Istanbul, Turki, 2020
Udara Istanbul pagi itu masih menyisakan embun. Maham berjalan perlahan melewati halaman kampus, mengenakan sweater warna sage dan jeans gelap. Jantungnya berdetak cepat. Bukan karena kedinginan, tapi karena gugup. Ini hari pertamanya sebagai mahasiswa. Sejak 10 menit yang lalu dia sudah datang lebih awal ke kelas dan duduk di barisan depan.
Seseorang menepuk halus pundaknya — seorang gadis berkulit putih dengan rambut brunette. “Hai, salam kenal. Aku Katya,” sapanya saat Maham menoleh. Senyum hangatnya menyusul kemudian.
Maham balas tersenyum. “Aku Maham.”
“Sepertinya kau bukan orang Turki.”
“Iya. Aku dari Indonesia. Bagaimana denganmu?” Mata Maham mengamati fitur fisik Katya yang juga tidak sama dengan wanita Turki.
“Aku juga orang asing di sini. Asalku dari Bulgaria.”
“Masih tetangga”, katanya, merujuk pada posisi Bulgaria di peta yang bertetangga dengan Turki.
Katya meringis. “Nanti kalau aku tidak mengerti tolong dibantu, ya? Bahasa Turki ku masih belum fasih.”
Maham tertawa kecil. “Aku juga masih belajar.”
Percakapan mereka terhenti ketika pintu kelas terbuka. Suara langkah masuk, mantap dan berwibawa.
Maham langsung memutar badan ke depan hanya untuk membeku setelahnya.
Pria itu.
Pria yang seminggu lalu membantunya membawa koper ke apartemen. Pria yang muncul tiba-tiba di tengah udara musim gugur. Yang mengangkat dua kopernya sekaligus seperti mengangkat sekotak kapas. Kini pria itu berdiri di depan kelas, mengenakan kemeja putih dan setelan jas abu muda.
Matanya tak salah mengenali. Rambut blonde kemerahan itu, bahunya yang tegap, dan sorot matanya yang tajam sekaligus teduh.
Dirinya kembali pada hari di mana dia baru saja pindah, di tangga koridor apartemen.
“Anda… tahu nama saya?” tanya Maham, masih tercengang melihat pria itu tahu siapa dirinya.
Pria itu terlihat sedikit salah tingkah, tapi cepat menguasai diri. “Itu… Ara yang memberitahuku. Katanya temannya akan pindah kemari. Aku Timur, tetangga depan rumah kalian.”
Tapi beberapa hari setelahnya Ara mengatakan sesuatu mengenai pria itu.
“Pemilik gedung apartemen ini, maksudku tuan tanah kita, dia tinggal di pintu seberang.”
Timur Cihan Savcı.
Ternyata pria itu bukan hanya tetangga biasa seperti yang hendak ditunjukannya ke Maham. Dan sekarang, Timur juga adalah dosennya.
Kebetulan macam apa ini?, bisik Maham dalam hatinya. Merasa asing harus diajar oleh tetangga sekaligus pemilik apartemen yang disewanya.
Sedang bagi Timur, kejutan itu datang diikuti oleh rasa getir. Jantungnya terangkat sejenak melihat Maham — gadis yang sudah berbulan-bulan ini menghantui pikirannya — duduk beberapa meter darinya. Lalu dirinya langsung terhempas keras menyadari kenyataan bahwa Maham adalah mahasiswinya sekarang.
Timur memang berharap untuk dapat bisa selalu bertemu dengan gadis tersebut. Namun tidak dalam posisi seperti ini. Dosen dan mahasiswa, itu adalah batas jelas yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun yang ada di bawah atap kampus tersebut.
Rahang Timur seketika mengeras. Pendar matanya meredup. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merutuki profesinya sebagai dosen.
*
Satu jam kemudian, Maham mulai gelisah. Perutnya tak enak. Mual, kembung. Mendesaknya untuk mengangkat tangan meskipun enggan.
