Udara Istanbul sudah membawa aroma musim dingin. Dingin tapi bersih, seolah menyapu hati yang sedang diam-diam jatuh cinta.
Di kawasan Sultan Ahmet, jalanan berbatu tampak ramai tapi tetap terasa damai. Di kejauhan, ada kubah megah Hagia Sophia berdiri anggun seperti kisah yang menunggu dituliskan.
Maham dan Timur berjalan berdampingan menyusuri trotoar dengan langkah pelan. Melewati hiruk-pikuk para turis yang tak pernah henti mengunjungi lokasi tersebut, terlepas dari musim yang ada.
“Ini pertama kalinya aku ke sini di musim dingin,” ujar Maham sambil menarik napas dalam.
Timur menoleh, senyumnya hangat. “Baguslah. Kau akan mengingat momen ini dengan diriku di dalamnya.”
“Tunggu. Aku harus memencet tombol save-nya dulu. Supaya tidak lupa lagi seperti saat pertama kali kita bertemu,” balas Maham.
Tawa keduanya mengisi udara.
Mereka belok ke arah Hipodrome of Constantinople — area terbuka dengan tiang obelisk dan ruang terbuka. Titik itu yang akan menjadi lokasi atraksi panahan hari ini.
Saat mereka tiba, karpet merah digelar di jalur utama. Beberapa orang juga tampak sudah mengenakan kostum Ottoman, sedang bersiap di sisi lokasi.
Timur menghampiri salah satu temannya yang tengah mengatur posisi target panah. “Faruk, kau lihat Murat?”
Faruk menggeleng. “Tidak. Harusnya dia yang memimpin pembukaan hari ini. Mungkin dia sedang mengecek kelengkapan atribut. Coba kau datangi saja ke sana, Cihan.” Dia menunjuk ke arah dekat tikungan. Beberapa teman mereka ada di sana. Tampak sedang mengurus tugas mereka masing-masing.
“Baiklah. Terima kasih,” kata Timur. Berniat untuk ke sana ketika ponselnya berdering.
Murat menelepon.
“Halo?”
Suara Murat terdengar lelah. “Cihan, maaf sekali, aku tidak bisa datang ke pertunjukan. Ayahku baru saja meninggal. Tadi Ibuku baru saja menelepon.”
“Aku turut berduka, Murat. Adakah yang bisa aku bantu?”
“Terima kasih. Tapi bisakah kau gantikan posisiku? Aku sudah janji tampil pada anak-anak.”
“Tentu. Serahkan padaku. Apa ada hal lain lagi yang kau butuhkan?” Timur bertanya.
“Tidak. Sekali lagi terima kasih, Cihan. Apakah kau sudah di arena?”
“Iya. Aku baru saja sampai.”
“Dengan gadis itu lagi? Siapa namanya? Maham?”
Timur melirik Maham. “Benar.”
“Kau yakin kalian hanya berteman?”
“Kau ini bukannya sedang berduka? Bukannya menangis malah mengurusi urusan orang lain.”
Murat terkekeh pelan. “Aku sedang menjalani keduanya. Jawab saja pertanyaanku. Kalau tidak, aku tidak akan bisa tidur.”
Kembali Timur melirik Maham. Gadis itu tidak menyadarinya karena sibuk mengamati sekitar. “Iya. Teman.”
“Baiklah kalau kau bilang begitu, Cihan.”
“Sebenarnya ada apa? Kenapa kau menanyakannya di saat-saat seperti ini?”
“Tidak ada. Sudah. Aku hanya penasaran karena kau membawanya ke acara panahan kita. Tidak seperti dirimu yang biasanya.”
Setelah panggilan ditutup, Timur mendekati Maham.
“Murat tak bisa datang. Aku harus menggantikannya.”
“Tentu tampillah.”
“Tapi kau akan sendirian di sini?” Timur yang akan meninggalkan tetapi dia juga yang merasa keberatan.
