Panggilan dari Dewan Etik Perilaku – Kehadiran Anda Wajib
Sehubungan dengan laporan yang diterima oleh Dewan Etik Perilaku mengenai dugaan pelanggaran etika akademik, kami mengundang Anda untuk menghadiri sidang klarifikasi yang akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Kamis, 24 Oktober 2019
Waktu : Pukul 10.00 – selesai
Tempat : Ruang Rapat Utama, Gedung Rektorat Lantai 3
Kehadiran Anda bersifat wajib. Dalam sidang ini, Anda akan diberikan kesempatan untuk memberikan klarifikasi atas isu yang menjadi perhatian Dewan.
Kami menghimbau Anda untuk menjaga kerahasiaan dan profesionalitas dalam menghadiri pertemuan ini.
Atas perhatian dan kerjasama Anda, kami ucapkan terima kasih.
*
“Baik, kita cukupkan sampai di sini. Terima kasih atas diskusi hari ini. Ingat, makalah kalian saya tunggu paling lambat satu minggu dari sekarang. Jangan kirim tengah malam dan berharap saya akan tersentuh lalu memberi nilai A.”
Timur baru saja menutup kelasnya — kelas magister tingkat akhir. Secepatnya dia merapikan map dan langsung menuju ke bangunan utama universitas. Tidak ada yang diketahuinya soal isi sidang dari email yang dikirimkan pada kemarin sore. Tapi dia merasa bahwa ini bukan panggilan biasa.
Saat masuk ke ruang rapat, Timur langsung disambut suasana formal yang mencekam: meja panjang dengan para anggota dewan duduk berjajar. Di sudut, Prof. Osman — dekannya — duduk tenang dengan wajah tak terbaca.
“Silakan duduk, Doktor Cihan,” ujar Ketua Dewan Etik, Prof. Emine. Wajahnya kaku seperti salju yang membeku.
Timur duduk dengan tenang, meski dalam hati dia mulai menyusun kemungkinan terburuk.
“Kami akan menjelaskan tujuan pemanggilan ini. Tapi kami masih menunggu satu orang lagi,” lanjut Prof. Emine.
Pintu kembali terbuka.
*
Email dari Dewan Etik Akademik itu datang tanpa suara tapi membuat jantung Maham seperti diledakkan petasan di dalam ruang hening. Sialnya, dia baru menyadari keberadaan email tersebut saat malam menjelang waktu tidurnya.
Alhasil Maham tak bisa tidur. Mata bulatnya menatap langit-langit kamarnya berulang kali. Kepalanya penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjadi penyebab dirinya sampai dipanggil oleh Dewan Etik Akademik.
“Apa yang terjadi?” gumamnya.
Sejak tadi Maham merunut semua kegiatannya di kampus yang dapat diingatnya, dari sejak detik pertama masuk sampai sekarang. Sebagai mahasiswa teladan, tentu tidak ada pelanggaran etik yang dibuatnya kecuali…
Sambil memejamkan matanya dia menghembuskan nafasnya berat.
“Apa benar karena itu? Tapi kami sudah sangat berhati-hati,” gumamnya sambil memeluk bantal.
Setelah bergelut cukup panjang dengan dirinya sendiri, Maham menggelengkan kepala keras-keras. “Tidak mungkin. Pasti bukan karena hal itu. Tidak ada yang tahu tentang kami.”
Tapi tetap saja, paginya Maham turun dari bis dengan nyali yang gemetar. Dia bahkan tidak bisa melilitkan syalnya dengan benar mengitari lehernya — syal tersebut bolak-balik terjatuh.
Di hadapannya, gedung Dewan Etik yang besar dan penuh kaca tampak seperti istana keadilan dan penghakiman. Maham menarik napas dalam sebelum mendorong pintu.
Kakinya menginjak lantai gedung tersebut dengan langkah tergesa.
Memasuki ruang rapat, dunianya seperti berhenti sejenak dalam sekejap. Tatapannya langsung disambut oleh tatapan dari mata zamrud milik Timur. Semua narasi ‘tidak mungkin’, ‘bukan karena itu’, dan ‘tidak ada yang tahu’ yang sempat dibuatnya pun runtuh seketika.
Tubuh Maham melemas. Tidak mungkin lagi baginya untuk membohongi dirinya sendiri, kalau panggilan itu bukan karena hubungannya dengan Timur. Bukankah semuanya sudah terlalu jelas?
“Selamat datang, Saudari Maham. Silahkan Anda duduk di sebelah Doktor Timur,” suara Prof. Emine yang datar pun bagaikan petir yang menggelegar bagi Maham.
Maham hampir tersandung sebelum akhirnya berhasil duduk di samping Timur.
Sama seperti Maham, Timur pun terkejut mendapati keberadaan gadis itu di sana. Namun dalam sekejap dapat mengendalikan dirinya. Wajahnya dan keseluruhan gesturnya tampak tenang. Dalam kepalanya, dia sudah memikirkan skenario ini.