“Maaf, Hocam. Saya izin ke toilet.” Oke, dia baru saja meminta izin pada ‘tetangganya’.
Timur menoleh singkat. “Silakan.”
Maham keluar dengan langkah cepat. Tapi begitu menemukan toilet terdekat, pintunya ditandai dengan tulisan ‘rusak’.
“Hah? Yang benar saja! Aduh, sial sekali, sih!” panik Maham.
Terburu dia berjalan ke koridor lain. Entah ke mana tujuannya. Dia belum hafal denah kampusnya itu sehingga sejak tadi hanya berakhir berputar-putar ke arah yang tak dikenalinya, tanpa ada toilet yang bisa ditujunya.
Saat itulah, suara teriakan membuatnya menoleh.
Seorang gadis sedang ditekan ke dinding oleh pria tinggi besar.
“Kubilang kita sudah selesai!” bentak si gadis.
Pria itu mencengkram lengannya. “Belum selesai sampai aku bilang selesai!”
Tanpa pikir panjang, Maham mendekat. “Hei! Apa yang kau lakukan? Kau tidak bisa menyakitinya seperti itu!”
Lelaki itu menoleh tajam. “Apa urusanmu? Enyahlah!”
Entah ke mana pikiran Maham tapi dia justru bertahan di sana. Mungkin wajah panik dan ketakutan gadis itu yang menahannya. Bagaimana Maham bisa meninggalkan gadis itu seorang diri di sana dalam kondisi berbahaya seperti itu?
“Lepaskan dia!” suaranya sedikit bergetar. Tapi kakinya tidak mundur barang selangkah pun.
Sikap Maham hanya membuat pria itu semakin menggila. Ia mendekat ke arah Maham dengan gerakan mengancam, hendak menyerang Maham.
Tentu, Maham panik. Namun insting bertahan hidupnya bekerja lebih cepat dari pikirannya. Suara kakaknya — Mahakam — bergema dalam pikirannya: “Lakukan seperti ini, Maham.”
Begitu saja kakinya terangkat, menendang tepat ke arah vital pria tersebut sekuat tenaga, sama seperti yang ditunjukkan oleh Mahakam.
Suara raung kesakitan si pria menggema di koridor. Seketika tumbang dengan tubuh yang mengkerut menahan rasa nyeri yang luar biasa.
Sialnya, bukan hanya pria itu saja yang jatuh ke tanah.
*
“Pasien mengalami vasovagal syncope, penyebabnya kombinasi syok psikologis dan gangguan lambung. Kami beri dia domperidone untuk lambung dan cairan infus.” Dokter menjelaskan kondisi Maham sebelum berlalu dari sana.
Timur mengangguk tapi pikirannya tidak tenang. Di hadapannya, Maham berbaring lemah dengan infus di tangannya, tampak rapuh.
Setelah dua puluh menit, Maham perlahan membuka mata. Pandangan pertamanya langsung jatuh pada Timur. Dia tersentak pelan.
“Anda…”
Timur hanya menatap tanpa senyum. “Bagaimana keadaanmu?” suaranya dingin.
“Saya baik-baik saja —” Hocam? Tuan? Maham tidak tahu bagaimana harus memanggil pria tersebut sekarang. Lalu memilih sembarangan, “— Hocam.”
Tidak ada satupun dari sebutan itu yang disukai Timur. Namun dia tidak membahasnya. Sebaliknya berkata singkat, “Istirahatlah.”
Maham melirik pada jam dinding rumah sakit. “Saya harus segera kembali ke kampus.”
“Kau akan pulang,” Timur memutuskan sepihak. Nadanya menekan dan tidak ada raut sungkan pada wajahnya.
“Tapi saya masih ada dua kelas lainnya,” Maham menolak dengan nada bingung. Saat ini dia sedang melihat Timur dalam versi yang lain: tidak ramah, bintang satu.
Ucapan Maham seperti angin lalu. Karena Timur tetap pada pendapatnya:
“Aku akan mengantarmu pulang.”
