Beberapa dosen sudah duduk di kursi masing-masing, sebagian sibuk dengan laptop, sebagian lagi menyeruput teh hangat dari gelas plastik. Timur duduk di ujung meja, mengenakan kemeja biru tua dan jas abu-abu yang tampak rapi seperti biasa. Wajahnya serius, tapi pandangannya tajam dan fokus saat kepala jurusan membahas soal kurikulum baru untuk semester depan.
“Kalau modul ini dimasukkan, maka akan ada perampingan di modul sebelumnya,” ujar salah satu dosen senior.
“Itu bisa menimbulkan kesenjangan untuk mahasiswa baru,” timpal dosen lain.
Timur mengangkat tangannya sedikit. “Atau kita bisa menyisipkannya sebagai bagian dari mata kuliah wajib yang sudah ada. Materinya tidak terlalu asing dan kita tidak perlu menghapus modul yang penting.”
Beberapa anggukan setuju muncul. Kepala jurusan tersenyum tipis. “Baik. Akan kami evaluasi. Terima kasih untuk saran Anda, Cihan Hocam."
Rapat selesai. Timur berdiri, merapikan dokumennya dan berjalan keluar dari ruang rapat jurusan. Begitu sampai di lorong, ponselnya berdering. Nama Murat muncul di layar.
“Ya?”
“Şüca, ada waktu minggu ini? Kami butuh orang untuk bantu latihan panahan. Akan ada pertunjukan minggu depan. Mungkin kau sudah mendengarnya.”
“Tentu. Aku bisa. Kau tahu aku tidak pernah menolak panahan,” jawab Timur sambil tersenyum.
“Sempurna! Aku tahu kau selalu bisa diandalkan.”
“Sore ini aku akan mampir.”
Begitu panggilan ditutup, Timur dengan cepat membuka kontak dan menekan nama: Maham. Panggilan dari Murat barusan baru saja memberikannya ide.
“Hallo,” suara lembut itu menjawab.
“Kau sedang apa?”
“Menurutmu aku sedang apa? Aku bahkan bisa melihatmu dari koridor bawah.”
Timur menoleh. Di bawah sana, gadis itu sedang berada bersama teman-temannya. Rambut hitam legamnya bersinar ditimpa matahari. Melihatnya, senyum Timur langsung mengembang.
“Kau tidak seharusnya menghubungiku di sini, kan?” Maham terdengar sangsi.
“Aku tahu. Tapi tidak ada yang tahu kan? Aku ingin mengajakmu ke tempat latihan panahan.”
Hening sejenak di seberang sana. Maham tampak memikirkannya. “Tidak apa?”
“Tentu.”
“Baiklah. Kapan?”
“Sore ini setelah aku selesai kerja. Kau tidak ada kelas lagi kan?”
“Tidak. Kelas terakhirku juga selesai sekitar jam segitu.”
Hening sejenak. Keduanya sama-sama tahu kalau itu artinya mereka harus bertemu di tempat yang tersembunyi. Itulah konsekuensi yang harus mereka hadapi — salah satunya.
“Kau tidak apa kalau harus naik bis dulu dan turun di halte Kiraztepe?” Timur bertanya kemudian.
Halte Kiraztepe jaraknya 3 halte dari halte kampus mereka.
“Ya, tidak masalah.”
“Baiklah. Aku akan menjemputmu di sana. Aku akan usahakan keluar lebih awal.”
Maham mengangguk. “Sekarang pergilah dari tempatmu.”
Timur tertawa renyah. “Baik, Nona. Aku pergi dulu,” katanya lalu mengangkat lengannya dari pinggiran besi yang digunakannya untuk bersandar memandang keindahan Maham.
*
Tempat latihan panahan itu terletak tidak jauh dari kampus, tersembunyi di dalam sebuah gedung tua yang bagian dalamnya telah direnovasi menjadi ruang latihan modern. Dinding-dindingnya dipenuhi panel kayu hangat, memberikan kesan tradisional namun tetap nyaman. Lampu-lampu gantung bernuansa kuning temaram menggantung di langit-langit tinggi, menciptakan bayangan lembut yang memeluk seluruh ruangan.
Di satu sisi, terdapat deretan target panahan berbentuk bundar, berjajar rapi dalam jarak yang terukur. Lantai berlapis karet khusus untuk latihan membuat setiap langkah terdengar lembut dan mantap. Di sisi lainnya, terdapat rak-rak kayu tempat menyimpan busur tradisional, lengkap dengan anak-anak panah berujung bulu.
Beberapa bangku dan meja kecil disediakan di sudut ruangan — tempat para anggota beristirahat sambil minum teh hangat atau sekadar melepas lelah setelah sesi latihan. Suara panah yang melesat dan menghantam sasaran menjadi latar belakang ritmis yang menenangkan. Udara di dalam ruangan sedikit hangat karena pemanas ruangan, kontras dengan hawa dingin di luar gedung yang mulai menusuk menjelang musim dingin.
“Ini panahan tradisional Turki,” jelas Timur sambil menunjukkan busur kayu panjang dan anak panah dengan bulu di ujungnya.
“Panahan tradisional? Aku pikir hanya ada panahan biasa.”
“Panahan tradisional berbeda. Busur ini disebut 'tirkeş'. Tekniknya juga berbeda dengan panahan barat.”
Maham tetap mendengarkan meskipun sebenarnya sama sekali tidak paham di mana bedanya. Sejak Timur bercerita kalau dia adalah seorang atlet panahan, Maham sudah sangat penasaran. Begitu ingin tahu tentang olah raga tersebut namun terlalu malu untuk meminta Timur mengajaknya saat latihan. Maka ketika hari ini Timur tiba-tiba saja mengajaknya, hatinya melompat-lompat kegirangan.
