Umpan butuh waktu untuk matang. Sementara menunggu jebakan informasi mereka memetik buah, Sena membawa Arden ke kontak yang ia sebut "investasi lama yang belum pernah kucairkan."
"Namanya Toba," kata Sena saat mereka menyusuri lorong bawah pasar gelap. "Mantan pengawal pribadi Reza. Kepala detail keamanan, dulu. Sampai Helix membuangnya."
"Kenapa dibuang?"
"Ia melihat sesuatu yang tak seharusnya. Salah satu iterasi awal yang gagal — sebelum kau. Ia mulai bertanya. Helix tak suka pengawal yang bertanya." Sena berhenti di depan pintu logam. "Mereka tak bisa membunuhnya tanpa menimbulkan pertanyaan — ia terlalu dikenal di lingkaran keamanan. Jadi mereka menghancurkan namanya. Tuduhan palsu. Sekarang ia tinggal di sini."
Pintu terbuka sebelum Sena mengetuk. Seorang pria besar berdiri di ambang — leher setebal paha, kepala plontos, satu mata berbekas luka memutih. Ia menatap Sena sekilas, lalu matanya jatuh pada Arden, dan seluruh tubuhnya membeku.
Tangan Toba bergerak ke pinggang. Cepat. Sangat cepat untuk pria sebesar itu.
"Toba—" Sena melompat di antara mereka. "Dengarkan. Ini bukan dia."
"Itu wajahnya," gertak Toba, suaranya rendah seperti geraman. "Aku menjaga wajah itu selama dua belas tahun. Aku tahu tiap garisnya. Tiap caranya tersenyum sebelum menghancurkan seseorang."
"Dia klon," kata Sena cepat. "Proyek Gemini. Yang kau lihat dulu, iterasi yang gagal — ini iterasi yang berhasil. Inilah yang mereka bangun untuk menggantikan Reza. Dan dia melawan mereka."
Toba tidak menurunkan tangannya. Matanya, satu yang sehat dan satu yang berbekas, mengunci Arden.
Arden tidak mundur. Ia tahu, dengan kepastian dingin, bahwa jika ia menampilkan ketenangan Reza sekarang — senyum yang sudah ada di tubuhnya — Toba akan menembak. Jadi ia melakukan hal yang sebaliknya. Ia menunjukkan tangannya, dua jari yang mati rasa terkulai janggal.
"Aku tidak bisa merasakan dua jari ini," kata Arden. "Karena aku menyuntik diriku dengan racun untuk menahan ingatan Reza keluar dari kepalaku. Reza tak pernah melukai dirinya untuk berhenti jadi dirinya sendiri. Aku melakukannya tiap dua belas jam." Ia menatap mata sehat Toba. "Kau menjaga wajah ini dua belas tahun. Tanyakan satu hal yang hanya Reza tahu, dan aku akan menjawabnya — karena ingatannya ada di kepalaku, dan aku membencinya. Lalu tanyakan satu hal yang hanya orang yang baik tahu, dan lihat apakah Reza pernah punya jawabannya."
Toba diam lama. Hujan dari pasar di atas menetes lewat celah langit-langit, satu-satu.
"Reza," kata Toba pelan, "membiarkan seorang anak buahku mati dalam ledakan uji coba karena mengevakuasinya akan menunda jadwal proyek tiga hari. Ia menandatangani laporan 'kecelakaan tak terhindarkan' sambil minum kopi. Aku berdiri di sebelahnya." Mata Toba berkilau, keras. "Kalau kau dia, kau ingat anak buahku. Siapa namanya?"
Arden mencari. Di kabut yang ditahan penghambat, jauh, ada sesuatu. Sebuah laporan. Tanda tangan. Dan, lebih dalam, perasaan tak peduli yang membuat Arden ingin muntah karena perasaan itu pernah jadi miliknya.
"Aku ingat laporannya," kata Arden pelan. "Aku ingat rasanya menandatangani tanpa membaca nama. Itu yang membuatku tahu aku dibangun dari monster." Ia menelan. "Tapi aku tidak ingat namanya. Karena Reza tak pernah repot mengingatnya. Dan aku — aku ingin tahu namanya. Itu bedanya antara aku dan dia."
Sesuatu di wajah Toba retak. Pria besar itu menurunkan tangannya, sangat lambat. Matanya — satu sehat, satu rusak — basah.
"Reza," kata Toba serak, "tak akan pernah mengatakan ia ingin tahu nama orang yang ia bunuh."
Ia mundur dari ambang pintu, membukanya lebar.
"Yusuf," kata Toba pelan, saat Arden lewat. "Namanya Yusuf. Ingat itu, klon. Ingat satu nama yang tidak pernah dia ingat."
Arden mengangguk. "Yusuf," ulangnya. Dan ia menyimpannya di tempat di kepalanya yang ia tahu hanya milik Arden.