Maham duduk diam di dekat jendela kaca kapal. Uap hangat dari cangkir teh Turki yang digenggamnya perlahan memudar di udara. Matanya menerawang ke luar, ke arah Selat Bosphorus yang berkilau keperakan di bawah cahaya matahari musim dingin.
Feribot yang membawanya berangkat dari Eminönü tepat pukul sepuluh pagi dan kapal itu kini melaju perlahan. Mereka melewati bangunan-bangunan tua, istana peninggalan Ottoman, dan Maiden Tower yang berdiri seperti penjaga abadi di tengah selat.
Di seberangnya, Timur duduk dengan laptop terbuka. Sesekali jari-jarinya mengetik. Tetapi lebih sering matanya mencuri pandang ke arah Maham. Ada rasa bersalah yang mengganjal di dadanya. Dia menarik napas, menutup laptopnya setengah.
“Maham?”
Maham menoleh pelan. “Ya?”
“Aku minta maaf karena jadi harus mengurus pekerjaan di saat seharusnya meluangkan waktu untukmu.”
Maham tersenyum lembut. Senyuman itu mampu membuat Timur ingin menutup laptopnya untuk selamanya. “Tidak apa. Kau kerjakanlah. Jangan sampai Prof. Osman memarahimu.
Timur membalas senyuman Maham dengan seulas senyum simpul yang dipaksakannya. Yang sebenarnya, senyuman Maham barusan hanya membuatnya merasa semakin bersalah. Di layar laptopnya, bukan tugas kampus yang sedang dibuka, melainkan halaman pertama dari sebuah dokumen bertuliskan London School of Economics, Departemen Hubungan Internasional. Jadi jelas itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kampus mereka. Tapi sangat berhubungan dengan Maham — Dengan kami.
Beberapa menit berlalu. Feribot terus bergerak menjauh dari dermaga tempat mereka naik. Udara di dalam hangat tapi Maham merasa dadanya mulai sesak. Dia pun meletakkan cangkir tehnya dan bangkit.
Mata zamrud Timur mengikuti pergerakan Maham.
“Aku ke luar ke dek sebentar.”
Timur mengangguk. “Jangan lama-lama. Di luar dingin.”
Angin musim dingin menerpa wajah Maham begitu dia melangkah ke dek luar. Tubuhnya menggigil namun dia tetap di sana. Dia tidak ingin membuat Timur khawatir. Tapi sejak beberapa menit yang lalu perutnya terasa diaduk-aduk. Mual pun menyerang. Maham menunduk, menutup mulutnya, dan menelan ludah untuk menahannya.
Setelah agak reda, Maham masuk sebentar ke dalam feribot hanya untuk keluar lagi ke dek beberapa menit setelahnya. Wajahnya mulai pucat. Sekelompok grup tur keluarga di kapal itu memperhatikannya. Salah satu ibu paruh baya menghampiri.
“Kau baik-baik saja, nak?”
“Iya, Nyonya,” jawab Maham cepat. Tapi tubuhnya bergetar.
Ibu lain ikut mendekat. “Anakku, kau jelas tidak baik-baik saja. Lihat dirimu itu.”
Maham mencoba tersenyum. “Perutku hanya sakit.”
Timur yang sudah curiga karena Maham tak kunjung kembali akhirnya keluar. Begitu melihat Maham dikelilingi ibu-ibu dengan wajah gadis itu yang pucat pasi, dia panik.
“Ada apa?” tanyanya cepat.
Salah satu ibu menatapnya tajam. “Kau datang bersama dia?”
“Iya, saya —“
Maham tiba-tiba muntah. Untung ada ibu yang sigap mengulurkan plastik. Maham mengangguk lemah. “Terima kasih, Nyonya.”
“Nah, kan,” ucap ibu lainnya. “Aku tahu ini pasti hamil muda.”
Timur tersentak. “Maaf?”
“Kau suaminya?” tanya yang lain.
