Istanbul, 9 bulan yang lalu
Musim dingin belum sepenuhnya datang tapi udara Istanbul sudah mulai menggigit. Langit pucat dan cahaya matahari yang menerobos lewat sela-sela jendela membawa kesan dingin yang tajam tapi indah.
Timur baru pulang dari Ankara tiga hari lalu tapi belum sempat bertemu banyak orang. Hari ini, dia membawa satu tas berisi oleh-oleh titipan ibunya untuk kakak sepupunya, Aliye, yang merupakan pengajar di kelas persiapan bahasa Turki bagi para orang asing.
Langkahnya ringan menyusuri lorong gedung tempat Aliye mengajar. Sepatu kulitnya menapak pelan di atas lantai batu marmer yang sedikit berdebu.
Saat sampai di depan ruang pengajar, pintunya terbuka sedikit. Timur hendak mengetuk untuk masuk tapi gerakannya terhenti. Di dalam ruangan itu, Aliye sedang duduk tertawa kecil sambil menatap seorang gadis yang hanya dapat Timur lihat punggungnya.
Rambut panjang dan bergelombang milik gadis itu mengalir lembut di sepanjang punggungnya, hitam legam, mengilap ditimpa cahaya matahari. Timur tidak bisa melihat wajahnya. Tapi pemandangan itu mencuri perhatiannya begitu saja.
Rambutnya indah sekali, begitu saja dia memuji.
Samar-samar Timur mendengar pembicaraan kedua wanita tersebut.
Aliye tertawa pelan. “Kamu sudah bisa bercanda dalam bahasa Turki sekarang.”
Suara gadis itu terdengar lembut, pelan, tapi jernih. “Karena gurunya sabar dan baik.”
Aliye menjentikkan jarinya. “Kau bisa saja.”
“Saya serius,” jawab si gadis.
Drai tempatnya, Timur memperhatikan interaksi mereka dengan kepala sedikit miring.
Tak lama, gadis itu berdiri. “Saya pamit dulu, Hocam. Terima kasih untuk hari ini.”
Timur masih berdiri di ambang pintu, tidak bergerak. Masih dengan kegiatannya mengamati keduanya. Yang membuatnya sangat terkejut, gadis itu yang menunduk lalu mencium tangan Aliye sebelum pergi.
Timur mengerutkan alis. Gerakan itu sangat asing baginya. Cium tangan? Di Turki? Kecuali kepada keluarga sendiri, kebiasaan itu nyaris tidak ada.
Kemudian gadis itu berbalik. Dan untuk pertama kalinya, Timur melihat wajahnya.
Dia terdiam.
Mata gadis itu menyapu ruang yang ada di antara mereka lalu berhenti sebentar padanya. Sepasang mata hijau zamrud Timur terkunci pada kedalaman tatapan gadis itu.
Gadis itu langsung mengangguk sopan sambil tersenyum kecil.
Timur terpaku.
Dari jarak sedekat itu, dia melihat kulitnya coklat si gadis yang menawan, bulu matan yang lentik, dan senyum yang lembut seperti pagi musim semi. Sungguh hamparan keindahan yang menawan.
Di saat Timur tertawan, gadis itu melewatinya begitu saja. Aroma samar seperti peony melintas cepat bersamanya. Bukan hanya menembus indra penciuman Timur tapi juga kewarasannya.
“Timur!” panggil Aliye dari dalam.
Timur terlonjak pelan. Mengumpulkan semua logikanya yang berceceran sebelum masuk.
“Dari Ibu,” katanya saat meletakkan tas oleh-oleh di meja.
“Terima kasih.” Aliye lalu menunjuk kursi di depannya. “Silahkan.”
Timur duduk di kursi yang tadi diduduki gadis itu. Begitu duduk, aroma yang sama langsung menyeruak — bunga peony, ribuan bunga peony yang membuatnya candu.
“Dia pasti mengira kau adalah guru baru di sini.” Aliye membahas Maham yang melempar senyum sebagai salam hormat kepada Timur tadi.
“Dia? Yang barusan tadi?” Timur memulai pencariannya. Sebisa mungkin menutupi ketertarikannya dengan memasang wajah datar.
Aliye mengangguk. “Dia muridku. Namanya Maham. Dari Indonesia.”
“Kau tampak menyukainya.”
“Dia anak yang pintar dan cepat belajar. Sangat sopan. Pribadi yang menyenangkan. Sulit untuk tidak menyukainya.”
“Karena itu dia mencium tanganmu?”
Aliye tertawa. “Anak bodoh! Apa hubungannya? Itu tradisi di negaranya. Mencium tangan orang yang lebih tua atau guru. Suaminya juga.”
“Dia sudah menikah?” Susah bagi Timur untuk tidak terkejut. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Harapan yang baru saja tumbuh di dadanya tiba-tiba menciut.
“Aku bicara tentang kulturnya secara umum, bukan dia.”
