Sudah pukul 10 pagi namun kamar Esra masih gelap sebab tirai yang masih membungkus jendelanya. Sang empunya kamar baru saja terbangun satu detik yang lalu.
Sepasang mata coklatnya mengerjap pelan. Esra diam saja. Tetap terbaring di sana dalam posisi yang sama. Lalu suara itu mengusiknya.
Notifikasi ponsel yang nyaring membuat Esra terpaksa membalikkan tubuhnya. Lengannya terulur demi meraih ponselnya yang berada di atas nakas di sisi tempat tidurnya. Layar ponselnya menyala, memperlihatkan pesan dari grup kelasnya.
Makalah Studi Global harus dikumpulkan minggu depan. Ingat, minimal 2000 kata!
Esra mengerang, “Uh, yang benar saja pagi-pagi begini!”
Hilang sudah paginya yang tenang. Kini dia duduk di atas kasurnya dengan rambut acak-acakan. Menatap langit-langit kamarnya dan berharap tugas itu bisa menghilang dengan sendirinya — sesuatu yang tidak mungkin.
“Kenapa aku setuju untuk melanjutkan kuliah?” gerutunya.
Di tengah dia yang sedang meratapi nasibnya, pikirannya otomatis mengingat Maham. Dari dulu sampai sekarang Esra tidak pernah benar-benar memiliki kawan, apalagi kawan dekat. Hanya Maham yang bisa sampai ke tahap itu.
Langsung saja dia menekan nama kontak Maham dan menghubunginya. Terlalu tahu bila Maham tak mungkin masih tidur di waktu sesiang itu seperti dirinya.
“Selamat pagi, Maham!” sapanya ceria.
“Pagi, Esra,” suara Maham terdengar agak tergesa.
“Kau sibuk?” tanya Esra.
“Tidak, kok. Hanya sedang merapikan piring bekas sarapan. Ada apa?”
“Aku bosan sekali. Ayo ketemuan. Kita bisa nongkrong di cafe di daerah Kadıköy atau ke pusat perbelanjaan? Atau kita bisa taman bermain atau ke mana saja terserah kau. Aku butuh kamu hari ini!”
Maham terdengar menahan napas sejenak. “Maaf, Esra, aku ingin sekali pergi denganmu tapi sayangnya aku sudah ada janji siang ini.”
“Oh,” suara Esra langsung melemah. “Sama siapa?”
“Teman.”
Esra diam sejenak. Penolakan Maham membuatnya kesal. Dan dia tidak suka bila Maham memiliki teman lain selain dirinya. “Teman siapa? Aku kenal?” nadanya menginterogasi.
Maham tersenyum kecil walau tidak bisa dilihat. “Tidak, kamu tidak kenal. Dia… teman dari kelas.”
“Tidak bisa dibatalkan?”
“Tidak bisa, Esra. Kami sudah janjian jauh-jauh hari. Kita perginya lain kali saja ya?”
Esra menghela. Meskipun tidak bisa menerimanya namun tetap berkata, “Baiklah. Janji ya kau akan pergi denganku? Selamat bersenang-senang.”
Sementara itu, di dapur rumahnya Maham segera menyelesaikan cucian piringnya setelah sambungan berakhir. Dia harus buru-buru karena seperti katanya ke Esra, dia ada janji. Jam 11 nanti bersama dengan Timur. Maham tidak berbohong ketika hanya menyebut Timur sebagai teman. Nyatanya hubungan mereka memang masih belum memiliki nama resmi.
*
“Kau tidak kedinginan kan?” Timur bertanya. Matanya mengecek bagian depan coat Maham. Memastikan apakah gadis itu sudah mengancingnya atau belum.
Saat ini mereka tengah melangkah bersama menuju ke tenda putih yang berukuran besar di tepi selat Bosphorus. Ada banyak banner bertuliskan ‘pameran buku tahunan Istanbul’ di sana. Seperti biasa, Timur yang berinisiatif mengajak Maham untuk keluar. Dan setelah berdiskusi, mereka memutuskan untuk ke pameran tersebut.
Maham menggeleng pelan. “Tidak kok. Memang lebih berangin di sini tapi udaranya tidak dingin.”
