Arden lari.
Gang itu buntu, berakhir di pagar kawat tinggi. Tapi tubuhnya, lagi-lagi, tahu apa yang harus dilakukan sebelum pikirannya. Ia melompat, mencengkeram kawat, dan memanjat dengan gerakan yang seharusnya tak mungkin dilakukan orang yang baru hidup tiga minggu. Di seberang pagar, ia menjatuhkan diri ke tumpukan kardus basah dan terus berlari.
Di belakangnya, terdengar pintu mobil terbuka. Langkah kaki. Suara seseorang berbicara lewat radio, datar dan terlatih: "Subjek bergerak ke barat. Sektor empat. Jangan tembak, ulangi, jangan tembak. Ambil hidup-hidup."
Hidup-hidup. Itu satu-satunya alasan ia masih bernapas.
Arden menembus jalanan yang makin sempit, makin tua, kawasan yang tampaknya dilupakan oleh kota gemerlap di kejauhan. Lampu neon toko yang setengah mati. Bau makanan dari warung-warung larut malam. Orang-orang di sini tidak mengangkat wajah, terlalu sibuk dengan urusan sendiri untuk peduli pada seorang pria yang berlari ketakutan.
Ia berbelok ke sebuah lorong di antara dua bangunan, dan sebuah tangan menyambar lengannya.
Arden hampir berteriak, tapi tangan lain menutup mulutnya. Ia ditarik ke dalam ceruk gelap di balik tumpukan peti.
"Diam," bisik sebuah suara. Perempuan. "Mereka lewat sebentar lagi. Kalau kau lari sekarang, kau mati. Atau lebih buruk."
Arden meronta, tapi pegangan itu kuat dan mantap. Beberapa detik kemudian, dua sorot lampu menyapu mulut lorong. Mobil hitam itu lewat pelan, lalu hilang.
Tangan itu melepaskannya.
Arden berbalik. Perempuan itu mungkin akhir dua puluhan, rambut pendek berantakan, mengenakan jaket kulit lusuh. Wajahnya tajam, waspada, dengan sepasang mata yang seperti sudah melihat terlalu banyak. Di lehernya ada tato kecil berbentuk untaian DNA yang dicoret.
"Kau salah satu dari mereka," kata perempuan itu, menatap wajahnya. Bukan pertanyaan. "Salinan."
Arden mundur. "Bagaimana kau—"
"Wajah itu." Perempuan itu mendengus. "Susah dilupakan kalau kau pernah benci pemiliknya. Kau tiruan Reza Kastara." Ia menyipit. "Tapi kau berkeringat, gemetar, dan ketakutan. Reza yang asli tidak pernah punya ekspresi seperti itu. Jadi kau yang baru. Yang kabur dari kandang."
"Siapa kau?"
"Namaku Sena." Ia melongok ke mulut lorong, memastikan jalan aman. "Dan kalau kau mau hidup lebih dari satu jam ke depan, ikut aku. Jangan banyak tanya dulu."
Arden ragu. Tapi pilihannya hanya antara mempercayai orang asing ini atau menunggu mobil hitam itu kembali. Ia memilih yang pertama.
Sena membawanya melalui jaringan gang yang tampaknya hanya ia yang tahu, naik tangga besi karatan, melewati atap-atap rendah, sampai akhirnya menuruni tangga ke sebuah ruang bawah tanah di balik pintu logam berkarat. Di dalam, ada kasur tipis, meja penuh perangkat elektronik bekas, dan dinding yang dipenuhi tempelan foto serta benang merah yang menghubungkannya.
Arden menatap dinding itu. Banyak foto Reza Kastara. Banyak foto gedung Helix Biotech. Dan beberapa foto, yang membuatnya menahan napas, wajah-wajah yang mirip dengannya. Bukan persis, tapi mirip. Versi muda Reza. Versi tua. Versi dengan ekspresi kosong di dalam tabung.
"Kau memburu mereka," kata Arden.
"Aku memburu Helix." Sena melempar handuk dan setumpuk pakaian ke arahnya. "Bersihkan dirimu, kau bau cairan kultur. Lalu kita bicara." Ia berhenti, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran benci dan iba. "Kau bukan salinan pertama yang kutemui, ngomong-ngomong. Tapi kau yang paling utuh. Yang lain... mereka tidak bertahan lama. Atau tidak benar-benar di sana, di balik mata mereka."
Arden mengusap pakaian di tangannya. Kering. Hangat. Hal kecil yang terasa mewah.
"Kenapa kau menolongku?" tanyanya.
Sena duduk di tepi meja, menyilangkan tangan. "Karena kau punya wajah yang sama dengan orang yang harus kuhancurkan. Dan karena kau, mungkin, satu-satunya orang yang bisa mendekatinya tanpa langsung dibunuh." Ia tersenyum tipis, tanpa kehangatan. "Kau berharga buat mereka, Arden. Tapi kau juga berharga buatku. Dengan alasan yang sangat berbeda."
"Dari mana kau tahu namaku?"
Sena terdiam sejenak. Lalu menunjuk dinding. Di antara tempelan foto, ada satu lembar dokumen yang dicuri, dengan kop Helix Biotech. Di sana, di antara baris kode dan istilah teknis, tertulis jelas:
PROYEK GEMINI — ITERASI 12, NAMA OPERASIONAL: "ARDEN".
STATUS: SIAP UNTUK SUBSTITUSI.
"Substitusi," ulang Arden, dadanya mengencang. "Apa artinya itu?"
Sena menatapnya lama. Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang menyerupai belas kasihan di matanya.
"Artinya," katanya pelan, "mereka tidak membuatmu untuk meniru Reza Kastara. Mereka membuatmu untuk menggantikannya."