Suasana ruang kelas dipenuhi percakapan kecil dan suara kertas yang berdesir. Maham berdiri di depan layar proyektor, menata napasnya perlahan. Ini kelas terakhir hari itu dan dia harus mempresentasikan hasil risetnya mengenai partisipasi perempuan dalam proses rekonsiliasi pasca konflik. Topik yang cukup berat. Tapi anehnya, Maham merasa tenang.
“Jadi —” suaranya lembut tapi jelas, “— salah satu faktor utama keberhasilan rekonsiliasi di banyak negara pasca konflik adalah adanya keterlibatan aktif perempuan dalam proses sosial, politik, dan emosional masyarakat. Studi kasus yang saya ambil kali ini adalah Rwanda dan Aceh.”
Beberapa mahasiswa mengangguk, mencatat poin yang mereka anggap menarik dan penting.
“Saya memilih dua wilayah ini karena memiliki karakteristik sosial dan budaya yang sangat berbeda namun sama-sama memperlihatkan kekuatan perempuan dalam membangun jembatan kepercayaan antar komunitas.”
Di luar ruang kelas, Timur baru saja menyelesaikan kelasnya. Saat melintas di koridor, pandangannya tertarik ke arah kaca besar di depan salah satu ruang. Dia berhenti. Di dalam sana, Maham sedang berdiri dengan elegan, memaparkan materinya. Rambutnya yang panjang diselip rapi ke belakang, wajahnya serius, tangannya sesekali bergerak saat menjelaskan.
Timur tidak bisa berpaling.
*
Suara dering ponsel memecah hiruk-pikuk mahasiswa yang baru saja keluar dari kelas. Maham menepikan langkahnya ke pinggir koridor, menatap layar sesaat sebelum mengangkat panggilan itu. Suara Timur menyapa dari seberang, ringan dan hangat seperti matahari sore yang menyusup di antara kaca jendela.
“Sudah selesai?” tanyanya, terdengar santai namun penuh makna. “Aku tidak bisa berpaling saat kau bicara di depan kelas tadi.”
Senyum kecil tanpa sadar muncul di sudut bibir Maham. Refleks dia melirik ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikan keterkejutan kecilnya. “Kau menonton?”
“Lewat kaca luar,” jawab Timur. “Kau terlalu cantik untuk jadi pusat perhatian. Separuh lebih isi kelasmu pria. Aku tidak suka melihatnya.”
Maham tertawa pelan, suaranya mengalun lirih seperti bisikan daun yang tertiup angin. “Apa kau akan mengusir mereka satu per satu?”
“Aku akan beri nilai E pada semua pria yang menatapmu tanpa berkedip tadi. Aku sudah mencatat semua nama mereka.”
Maham nyaris terkekeh lalu menutupi mulut dengan punggung tangan. “Kau dosen yang buruk.”
“Aku tahu,” ujar Timur, rendah dan lembut. “Tapi hanya kalau menyangkut kau.”
“Kau tidak serius dengan ucapanmu tadi kan?”
“Yang mana?” Timur balik bertanya. “Kalau kau cantik? Aku sangat serius.”
“Bukan. Soal memberi nilai E pada teman-temanku.”
“Kau mengkhawatirkan mereka?” suara Timur sarat keberatan. Tapi di seberang sana dia menahan tawanya.
“Aku mengkhawatirkanmu,” Maham menekankan. “Itu sangat tidak profesional.”
Tawa renyah Timur terdengar. “Tentu saja aku bercanda. Kecuali kalau mereka sungguh ada yang berniat untuk menjadi sainganku maka aku akan melakukan sesuatu.”
Hening menyusup sejenak di antara mereka. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang nyaman — seperti duduk berdampingan di taman, menikmati kehangatan matahari tanpa perlu banyak bicara.
“Nanti sore kau ada acara?” tanya Timur, suaranya kembali menyapa.
“Aku akan pergi dengan Esra.”
“Gadis yang kau tolong waktu itu? Dia lagi?” Timur memastikan.
“Iya. Aku sudah menolak ajakannya beberapa hari lalu karena kita pergi ke pameran buku. Jadi aku janji menggantinya lain hari.”
“Apa aku juga sedang bersaing dengannya untuk mendapatkanmu?”
“Kau sadar kalau dia perempuan kan?” Maham terkikik.
“Ya tentu. Tapi dia selalu berusaha untuk mengajakmu pergi. Apa dia tidak ada kerjaan lain?” protes Timur.
“Ara juga bilang begitu. Tapi dia tidak punya teman lain selain aku.”
“Apa dia juga tidak punya saudara yang bisa diganggunya.”
Maham meringis merasakan aura posesif Timur yang tidak pandang jenis kelamin. “Ada. Tapi kakaknya sibuk. Kau tahu Sinan Altay?”
“Dari partai mana?”
“Bukan politikus. Aktor utama di drama Pertempuran Harga Diri.”
“Kakaknya?” Timur sama sekali tidak terdengar antusias.
“Iya.”
“Kalian akan pergi ke mana?” Timur bertanya.
“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Esra suka random.”