“Saya —”
“Aduh, bagaimana bisa kau tinggalkan istrimu yang sedang hamil muda seperti ini? Mana orang asing lagi! Kau seharusnya jadi suami siaga. Dari tadi aku perhatikan dia keluar masuk ke dek sendirian. Kau ini jadi suami kenapa tidak punya hati?” sembur ibu-ibu itu.
Timur ingin membantah tapi Maham kembali mual. Plastik kedua disodorkan dan Maham menerimanya dengan tangan gemetar. Gadis itu mengeluarkan isi perutnya untuk ke sekian kalinya.
“Sudah, sekarang jaga baik-baik istrimu ini. Dia sedang mengandung anakmu sampai seperti ini! Perutnya sakit katanya. Jagalah dia dengan benar. Kau tidak mau kalau terjadi sesuatu pada istrimu dan anakmu kan?”
Tentu Timur tidak ingin terjadi apapun kepada Maham. Tapi anak?
Timur hanya bisa diam. Dia melihat Maham yang tampak sangat lemah dan nyaris menangis. Maka dia menurut saja dan memapah Maham kembali ke dalam kapal.
Kini Maham bersandar di bahunya. Matanya terpejam. Suaranya pelan saat berkata, “Maaf ya. Mereka jadi salah paham dan marah-marah padamu. Aku mabuk laut.”
“Yang penting kau sembuh dulu. Kalau tahu mabuk laut kenapa mau aku ajak ikut tur ini? Aku tidak apa jika kau menolak.” Timur merasa sangat bersalah.
“Karena aku tidak tahu. Seumur-umur baru ini aku naik kapal.”
Untunglah kapal merapat ke pelabuhan tujuan mereka tak lama kemudian. Pengunguman terdengar, meminta para penumpang untuk bersiap-siap berlabuh.
Maham mencoba berdiri tapi tubuhnya masih lemah. Timur segera menangkapnya ketika tubuh Maham oleng.
Ibu-ibu yang sama kembali melihat. “Gendonglah istrimu! Tega sekali. Dia oleng begitu!”
Timur mendesah. Kemudian merendahkan tubuhnya di depan Maham. Menoleh ke Maham, “Naiklah.”
Maham menggeleng. “Kalau aku muntah lagi bagaimana?”
“Tidak masalah. Tinggal dilap.”
Maham menatap ragu ke arah punggung Timur. Naik ke atasnya — digendong oleh pria itu — terasa bukan ide yang bagus menurutnya. “Aku —”
Timur menatapnya serius. “Kau harus mau. Kecuali kau ingin melihatku diomeli lagi oleh para ibu-ibu random.”
Akhirnya Maham naik ke punggung Timur. Lengannya terulur demi mengeratkan dirinya di bahu pria itu.
Dada Timur berdebar ketika merasakan lengan Maham di atas dadanya. Ini adalah pertama kalinya dia menggendong seorang wanita. Dan wanita itu adalah Maham-nya.
“Nah, begitu. Itu baru benar,” komentar ibu yang lainnya.
Timur mengangguk sambil tersenyum kecut. Sedang Maham menahan tawa.
Kapal berlabuh. Tangan Timur menopang tubuh Maham dengan hati-hati. Saat ini dia sedang membawa sesuatu yang paling berharga untuknya.
“Kita duduk saja dulu, ya? Sampai kau baikan baru kita jalan-jalan. Bagaimana?” Timur menawarkan.
“Baiklah.”
Mereka pun duduk di bangku kayu dekat tepian selat. Maham sedikit menunduk merasakan sisa-sisa mualnya.
“Masih sangat mual, ya?”
Maham menggeleng pelan. “Sudah jauh lebih mendingan.”
Mereka lalu diam cukup lama. Sampai tiba-tiba Timur tertawa kecil.
“Apa yang kau tertawakan?” tanya Maham.
“Mereka pikir kau hamil muda.”
“Jangan bahas itu. Sangat memalukan.” Maham salah tingkah. Bisa-bisanya dia membicarakan itu lagi, dalam hati menggerutu.
Tapi Timur menolak untuk berhenti. “Kenapa? Kan ada suaminya,” katanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Tawanya kembali terdengar.
