“Rambutmu ini, Maham…” Katya tiba-tiba menyentuh rambut panjang temannya. “Hitam legam, bergelombang, tebal lagi! Kalau di tempatku ini sudah bikin iri para wanita, kau tahu? Aku ingin punya rambut seperti ini.”
Saat ini keduanya sedang berjalan menyusuri lorong kampus di lantai dua. Baru saja keluar dari ruang kelas mereka dan berniat untuk ke kafetaria.
Maham terkekeh kecil menanggapi pujian Katya. “Di Indonesia malah banyak yang cat rambut, Kat. Rambut hitam dianggap membosankan.”
“Aku akan protes besar-besaran kalau kau ikut-ikutan cat rambut, ya!” celetuk Katya, sambil masih menyentuh helaian rambut Maham.
Maham menggeleng. “Aku sama sekali tidak berniat cat rambut. Belum pernah juga. Katanya perawatannya jadi lebih susah. Aku masih punya banyak hal untuk dipikirkan selain mengurus rambut.”
“Iya. Salah-salah bisa botak!”
Keduanya tertawa. Namun senyum Maham langsung memudar ketika matanya tanpa sengaja menangkap sosok pria tinggi dengan kemeja lengan panjang berwarna khaki keluar dari ruang dekan. Pria itu berdiri agak jauh di depan sana tapi mata Maham tidak mungkin salah mengenalinya. Timur.
Seperti biasa, pembawaan pria itu tenang. Tegak, percaya diri, dengan sorot mata yang penuh kontrol. Ketika mata mereka bertemu, Maham merasa seperti seluruh darahnya mengalir naik ke wajah.
Segera, Maham menggenggam lengan Katya. “Aku... aku sepertinya melupakan sesuatu di kelas. Aku harus mengambilnya,” dustanya.
“Eh? Tapi itu ada Cihan Hocam. Apa tidak seharusnya kita sapa beliau dulu?” protes Katya karena Maham menyeretnya dengan tiba-tiba.
Tubuh Maham meremang mendengarnya. Menyapa Timur adalah satu-satunya hal yang tidak ingin dilakukannya hari ini, nanti, atau entah sampai kapan. Intinya, kalau bisa dia tidak ingin bertemu dengan pria itu sama sekali.
“Kapan-kapan saja kamu sapa,” potong Maham buru-buru.
“Tapi dia sudah melihat kita, Maham. Bukankah tidak sopan kalau kita langsung pergi tanpa menyapanya?”
“Sekarang, kelas kita yang tadi akan dipakai lagi oleh kelas lainnya. Nanti keburu ada mahasiswa lain. Aku tidak mau dilihat oleh mereka.”
Katya masih kebingungan tapi mengikuti langkah Maham yang memutar arah dengan langkah lebih cepat dari biasanya. Sama sekali tidak curiga dengan gelagat Maham yang sebenarnya aneh itu. Dia percaya saja kalau Maham memang melupakan sesuatu.
“Memang apa yang kau lupakan?” tanya Katya sambil mempercepat langkah berusaha mengimbangi Maham.
Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa normal dengan tenang, dalam hati Maham menjawab. Yang terucap dari bibirnya, “Penaku.”
“Mahal sekali, ya?”
“Tidak. Cuma 5TL. Tapi aku tidak mau keluar uang lagi untuk beli pena.”
Dari satu dusta merambat ke dusta yang lainnya. Sebenarnya Maham anti berbohong, apalagi untuk hal-hal yang sekecil itu. Tapi mana mungkin juga dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Katya kan? Ara saja sampai terjungkal saking kagetnya dan butuh waktu beberapa jam untuk pulih dari syoknya.
Itu reaksi Ara, yang bukan mahasiswa di sana. Lalu bagaimana kalau civitas akademika di sana mengetahuinya? Bahkan untuk membayangkannya saja Maham terlalu takut. Sungguh mengerikan. Ini seperti… aib yang harus dia sembunyikan rapat-rapat.
Saat mereka berjalan menjauhi koridor utama, Katya mulai mengoceh kembali. Sebenarnya pada saat-saat di mana Maham ‘harus’ bertemu dengan Timur, dia selalu membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya, menenangkan dirinya. Dan Katya adalah pengalih pikiran yang baik. Sayangnya kali ini Katya justru memilih untuk tanpa sadar semakin menyiksanya.
“Maham, apa kau tahu? Cihan Hocam termasuk salah satu dosen paling muda di kampus kita. Dia lulus S3 umur 26 tahun dari London School of Economics. Aku tidak menyangka dia ternyata sepintar itu.”
Maham menahan helaan napas. Bukan cemburu karena ada gadis lain yang membicarakan Timur tapi…. Dari semua orang yang ada kenapa Katya harus membicarakannya denganku?