“Cuacanya cerah hari ini,” komentar Timur. “Padahal seminggu terakhir dingin terus.”
“Sepertinya langit memberi kita kesempatan hari ini,” Maham menanggapi pelan.
Di sepanjang jalan, dedaunan berwarna kuning keemasan beterbangan pelan. Bosphorus di kejauhan berkilau di bawah sinar matahari. Keduanya menyeberang jalan, mendekat ke arah selat.
“Apa kau sudah tahu buku apa yang ingin kau beli?” tanya Timur saat mereka melewati pintu masuk.
“Belum.” Maham meringis. “Tapi aku sedang ingin membaca novel yang temanya ringan-ringan saja. Untuk melepas penat.”
“Seperti?”
“Apapun. Yang romantis.”
“Seperti aku?” goda Timur.
Bila memikirkan tentang hari yang lalu, Maham tidak akan menyangka bila hubungan mereka akan berkembang seperti ini. Dialah pihak yang sangat skeptis di awal. Kini, mereka bahkan sudah bebas melemparkan candaan kepada satu lain dan dengan tenang terbuka pada satu sama lain juga.
“Hm, ya. Kau sangat romantis sampai aku tidak bisa membedakan apakah kau ini manusia atau gula buatan,” Maham membalas.
Tawa renyah Timur terdengar.
Mereka berhenti ke salah satu booth. Maham mengambil satu buku yang judulnya menarik perhatiannya. Saat dia tengah membaca sinopsisnya, Timur menyodorkan sebuah buku ke hadapannya.
“Untukmu?” tanya Maham dengan kening berkerut begitu membaca judulnya.
“Untukmu. Katanya kau ingin novel romansa.”
“Ya tapi tidak yang begini juga.” Jelas, Maham menolak. Judulnya maupun gambarnya lebih mirip buku siksa kubur. “Kau ini dosen tapi seleramu dalam memilih buku nggak banget.”
Timur menaikkan sebelah alisnya. “Kau sudah bisa mengkritikku sekarang?”
“Kau anti kritik?”
“Khususmu, iya. Aku hanya menerima pujian darimu dan… kata cinta. Tidak yang lainnya.”
“Kita lihat saja apakah kau pantas untuk itu.”
“Tentu. Bukankah selama ini kau sedang mencobaku, Nona Maham?”
*
Di tempat lain, Esra duduk di balik kemudinya, bingung harus ke mana. Saat melewati kawasan dekat Bosphorus, matanya menangkap keramaian yang tak biasa. Dia berhenti di sana.
Esra melangkah tanpa tujuan pasti. Matanya menjelajahi booth booth pameran buku yang tidak terlalu menarik perhatiannya. Semua tampak terlalu membosankan baginya.
Uh, apa yang sebenarnya sedang aku lakukan di sini? Langsung saja dia menyesali keberadaannya di tempat itu.
Esra bersiap meninggalkan pameran tersebut ketika matanya menangkap sosok berambut hitam legam. Tidak sulit baginya untuk mengenalinya.
Maham.
Tangannya sudah terangkat, hendak menyapa gadis itu. Seketika gerakannya tertahan di udara saat seorang pria menghampiri Maham. Keduanya tampak berbicara dengan santai dan kemudian tertawa bersama.
Esra menyipitkan mata. Pria itu tampak sangat familiar baginya. Perawakan tinggi dengan postur tegap. Rambut seperti daun maple… Tubuhnya langsung menegang pada detik di mana akhirnya dia menyadari siapa pria itu.
Cihan Savcı.
Esra tahu tentangnya karena pria itu adalah orang yang segera berlari menyelamatkan Maham saat Maham pingsan setelah menolong dirinya. Beberapa kali juga dia pernah tidak sengaja melihat pria itu saat dia menghampiri Maham ke kelasnya.
Tapi… bukankah Cihan adalah dosen Maham?
Kepanikan langsung menjalari tubuhnya. Pria itu kah yang disebut Maham sebagai ‘teman dari kelas’?
*
Setelah membeli beberapa buku, Maham dan Timur keluar dari area pameran.
“Katanya kau belum pernah coba Osmanlı macunu?” tanya Timur.
“Belum. Aku hanya tahu bentuknya yang warna-warni itu.”
