Pantulan dirinya di cermin kamar membuat Maham terdiam. Matanya menatap penuh keraguan pada sosok yang sangat... bukan dirinya. Gaun midi berwarna gading dengan kerah rendah yang manis, bahannya jatuh lembut, menyempurnakan lekuk tubuhnya yang mungil. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit ikal di ujung, dan riasan tipis di wajahnya.
“Apa ini tidak berlebihan, Ra?” bisiknya ragu, menoleh ke arah Ara yang sedang merapikan boks make-up di ranjang.
Ara menoleh. Matanya menyusuri penampilan Maham dari ujung kaki hingga kepala. “Mungkin eyeliner-nya harus lebih bold lagi.” Lalu mengambil pensil eyeliner dan berjalan kembali ke arah Maham.
“Ra, aku hanya akan pergi ke taman kota,” sanggah Maham cepat. Terburu dia mengangkat tangan untuk melindungi matanya dari goresan Ara.
Ara mencibir. “Apa kau akan pergi sendirian? Kau akan pergi bersama Cihan. Tepatnya, kalian akan pergi kencan.”
“Kencan” terdengar terlalu vulgar di telinga Maham. “Ra, dia dosenku.”
“Cukup!” Ara bergidik, mendramatisir reaksi. “Jangan sebut-sebut hal mengerikan itu. Aku merasa buruk saat mendengarnya.”
Bel apartemen mereka berbunyi. Maham refleks berdiri lebih tegak dan panik. “Ra, dia datang.”
Ara melipat tangan di d**a. “Kalau kau setakut ini untuk bertemu dengannya, kenapa kau setuju menjalin hubungan dengan pria itu?”
“Kami tidak punya hubungan apa pun,” Maham buru-buru meralat.
Ara mendecak pelan, memutar bola matanya. “Benar. Kau hanya setuju untuk melakukan pendekatan dengannya,” ucapnya menyindir.
Maham tidak mengelak. Ara benar. Dia sendiri yang sudah menyetujui semua ini.
“Saya… akan mencobanya,” ucap Maham. Suara lirihnya nyaris kalah dengan angin sore yang berhembus di sekitar mereka.
Timur tak langsung menanggapi. Sepasang mata zamrudnya hanya menatap Maham. Seakan tak percaya kalimat itu keluar dari bibir gadis itu. Lalu, “Kau yakin?”
Maham mengangguk pelan. “Kecuali Ara, saya tidak ingin orang lain tahu tentang ini. Dan ini bukan berarti kita sudah… menjalin hubungan secara resmi. Hanya perkenalan.”
“Aku mengerti,” potong Timur, senyumnya lembut. “Aku bersedia mengikuti semua syaratmu. Kau bersedia membuka pintu untukku, itu sudah cukup bagiku.”
Apakah sekarang Maham menyesal? Tidak. Timur terdengar sangat tulus padanya (dan juga tertekan). Bagaimana dia bisa mengabaikan seseorang yang tulus kepadanya, bukan? Hanya saja, dia belum bisa serta merta mengabaikan status di antara mereka.
Suara Ara kembali terdengar. “Aku tidak melihat bedanya di mana.” Lalu menggelengkan kepala. “Aku yang akan buka pintunya.”
Pintu terbuka. Ara berdiri dengan tangan terlipat dan alis terangkat. Mata sipitnya menatap Timur seolah sedang memeriksa seorang penjahat.
“Cihan Bey,” sapanya datar. “Kau sudah tahu dengan baik siapa aku dan bagaimana diriku. Maham adalah saudara perempuanku. Jadi jika satu helai rambutnya saja tidak kembali dengan utuh, aku akan menjadi mimpi buruk bagimu.”
“Kau tidak perlu khawatir. Bila terjadi sesuatu kepadanya maka aku sendiri yang akan melaporkan diriku ke polisi.”
Ara memutar badan dan berseru, “Maham! Pria berbaju abu-abu favoritmu sudah datang!”
Langkah Maham pelan. Dia muncul dari balik pintu kamar dengan kepala sedikit tertunduk. Tubuhnya kaku.
Begitu melihat Maham, Timur membeku. Matanya memeluk gadis itu dari ujung rambut hingga mata yang selalu membuatnya gentar.
“Jadi apakah Anda akan mengambil gadis Anda atau saya harus menyimpannya kembali, Tuan?” sindir Ara, melirik mereka berdua yang hanya saling tatap tanpa suara.
Timur akhirnya tersadar dan tersenyum lembut. “Tentu. Aku sudah menunggunya dari dulu.”
*
Di dalam mobil, Maham duduk dengan rapi, tangan di pangkuan, diam saja. Tapi dia tahu Timur meliriknya berkali-kali.