“Kau stalking dia?”
Katya tertawa. “Bukan hanya dia. Aku stalking semua dosen kita, Maham. Wajar kan? Aku harus tahu kompetensi mereka. Kita bayar mahal untuk bisa kuliah di sini. Lagipula untuk apa universitas punya submenu profil pengajar kalau tidak untuk kita lihat?”
Ya, benar. Aku tidak memikirkannya, batin Maham sarkas kepada dirinya sendiri.
Maham tidak menanggapinya, berharap Katya akan berhenti bicara soal Timur. Tapi ternyata gadis itu belum selesai dengan topiknya mengenai Timur.
“Dia memang tampan sih. Tapi tentu pacarku tetap yang paling tampan,” lanjut Katya, melirik Maham dengan senyum menggoda.
Maham tersenyum canggung. Ini agak… cringe. Bukan, bukan tentang pacar Katya yang ternyata mahasiswa dari Indonesia juga namun beda jurusan dengan mereka. Tapi soal Katya yang menyebut Timur tampan. Maham tidak mau mengakuinya tetapi dia juga punya impresi yang sama saat pertama bertemu dengan Timur di hari pertamanya pindah, kan?
Tentu itu bukan satu-satunya hal yang mengusik Maham dari perkenalan pertama mereka. Ada yang lebih lagi, kalau ternyata Timur berbohong perihal mengetahui namanya dari Ara. Seperti kata Ara hari itu...
“Aku paham betul lelaki. Dia pasti bingung mau menjawab apa karena sudah kelepasan memanggil namamu,” Ara berkata yakin.
Sore itu Maham baru saja menceritakan perihal identitas asli Timur kepada Ara. Akhirnya. Setelah memberanikan dirinya.
“Maham… Maham…” Ara menirukan suara Timur dengan ekspresi yang berlebihan, lebih ke mengolok sebab kesal. “Dia bawa-bawa namaku untuk melindungi dirinya sendiri. Karena aku tidak ada di sana jadi aku tidak bisa membela diriku!” sungutnya.
Selanjutnya masih soal nama lagi. Kali ini nama pria itu sendiri.
Masih dari Ara, Maham tahu bila semua orang di apartemen itu memanggil pria tersebut dengan nama Cihan. Bahkan waktu pertama masuk kelas Timur pun, Maham jelas-jelas mendengar pria itu memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Cihan Savcı. Tidak mungkin seseorang salah menyebutkan namanya sendiri kan?
Intinya, semua orang memanggil pria itu sebagai Cihan, Cihan Bey, Cihan Hoca. Tapi kenapa ke dirinya, pria itu memperkenalkan diri sebagai Timur?
Maham baru menyadari hal tersebut setelah ucapan pengakuan Timur hari itu.
Tentu terserah pria itu mau memperkenalkan dirinya sebagai siapa, karena namanya memang Timur Cihan. Tapi ‘terserah’ Maham juga bila dia jadi berpikiran macam-macam sebab hal tersebut.
Apa Timur sengaja? Apa pria itu memang ingin membuatnya memanggilnya berbeda dari yang lain?
Mungkin Maham sudah berkali-kali menanyakannya — sadar maupun tidak. Namun dia sama sekali tidak mau mendengar jawabannya. Karena itu artinya dia harus mendatangi Timur untuk itu. Hanya pria itu sendiri yang bisa memberikan jawabannya.
*
Dari tempatnya berdiri, Timur memandangi punggung Maham yang semakin menjauh. Matanya tidak lepas dari sosok mungil itu. Dia tahu bila Maham melihatnya tadi — mata mereka saling bertumbuk pada satu sama lain. Namun cara gadis itu yang mendadak membalik arah, hanya menunjukkan satu hal: Maham sedang menghindarinya.
Di kelasnya sendiri, Maham yang sejak dulu dia tahu selalu duduk di baris pertama, kini memilih duduk di belakang. Suaranya tak pernah terdengar. Bahkan ketika menjawab pertanyaan, Maham seperti memasang pagar.
Timur menghela napas. Sudah tiga hari berlalu sejak dia mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu. Dan sejak itu pula, Maham menjadi bayangan yang menjauh. Jadi ya, ini bukan ‘penolakan’ pertama yang harus diterimanya. Namun tetap saja rasanya menyakitkan.
Ada yang retak tanpa suara di dalam dirinya sebab sikap Maham ini. Membuatnya menciptakan anomali-anomali dalam hidupnya. Misalnya seperti tadi saat melihat Katya yang bisa dengan leluasa menyentuh rambut indah Maham. Timur tahu ini tidak lazim tapi dia… iri, pada Katya.
Timur memijat pelan pelipisnya.
Apa aku harus jadi Katya dulu untuk bisa diterima olehnya dan sedekat itu dengannya?