Dari pintu ruangan lain seseorang mendekat ke arah mereka. Menyapa, “Şüca kita sudah datang rupanya!”
Timur menoleh.
Keduanya kemudian berpelukan tanpa benar-benar menyentuh dan saling menepuk bahu sama lain — salam khas pria.
Seperti yang seharusnya, Murat melirik Maham dan tersenyum. “Siapa ini?” tanyanya penuh arti pada Timur.
“Temanku. Maham,” jawabnya pada Murat. Lalu menoleh ke Maham. “Ini teman panahanku. Namanya Murat.”
“Teman? Teman yang seperti apa?” goda Murat.
Darah membanjiri wajahnya. Maham menunduk malu.
“Jangan mengganggunya,” Timur memperingatkan. “Maham hanya ingin lihat panahan tradisional kita seperti apa.”
Murat ke Maham. “Maaf, Maham. Aku sama sekali tidak berniat untuk mengerjaimu. Ucapanku tadi untuk Cihan. Seumur-umur aku belum pernah melihatnya membawa seorang wanita ke tempat panahan. Tempat ini adalah… tempat persembunyiannya. Garis merahnya.”
Refleks Maham melirik Timur. Tatapannya penuh tanda tanya.
“Sudah sana lanjutkan pekerjaanmu! Kalau tidak kau akan membongkar semua rahasiaku,” Timur mengusir Murat.
Murat tertawa. “Baik… baik, Bro. Aku tidak akan mengganggu kalian,” candanya. Terlihat puas karena sudah berhasil merusuhi Timur. Lalu ke Maham, “Aku permisi dulu, Maham. Senang berkenalan denganmu.”
Maham mengangguk mempersilahkan.
“Aku minta maaf kalau kau jadi tidak nyaman. Murat memang suka tidak tahu situasi,” ucap Timur sungkan segera setelah Murat pergi.
“Tidak apa-apa. Aku jadi tahu rahasiamu.” Maham meringis.
“Kau bisa menanyakannya langsung kepadaku, Maham. Kau tahu itu kan? Aku akan seterbuka mungkin padamu. Seperti kata Murat, aku tidak pernah membawa seorang pun —” Timur berdehem. “— seorang wanita ke sini selain dirimu.”
Niat Maham mencandai Timur namun pria itu justru menanggapinya dengan serius. Tidak pernah membawa wanita lain ke sana, apakah itu berarti dirinya sangat spesial? Maham jadi salah tingkah karenanya.
“Aku tadi tidak serius.”
Timur tersenyum lembut mendapati Maham yang seperti menciut di tempatnya. Tangannya hendak meraih pucuk kepala gadis itu dan mengacaknya. Namun sebelum itu terjadi, Timur sudah lebih dulu mengendalikan dirinya.
Sabar, kata Timur pada dirinya.
“Tadi kenapa Murat memanggilmu Şüca? Kenapa kau punya banyak nama? Apakah Şüca itu semacam gelar?” Maham mengganti topik.
“Itu nama julukan. Dari Bursalı Şüca, pemanah legendaris di masa Sultan Beyazid II. Konon dia bisa memanah sejauh 845 meter. Murat suka bercanda, katanya aku mirip karena sekali memanah bisa tembus dua target.”
“Jadi kau sangat ahli dalam memanah?” Pupil mata Maham membulat. Jelas dia baru saja kagum.
Timur tertawa pelan. “Aku tidak tahu. Kau lihat saja nanti.”
Latihan dimulai. Maham duduk di bangku kayu, memperhatikan Timur dari jauh. Sesekali pria itu menoleh dan tersenyum padanya sambil melatih anggota yang akan tampil di pertunjukan. Rasanya aneh. Tapi di saat bersamaan juga membuat dadanya hangat.
Setelah beberapa saat, Timur menghampirinya. “Apa kau mau mencoba?”
“Hah? Aku belum pernah memanah. Aku tidak tahu caranya.” Maham panik.
“Aku akan mengajarimu.”
“Tidak apa-apa? Bagaimana kalau nanti meleset dan mengenai orang lain?”
“Tenang saja, Maham. Area ini aman. Tidak ada siapa-siapa di belakang target.”
Akhirnya Maham mengangguk meski ragu. Timur mengatur posisi tubuhnya dari belakang. Tangan kanan pria itu membimbing jemari Maham untuk menarik tali busur.
“Tarik perlahan... Rasakan tegangannya. Jangan panik. Fokus ke target.”
Tapi Maham tidak bisa fokus. Satu-satunya ‘tegangan’ yang dapat dirasakannya adalah tegangan tubuhnya sendiri. Bagaimana dia bisa rileks kalau tubuh Timur terlalu dekat? Nafas pria itu terasa di tengkuknya. Jemarinya terasa hangat di kulit Maham.
“Maham, kau baik-baik saja?” tanya Timur yang melihat jemari Maham sedikit bergetar.
“Kau terlalu dekat,” suara Maham seperti cicitan.
Timur sempat terdiam. Lalu berkata pelan, nyaris berbisik, “Sudah seharusnya bukan?”
Wajah Maham memerah. Dengan kikuk dia menjauhkan dirinya dari Timur. “Ini. Kau peluk saja ini!” Cepat-cepat dia menyerahkan busur kembali ke Timur.
Timur tertawa lepas. “Baiklah, baiklah. Tapi kau harus coba lagi nanti. Maham!”
Tidak ada jawaban. Maham melewati Timur dan duduk kembali di tempat yang sama. Berusaha menenangkan dirinya yang campur aduk. Sedang Timur seakan menikmati hasil perbuatannya. Berdiri di tengah arena, pria itu masih tetap tertawa.
“Apa yang dia tertawakan?” Maham menggerutu. Kemudian memegangi dadanya.
Jantungnya serasa akan copot.