PART I : BEAUTIFUL THINGS
“… And I thank God everyday, for the girl He sent my way. But I know the things He gives me, He can take away…”
Beautiful Things - Benson Boone
Istanbul, Turki, 2019
Bulan September di Istanbul selalu memberi rasa sendu yang elegan. Angin musim gugur berembus ringan, membawa aroma lembap dari dedaunan yang mulai gugur di pinggir jalan. Langit kelabu, tapi tidak mendung.
Sebuah taksi kuning berhenti di depan gedung apartemen berlantai empat. Bangunannya lumayan baru, tapi bersih dan sangat terawat. Dinding eksteriornya dicat krem pucat dengan aksen batu alam di sisi kiri bangunan. Beberapa pot tanaman diletakkan di jendela-jendela lantai atas, memberi kesan bahwa tempat ini memang dihuni oleh orang-orang yang sederhana tapi penuh perhatian.
Seorang gadis keluar dari taksi itu.
Maham. Seorang mahasiswi program master hubungan internasional asal Indonesia. Belum resmi. Dia baru akan memulai hari pertamanya sebagai mahasiswa seminggu lagi.
Coat merah panjangnya hampir menyentuh lutut dan syal wol abu-abu membungkus lehernya dengan ketat. Sebenarnya penampilannya agak berlebihan untuk musim gugur yang baru saja mulai — itu adalah outfit orang-orang di musim dingin.
Maham menarik napas dalam-dalam. Mata hitamnya langsung menatap ke arah gedung. Nama ‘Savcı’ tercetak jelas di atas pintu masuk utama gedung tersebut.
Inilah tempat tinggal barunya. Karena dipaksa Ara…
“Kau yakin mau sampai 2 tahun membayar mahal untuk tinggal di tempat seperti ini?”
“Harga pasarannya memang segini, Ra. Lagipula aku kan patungan bertiga dengan Lena dan Hira juga.”
“Iya. Tapi tetap saja mahal untuk tempat sekumuh ini!”
Maham mengerutkan bibirnya namun tidak bisa menyangkal. Tempat tinggalnya sekarang tidak kumuh tapi jelas tidak sebagus apartemen yang disewa Ara. Dia sudah beberapa kali ke sana dan memang tempatnya senyaman itu. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari universitas tempatnya akan menempuh pendidikannya nanti. Penolakannya untuk pindah ke sana memang tidak masuk akal. Masalahnya dia sudah terlanjur sepakat dengan Lena dan Hira — dua mahasiswa lainnya yang juga sama-sama dari Indonesia.
Melihat keraguan Maham, Ara menjatuhkan bom terakhirnya, “Harga sewanya juga lebih miring. Jauh di bawah pasaran area sana.”
Maham memang belum tahu nominal pastinya tapi dia jadi melirik Ara. Bagi mahasiswa asing seperti dirinya, pintar mengatur pengeluaran adalah suatu kewajiban — seni untuk bertahan hidup. Jadi ya, itu sangat menggoda baginya. Tingal di apartemen yang lebih nyaman, lokasi lebih strategis, dengan harga murah pula, siapa yang tidak tergiur? Sayangnya lagi-lagi dia tidak bisa langsung menjawab ‘iya’.
“Lalu bagaimana dengan Lena dan Hira, Ra? Kalau aku keluar, biaya patungan antar mereka jadi lebih besar kan?”
“Itu masalah gampang. Suruh mereka pindah juga,” Ara menjawab santai. Seolah urusan pindah-pindah ini adalah hal yang mudah. Apalagi di tanah orang.
Untungnya dua temannya tidak keberatan bila Maham pindah. Jadilah Ara segera menurunkan koper Maham dari atas lemarinya dan memasukkan barang-barang Maham. Iya, sahabatnya yang gila itu memaksanya untuk pindah detik itu juga.
Lucunya, ketika waktunya Maham benar-benar angkat koper dari apartemen lamanya, Ara justru tidak bisa datang untuk membantu. Bukan karena lepas tanggung jawab tapi sebagai mahasiswa yang tidak kunjung lulus, dia diuber-uber oleh dosennya bahkan saat seharusnya kegiatan perkuliahan masih libur.
Maham menarik kopernya ke belakang kemudian menoleh ke arah sopir taksi. “Bisa tolong bantu angkat koper ini ke atas, Pak?” tanyanya sesopan mungkin.
Sopir menatap jam tangannya dan mengangkat bahu. “Maaf sekali, Nona. Saya harus kejar setoran.”
Begitulah si sopir kemudian melesat pergi tanpa dosa.
Maham mendesah panjang. “Tentu saja,” gumamnya pelan, merasa terjebak oleh keadaannya. Dia memandangi tangga depan gedung, lalu koper, lalu tangga lagi.
“Kau bisa. Hanya ke lantai dua, kok,” bisiknya ke dirinya sendiri.
Tepat saat dia menunduk untuk meraih koper, sebuah suara terdengar dari belakang.
“Biar aku yang angkat.”