“Apa aku terlihat seperti pertama kali ke tempat ini? Aku baik-baik saja.” Maham mengulas senyumnya. Menenangkan Timur.
“Baik. Berhati-hatilah saat aku tidak ada.”
Timur pun menghilang ke lokasi persiapan.
Maham berdiri di antara kerumunan yang mulai memadati sisi lapangan. Musik Ottoman mengalun lembut dari pengeras suara. Pengumuman dimulai. Atraksi panahan akan segera dimulai.
Maham merapatkan jaketnya. Napasnya terlihat di udara. Tapi dadanya hangat.
Anak-anak kecil muncul lebih dulu. Mereka memakai baju tradisional, menarik busur dengan gemetar tapi penuh semangat. Tawa dan sorak penonton pecah.
Beberapa waktu berlalu sampai seseorang melangkah dari ujung arena. Meski penampilannya sudah berubah drastis kini, Maham tidak gagal mengenalinya — Timur.
Timur mengenakan kostum Sultan Ottoman. Jubah panjang beludru navy dengan bordiran emas, sabuk merah marun, dan sorban Ottoman menghiasi kepalanya. Posturnya tegap, langkahnya tenang dan percaya diri.
Maham terpana. Detak jantungnya berdegup tak beraturan.
Timur berdiri di garis panah. Tangannya dengan cekatan menarik busur. Dalam satu tarikan napas, panah melesat dan mengenai pusat sasaran. Tepuk tangan riuh menyusul pecah di udara.
Setelah beberapa kali tembakan, dia meninggalkan arena, berjalan ke arah penonton. Langkahnya langsung menuju Maham.
“Bagaimana?” tanyanya, senyumnya mengembang. Timur seperti anak kecil yang tengah meminta pengakuan atas kemampuannya.
“Kau yang paling bersinar.” Maham mengacungkan ibu jarinya.
Sebelah alis Timur terangkat. “Hanya itu saja?”
“Kau tampan,” jawab Maham malu-malu. Suaranya nyaris tenggelam di antara kerumunan. Namun Timur dapat mendengarnya dengan jelas.
“Saat menjadi sultan seperti ini? Kalau yang sebelum-sebelumnya?” Terdengar bercanda tapi Timur sungguh ingin tahu.
“Yang sebelumnya juga.”
“Juga apa?” kejar Timur.
“Tampan,” cicit Maham.
Senyum Timur terkembang lebar. Bahagia tidak mungkin disangkal dari air wajahnya.
Tempat itu seolah hanya milik mereka berdua sampai seorang teman Timur tiba-tiba muncul dari belakang. Lalu pura-pura membungkuk layaknya seorang pelayan.
“Yang Mulia Sultan, maaf saya lancang. Tapi sebaiknya anda segera laporan kepada ibu-ibu penyewa kostum itu. Saya takut anda akan dikejar-kejar.”
Maham menutup mulut menahan tawa.
Setelah temannya pergi, Timur kembali pada Maham. “Aku harus mengembalikannya sekarang.” Kemudian matanya menyapu Maham secara keseluruhan — sesuatu terlintas dalam pikirannya. “Tapi bagaimana kalau kau juga menyewa?"
“Aku? Untuk apa?”
“Kau sudah pernah berfoto pakai kostum Ottoman?”
“Belum, sih.”
“Kalau begitu, ayo.”
Di toko penyewaan, seorang wanita paruh baya menyambut.
“Saya ingin menyewa satu kostum lagi, Nyonya —” kata Timur. Menoleh ke Maham. “— untuknya.”
“Kalian mencari kostum seperti apa?”
Maham memikirkan. Namun sebelum mendapatkan ide apapun, Timur sudah berbicara duluan.
“Yang sama dengan yang saya kenakan.”
Mata Maham membulat menatap Timur.
“Oh, couple maksudnya?” tegas si wanita.
Timur meringis. Niat hati ingin membuat permintaannya tidak terdengar terlalu gamblang, wanita itu malah memperjelasnya.
Wanita itu tersenyum penuh arti. “Istrimu kah?”