Napas lega meluncur dari bibir Timur. Harapan itu kembali membuncah, kini lebih kuat dari sebelumnya. Dia punya kesempatan.
*
Beberapa minggu berlalu dengan pola yang sama. Timur terus mencari alasan untuk datang ke tempat Aliye mengajar. Kadang untuk ‘mengantar makanan’, kadang karena ‘laptopnya tertinggal’ — dia sengaja meninggalkannya. Kadang bahkan tanpa alasan, sekedar menumpang duduk dan baca buku di ruang pengajar.
Beruntung baginya, kelas Maham dimulai setelah jam makan siang. Jadi Timur bisa ke sana di saat jam makan siangnya tanpa harus takut dipecat dari universitas tempatnya mengajar sekarang.
Dari beberapa kali ‘kunjungan’ singkatnya itu, dia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan Maham: Maham selalu duduk di kursi dekat jendela pada barisan pertama, selalu membawa botol minum kecil berwarna biru, selalu mengubah kuncir kudanya menjadi cepol bila beberapa helai rambutnya mulai terjatuh dari ikatannya. Semuanya Timur catat ke dalam ingatannya.
Satu, dua kali Timur memasuki kelas Maham sebelum pelajaran dimulai. Memberanikan dirinya untuk meninggalkan setangkai bunga peony merah muda yang lembut ke atas meja gadis itu sebelum seorang pun memasuki kelas. Kemudian terburu keluar dari sana sebelum seseorang memergokinya.
Maham muncul tak lama kemudian. Memasuki kelasnya, matanya langsung tertuju pada setangkai bunga peony yang tergeletak di atas mejanya.
Dengan gerakan ragu Maham menyentuh bunga tersebut. Ada secarik kertas yang diikat dengan pita putih di tangkainya. Membacanya:
Untuk Maham.
Senyum tipis terbentuk di wajahnya.
Maham mengangkat bunga itu ke hidungnya, menghirup aromanya dalam-dalam. Ekspresinya menunjukkan kebahagiaan yang tulus. Matanya lantas mencari-cari siapa pengirimnya. Pandangannya menyapu menembus jendela-jendela di ruangan tersebut. Sayangnya dia tidak menemukan siapa pun di sekitaran sana.
Dari balik pilar di koridor, Timur menyaksikan semuanya. Baru saja keberaniannya dibayar dengan harga yang sangat mahal: gurat bahagia di wajah Maham.
*
“Tuan Muda, aku tahu kau di sini bukan untuk menemuiku. Sekarang sudah saatnya kau jujur,” tuntut Aliye. Pandangannya mendesak.
Mulut Timur bungkam. Namun sorot matanya menjelaskan rahasianya.
“Jangan katakan —” Aliye langsung membekap mulutnya saat menyadarinya. Teringat bila Timur tidak bertemu dengan siapapun di sana kecuali dirinya dan… Maham.
Karena Aliye sudah mengerti dengan sendirinya, Timur langsung saja pada kepentingannya — tidak perlu lagi menyembunyikan dirinya. “Kenalkan aku padanya, Kak.”
“Astaga! Itu bahkan bukan pertanyaan. Kau menyuruhku?”
“Tolong?”
Aliye menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Tidak membutuhkan pertimbangan lanjutan untuk menolaknya. “Kau tahu ini tidak etis, Timur. Kau sadar betul posisiku di sini. Kau juga seorang pengajar.”
“Aku tahu, Kak. Kalau tidak mempertimbangkan hal itu, sudah sejak awal aku akan mendekatinya sendiri. Aku bukan remaja labil yang menyembunyikan perasaannya.”
“Jangan coba-coba!” sergah Aliye penuh ancaman.
“Tapi dia —” Timur menahan kalimatnya. Bahkan hanya sekedar memikirkannya pun dadanya berdebar parah.
“Dia apa?”
Timur berdehem. “Begitu indah,” suaranya rendah saat mengakuinya. “Kalau kau tidak mau membantuku, aku harus membantu diriku sendiri.”
Mendengarnya, Aliye langsung memijat pelipisnya sambil memejamkan mata. Adik sepupu yang ada di hadapannya itu adalah seorang pria berusia 29 tahun. Dengan kata lain: seorang pria dewasa, yang akalnya sudah pada tempatnya. Pengakuan Timur barusan hanya menunjukkan kepada Aliye kalau adik sepupunya itu sudah jatuh hati pada Maham, entah sejak kapan.
“Nanti saja kalau dia sudah lulus dari sini.”
“Tidak sekalian kalau dia sudah menikah dengan pria lain?” sarkas Timur.
“Ide bagus.”
“Oke, aku akan mendatanginya sendiri.” Timur bersiap bangkit dari duduknya.
“Duduk!” Aliye menahan.
Timur kembali ke tempatnya semula.
“Baiklah, aku akan membantumu. Tapi dengan satu syarat. Aku akan mengenalkanmu padanya hanya bila Maham menyetujuinya.”