“Terima kasih sudah menemani,” kata Maham.
Saat ini dia dan Timur sedang berdiri di depan pintu apartemennya yang sedikit terbuka. Mereka baru saja kembali dari toko yang menjual rempah-rempah herbal. Dilanjutkan mampir ke market yang tak jauh dari toko tersebut untuk membeli beberapa kebutuhan dasar Maham yang sudah habis.
“Kau harus banyak istirahat. Aku tidak tahu kalau kau seperti anak kelinci,” ujar Timur. Lalu terkekeh. Terlihat bahagia sekali karena baru saja bisa mengejek gadisnya itu. Di samping memang Maham terlihat seperti anak kelinci di matanya — lucu dan menggemaskan.
Maham mengerutkan bibirnya. Melirik Timur dengan kesal. Baru saja pria itu membahas perihal dirinya yang mudah sekali kembung ketika kedinginan. Ini yang ketiga kalinya setelah kencan tur Bosphorus mereka. Padahal musim dingin belum benar-benar menunjukkan dirinya.
“Secara resmi, ini adalah musim dingin pertamaku,” Maham membela dirinya. “Tahun lalu aku tidak benar-benar melaluinya karena harus kembali ke Indonesia, kalau kau ingat.”
“Tentu aku ingat. Mana mungkin aku melupakan hal yang menyakitkan begitu.” Timur menatap Maham dengan pandangan menuntut.
Maham meringis. “Sungguh maaf untuk itu.”
“Jangan pergi-pergi lagi seperti itu kecuali kalau kau mengajakku.”
“Kalau tidak?” Maham mencoba batasannya.
“Aku akan mengikutimu.”
Suara tawa rendah mereka mengisi koridor. Kemudian Timur menyerahkan dua kantong plastik berukuran sedang yang sejak tadi digenggamnya. “Ini. Jangan lupa diminum. Jaga kesehatanmu,” pesannya sembari menyerahkan kantong plastik tersebut ke Maham.
Maham mengangguk. “Maaf sudah merepotkanmu.”
“Kalau tidak merepotkanku kau akan merepotkan siapa lagi? Aku senang karena aku berguna bagimu,” suara Timur ringan dengan sorot matanya yang lembut.
Maham menunduk cepat, menahan senyum. Hatinya hangat meski pipinya dingin.
Tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi. Maham menoleh cepat ke arah tangga. “Mungkin Ara. Dia bilang sebentar lagi sampai.”
“Dia pasti akan mengomel lagi kalau melihatku di sini,” gurau Timur.
Tapi begitu pintu dibuka, bukan Ara yang berdiri di sana.
Maham kaget. “Esra?”
Suasananya menjadi benar-benar canggung.
Esra berdiri terpaku di anak tangga terendah dari tangga yang menuju ke koridor apartemen Maham. Bola matanya bergerak menyorot Timur dan Maham secara bergantian.
Menyadarinya, Maham mengambil langkahnya, sedikit menjauh dari Timur.
“Dia tetanggaku,” jelas Maham cepat dengan kikuk. Tangannya menunjuk samar ke arah pintu apartemen Timur.
Timur segera paham situasi. Mengangguk sopan ke Esra, “Selamat sore.”
Esra membalas salamnya dengan senyum kaku namun bibirnya terkatup rapat.
“Aku pulang dulu,” Timur pamit.
Maham mengangguk.
Kini hanya tersisa Maham dan Esra di koridor tersebut. Dengan atmosfer canggung yang masih menggantung di udara.
“Ayo masuk dulu, Esra.” Maham menggeser tubuhnya ke samping pintu. Berusaha untuk bersikap senormal mungkin.
Esra menggeleng. “Tidak, aku cuma mampir sebentar. Aku ke sini untuk mengajakmu ke rumahku.”
“Sekarang? Mendadak sekali…” Maham bingung.
Esra tersenyum. Matanya melirik cepat ke arah pintu Timur. “Ayahku baru datang dari Jerman kemarin dan akan kembali lagi ke sana besok. Aku dan Sinan ingin memperkenalkan kau dengannya.”
“Tapi itu… acara makan keluarga, kan?”
“Kau sudah bagian dari keluarga kami.”
Maham diam. Barusan Esra berbicara dengan lembut. Tidak ada paksaan dalam suara gadis itu namun kata-katanya terasa begitu mengikat bagi Maham. Sekarang dia bingung bagaimana caranya untuk menolak.
