“Ini darinya,” ujar Aliye lembut, mendorong pelan sebuah kotak kayu ke arah Maham.
Saat ini mereka duduk di sebuah cafe yang dekat dengan instansi mereka.
Pandangan Maham turun. Dari wajah Aliye, menyapu ke atas benda itu. Bentuknya yang sangat artistik membuat Maham tahu bila isinya pun pasti bukan sesuatu yang biasa.
“Apa ini, Hocam?”
“Hadiah kecil,” jawab Aliye. “Dari pria yang sempat ingin mengenalmu,” lanjutnya dengan nada suaranya mengambang.
Sejenak keduanya tertahan pada pembicaraan mereka beberapa hari yang lalu, di tempat itu juga. Ada satu beban lagi yang terjatuh pada benak Maham karenanya, yang langsung tergaris jelas di wajahnya.
“Kami tidak bermaksud untuk menekanmu, Maham. Kami menghormati keputusanmu. Tapi adikku … menitipkan ini,” terang Aliye sungkan setelah melihat perubahan ekspresi Maham.
Saat ini Maham tidak bisa melihat di mana bedanya. Situasi hidupnya sedang tidak kondusif untuk memikirkan hal yang lainnya selain kondisi ayahnya yang kritis di ICU — alasan yang membuatnya menolak perkenalan tersebut karena dia harus secepatnya kembali ke Indonesia. Namun Maham tetap membuka kotaknya perlahan.
Bola kaca seukuran telapak tangan muncul ke permukaan. Di dalamnya, miniatur dua sosok berdiri saling berhadapan — laki-laki dan perempuan dengan serpihan salju halus yang akan turun jika bola itu digoyangkan.
“Adikku berharap kau akan menyimpannya.”
Mereka tak banyak bicara hari itu. Maham pun hanya mengangguk dan membawa benda itu pulang. Tanpa bertanya apa-apa.
Sekarang, bola itu ada di genggamannya kembali setelah dia menyembunyikannya ke sudut tergelap lemarinya pasca pengakuan Timur. Dan ya, Maham sungguh masih menyimpannya.
Dia duduk di dekat jendela kamarnya, memandangi hujan tipis musim gugur yang terasa sendu. Di luar, daun-daun kering beterbangan seperti ingatannya barusan yang tak bisa dikendalikannya.
Maham memutar bola itu pelan. Salju mini berjatuhan, memenuhi ruang kaca yang tenang. Kedua sosok di dalamnya tetap berdiri berhadapan, tidak bergerak. Seolah waktu tak berjalan bagi mereka.
Dua sosok di dalamnya adalah dirinya dan Timur. Begitu detail dipahat menyerupai fisik mereka berdua. Kini Maham baru menyadarinya. Bahkan dirinya dalam versi miniaturnya pun juga mengenakan coat merah yang sama seperti yang dikenakannya saat pertama kali pindah ke sana.
Wajah Maham sayu. Dia menyentuh permukaan kacanya sebelum meletakkan bola kaca itu ke meja di sampingnya. Lalu meraih laci dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
Masih di sana — selembar surat sederhana yang dilipat rapi. Yang dulu diselipkan bersama dengan bola kaca itu.
Tangannya gemetar pelan saat membukanya kembali.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau mengingatku tanpa pernah mengenalku. Tapi saat aku tahu kau akan pergi, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang selama ini selalu ada bersamaku.
Tidak banyak yang bisa kulakukan, kecuali berdiri di jauh dan menitipkan bunga ke mejamu. Kau selalu tersenyum saat menerimanya. Itu sudah cukup bagiku waktu itu, Maham.
Kalau takdir memberiku kesempatan sekali lagi, aku akan datang sebagai seseorang yang bisa kau percaya. Tapi jika tidak, kuharap kau bahagia di mana pun kau berada.”
– TCS
Maham menggigit bibirnya pelan. Ada badai yang terbentuk dalam hatinya. Ini adalah pertama kalinya dia membaca surat itu kembali setelah mengurai siapa TCS itu.
TCS, Timur Cihan Savcı. Nama yang sekarang menjadi penggalan hidupnya yang rumit.
“Aku tahu semua ini terasa tidak tepat. Tapi perasaanku terhadapmu tetap sama, Maham. Niatku padamu tetap sama.”
Kata-kata yang diucapkan oleh Timur saat mereka pulang dari rumah sakit, terngiang-ngiang. Jelas. Penuh keyakinan.
Maham merasa tidak ada yang salah dengan semua itu — bukankah hati tidak bisa memilih? Tentu, kecuali satu hal di mana mereka adalah dosen mahasiswa. Mungkin dibanding rasa terkejutnya oleh Timur yang ternyata adalah sepupu Aliye, status itu adalah yang membuatnya memilih untuk menjauh.
*
Langit-langit kamarnya cerah. Berbanding terbalik dengan warna kehidupannya saat ini. Berkali-kali matanya berkedip, dengan pikirannya yang tersita.
Sudah berapa lama sejak Maham mulai menghindarinya?
Satu minggu? Dua?
Timur sudah kehilangan hitungan. Tapi yang dia ingat pasti adalah, setiap kali langkah kaki mereka hampir bersinggungan di lorong kampus, Maham akan segera menghindar. Memutar arah, seolah keberadaannya adalah sesuatu yang tak pantas untuk dilihat.
Selama ini dia diam. Berpikir, mungkin Maham butuh waktu.
