Kelas pertama Maham di hari itu baru saja selesai menjelang jam makan siang. Dia masih bertahan di kelasnya ketika pintu kelas terbuka. Tidak ada siapapun yang tersisa di sana kecuali dirinya.
Seorang gadis melongok ke dalamnya, hanya wajahnya saja. Senyumnya langsung terkembang lebar saat mendapati Maham yang tampak sangat fokus berdiri di depan kelas, membaca materi yang dituliskan oleh dosennya di sana.
“Maham,” panggilnya, setengah berbisik. Tidak ingin mengagetkan teman barunya itu.
Maham menoleh. “Esra?”
Ya, gadis Turki yang ditolongnya beberapa minggu lalu. Segera setelah insiden tersebut, keduanya menjadi teman. Mungkin selain Ara, Esra adalah yang suka menempel padanya juga. Hanya saja, ketika Ara lebih seperti preman, Esra lebih mirip anak kecil — gadis manja khas keluarga kaya.
Melihat kehadiran gadis itu, Maham refleks menengok pada jam tangannya. 11.40. Semalam Esra mengajaknya untuk makan siang bersama dan dia menyetujuinya.
“Sudah lama menunggu?” tanya Maham sopan setelah meraih pintu.
“Tidak juga. Aku datang lebih awal saja karena tidak sabar ingin makan. Perutku sudah konser sejak tadi,” kata Esra sambil terkikik.
Lalu menarik lengan Maham. “Ayo, kita naik mobilku.”
Mereka melaju menembus jalan-jalan Istanbul yang mulai dipenuhi warna oranye dan merah dari dedaunan musim gugur. Arsitektur kuno bercampur gedung modern menjadi pemandangan yang membingungkan sekaligus indah. Maham melirik ke luar jendela, sesekali mengangguk mendengarkan celoteh Esra yang tiada henti.
“Ngomong-ngomong,” Esra melirik ke arah Maham sekilas, “kakakku juga akan datang.”
Maham menoleh cepat. “Kakakmu?”
Dari Esra yang menyebut kakaknya sebagai ‘abi’, Maham tahu bila kakak gadis itu adalah laki-laki.
Esra tersenyum, agak ragu. “Kau tidak keberatan kan?”
“Tidak, tentu saja tidak,” Maham menjawab dengan suara lembut. “Tapi apa aku tidak mengganggu makan siang keluarga kalian?”
“Justru kehadiranmu ditunggu, Maham. Kak Sinan ingin bertemu sejak hari itu. Tapi baru bisa sekarang.”
Maham mengangguk pelan. Tapi jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak tahu harus bagaimana di situasi semacam ini.
Mereka menyusuri jalanan Istanbul yang sibuk. Melintasi bangunan-bangunan batu tua lalu menuruni jalan kecil ke arah selat. Warna langit kusam. Angin membawa daun-daun berguguran ke jendela mobil.
Restoran tempat mereka berhenti terletak di pinggir Bosphorus. Bangunannya modern, bertingkat dua, dengan balkon kaca yang menghadap langsung ke selat. Interiornya bernuansa putih dan abu, dengan tanaman indoor di setiap sudut.
Saat mereka masuk, Maham merasa langkahnya makin berat. Ia belum pernah ke restoran semewah ini hanya untuk makan siang.
“Jangan tegang begitu. Kakakku tidak menggigit, kok,” Esra menggoda.
Di pojok restoran, duduk seorang pria berpakaian kasual serba hitam — kaos, jaket, celana jeans, dan topi baseball yang menutupi sebagian wajahnya. Duduk diam, tangan menyentuh gelas berisi air. Tatapannya tertuju pada pemandangan selat Bosphorus yang terhampar di sisi kiri restoran tersebut.
“Abi!” panggil Esra ceria.
Pria itu menoleh.
Wajahnya tirus. Rahang tegas. Tapi saat bibirnya tersenyum, senyumnya sangat hangat. Bahkan terlalu hangat.
“Ini Maham,” kata Esra memperkenalkan. “Gadis pemberani yang menyelamatkanku.”
Sinan berdiri. “Akhirnya kita bertemu, “suaranya dalam dan ramah.
Maham mengangguk pelan. “Senang bertemu dengan Anda, Tuan Sinan.”
“Oh, jangan kaku begitu,” Sinan tertawa kecil. “Panggil saja Sinan. Lagipula kau menyelamatkan adikku. Aku bahkan berhutang nyawa padamu.”
Maham tersenyum sopan, meskipun kata-katanya terasa berlebihan.
Mereka duduk. Pelayan datang. Esra memesankan hidangan laut dan salad. Maham hanya minta air mineral dan sup ringan.
“Jadi, kau dari Indonesia?” tanya Sinan, menyandarkan tubuh ke kursi. “Esra cerita banyak tentangmu.”
“Iya.” Maham tersenyum. “Baru tahun lalu pindah ke Istanbul.”
“Keputusan yang berani.”
“Tidak juga. Hanya... mengikuti panggilan hati.”
Sinan tertawa. “Kau tipe yang lembut tapi punya keberanian, ya?”
Maham hanya membalas dengan senyum kecil. Hatinya agak tidak tenang. Entah kenapa, ada sesuatu dalam cara Sinan menatap yang membuatnya ingin menunduk.