“Ayo. Aku traktir.”
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di bangku kayu menghadap Bosphorus. Maham memegang tusuk permen lengket warna-warni yang bentuknya seperti spiral.
Angin musim gugur berembus agak kencang. Rambut Maham tergerai dan mulai menempel ke pipinya.
“Hati-hati, rambutmu hampir terkena gulali itu,” ujar Timur. Refleks menyelipkan rambut Maham ke belakang telinga.
Sentuhannya membuat jantung Maham berdetak lebih cepat. Dia sedikit menunduk namun tidak melarang Timur.
“Apa kau tahu? Sebelum jatuh hati padamu, aku jatuh hati terlebih dulu pada rambutmu,” kata Timur sembari menyelipkan helaian rambut Maham yang kembali terjatuh.
Maham menoleh heran. “Bagaimana bisa? Aku tidak mengerti.”
Timur tersenyum. “Kau ingat saat pertama kali kita bertemu?”
“Di depan gedung apartemen?”
“Ternyata aku tak lebih dari serangga di matamu waktu itu, ya? Kau bahkan tidak menyadarinya.” Timur tertawa pelan. “Bukan di sana. Tapi di depan ruangan Kak Aliye. Aku datang mengunjunginya waktu itu. Saat aku datang, kau sedang berbicara dengannya. Kursi tamunya membelakangi pintu, kau ingat?”
“Ya, aku ingat. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak ingat kalau kita pernah bertemu di sana.”
“Tidak benar-benar bertemu.” Timur tersenyum hangat. “Saat kau keluar, kita berpas-pasan dan kau tersenyum padaku.”
“Ah, apa jangan-jangan kau salah mengartikan senyumanku waktu itu?”
Timur tertawa. “Kata Kak Aliye, kau mengira bahwa aku pengajar baru di sana.”
Maham mengangguk. “Aku ingat bagian itu. Mereka bilang akan ada pengajar baru.”
“Sepertinya kau cuma tidak ingat bagianku, ya?” Timur berkelakar. “Padahal detik pertama aku melihat wajahmu, nafasku seakan diputus dari tubuhku. Itu sebelum kau tersenyum.”
“Apa kalau aku berbohong bahwa aku mengingatnya, itu akan membuatmu merasa lebih baik?” Maham bertanya polos. Kemudian kembali menggigit Osmanlı macunu-nya.
“Mungkin? Tapi tidak akan merubah kenyataan kalau kau tidak ingat.” Timur terkekeh.
“Jadi sudah benar aku jujur kan?”
“Tidak juga. Aku tidak mau kau berbohong tapi aku juga tidak mau mendengar kalau sebenarnya kau tidak mengingatnya.”
“Jadi bagaimana itu? Paradoks sekali.”
Keduanya kemudian tertawa kecil.
“Tapi kadang aku masih tidak percaya kalau kau sepupu Aliye Hocam,” Maham bergumam.
Timur menaikkan sebelah alisnya. Agak terkejut. “Setelah aku tunjukkan semua foto dan bukti lainnya?”
Maham terkekeh. “Bukan itu maksudku. Bukan dalam artian begitu. Hanya saja siapa yang menyangka bila setelah hari itu kita akhirnya bertemu.”
“Tetap bertemu.” Timur meralat. Sepasang mata zamrudnya menyapu lembut wajah Maham. “Saat aku memberikan bola kaca itu sebenarnya aku sedang memberikan sebagian diriku untuk kau bawa. Dan bagian itu kembali.”
Maham merasa seluruh udara di sekitarnya menipis.
Timur tiba-tiba berdiri. “Tunggu sebentar di sini.”
Berlari kecil ke arah pedagang bunga yang memang selalu ada di tepian Selat Bosphorus. Lalu kembali membawa satu tangkai peony merah muda.
“Aku yakin kau tidak lupa ini.”
Maham menerima bunga itu perlahan, tersenyum malu. “Tidak.”
“Ini adalah aromamu yang tertangkap olehku pertama kali. Kau seperti bunga peony, Maham.”
Tak jauh dari mereka, Esra berdiri diam menyaru di antara keramaian. Mulutnya sedikit terbuka. Tangannya mengepal.
Perlahan, dia melangkah mundur. Dan pergi.