Baiklah, dia mengerti. Semuanya serasa tidak tepat saat dia membuat pengakuannya: tempatnya, waktunya, nada bicaranya. Namun waktu yang Maham butuhkan terasa seperti hukuman bagi dirinya.
Diam-diam, Timur berharap Maham akan mengetuk pintunya. Mengirim pesan. Apa saja. Tapi harapan itu semakin menipis setiap hari.
Ritme hidupnya jadi kacau. Perlahan dia kehilangan fokus saat mengajar, lupa hal-hal kecil, bahkan malam-malamnya tidak lagi tenang.
Dan kini, sudah cukup.
Timur menghela napas panjang. Turun dari ranjangnya, dia meraih jaket lalu membuka pintu apartemennya dengan satu tujuan: cukup sudah menunggu.
Kalau sebelumnya dia terikat dengan perjanjian bersama Aliye — tidak akan memaksa bila Maham menolak perkenalan mereka — kali ini Timur tidak akan tinggal diam saja melihat Maham — gadisnya — bergerak menjauh darinya seperti tanah longsor.
Timur menyeberang ke seberang lorong lalu mengetuk pintu yang sudah terlalu akrab baginya. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Dan wajah itu muncul.
Wajah yang dia rindukan. Rambut panjang itu tergerai tanpa ditata dan mata Maham sempat membulat karena terkejut. Terlalu terlambat untuk menyembunyikannya.
Jelas, Maham tidak berharap akan melihat dirinya berdiri di sana. Mungkin gadis itu mengira bila dia adalah Ara.
Refleks Maham ingin menutup pintu namun Timur lebih cepat, dia sudah membaca gerakan gadis itu. Tangannya menahan sisi pintu, suaranya pelan tapi tegas saat berkata, “Ayo, kita bicara.”
Maham kelihatan canggung. “Ara belum pulang,” katanya cepat. “Kalau Anda mau membicarakan soal sewa apartemen, Ara yang tanda tangan kontrak —”
“Kau tahu dengan jelas bila bukan itu yang ingin aku bicarakan, Maham,” Timur memotong cepat, nadanya masih tenang, tapi lebih rendah.
Ada jeda. Maham tak menjawab. Namun matanya bergerak mencari alasan untuk menghindar. Timur bisa semua melihat itu.
Sebelum Maham sempat membuka mulut, Timur menambahkan, “Aku akan tetap di sini sampai kau mau bicara.”
Kenekatannya membuat Maham terdiam. Mata hitam gadis itu yang indah menyorotnya dengan tatapan yang berkata ‘apa kau pria sinting?’. Tapi dia tidak peduli. Justru dia mengakui kalau dirinya memang sinting. Maham adalah penyebabnya.
Akhirnya, Maham menghela napas — panjang dan pelan. Cukup tahu bila Timur serius dengan ucapannya barusan. Dengan nada nyaris tak terdengar, dia pun berkata, “Tunggu. Saya ambil jaket.”
*
Taman kecil di ujung distrik itu sepi. Hanya ada beberapa bangku kayu yang dikelilingi pohon-pohon luruh. Udara mulai dingin tapi tidak menggigit.
Mereka duduk di bangku batu menghadap ke kebun bunga kecil. Jarak tubuh mereka terjaga. Tapi udara di antara mereka begitu padat.
Maham diam. Pandangannya jauh.
Timur mengikuti arah pandang Maham lalu berkata, “Aku bisa paham bila semua ini terlalu cepat dan mengejutkan untukmu. Tapi aku ingin tahu, berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk bisa menerima semua ini?”
Maham meremas tangannya. Dalam. Meski tidak banyak memberikan reaksi namun dia mendengarkan semuanya. Menerima? Bagian mana yang harus kuterima?
“Tidakkah situasi ini terasa aneh bagi Anda? Seorang dosen dan mahasiswinya duduk berdua di taman. Tidak membicarakan akademik tapi... urusan pribadi?”
Timur menyentuh dahinya sebentar kemudian menarik napas. “Aku mengira kau satu kampus dengan Ara karena kalian tinggal bersama. Bukan mahasiswi… di kelasku,” suaranya getir saat mengatakan kalimat yang terakhir itu.
“Tapi kenyataannya... tidak begitu, kan?”
“Situasi ini juga menyakitiku, Maham.”
Maham menatap Timur akhirnya. Tatapannya lembut, tapi bingung.
“Sama seperti hari itu, saya tidak ingin menyakiti siapapun. Tapi apakah ini terlihat mungkin bagi Anda? Jawaban apa yang Anda harapkan dari saya?”
Timur menatap langsung ke manik Maham. Dia sudah menduga kalau itu akan datang — Maham yang mempertanyakan status mereka.
“Aku mengerti, Maham,” katanya pelan. “Aku sempat memikirkannya. Detik pertama melihatmu di kelasku, aku tahu aku harus menjauh. Tapi saat kau terbaring di rumah sakit hari itu, aku langsung sadar bahwa aku tidak bisa. Tidak akan bisa. Jauh sebelum menjadi dosenmu, aku adalah pria yang jatuh hati padamu.”
Maham menelan ludah. Suaranya kecil, nyaris berbisik. “Hocam, ini tidak benar.”
Timur tersenyum miris. “Setelah semua ini apakah kau masih bisa melihatku seperti dulu, Maham? Tanpa teringat bahwa aku memiliki perasaan terhadapmu?”
Hening.
“Aku tidak bisa,” lanjutnya. “Aku tidak bisa melihatmu hanya sebagai mahasiswi di kelasku. Aku bersumpah akan mencari cara untuk kita, Maham.”