“Ini sungguh membosankan!” Esra meletakkan buku bersampul tebal di meja, mendesah panjang, lalu menyandarkan tubuh ke kursi dengan posisi malas.
Maham menatapnya, satu alis terangkat. “Tapi kita belum menemukan referensi yang cocok untuk tugasmu.”
Saat ini mereka berada di perpustakaan universitas. Dengan mengemban misi untuk membantu Esra menyelesaikan tugas makalahnya. Namun dari gelagat Esra, sepertinya misi tersebut tidak akan terpenuhi.
Esra mengibas pelan rambutnya. “Nanti juga ketemu. Sekarang sebaiknya kita pergi ke tempat lain saja,” ucapnya enteng.
“Ke mana?”
Wajah Esra langsung cerah. “Ke set drama Pertempuran Harga Diri.”
Maham bingung. Dia pikir Esra akan menyebut kafe atau mall seperti biasanya. “Untuk apa kita ke sana? Dan memangnya tempat seperti itu boleh dimasuki sembarang orang?”
“Melepas stres,” jawab Esra cepat. “Kau tenang saja. Ini bukan pertama kalinya aku ke sana. Mereka semua sangat ramah.”
Keterangan Esra tidak cukup untuk meyakinkan Maham.
Melihat ragu belum menghilang dari wajah Maham, Esra segera memasang raut memohon yang sulit ditolak. “Ayolah, Maham. Mau ya? Kau belum pernah lihat set syuting film kan? Ini akan jadi pengalaman pertamamu. Drama itu sangat terkenal di sini. Tidak semua orang dapat kesempatan untuk bisa ke set-nya.”
Maham berpikir. Benar juga. Bahkan dia yang tidak suka nonton TV pun tahu soal drama berlatar era Ottoman tersebut. Beberapa kali dia sempat mendengar teman-temannya membahasnya. Tepatnya membahas tokoh utamanya — Shehzade Fatih Alp — yang disebut tampan paripurna.
Tentu Maham tidak tahu bagaimana definisi tampan paripurna itu. Ingat, dia tidak pernah nonton TV. Tidak tertarik juga dengan urusan lain selain urusan kampusnya dan… Timur. Tapi yang terakhir itu topik yang berbeda. Pokoknya, dia tidak yakin dengan tempat pilihan Esra barusan.
“Ayolah, Maham. Temani aku ke sana,” ulang Esra masih dengan nada merengeknya.
Akhirnya Maham mengangguk pelan. Pasrah. “Baiklah.”
*
Perjalanan menuju lokasi set terasa panjang. Letaknya di ujung kota Istanbul, dekat daerah perbukitan yang masih menyisakan pepohonan musim gugur. Mobil Esra melintasi jalan kecil beraspal yang dikelilingi alam terbuka. Setelah melewati satu pos penjagaan, mereka masuk ke area terbuka yang dipenuhi tenda kru, peralatan syuting, dan dekorasi khas Kesultanan Ottoman. Semuanya terlihat begitu sangat detail.
Maham terpaku. Di sekelilingnya ada tenda-tenda kemiliteran, baju zirah tergantung di rak, bahkan kuda-kuda istirahat di sisi belakang. Semua terasa seperti potongan sejarah yang dihidupkan.
Beberapa kru menyapa Esra yang sepertinya sudah sangat dikenal di sana.
“Esra? Sudah lama kau tidak kemari,” salah satu kru pria menyapanya.
“Iya. Akhir-akhir ini aku sibuk dengan urusan kuliahku,” jawab Esra.
Pria itu mengangguk. “Baiklah. Aku harus kembali ke pekerjaanku. Kalau kau mencari kakakmu, dia ada di sana,” katanya sembari menunjuk ke arah tenda yang lebih besar yang berada di sisi bukit kecil.
Maham terbelalak. “Sinan maksudnya?” tanyanya segera setelah mereka melewati pria tersebut.
“Cuma dia kakakku tersayang.” Esra tersenyum jahil.
Maham semakin bingung. “Dia kerja di sini?”
“Sudah tiga tahun ini.”
Langkah Maham melambat. Datang ke sana saja rasanya sudah tidak tepat. Sekarang setelah mengetahui bila set itu adalah ‘tempat kerja’ Sinan, rasanya jadi tidak benar. Untuk apa aku di sini?, pikirnya sungkan. Namun Esra menarik tangannya dan membawanya jauh lebih dalam ke set.
Ketika mereka mendekat, Maham melihat sosok pria berpakaian seragam tentara Ottoman yang berdiri membelakangi mereka. Ada tumpukan kertas di tangannya dan pria itu sedang berbicara dengan seorang kru. Rasanya aneh tapi sosoknya seperti tidak asing.
“Kak!” panggil Esra riang.
Pria itu menoleh. Mata biru cemerlangnya menatap Esra namun langsung bergeser ke Maham segera setelah menyadari kehadiran Maham di sana. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar yang sangat hangat.