“Kenapa? Apa kau sudah ada janji dengan orang lain? Dengan pacarmu, mungkin?” tanya Esra yang kemudian terkekeh. Barusan terdengar seperti candaan namun ada sindiran yang tersembunyi di baliknya.
“Tidak. Aku tidak punya pacar,” sanggah Maham cepat. Terlalu takut bila Esra mencurigai keberadaannya dengan Timur tadi.
“Ya, tentu. Kau pantas mendapatkan lelaki terbaik,” kata Esra. Dan lelaki itu adalah kakakku. Bukan dosenmu.
Esra lantas mengeluarkan desakan halusnya, “Jadi jangan menolak, ya? Kami sudah bilang pada Ayah. Ayah menunggumu.”
Akhirnya Maham tak kuasa menolak. “Baiklah. Tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu.”
Sambil bersiap, Maham menyempatkan dirinya untuk mengirimkan pesan ke Timur. Pria itu sempat memberikan isyarat mata padanya untuk mengabari.
Maham:
Esra mendadak mengajak makan malam di rumahnya. Ayahnya datang dari Jerman katanya.
Timur:
Kau bisa menolak kalau merasa tidak nyaman.
Maham:
Aku tidak bisa. Keluarganya sudah menunggu.
Timur:
Kalau begitu, kabari aku. Bon appetite ;)
Jangan pulang malam-malam.
*
Mobil Esra membawa mereka ke kawasan perumahan elit di sisi Etiler. Rumah dua lantai dengan pagar hitam tinggi dan lampu taman yang hangat menyambut mereka. Pelayan perempuan membukakan pintu.
“Tuan Levent sedang keluar, Nona. Satu jam lagi akan kembali katanya.”
“Ah, begitu?” Esra terlihat kecewa namun dalam sekejap mampu mengendalikan dirinya kembali.
“Apakah makan malamnya sudah siap?”
“Sudah, Nona.”
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Interiornya hangat dan mewah. Lantai kayu gelap mengilap, dinding dengan lukisan-lukisan klasik, dan aroma kue kayu manis dari dapur.
Dari lantai atas terdengar suara nyanyian yang heboh. Suara pria.
“Astaga,” gumam Esra. “Itu kakakku.”
Benar saja. Di lantai 2, terlihat Sinan sedang bernyanyi dengan mikrofon karaoke.
Mendadak Maham terbengong-bengong. Bukan karena suara pria itu yang pecah — Maham sempat memujinya dan sangat terkesan. Tapi itu sebelum dia melihat bagaimana Sinan berjoget-joget di atas sana hanya memakai celana boxer dan telanjang d**a. Maham hampir tersedak napas.
“Maaf ya, Maham. Aslinya kakakku memang seperti ini. Tolong jangan takut,” bisik Esra yang mendapati Maham syok berat di sebelahnya. Buru-buru dia naik ke atas.
“Kak! Astaga! Yang benar saja! Bagaimana kau bisa menyambut orang sambil telanjang d**a begitu. Kau tidak lihat kalau kau baru saja menakuti Maham?”
Sinan mematikan musiknya. Terlihat bingung. “Maham?” Kemudian menengok ke bawah.
Bukannya menyembunyikan dirinya, Sinan justru tertawa kecil. Tangannya melambai ke Maham. “Hai, Maham!”
Maham membalas lambaiannya dengan kaku, sambil menunduk dalam-dalam tentunya.
“Kak, jangan gila! Kau sungguh memalukan. Pakai baju dulu sana!” Esra mendorong-dorong Sinan untuk menghilang dari pandangan Maham.
“Iya, iya! Aku ganti baju,” ujar Sinan sambil melindungi tubuhnya yang mulai terkena cubitan dari Esra.
Beberapa menit kemudian, Sinan turun dengan kaos putih polos dan celana jeans hitam. Bertanya ke Maham, “Tidak apa-apa kan bila aku berpakaian seperti ini?”
Sangat jauh lebih baik daripada dengan tidak mengenakan baju, batinnya. Yang tentu, Maham… tidak mengatakan apapun. Dia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dia pikir rasa syok-nya masih hilang. Ternyata saat melihat Sinan kembali, dia masih terbayang-bayang bagaimana pria itu ‘menikmati hidupnya’ tadi.
Dalam hatinya Maham mendesah, Kalau aku fans-nya pasti aku sudah mati berdiri saking bahagianya. Ya, sayangnya dia bukan. Bukan berarti menurutnya Sinan jelek. Hanya saja… Tidak menarik. Seperti kata Ara, seluruh hatinya sudah disewa oleh Timur.