Wajah Maham merah padam dibuatnya. “Tega sekali kau menggangguku padahal kau tahu aku sedang sakit begini.”
“Aku tidak mengganggumu, Maham,” ucap Timur di sisa-sisa tawanya. Rasanya sungguh menyenangkan baginya bahkan bila sekedar membayangkan.
Maham mengerutkan bibirnya. Wajahnya tertekuk.
Hening sejenak sebelum suasana berubah menjadi serius.
“Bagaimana kalau kita menikah?”
Maham menoleh. Matanya menatap Timur seolah mencari makna. “Kau serius?”
“Ya.”
“Setelah apa yang terjadi?” Maham terdengar sulit mempercayainya.
Timur menangkap semua ekspresi Maham tersebut. “Kau tidak mau?”
“Ini bukan masalah mau atau tidak mau!” tukas Maham.
“Lalu?”
“Bagaimana kau bisa melamarku setelah kita berdua hampir saja didepak dari kampus?”
“Hampir,” Timur menekankan. “Aku masih bekerja di sana dan kau masih kuliah di sana.”
Matanya menatap Timur dengan marah dan kecewa. Tidak menyangka bila Timur dapat bersikap sesantai itu. Dia pun berdiri dari duduknya. Hatinya bergemuruh.
“Apa kau tidak melihat ini?” Tangannya menarik masker yang dia kenakan.
Masker yang sama, Timur juga mengenakannya.
Timur menyusul Maham berdiri. “Karena itulah aku tidak ingin sembunyi-sembunyi lagi, Maham.”
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Timur,” ucap Maham tidak habis pikir. “Kau bilang akan mencari cara untuk kita. Apakah cara yang kau maksud itu dengan dirimu yang dipecat dan aku yang dikeluarkan dari kampus?” Matanya pun menyorot Timur dengan penghakiman.
“Maham, itu tidak akan terjadi.”
“Siapa yang bisa menjaminnya?” Maham kembali menukas. Nadanya mulai meninggi. “Bukankah kita juga tidak menyangka kalau kita akan disidang? Tapi kita disidang, Timur!”
“Maham, bukankah kita sudah berhasil melaluinya?”
“Lalu kenapa, Timur? Apa karena kita sudah berhasil melalui satu bahaya maka kita harus melewati bahaya lainnya?” sergah Maham.
“Maham, aku akan melindungimu,” Timur mulai terdengar frustasi dengan perdebatan mereka. “Bukankah hari itu saat kita disidang aku juga melindungimu?”
Sepasang mata hitam Maham menatap lurus ke mata Timur. Suaranya tercekat saat berkata, “Apa kau tahu kalau sidang itu tetap menghantuiku setelahnya? Aku tidak tenang memikirkan sudah ada yang mengetahui tentang kita. Aku ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi kepada kita. Tapi kau —”
Maham tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Tenggorokannya terkunci. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Bagaimana kau bisa melamarku dalam kondisi seperti ini, Timur? Kalaupun aku ingin menikah, aku ingin menikah dengan bahagia. Bukan dalam… ketakutan seperti ini,” lirihnya.
Timur menatap gadis yang dicintainya dengan sedih. Maham tampak begitu rapuh di hadapannya saat ini. Mungkin memang belum saatnya.
Tak lagi mendebat, Timur mengulurkan tangannya. “Maham…” suaranya begitu lembut saat meminta Maham untuk menyambutnya.
Maham melihat pada uluran tangan Timur. Tak langsung menggapainya, seolah mempertimbangkan apakah itu tempat yang aman. Namun hatinya memintanya. Perlahan, tangannya terulur menyambut tangan Timur.
Timur menarik Maham ke pelukannya.
“Aku bisa mencari universitas lain bila dikeluarkan, Timur,” bisik Maham. “Tapi bagaimana denganmu?”
Air mata turun membasahi pipi Maham.
Timur mengecup puncak kepala gadis itu.
“Maafkan aku, Maham. Kita akan baik-baik saja. Aku berjanji kita akan bersama secepatnya tanpa ada yang bisa mengusik kita.”
Di dadanya, Maham menangis pelan.