Timur menarik napas di seberang. “Baiklah. Hati-hati,” pesannya. “Kabari aku kalau ada apa-apa. Kalau tidak ada apa-apa juga kabari. Jangan lupa kalau Sabtu nanti kau sudah ada janji denganku. Jangan sampai Esra menyerobotnya.”
Tawa Maham terdengar. “Tentu.”
Panggilan terputus. Tapi kehangatannya masih menggantung di telinga Maham.
Langkah kecil mendekat dari belakang. Katya, melintas sambil menatap Maham dengan alis terangkat tinggi. Tatapan yang penuh selidik.
“Pacarmu, ya?” tanya Katya. Setengah penasaran, setengah menggoda.
Maham nyaris terbatuk. Kaget dan gugup dalam waktu bersamaan. Tak menyadari bila ternyata Katya memperhatikannya.
“Bukan,” elak Maham cepat. “Hanya teman.”
Katya menyipitkan mata. Lalu menatap langit-langit koridor dengan ekspresi dramatis. “Teman hidup? Aku bisa lihat kupu-kupu ghaib terbang di sekitarmu, tahu.”
“Kau bisa saja. Sudah ya. Aku pulang dulu.”
Maham buru-buru menyelamatkan dirinya.
Deru angin sore menyapu pelataran parkir kampus saat Maham mendekati mobil berwarna merah itu. Esra berdiri di depan mobilnya, dengan wajah tertunduk menatap layar ponselnya. Gadis itu tampak begitu tersita pada apapun yang dilakukannya dengan ponselnya sampai tidak menyadari kehadiran Maham di sana.
“Esra.”
Sapaan pelan Maham itu sangat mengejutkan Esra. Gadis itu terlonjak hingga menjatuhkan ponselnya.
“Oh, kau sudah datang,” ucap Esra. Tergesa dia berjongkok dan meraih ponselnya. Jarinya menekan tombol power untuk mematikan layarnya. Jelas sekali bila dia tidak ingin Maham untuk tahu isi layarnya. Sayangnya Maham sudah terlanjur melihatnya.
“Kau membuat laporan ke kampus?”
“Ah, ya…” Esra tampak bingung sesaat. Kemudian dengan terbata, “Soal insiden waktu itu. Aku sudah memberitahumu bila mantan pacarku itu seharusnya di penjara karena kasus kekerasan terhadapku kan? Tapi dia berhasil masuk ke kampus. Aku melaporkan itu.”
“Akhirnya kau memutuskan untuk melaporkannya?”
Esra mengangguk. “Kita pergi sekarang?”
Mesin menyala. Mobil meluncur keluar dari area kampus, menuju jalanan kota yang mulai ramai oleh lalu lintas sore. Di sepanjang perjalanan, Maham hanya menatap keluar jendela. Daun-daun musim gugur menari di udara, seolah menolak musim dingin yang sebentar lagi tiba. Namun, bukan hanya udara yang terasa dingin. Di dalam mobil pun, keheningan terasa berbeda.
Maham sempat melirik Esra dari sudut matanya. Gadis itu kentara sekali bila sedang gelisah. Ujung jari-jarinya mengetuk ringan kemudi. Napasnya pendek. Tapi Maham terlalu sopan untuk bertanya.
“Keluargaku baru mengakuisisi toko berlian di daerah Levent,” kata Esra tiba-tiba, berusaha terdengar santai. “Aku ingin kau lihat.”
“Ah? Benarkah? Selamat, ya.”
“Sebenarnya Kak Sinan, sih, yang membelinya. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Jadi kita ke sana. Sama-sama menengok untuk pertama kalinya.” Esra meringis.
Setibanya di sana, pintu toko berlian terbuka perlahan, menyambut Maham dengan semburat cahaya keemasan dan aroma ruangan yang terjaga rapi. Lantai marmer mengilap, etalase-etalase kaca berjajar rapi menampilkan koleksi mewah yang berkilau seperti rasi bintang dalam kotak.
Langkah Maham terhenti beberapa langkah setelah masuk. Di tengah ruangan, berdiri seorang pria tinggi mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru yang kedua lengannya ditekuk hingga mendekati siku. Rambutnya disisir rapi, senyumnya manis tapi terlalu mantap untuk disebut biasa.
“Selamat datang, Maham,” ucap Sinan lembut, senyumnya terbit. Matanya menatap Maham lama — lebih lama daripada seharusnya. “Aku tidak tahu Esra akan membawamu ke sini. Tapi aku senang kau datang.”
“Terima kasih, Sinan. Selamat untuk toko barumu,” balas Maham.
Sinan ke Maham, “Belum resmi buka. Sedang dalam proses rebranding. Satu minggu lagi sampai semuanya siap. Kau wajib datang saat peresmiannya.”
“Oh, aku baru ingat!” suara Esra mencuat dengan nada tinggi ke antara mereka. “Aku harus ambil gaun di butik untuk acara peresmian itu.” Lalu menoleh ke Maham. “Kau di sini saja ya, Maham? Hanya sebentar, kok.”