Tanpa suara, di bawah meja, Timur meraih tangan Maham dan menggenggamnya perlahan. Jari-jari Maham dingin dan gemetar. Tapi genggamannya hangat dan yakin. Melalui caranya menggenggam, Timur berkata, “Aku akan melindungimu. Tenanglah.”
Perlahan, Maham mulai dapat menenangkan dirinya. Meski rasa khawatir yang luar biasa ştu tetap mencengkeramnya hidup-hidup.
Sidang dimulai.
“Kami menerima laporan anonim mengenai hubungan tidak etis antara seorang dosen dan mahasiswanya. Dalam hal ini adalah Anda berdua, Doktor Cihan dan Saudari Maham.” Tatapan Prof. Emine secara bergantian menyapu keduanya. Melanjutkan, “Dalam laporan ini terdapat beberapa foto yang diklaim sebagai bukti.”
Layar proyektor menyala. Beberapa foto ditampilkan.
Semuanya diambil dari jarak jauh, dari samping. Foto-foto itu memperlihatkan sosok pria pirang yang memberi bunga kepada seorang perempuan berambut hitam di tepi Selat Bosphorus. Tidak ada wajah yang benar-benar terlihat jelas. Tapi keduanya tahu bahwa itu memang mereka.
Ada yang mengambil foto kami?, dalam hatinya Maham meratapi.
“Doktor Cihan, apakah Anda ingin menyampaikan pembelaan?” tanya salah satu dewan.
Masih dengan menatap layar, Timur mengangguk. “Apakah masih ada foto lainnya?”
“Tidak. Hanya itu yang dikirimkan kepada kami,” jawab Prof. Emine.
Timur mengangguk kecil. Suaranya tenang namun tegas saat berkata, “Foto-foto ini bisa saja hasil editan. Tapi saya yakin Dewan Etik tidak akan menggelar sidang sebelum memastikan bahwa foto ini asli. Jadi saya asumsikan foto ini memang asli. Tapi bagaimana Anda sekalian yakin bahwa itu saya, sementara saya sendiri tidak yakin? Semua fotonya diambil dari samping, dan dari jarak yang sangat jauh. Bahkan lensa kameranya pun tidak bisa menangkap dengan jelas wajah kedua sosok di sana yang Anda sekalian tuduhkan sebagai kami.”
Seorang dosen menyela, “Semua ciri-cirinya mengarah pada Anda dan Saudari Maham.”
Maham makin pucat. Napasnya sesak. Saat ini dia ingin sekali menangis. Seolah merasakan badainya, genggaman Timur di tangannya pun menguat. Pria itu kembali mengirimkan ketenangan untuknya.
Jangan menangis, Maham. Semuanya akan baik-baik saja, bisik Timur.
“Bisa saja terlihat seperti saya dan seperti Saudari Maham. Tapi Tuhan tidak menciptakan satu manusia di dunia, bukan? Banyak yang berambut pirang seperti saya. Dan ada banyak warga dari Asia — termasuk Indonesia — di Istanbul yang jumlahnya bisa dibuktikan oleh statistik. Jadi —” bola mata Timur kembali mengarah ke layar. “— pasangan di dalam foto-foto itu bisa siapa saja yang mirip seperti kami.”
“Argumen Anda tidak valid, Doktor Cihan,” cetus Prof. Emine.
Timur tersenyum santai. “Bagaimana kalau saya bilang bahwa lelaki dalam foto itu adalah Tolga Sarıtaş?”
Ruangan hening.
“Silakan cari,” kata Timur ringan.
Salah satu anggota dewan buru-buru membuka laptop. Dalam waktu singkat, wajah Tolga Sarıtaş muncul di layar. Mirip. Sangat mirip.
Maham terpaku. Rahangnya ternganga. Bukan karena Timur memang mirip dengan aktor tersebut. Tetapi karena rasa percaya diri Timur yang tinggi, yang membuat pria itu muncul dengan ide gila seperti barusan.
Bagaimana dia bisa memberikan pembelaan semacam itu?, Maham tidak habis pikir.
Prof. Osman tampak menunduk, menahan tawa.
“Benar…” gumam salah satu anggota dewan. “Sungguh mirip dengan Doktor Cihan.”
Masih dengan ketenangan dan rasa percaya diri yang luar biasa, Timur berkata, “Bahkan saya pun hampir tertipu. Kadang saya sendiri tak yakin apakah saya ini Timur Cihan atau Tolga Sarıtaş. Mungkin kampus kita harus lebih berhati-hati sebelum menuduh seseorang hanya karena mereka... terlalu tampan.” Setelahnya tersenyum tipis.
Mendengarnya Prof. Osman kembali menahan tawa. Namun kali ini gagal sehingga suara tawanya menggema di ruangan itu. Prof. Emine pun melotot ke arahnya.
“Apa Anda di sini membela pelanggaran etik semacam ini, Prof. Osman? Saya tahu Doktor Cihan adalah dosen di jurusan yang Anda pimpin,” serang Prof. Emine.
“Tentu tidak, Prof. Emine. Tetapi Doktor Cihan pun benar. Dalam foto itu bisa siapa saja. Termasuk… Tolga Sarıtaş.” Susah payah Prof. Osman menahan dirinya untuk tidak tertawa saat mengatakannya.