“Ayo, kita makan malam,” ajak Sinan.
“Eh? Tidak menunggu Ayah, Kak?”
“Urusannya tidak bisa ditinggal.”
Wajah kecewa Esra muncul kembali. Namun dia tetap mengikuti kakaknya ke meja makan.
Maham duduk di sana dengan canggung. Aku ke sini karena tidak enak pada Tuan Levent tapi ternyata sendirinya tidak datang. Kalau tahu akan begini, aku pasti akan menolak. Kenapa aku harus makan malam bersama keluarga Altay?, kesahnya.
“Kau harus coba ini, ini favorit Ibu,” kata Sinan sambil meletakkan makanan ke piring Maham.
Esra melihatnya namun tidak bereaksi apapun. Sebaliknya dia bersikap seperti tidak ada di sana dan membiarkan saja Sinan dengan agendanya.
Setelah makan malam, Sinan mengajak Maham berkeliling rumah. Mereka masuk ke ruang baca. Perhatian Maham dengan segera tertarik pada buku-buku mengenai arsitektur.
“Aku sebenarnya seorang arsitek,” ucap Sinan yang melihat arah pandang Maham.
“Ah, aku pikir kau mungkin dari jurusan seni atau semacamnya. Aktingmu bagus sekali,” Maham menanggapi.
“Aku anggap itu sebagai pujian.” Sinan tertawa renyah. Menjelaskan, “Itu bagian dari bisnis keluarga kami. Sejak turun-temurun, keluarga kami adalah kontraktor. Tapi basis-nya di Jerman.”
Pantas saja mereka kaya sekali, komentar Maham.
“Ayahku juga seorang arsitek.”
“Benarkah?” Sinan terkejut. “Kebetulan sekali. Apa kau mengerti tentang arsitektur?”
“Tidak. Tidak ada satu pun anak Ayahku yang mengikuti jejaknya. Kakakku jadi tentara dan aku… seperti yang kau lihat.” Maham meringis.
“Kalau kau tidak memilih jalanmu sekarang, kita pasti tidak akan bertemu,” kata Sinan sambil menatap Maham.
Maham tersenyum canggung. Tatapan Sinan terasa terlalu dalam.
Kemudian terdengar suara Esra dari lantai bawah. “Ada yang mau lihat album masa kecil?”
“Ayo,” ajak Sinan.
Keduanya turun beriringan.
Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Dalam pangkuan Maham, ada sebuah album yang tadi diberikan oleh Esra. Pelan-pelan dia melihat foto-foto masa kecil kakak beradik Altay tersebut. Semuanya hanya foto mereka berdua. Menjelang halaman akhir, dia menemukan foto mereka bersama dengan seorang wanita cantik.
Maham menatapnya. Ini terasa aneh tetapi wanita itu tampak seperti versi Turki dari dirinya.
“Itu mendiang Ibu kami,” jelas Sinan.
“Ah… aku turut berduka,” kata Maham pelan.
“Itu sudah lama. Aku masih 10 tahun dan Esra 7 tahun saat beliau meninggal.”
“Pasti sangat berat untuk kalian yang masih sekecil itu,” ucap Maham prihatin.
“Lebih berat karena beliau bunuh diri,” suara Sinan datar.
Esra menyela cepat, “Kak, itu —”
“Karena suaminya berselingkuh,” sambung Sinan.
Bahkan hanya mendengarnya saja Maham merasa sesak. Air mukanya berubah.
Sinan tertawa sumbang. “Maaf kalau ceritaku barusan membuatmu tidak nyaman, Maham. Tapi kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami.”
“Aku… aku turut berduka karena kalian harus menghadapi cobaan seperti ini.” Maham tidak tahu harus berkata apa.
“Tidak apa. Sekarang kami dari berdua sudah menjadi bertiga lagi denganmu. Aku senang karena Levent tidak ikut makan malam bersama kita.”
Maham merasakan kemarahan Sinan dari caranya menyebut ayahnya hanya dengan nama.
Mengubah suasana, Sinan bangkit. “Aku bisa main piano juga. Kau mau dengar?”
Maham mengangguk pelan. “Ya. Tentu.”
“Ada lagu yang kau suka?”
“Aku tidak tahu. Terserah padamu saja, Sinan.”
“Hm. Terserah ya?”
Sinan duduk di kursi piano dan mulai memainkan River Flows in You.
Alunan lembut dan melankolis segera memenuhi ruangan bersamaan dengan jemari Sinan yang bergerak lincah di atas tuts.