“Biarkan saja Maham di sini. Kau tidak perlu membawa-bawanya ke sana kemari di hawa dingin seperti ini. Aku akan mengajaknya melihat-lihat koleksi kita.”
Situasinya aneh. Dua orang selain dirinya memberikan keputusan atas dirinya tanpa Maham dapat menyela. Apalagi menolak. Esra sudah melenggang keluar begitu saja. Meninggalkannya sendirian bersama pria yang aura ramahnya terasa terlalu rapi, terlalu terkontrol.
Sinan berjalan pelan ke arah etalase. Tangannya mengisyaratkan Maham untuk mendekat. “Mari. Aku ingin kau lihat koleksi terbaru kami. Semuanya hasil kerja pengrajin terbaik di Istanbul. Sekalian bantu aku untuk memilih mana yang harus aku masukkan ke katalog.”
“Tapi aku tidak paham soal berlian?”
Sinan tertawa. “Tidak perlu tahu. Hanya perlu merasakan. Semua ini seni, Maham. Dan aku yakin kau memiliki selera yang bagus,” katanya meyakinkan.
Maham hanya mampu mengangguk, melangkah perlahan mendekat ke kaca bening berisi permata-permata dalam susunan yang sempurna. Cahaya ruangan memantulkan kilau setiap berlian, menciptakan ilusi keindahan mutlak.
Sinan menunjuk satu kotak velvet berisi kalung-kalung elegan. “Yang mana yang paling menarik menurutmu?”
Maham melihat dengan pelan, berhenti pada sebuah kalung berbatu zamrud yang dikelilingi berlian kecil seperti kelopak bunga.
“Mungkin... yang itu,” bisiknya, menunjuk kalung zamrud yang sangat indah itu. Seperti mata Timur.
Sinan menoleh pada salah satu staf butik dan mengangguk kecil. Pria itu langsung menggeser kalung tersebut, memisahkannya dari koleksi lain.
“Kau punya selera yang sangat halus,” kata Sinan sambil tersenyum. “Bagaimana dengan gelang?”
Mereka pun berpindah ke etalase lain.
Maham menunjuk satu gelang tipis dengan detail rumit menyerupai anyaman Ottoman kuno. Lagi-lagi, pelayan toko langsung bergerak setelah mendapat isyarat dari Sinan.
“Cset?” tanya Sinan. Nadanya ringan tapi ekspresi matanya menyelidik, seolah ingin mengingat semuanya yang Maham sukai satu per satu.
Maham kembali menunjuk. Dan setiap kali dia melakukannya, perhiasan itu akan dipisahkan oleh pelayan yang tak banyak bicara.
Kemudian mereka sampai pada etalase cincin. Tepatnya koleksi cincin pernikahan.
“Menurutmu, yang mana yang paling bagus di antara ini?” tanya Sinan sambil menunjuk barisan cincin berlian berdesain klasik dan modern.
“Sinan, aku tidak yakin.”
“Kenapa? Dari tadi kau dengan mantap menunjuk seluruh perhiasan yang indah menurutmu.”
Maham meringis. “Ya. Tapi kali ini… entahlah. Mungkin karena ini cincin pernikahan. Simbol dari sesuatu yang sakral.”
“Kau benar.” Sinan membuat ekspresi sedang berpikir. “Kalau begitu anggap saja kau sedang bersama dengan calon suamimu dan kau memilih cincin yang paling kau sukai. Aku akan pura-pura jadi calon suamimu.”
“Eh? Mana bisa…” langsung saja Maham menolak. Dalam hatinya hanya ada Timur. Mau pura-pura pun, tetap tidak mungkin.
Ide macam apa itu?, gerutunya pada Sinan.
Sinan tertawa renyah. “Pura-pura, Maham… Memang apa yang kau pikirkan?”
Sebelah alis Sinan yang terangkat dan ekspresinya yang menyelidik sukses membuat Maham tersudut.
“Aku tidak memikirkan apapun,” sanggah Maham dengan kikuk.
“Kalau begitu seharusnya kau tidak masalah untuk memilih salah satunya kan?”
Akhirnya Maham menunjuk satu. Sinan mengambil cincin itu lalu membuka kotaknya. “Cobalah.”
“Tidak usah…” Maham mundur setengah langkah. “Ini tidak perlu.”
Kenapa malah jadi begini?, rutuk Maham.
“Coba saja,” ulang Sinan. Lebih lembut tapi dengan nada yang tak bisa dibantah.
Ragu-ragu, Maham mengulurkan tangan. Jarinya gemetar sedikit ketika Sinan memasangkan cincin itu ke jari manisnya. Ukurannya pas. Terlalu pas seolah cincin itu memang didesain untuk dirinya — Ini lebih aneh lagi!
Seketika udara di sekelilingnya terasa sunyi. Seolah semua suara tertarik keluar dari ruangan.
Cincin itu terlalu cantik. Terlalu nyata.
Maham menatap tangannya sendiri dalam keheranan. Tapi Sinan hanya tersenyum kecil, memperhatikan wajah Maham dengan tatapan yang terlalu lekat untuk disebut wajar.
“Indah sekali di jarimu,” ucapnya.