Maham tersentak. Refleks dia menoleh dan hampir terjengkang karena terlalu cepat bergerak sambil tetap membungkuk.
Seorang pria berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengenakan polo shirt navy, celana jeans gelap, dan sepatu sneakers hitam. Tingginya menjulang, rambutnya blonde kemerahan seperti warna daun maple yang pertama jatuh di musim gugur. Wajahnya tampan. Tapi yang paling menarik Maham adalah matanya.
Mata zamrud. Hijau gelap dengan kilau yang tenang tapi tajam.
Maham terpaku. Dalam hatinya dia bertanya, Makhluk apa ini? Menyilaukan sekali.
Karena Maham hanya diam, pria itu menaikkan alis. “Nona?” tegurnya.
Maham cepat-cepat menggeleng dan tersadar dari lamunannya. “S-saya bisa sendiri. Terima kasih, Tuan.”
Tapi pria itu tidak bergerak dari tempatnya. Dia menatap koper Maham, lalu menatap Maham. Kentara sekali tidak yakin dengan ucapan Maham barusan.
“Aku tidak mengerti bahasamu,” katanya dalam bahasa Inggris yang jelas. “Tapi aku yakin kau tadi baru saja menggerutu pada kopermu.”
Wajah Maham langsung memerah. Dia menunduk sedikit. Rasa malunya malah jadi membuatnya sedikit curhat ke pria tersebut, “Eh, iya. Supir taksinya tidak mau membantu. Katanya harus buru-buru kejar setoran.”
Pria itu menyipitkan mata, lalu berkata dengan senyum di sudut bibir, “Jadi aku harus jadi sopir taksi dulu?”
Maham mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
“Supaya aku punya alasan untuk membantumu,” balas pria itu ringan.
Maham tersenyum kikuk. “Terima kasih, Tuan. Tapi tidak perlu.”
Detik selanjutnya Maham mencoba menarik koper itu. Beratnya tak main-main. Dengan seluruh tenaganya dia mencoba mendorong, menyeret, menarik, dan akhirnya harus berhenti tepat di depan pintu masuk gedung. Nafasnya terengah.
Sementara itu, pria tadi hanya berdiri diam. Menatap.
Dia menolak, tapi tidak bisa juga, batinnya.
Tanpa berkata apa pun, pria itu mengambil satu koper Maham yang ada di depannya dan melangkah mendekati Maham. Begitu saja dia mengambil koper yang ada pada Maham dengan satu tangannya yang kosong.
“Encok karena mengangkat koper terlalu berat itu sangat tidak menyenangkan. Apa kau tahu?” katanya sambil tersenyum lembut.
Maham bengong. Dia menatap koper-kopernya di tangan pria itu, lalu naik sedikit, melihat betapa otot lengannya menonjol dengan halus dari bawah polo shirt yang terlihat sangat tidak sesuai dengan udara sore ini.
Siapa yang pakai t-shirt polo lengan pendek di udara seperti ini?!
Baiklah. Sebenarnya dia tidak tahu harus fokus ke mana. Ke nasihat pria itu soal encok kah? Ke bagaimana pria itu bisa mengangkat dua kopernya yang sangat berat secara bersamaan kah? Atau ke otot biru pria itu yang menjejak jelas di balik kulit putinya?
Pria itu menoleh ke Maham yang lagi-lagi diam. “Apa kau akan membiarkanku dalam posisi seperti ini seharian?”
Maham terlonjak. Menyadari. “Ah! Maaf.” Kemudian buru-buru membuka pintu dan menahan daun pintunya agar pria itu bisa lewat lebih dulu.
Sebaliknya, pria itu justru memiringkan kepala dan mempersilakan Maham untuk naik tangga lebih dulu. Maham makin malu tapi dia langsung berjalan mendahului pria itu sambil menunduk, tanpa berkata-kata.
Langkahnya cepat. Maham bisa mendengar langkah kaki pria itu di belakangnya, mantap dan tenang. Namun dia tak berani menoleh. Sangat tahu bila dia menengok pria itu maka tatapannya akan secara otomatis tertuju ke arah lengan pria tersebut. Jadi saat ini dia cari aman saja.
Di belakang, pria itu menatap punggung Maham yang menjauh dan bergumam dalam hati, Apa aku terlihat menakutkan? Atau dia hanya terlalu polos untuk sadar kalau senyumnya membuatku ingin bicara lebih lama?
Maham terus naik dan… bablas. Baru saja dia melewati pintu apartemen nomor 4 — tujuannya — dan terus melangkah. Baru menyadari setelah pria itu memanggil.
“Maham, apartemenmu di sini.”
Langkahnya langsung berhenti. Maham menoleh, menatap pintu nomor 4, lalu beralih menatap pria itu.
Satu detik… Dua detik… Sebelum muncul tatapan bingung dan curiga.
Dari mana dia tahu aku akan tinggal di apartemen nomor 4? Dan lebih dari itu —
Maham menatap mata zamrud itu sekali lagi.
— dari mana dia tahu namaku?