“Eh?” gumam Maham pelan. Dadanya berdesir pelan. Pantas saja Esra sering ke sini. Ternyata kakaknya bukan kru biasa. Tapi aktornya!
Maham merasa semakin konyol saja dengan keberadaannya di sana.
“Kukira kau tidak akan pernah datang ke sini,” suara Sinan lembut saat menyapa Maham.
Maham melirik Esra. “Esra bilang mau ke tempat syuting. Aku tidak tahu kalau ternyata kau… kerja di sini.”
Tawa renyah Sinan terdengar. “Tentu saja dia tidak bilang. Esra suka kejutan.” Lalu tersenyum hangat. “Selamat datang, Maham.”
Mendengar Sinan menyebut namanya, beberapa kru yang ada di sekitar mereka menoleh. Sebelumnya mereka memang sudah mencuri pandang ke arah mereka dengan tatapan penasaran. Tapi kali ini dengan ingin tahu yang… sangat. Tidak mungkin bagi Maham untuk tidak merasakannya ketika sorot mata mereka begitu intens.
Maham hanya menunduk merasakan ketidaknyamanan tersebut.
Sinan lalu melirik ke sekitar dan berseru pada beberapa kru, “Teman-teman, kenalkan. Ini Maham.”
Maham menatap terkejut ke arah Sinan. Tidak menyangka bila pria itu justru akan mengungumkannya seperti itu.
“Kau pasti sudah lihat kalau mereka sudah penasaran denganmu sejak tadi. Bagaimana kalau kau menyapa mereka?” suara Sinan sedikit rendah, nyaris berbisik pada Maham. Diikuti oleh sebuah kerlingan.
Saat ini gugup setengah mati pun Maham tidak memiliki pilihan lain. Semua mata yang ada di sana masih berada di atasnya, menunggunya untuk mengatakan sesuatu. “Selamat siang. Saya Maham. Teman Esra.”
“Selamat siang, Maham. Selamat datang. Kami sudah tahu tentangmu sebelum kau datang kemari,” salah satu kru berkata.
Maham melirik Sinan. Tapi Sinan hanya tersenyum kepadanya.
“Baginda Sinan bilang kau spesial,” masih kru yang sama, menambahkan.
“Bukan cuma spesial. Tapi langka,” jawab Sinan ringan, membuat Maham kikuk.
“Awas kalau fans tahu. Bisa rusak rating!” canda kru lain.
“Fanbase-nya Sinan itu selevel fanbase artis Korea,” ucap seseorang ke Maham.
Maham tertawa kecil, gugup. Dia langsung menangkap maksud kalimat itu — penggemar yang militan dan tak segan menyerang. Bukan dunia yang nyaman untuknya. Bukan ranah yang dia kenal. Dan yang lebih penting: bukan urusannya. Kenapa orang-orang di sana bersikap seperti dia memiliki hubungan dengan Sinan?
Jujur saja itu membuat Maham tidak nyaman meski tidak ada yang terucap dari bibirnya.
Sinan kemudian mengajak mereka ke sebuah area kecil di balik kemah utama. Ada karavan di sana yang menjadi tempat istirahat pribadi miliknya. Bagian dalam karavan tersebut dihiasi permadani, meja kecil, dan termos berisi teh panas. Seharusnya terasa nyaman. Sayangnya Maham merasa seperti melangkah ke sebuah ruang yang tak seharusnya dia masuki.
“Silakan duduk,” tawar Sinan sopan.
Maham menurut, duduk pelan di kursi rotan kayu. Esra mengambil tempat di sampingnya dan langsung mengambil ponselnya. Jelas bila gadis itu tampak bosan berada di sana.
Bukankah dia sendiri yang mengajakku kemari?, pikir Maham.
Sedang Sinan duduk di seberang Maham. Tatapannya tak berpaling. “Terima kasih karena sudah bersedia datang kemari menengokku. Perjalanannya pasti panjang sampai kemari.”
“Maaf kalau sebelumnya aku tidak mengenalimu. Aku tidak pernah nonton TV. Jadi aku tidak tahu kalau kau seorang aktor.”
Esra meringis. “Dia pemeran utamanya, Maham.”
Kejutan yang lain bagi Maham.
Sinan tersenyum. “Aku Shehzade Fatih Alp, Maham.”
Ah, baiklah. Sekarang rasanya Maham ingin menyusut ke balik karpet. Tidak tahu bahwa pria yang pernah ditemuinya dan sekarang duduk di hadapannya ini ternyata sosok yang dielu-elukan satu negara.
Dia pun jadi teringat ketika temannya mendeskripsikan sosok Shehzade Fatih Alp: rambut blonde gelap, mata sebiru samudra, dan karisma yang bisa mencairkan Istanbul yang beku. Sekarang dia baru tahu bila semua gambaran itu tidak berlebihan.
“Maaf, aku tidak tahu,” suara Maham pelan, begitu sungkan.
“Aku justru lebih suka karena kau tidak bersinggungan dengan TV. Itu berarti… kau tempat yang aman. Dan aku menyukainya. Sangat menyukainya.”