Toba mengosongkan meja dengan satu sapuan lengan dan membentangkan kertas-kertas — denah, sketsa tangan, daftar shift yang ia hafal dari ingatan dua belas tahun.
"Helix utama bukan gedung," kata Toba. "Itu benteng yang menyamar sebagai gedung. Lebih dari enam puluh lantai di atas, tiga di bawah. Yang penting di bawah."
Arden mencondong. Sena di sisi lain meja, merekam tiap kata.
"Lantai bawah satu: keamanan, server umum, pusat kendali kamera. Lantai bawah dua: lab. Lantai bawah tiga—" Toba mengetuk titik paling dalam pada denah. "Ruang substitusi inti. Dan di baliknya, penyimpanan kunci induk. Hanya bisa dibuka dari dalam ruang substitusi. Kakak Sena benar."
"Berapa lapis keamanan ke bawah?" tanya Arden.
"Tujuh, terakhir kuhitung. Mungkin lebih sekarang. Biometrik di tiap turun lift. Telapak tangan, retina, pola jalan kamera." Toba menatap Arden. "Tapi di sinilah lelucon kosmos berperan. Sistem itu dibangun untuk mengenali satu orang di atas segalanya. Reza Kastara. Telapak tangannya. Retinanya. Cara ia berjalan. Itu kunci utama, mengesampingkan semua protokol lain. Karena Reza ingin bisa masuk ke mana saja, kapan saja, tanpa ditolak mesinnya sendiri."
Hening jatuh di meja itu.
"Dan aku punya telapak tangan Reza," kata Arden pelan. "Retinanya. Caranya berjalan ada di tubuhku."
"Salinan sempurna," kata Sena, suaranya aneh. "Itu sebabnya mereka membuatmu sempurna. Tubuhmu adalah kunci induk yang berjalan."
Arden menatap tangannya — yang dua jarinya masih mati rasa. Ironi itu pahit di lidahnya. Hal yang dibangun Helix untuk menjadikannya pengganti Reza adalah hal yang akan membiarkannya menyusup ke jantung Helix dan menghancurkan Reza.
"Mereka tahu itu," kata Toba. "Mereka tak bodoh. Pasti ada lapis tambahan yang tak bisa kau tiru. Sesuatu yang membedakan klon muda dari Reza tua."
"Penyakitnya," kata Sena segera. "Penanda biologis. Pemindai medis. Kalau ada gerbang yang membaca tanda penyakit degeneratif, Arden akan gagal — karena ia sehat."
Toba mengangguk lambat. "Itu masuk akal. Lingga menambahkannya setelah aku pergi, mungkin. Untuk mencegah skenario persis ini." Ia mengetuk denah dengan jari tebalnya. "Lingga selalu memikirkan langkah yang belum dipikirkan orang lain. Itu yang membuatnya berbahaya. Reza membangun proyek. Lingga membangun jebakan-jebakan kecil di dalam proyek itu, untuk jaga-jaga."
"Maka kita butuh dua hal," kata Arden, dan untuk pertama kali sejak ia bangun di ruang putih, ia merasa bukan diburu melainkan memburu. "Tubuhku untuk membuka tujuh lapis. Dan cara melewati gerbang yang mencari penyakit yang tak kupunya."
"Atau," kata Sena pelan, menatap denah, "cara memalsukan penyakit itu. Sebentar saja. Cukup untuk satu gerbang."
Toba menatap mereka berdua bergantian, lalu mengeluarkan napas panjang yang terdengar seperti pria yang baru memutuskan mempertaruhkan sisa hidupnya.
"Kalian benar-benar akan masuk ke sana," katanya. Bukan pertanyaan.
"Kami harus menghancurkan kunci induk," kata Arden. "Selama itu ada, mereka bisa membuat Arden lain. Dan Arden lain. Selamanya. Aku tak akan membiarkan seseorang yang lain bangun di ruang putih itu seperti aku."
Toba menatap wajah yang ia benci selama dua belas tahun, mencari Reza di sana, dan tidak menemukannya. Ia menggeser denah ke tengah meja.
"Kalau begitu," kata Toba, "biar kuceritakan tentang shift jam tiga pagi. Dan tentang satu pintu yang Reza lupa ada."
Ia menarik garis tipis di tepi denah, sebuah lorong yang tak masuk peta digital mana pun. "Pintu servis lama. Dari renovasi dua belas tahun lalu. Aku mengawasi pekerja yang memasangnya. Lalu sistem baru dipasang, dan pintu ini tak pernah didaftarkan ulang — Reza menganggapnya tertutup permanen." Mata sehat Toba berkilat. "Tapi kunci mekaniknya masih berfungsi. Tak ada sensor. Tak ada kamera. Karena bagi mesin Helix, pintu itu tidak ada."
Sena mencondong, mempelajari garis itu. "Dan itu menembus ke mana?"
"Ke persimpangan lantai bawah satu. Dari sana, satu jalur turun ke inti, satu jalur ke pusat penyiaran." Toba menatap mereka berdua. "Pintu yang dilupakan untuk masuk ke benteng yang dibangun dari ingatan. Cocok, bukan? Kalian menyusup ke Helix lewat hal yang Reza sendiri lupa ia punya."