Akhirnya dia angkat bicara, suaranya pelan. “Maaf, saya pasti terlihat sangat berlebihan. Ara tidak mengizinkan saya untuk mengganti baju yang sudah dipilihkannya.”
Timur yang menyetir menoleh sekilas. “Permintaan maaf tidak diterima.”
Maham mengerutkan kening, heran.
Timur melirik lagi dan tersenyum. “Karena aku sangat menyukainya.”
Tentu. Bukan hanya itu yang hendak dikatakannya. Masih ada ‘kau sangat indah’. Namun Timur hanya membisikkannya dalam hatinya. Tahu bila Maham bisa langsung membeku dan mungkin akan kembali merasa tertekan olehnya. Jadi Timur menahan dirinya. Yang keluar dari mulutnya hanyalah, “Terima kasih, Maham.”
“Untuk apa?” tanya Maham, malu-malu.
“Karena sudah berada di sini. Dan memberiku kesempatan.”
*
Taman kota siang hari itu ramai, tapi tidak padat. Sinar matahari menerpa rerumputan. Daun-daun cokelat dan oranye berserakan, melayang ringan tertiup angin. Burung merpati beterbangan di sekitar air mancur. Anak-anak tertawa, orang-orang bersantai di bangku-bangku panjang. Suasananya tenang dan hangat. Seperti musim panas yang tersesat di musim gugur.
Timur membuka bagasi dan mengeluarkan keranjang piknik rotan besar.
Maham mengangkat alis. “Saya pikir kita hanya akan jalan-jalan?”
“Jarang-jarang cuaca secerah ini saat akhir musim gugur. Sayang kalau tidak dimanfaatkan.”
Mereka kemudian memilih tempat agak terpencil, di bawah pohon maple besar. Timur menggelar kain kotak merah putih lalu mulai mengeluarkan isi keranjang: simit, börek isi cacahan daging, şarma, cookies, dan dua botol minuman.
“Semua ini... Anda beli?” tanya Maham ragu.
Timur tertawa. “Aku anggap itu pujian.”
“Anda membuatnya sendiri?”
Timur tidak menjawab pertanyaan Maham. Hanya menyodorkan piring kertas. “Cobalah. Aku ingin tahu pendapatmu.”
Maham menggigit kecil sepotong börek. Kunyahannya lambat tapi mata hitamnya membulat sejak gigitan pertama.
“Bagaimana?” tanya Timur.
“Kalau besok saya tidak sakit perut, berarti masakan Anda aman.”
Timur terkejut. Alisnya naik. Tapi kemudian tawanya terdengar. “Kau bercanda denganku?”
Maham salah tingkah. “Tapi rasanya enak sekali. Mungkin kalau tidak jadi dosen, Anda pasti sudah jadi chef.”
“Aku tidak memasak untuk semua orang, Maham,” kata Timur pelan.
Maham terdiam sejenak. Lalu, dengan suara lembut berkata, “Terima kasih, Tuan.”
Timur menatapnya lekat. “Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?”
Maham ragu-ragu. “Apa?”
Timur tertawa kecil. “Aku tidak akan meminta sesuatu yang berbahaya.” Menambahkan dengan senyum tipis, “Apapun definisi berbahaya itu.”
Maham berpikir sejenak. Lalu mengangguk.
“Bisakah kau tidak bersikap formal kepadaku? Dan memanggilku dengan Timur saja? Bukan hocam dan bukan tuan. Tentu, selain di kampus.”
Maham memandangnya dengan sorot ingin tahu. Sebelum akhirnya menanyakan pertanyaan yang selama ini cukup mengganggunya, “Kenapa? Bukankah semua orang memanggil Anda dengan nama Cihan.”
“Sudah jelas, bukan? Kau bukan semua orang, Maham. Itu nama kecilku. Hanya —” Timur menelan ludah demi membasahi kerongkongannya. Suaranya menjadi lebih dalam saat melanjutkan, “— keluargaku yang memanggilku dengan nama itu.”
Hening sejenak. Di balik rongga dadanya, detak jantungnya begitu kencang menghantamnya. Saat ini Timur sedang bertaruh dengan dirinya sendiri. Bagaimana kalau Maham menolaknya?
Tapi semuanya menguap tak berbekas. Suara lembut Maham menyelusup ke dalam udara hangat musim gugur yang berputar di sekitar mereka:
“Timur.”
Dari semua pencapaian, pengakuan akademik, gelar, dan keberhasilannya selama ini, tidak ada yang sekuat getaran yang Timur rasakan saat ini. Saat mendengar namanya terucap dari bibir Maham dengan cara seperti itu.