*
Mobil sudah sejak 15 menit lalu meninggalkan area rumah sakit. Saat ini mereka sedang menembus jalanan Istanbul di siang hari untuk menuju ke rumah.
Pulang ke rumah. Maham masih berat hati memikirkannya. Ini hari pertamanya kuliah dan dia sudah harus absen di dua kelasnya? Sebagai siswa teladan, kenyataan itu mengganggu jiwanya.
“Hocam, kita ke kampus saja,” akhirnya Maham bersuara setelah sejak tadi tidak ada yang berbicara di antara mereka.
“Kita sudah hampir sampai rumah,” suara Timur datar.
Maham memang tidak tahu daerah tersebut. Tapi GPS di dashboard mobil Timur tidak menampilkan informasi palsu. Hampir sampai rumah yang dimaksud Timur adalah masih satu kilometer jauhnya.
Apanya yang dekat?, batin Maham.
“Tapi masih satu kilometer, Hocam.”
Fokus Timur berpindah sejenak pada layar GPS-nya. Melirik informasi yang terpampang di sana. “GPS-nya rusak.”
“Tapi Anda mengikutinya, Hocam,” cicit Maham, masih bertahan.
Yang terdengar setelahnya adalah rem mendadak berbunyi. Timur menepikan mobil secara tiba-tiba. Nafas Maham hampir putus karenanya.
Belum sempat Maham berbicara, Timur memutar tubuhnya, menatap gadis itu dengan mata yang tajam. Wajahnya mulai memerah karena emosi yang ditahannya sejak tadi.
“Kau ingin sekali ke kampus?! Untuk apa kau ke kampus lagi?! Kau ingin membahayakan dirimu lagi?! Baru saja hampir celaka, sekarang ingin kembali ke tempat yang sama?!”
Maham tidak bergeming akibat rasa syoknya. Yang barusan itu apa? Bola matanya bergerak bingung. Tidak mengerti mengapa tiba-tiba Timur memarahinya seperti itu.
“Sa-saya masih mahasiswa baru, Hocam,” ucapnya terbata.
“Apa itu penting? Kau seharusnya mendengarkan orang yang sudah menolongmu, bukan?” amarah Timur masih sama meletupnya.
Mendengarnya, jemari Maham mengerat di pangkuannya. Seketika rasa sakit hati menerpanya.
“Terima kasih karena sudah membawa saya ke rumah sakit, Hocam. Maaf karena sudah merepotkan Anda. Tapi bukan saya yang memintanya.” Ada getar dalam suaranya saat mengatakannya.
“Lalu apakah kau lebih memilih tetap tersungkur di tanah?!”
“Saya tidak tahu kenapa Anda seperti ini tapi… itu lebih baik daripada saya harus menghadapi orang —” sepasang mata hitam Maham menyorot Timur dengan terluka “— seperti Anda.”
Seperti Anda. Itu seperti pukulan telak bagi Timur. Membuatnya terdiam.
“Terima kasih atas tumpangannya, Hocam.” Tangan Maham meraih gagang pintu.
Gerakan Maham membuat Timur tersadar kembali. Jarinya dengan cepat meraih tombol kunci.
Suara klik dari pintu mobil yang terkunci otomatis membuat Maham membelalak. Dengan wajah panik bercampur rasa tidak terima, dia menoleh pada Timur. “Apa yang Anda lakukan?!”
“Kau bertanya mengapa aku seperti ini kan? Apa kau tahu bagaimana rasanya ketika orang yang kau cintai berada dalam bahaya?"
Bola mata Maham kembali bergerak bingung. “Anda… tidak sedang membicarakan tentang saya, kan?”
Timur diam sejenak. Tatapannya melembut. Dia terlihat lelah. “Aku berbicara tentangmu, Maham,” gumamnya akhirnya.
Maham menatap Timur lama. Jantungnya berdetak terlalu cepat.
“Aku adalah sepupu dari Aliye Aydın.”