“Bukan,” jawab Timur. Lalu menoleh ke Maham. “Tapi bukan berarti tidak ingin.”
“Aku tidak tahu apakah aku akan bisa bertemu dengan kalian lagi. Jadi sekarang aku akan mengucapkan selamat atas pernikahan kalian. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian.”
*
Menjelang malam, Timur membawa Maham ke sebuah bukit tersembunyi. Jaraknya tidak jauh dari kawasan Sultan Ahmet namun hanya bisa diraih menggunakan mobil.
Setelah 5 menit berkendara, mereka tiba di sana. Bukit itu tenang, dipenuhi bangku kayu dan pohon cemara. Dari sana, cahaya Istanbul terlihat seperti bintang jatuh di bumi.
Selain mereka, sudah ada beberapa pengunjung lainnya di sana. Timur memilih tempat duduk kemudian menepuk bangku di sebelahnya. Maham duduk perlahan.
“Kau senang hari ini?” tanyanya.
Maham mengangguk, tersenyum. “Sangat. Terima kasih untuk semuanya, Timur.”
“Tidak gratis.” Melalui sudut matanya dia melirik Maham. Ekspresinya terlihat menyebalkan.
Maham mengerutkan bibirnya. “Jadi kau minta imbalan?”
Timur menoleh. “Tentu. Sudah menghiburmu sampai seperti ini, butuh banyak usaha. Lebih susah memikirkan harus membawamu ke mana daripada menyusul proposal penelitian, apa kau tahu?” katanya tanpa dosa.
“Berapa imbalannya?”
“Bukan berapa. Tapi ‘apa’,” Timur meralat.
“Baiklah. Apa imbalan yang kau inginkan, Tuan Timur?”
Mata zamrud Timur menyusuri keindahan paras Maham. Di bawah lampu jalanan yang temaram dan juga langit malam Istanbul, gadis itu sungguh seperti pancaran cahaya bulan purnama — Seperti namanya.
Sesuatu dalam diri Timur terusik. Bergejolak ingin mengambil alih dirinya. Membuat Timur menurunkan pandangannya pada bibir penuh milik Maham. Susah payah Timur menelan ludahnya. Tergesa dia memalingkan wajahnya sebelum sisi lelaki dari dirinya benar-benar tidak berkutik dalam daya tarik keindahan gadisnya itu. Lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
Dalam hatinya merutuki dirinya sendiri. Jangankan melakukannya, memikirkannya saja dia tidak boleh.
Kendalikan dirimu. Dia adalah sesuatu yang harus kau jaga!
Timur menatap ke depan. Memfokuskan dirinya pada kapal besar yang berlayar lambat di permukaan Selat Bosphorus. Jauhnya jarak mereka dengan selat membuat kapal tersebut nampak seperti sebuah mainan.
“Foto yang tadi harus kau pasang di kamarmu.”
Maham tertawa kecil. “Jadi itu imbalan yang kau minta? Aku tidak janji.”
“Kalau begitu aku akan memasangnya di koridor apartemen.”
Baru saja Timur terdengar seperti anak kecil yang sedang merajuk.
“Apa kau selalu memaksa begini?” Maham bertanya. Setengah meledek, setengah penasaran.
“Tidak. Aku hanya ingin tahu kalau aku dicintai.”
Dan Maham hanya bisa tersenyum, membiarkan musim dingin menjadi saksi dari hangatnya sesuatu yang belum dinamai tapi tumbuh semakin rindang dan tak terbantahkan di antara mereka.
Perlahan, Timur menggeser fokus pandangannya. Memberanikan dirinya untuk kembali memandang sisi wajah Maham. Pesona gadis itu semakin menjadi. Menawannya dari hari ke hari. Membuatnya tidak bisa melepaskan diri. Menjadikannya candu.
Timur tidak tahu sampai kapan bisa menahan. Tetapi hasrat untuk memiliki Maham sepenuhnya terus membuncah di dalam dirinya. Dia tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi apakah kau akan menerimanya?