Seorang dosen lain masih kukuh. “Tapi Tolga Sarıtaş adalah aktor terkenal. Tidak masuk akal kalau dia berjalan di tepi selat dengan wanita seperti itu.”
“Bahkan Lee Jong Ki aktor Korea Selatan yang terkenal secara internasional pun pernah berjalan-jalan di jalanan Istanbul. Alasannya? Mungkin syuting?” balas Timur lagi.
Sidang itu makin terdengar seperti acara talkshow komedi. Membuat Maham bingung apa yang seharusnya dirasakannya saat ini. Cemas kah? Bahagia kah? Suasananya terlalu random untuk sebuah rapat formal.
“Saya rasa pembelaan Doktor Cihan masuk akal. Sosok dalam foto-foto tersebut bisa siapa saja. Termasuk Tolga Sarıtaş. Hanya karena mirip dengan Doktor Cihan, bukan berarti ini beliau bukan?” Seorang dosen mulai terpengaruh omongan Timur.
Akhirnya Prof. Emine menutup laptop. “Baik. Karena tidak ada bukti konkret dan karena adanya kemungkinan kekeliruan identitas, sidang kami tutup. Terima kasih atas kehadirannya.”
Maham dan Timur keluar dari ruang sidang. Maham menarik napas lega tapi masih tidak percaya pada apa yang baru saja dialaminya.
“Kau masih syok?” tanya Timur yang melihat Maham masih tertegun.
“Aku baru sadar sesuatu,” suara Maham lirih.
“Kalau aku mirip Tolga Sarıtaş?” Timur memunculkan wajah tengilnya.
Maham membelalakkan matanya. Memandang kesal ke arah Timur. “Aku tidak menyangka kau bisa sekocak itu dalam situasi seperti ini.”
“Kau pikir aku hanya bisa mengajar Resolusi Konflik? Aku sedang mempraktekkan ilmuku tadi.” Timur masih saja santai.
“Tapi siapa yang melaporkan kita?” Maham berjalan sambil memikirkan. Dalam pikirannya terlintas ingatan dirinya yang tak sengaja melihat halaman aduan dari website universitas mereka saat Esra tak sengaja menjatuhkan ponselnya.
Gerak-geriknya mencurigakan. Apa mungkin… Lalu buru-buru menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Esra. Dia bilang laporannya terkait insiden hari itu.
“Siapapun itu yang merasa terancam dengan keberadaan kita,” jawab Timur.
Keduanya sudah mendekati pintu keluar ketika Prof. Osman memanggil. “Doktor Cihan. Tolong temui saya di ruangan saya.” Lalu tatapannya pindah ke Maham. “Anda juga, Saudari Maham.”
Di ruang dekan, suasana lebih santai. Prof. Osman menatap mereka berdua. “Langsung saja. Saya sudah tahu jauh-jauh hari mengenai hubungan kalian. Saya pernah melihat kalian tidak jauh dari rumah saya. Mungkin saat itu Doktor Timur sedang mengajak Saudari Maham ke tempat panahan?”
Maham membeku.
“Tapi bukan saya yang melaporkan kalian,” lanjut Dekan cepat.
Timur mengangguk sopan. “Terima kasih atas pengertiannya, Prof.”
“Tapi karena saya sudah menjadi bagian dari rahasia ini, saya ingin tahu apa sebenarnya yang sedang kalian jalani.”
“Kami memang dekat. Tepatnya sedang dalam masa pendekatan. Belum memiliki hubungan resmi,”jawab Timur jujur.
“Akan diresmikan?”
“Itu…” Maham membuka mulut, tapi gagal menyelesaikan kalimatnya.
“Tidak mungkin,” sambung Prof. Osman. Sejenak dia menatap Maham. “Anda adalah salah satu mahasiswa cemerlang di kampus ini. Para dosen mengakui kemampuan Anda. Tapi bila hubungan ini sampai mencuat ke permukaan, Anda bisa dikeluarkan dari kampus.”
Lalu beralih menatap Timur. “Dan Anda, Doktor Cihan. Posisi Anda di sini lebih absolut. Anda seharusnya lebih mengerti akan resikonya dibandingkan dengan Saudari Maham. Selain Anda membahayakan posisi Saudari Maham, Anda juga mempertaruhkan diri Anda sendiri. Anda pasti tahu dengan baik jika Anda sampai dipecat karena pelanggaran etik seberat ini maka karier Anda di dunia akademik bisa berakhir.”
“Saya mengerti, Prof. Kesalahan sepenuhnya ada pada saya. Saya yang lebih dulu mendekati Maham.”
Prof. Osman tersenyum samar. “Saya tahu. Saya mengenal ayah Anda dan Anda sejak kecil. Dan saya tahu, Anda tidak akan jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi sebagai atasan, saya harus menegaskan: ini salah. Sangat salah. Dan dengan adanya laporan anonim, artinya ada seseorang yang ingin menjatuhkan salah satu dari kalian.”
Prof. Osman diam sejenak.
“Jadi... apa rencana kalian ke depannya?”