“Jangan bikin Maham gugup, Kak,” potong Esra cepat. “Kau menatapnya seperti dia sedang diinterogasi.”
Sinan tertawa keras. “Maaf, maaf. Aku memang suka memandang wajah yang menyenangkan.”
Maham tersipu, tapi cepat-cepat meneguk airnya.
Selama makan, Sinan sering melontarkan candaan. Tentang makanan yang terlalu asin. Tentang Esra yang cerewet. Tentang dirinya yang terlalu banyak tidur.
Maham tertawa beberapa kali. Sinan terlihat hangat, lucu, bahkan menggemaskan. Sama sekali tidak terlihat sebagai seseorang yang membahayakan.
Namun, Esra yang duduk di samping Maham tak bisa mengabaikan sesuatu.
Pandangan Sinan. Bukan hanya sekilas atau penuh kekaguman biasa. Tapi pandangan lama, dalam, seperti sedang mengamati lukisan yang nyaris sempurna. Seolah Maham adalah sesuatu yang rapuh tapi berharga, sesuatu yang tidak ingin dilepas.
Wajah Esra mulai tegang. Dia mengenal tatapan itu.
*
Malamnya, Esra tak bisa tidur. Tubuhnya terus menggeliat di ranjangnya yang empuk, menatap langit-langit kamarnya dengan d**a tidak tenang.
Bayangan makan siang tadi tak bisa lepas dari pikirannya.
Hingga jam tiga dini hari dia terjaga. Mendengar suara pintu depan terbuka, dia tahu bila Sinan baru saja pulang dari pekerjaannya.
Bergegas Esra turun dari tangga. “Kak.”
Sinan yang baru saja meneguk segelas air, menoleh. “Kau belum tidur?”
Esra menggeleng pelan. “Kita harus bicara.”
Mereka duduk di ruang tamu. Suasana hening sesaat. Hanya detik jam yang terdengar.
“Jadi apa yang mau kau katakan, Adik Kecil?” Sinan membuka suara.
“Hari ini... caramu melihat Maham, itu…” Esra ragu untuk melanjutkannya.
“Apa?” Sinan menyandarkan tubuh ke sofa. Senyum tipis mengembang. “Aku hanya penasaran dengannya.”
“Itu bukan penasaran biasa, Kak. Itu... seperti waktu kau melihat foto-foto lama mendiang Ibu.”
Sinan terdiam. Wajahnya tetap tenang tapi mulai ada gejolak gelap pada sorot matanya.
“Ibu meninggal karena Ayah. Kita tahu itu. Tapi kau… kau begitu kehilangan hingga —” Esra mulai gugup sampai dia kesulitan melanjutkan kalimatnya. “Maham bukan... pengganti Ibu.”
“Tapi dia terlalu mirip seperti Ibu,” bisik Sinan. Matanya kosong. “Suaranya lembut. Sopan. Bahkan cara dia menunduk tadi persis seperti ibu saat membacakan dongeng untuk kita sebelum tidur. Apa kau ingat?”
Esra berdiri. Panik atas pengakuan kakaknya barusan. “Kak, kau butuh bantuan! Ini tidak sehat!”
Sinan tertawa kecil. Tapi tawanya dingin. “Kau cemas karena aku tertarik pada Maham? Atau karena kau takut aku menyakitinya?”
“Keduanya,” Esra mengakui. “Kau selalu terobsesi pada wanita-wanita yang kau rasa mirip dengan mendiang Ibu.”
Senyum Sinan lenyap. Dia berdiri mendekati sang adik. Langkahnya pelan tapi mengancam.
“Dengar, Esra. Aku sudah kehilangan rumahku sekali. Aku tidak akan kehilangannya lagi. Maham... dia bisa mengisi kekosongan itu. Aku butuh dia. Aku akan memilikinya.”
“Kau tidak bisa!”
Sinan menatap Esra dengan sorot dingin. “Kalau kau berani menghalangi, kau akan tahu seperti apa aku sebenarnya.”
Esra membeku. Dia bukan baru mengenal Sinan setahun, dua tahun. Dia sudah mengenal Sinan sepanjang hidupnya. Terlalu tahu bila itu bukan hanya sekedar gertakan.
“Jadi bagaimana, Adik Kecil? Apa kau masih berniat untuk menghentikanku?”
Melalui sudut matanya, Esra melirik sang kakak. “Kau akan membuat keributan di publik, Kak.”
“Aku tidak peduli.”
“Kak! Mereka akan menyerang Maham!” tolak Esra keras. Terlalu panik bahkan hanya dengan memikirkan kemungkinan tersebut. Dia terdiam sejenak. Kemudian dengan suara yang lebih lunak, “Kau benar, Maham terlalu mirip dengan mendiang Ibu. Dan kau tahu apa artinya itu? Maham tidak akan bertahan bahkan sebelum dia memasuki duniamu bila kenekatanmu ini sampai tercium publik. Sama seperti Ibu yang tidak bisa bertahan. Duniamu bukan dunianya. Sama seperti dunia Ayah bukan dunia Ibu.”
“Lalu apa yang kau sarankan?”
Esra memejamkan matanya.
“Jangan mendatanginya. Jangan mendekatinya secara langsung. Aku yang akan menjadi perantara bagi kalian. Aku yang akan membawanya padamu. Aku akan membantumu.”