama kalinya, suaranya tidak tenang. "Kau tidak mengerti apa yang kau hadapi. Mereka akan mengejarmu sampai ke ujung dunia. Lebih aman di sini bersamaku!"
Arden tidak menjawab. Ia mendorong pintu darurat dan masuk ke ruang tangga beton yang gelap, satu-satunya tempat di gedung ini yang tidak putih sempurna. Ia berlari menuruni anak tangga, dua tiga sekaligus, kaki telanjangnya menderap di beton dingin.
Berapa lantai ia turun, ia tidak tahu. Paru-parunya membakar. Tapi tubuh ini, tubuh yang baru berumur tiga minggu, ternyata kuat. Lebih kuat dari yang ia duga. Setiap otot bergerak seperti telah dilatih bertahun-tahun, padahal ia baru saja belajar berdiri pagi ini.
Di lantai dasar, ada pintu logam dengan palang dorong dan tanda KELUAR berwarna hijau. Ia menghantamnya dengan seluruh tubuh.
Pintu itu terbuka, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang sangat singkat, Arden merasakan udara luar.
Malam. Dingin, tapi dingin yang berbeda, dingin yang hidup, bercampur bau hujan dan aspal dan asap kota. Ia berdiri di gang sempit di belakang gedung. Di atasnya, langit oranye gelap, dipantulkan dari jutaan lampu kota yang ia belum pernah lihat tapi entah bagaimana ia kenali. Di kejauhan, gedung-gedung pencakar langit menjulang dengan papan iklan holografik yang berkedip lembut di permukaannya.
Ia tidak punya waktu untuk mengagumi.
Sirene mulai meraung dari dalam gedung. Arden berlari ke mulut gang, menembus ke jalanan yang lebih ramai. Orang-orang lalu-lalang, sebagian menatapnya aneh, pria bertelanjang kaki dengan baju pasien tipis, basah oleh cairan biru, mata liar. Ia menyelinap di antara mereka, menunduk, mencoba menghilang.
Sebuah layar iklan raksasa di sisi gedung menyala, dan wajah itu muncul lagi.
Reza Kastara.
Tersenyum dari layar setinggi sepuluh meter, di bawah tulisan: HELIX BIOTECH — MASA DEPAN DIMULAI DARI DALAM. Lalu wajah CEO itu berganti ke gambar untaian DNA yang berputar, lalu ke logo perusahaan, lalu kembali ke senyum Reza.
Arden berhenti di tengah trotoar, menatap wajahnya sendiri yang sepuluh kali lebih besar, tersenyum kepada seluruh kota.
Seorang perempuan menabraknya dari belakang. "Maaf—" Lalu perempuan itu menatap wajahnya, lalu menatap layar iklan, lalu kembali ke wajahnya. Matanya membelalak. "Tunggu, kamu... kamu mirip sekali dengan—"
Arden tidak menunggu kalimatnya selesai. Ia berbalik dan menerobos kerumunan, jantungnya menabuh genderang ketakutan.
Wajahnya adalah wajah salah satu orang paling terkenal di kota ini. Ia tidak bisa bersembunyi. Tidak dengan wajah yang terpampang di setiap layar iklan, di setiap berita, mungkin di setiap kepala orang yang lewat. Ia adalah hantu seorang pria yang sangat hidup.
Sebuah mobil hitam tanpa pengemudi meluncur pelan di tepi jalan, mengikuti langkahnya. Kaca jendelanya gelap. Tapi Arden tahu, dengan kepastian dingin yang sama yang memberitahunya soal pistol, bahwa mobil itu mencarinya.
Ia berbelok ke gang lain, lebih gelap, lebih sempit, di antara dua gedung tua yang belum tersentuh perombakan kota. Di sini lampu jalan banyak yang mati. Bau sampah. Genangan air.
Ia menyandarkan punggung ke dinding bata, terengah, menutup mata.
Berpikir. Ia harus berpikir.
Helix Biotech menciptakannya sebagai salinan dari CEO mereka sendiri. Mereka tidak ingin ia mati, kata Lingga, ia terlalu berharga. Tapi mereka juga tidak akan membiarkannya bebas. Ada tujuan di balik semua ini, tujuan yang membuat mereka menghabiskan entah berapa banyak nyawa percobaan, sebelas iterasi gagal, hanya untuk menghasilkan satu dirinya.
Untuk apa membuat salinan sempurna seorang pria yang masih hidup?
Pertanyaan itu menggantung di udara dingin, dan jawabannya, apa pun itu, membuat bulu kuduknya berdiri.
Di ujung gang, dua sorot lampu mobil hitam itu muncul, perlahan menyala, menerangi genangan air di antara mereka.