Udara sore terasa menggigit kulit, menusuk hingga ke tulang. Maham baru saja turun dari bis dan mengeratkan syalnya. Langkahnya pelan, lelah. Dia baru saja pulang dari kampus, pikirannya melayang-layang, tubuhnya ingin segera menyentuh kehangatan selimut di apartemen. Tapi langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok asing di depan gedung apartemennya.
Seorang pria berdiri menunggu. Posturnya tegak seperti tiang bendera. Pakaiannya sipil — jaket gelap dan celana hitam — tapi dari caranya berdiri, sorot matanya yang awas, dan gaya potongan rambutnya yang rapi, Maham langsung tahu bila pria tersebut adalah seorang tentara.
Pria itu menoleh menyadari kehadirannya. “Apa Anda Nona Maham?”
Maham mengangguk pelan. Sedikit bingung tapi tetap menjaga sopan santunnya. Matanya menelusuri ciri-ciri wajah pria itu: rambut hitam, mata sipit pekat, hidung tinggi. Mungkin ini memang pertama kalinya Maham bertemu dengan pria tersebut tapi dia sudah mengenalinya, dari foto-foto yang ditunjukkan oleh Ara.
“Anda Kapten Mirach?”
“Benar,” jawab Mirach dengan suara tenang, tapi berisi. “Saya kemari untuk menjemput Ara.”
Maham melirik ke arah jendela apartemennya, lalu kembali menatap Mirach. “Tidak ada yang membukakan Anda pintu?”
Mirach mengangguk singkat. “Saya sudah menekan bel beberapa kali.”
“Hari ini Ara sedang mengurus izin cutinya. Apa dia tahu kalau Anda akan datang?”
“Tidak. Rencana saya semula adalah menjemput Ara besok. Tapi situasi berubah. Saya harus membawanya sekarang. Saya sudah menghubunginya tapi dia tidak membalas pesan atau mengangkat telepon.”
Maham menunduk. Perasaannya mulai tidak tenang. “Apa Anda harus membawa Ara?”
“Ini demi keselamatannya.”
“Tapi ini... terlalu cepat.”
“Saya juga tidak menginginkan ini terjadi. Tapi saya yang menyebabkan Ara masuk ke situasi berbahaya. Jadi saya bertanggung jawab untuk menjaga keamanannya.”
Maham menggigit bibir bawahnya. Pikirannya kacau. Meski belum sepenuhnya, Ara sudah menceritakan keadaannya secara garis besar.
Hati Maham mencelos membayangkan Ara yang selama ini selalu menemaninya harus pergi tiba-tiba. Perlahan matanya memanas. Air mata menetes tanpa bisa ditahannya.
“Tapi dia akan baik-baik saja kan di sana? Ara sudah seperti saudara perempuan saya.”
Mirach menatap Maham. Wajahnya tetap datar tapi nadanya berubah lebih lembut. “Saya berjanji, Nona.”
Langkah kaki dari arah berlawanan terdengar. Maham menoleh. Timur.
Pria itu baru pulang kerja. Jaketnya setengah terbuka dan rambutnya sedikit berantakan karena angin. Tapi sorot matanya tajam begitu melihat Maham berdiri dengan mata basah dan ada pria asing di depannya.
Timur langsung mempercepat langkah. Menghampiri Maham, “Ada apa ini? Apa dia melakukan sesuatu padamu?”
Mirach menaikkan satu alis. Sorotnya tajam, defensif.
Maham buru-buru menggeleng. Suaranya pelan, berusaha menjelaskan. “Tidak ada. Ini Kapten Mirach. Dia datang untuk menjemput Ara.”
Timur menatap Mirach penuh penilaian. Dari namanya, dia tahu dari mana pria itu berasal. “Mirach? Dari Vasselka?”
“Selamat sore,” kata Mirach pendek, menahan nada kesal yang hampir lolos dari suaranya. Matanya sempat melirik tajam ke arah Timur.
“Selamat sore. Saya Cihan,” jawab Timur, kaku tapi sopan.
Mirach menghela napas. Pandangannya kembali kepada Maham. “Saya harus membawa Ara hari ini. Penerbangan ke Vasselka besok pagi. Saya akan menunggu di tempat Anda.”
Maham baru membuka mulut untuk menjawab, tapi Timur lebih dulu bicara, cepat dan mantap. “Anda bisa menunggu di rumah saya.”
Mirach menatap Timur penuh pertimbangan.
“Saya pemilik gedung ini,” lanjut Timur. “Unit saya berhadapan langsung dengan apartemen mereka. Anda akan segera tahu kalau Ara datang.”
Maham ikut bicara, “Ya, Tuan. Saya akan segera mengabari Ara kalau Anda menunggunya.”
Mirach akhirnya mengangguk.
Mereka berpisah. Maham masuk ke apartemennya, sementara Timur membawa Mirach ke tempatnya.
“Silakan duduk,” kata Timur datar.
Mirach duduk. Lalu tiba-tiba terkekeh.
Timur melirik. “Ada sesuatu yang lucu?”
“Kau menghalangiku untuk menunggu di rumahnya,” ucap Mirach melepaskan formalitas di antara mereka.
Timur menaikkan sebelah alisnya. “Apa aku seharusnya membiarkanmu berdiri di luar saja?”
“Aku tentara. Pernah berdiri di luar saat suhu -40 derajat. Tidak masalah. Tapi wajahmu tadi —” Mirach menunjuk wajahnya sendiri. “— mencurigai aku menyentuh perempuanmu. Sangat menyebalkan. Jadi kupikir menyebalkan balik pun sah-sah saja.”
Timur menghela napas panjang, menahan emosi. “Aku sudah bersikap baik dengan membiarkanmu duduk di sini. Kebetulan sekali kau sama gilanya dengan Ara.”
“Kau tergila-gila pada gadis itu. Maham.”
“Tidak ada yang memaksamu untuk duduk di sini, Pria Besar. Kalau kau hanya ingin melepas kekesalan, pintunya di sana.” Itu adalah sebuah pengusiran.
Mirach bersiul pelan. “Tidak masalah. Aku cuma tidak menyangka kalau Tuan Mustafa punya anak semenyebalkan dirimu.”
Timur menyipitkan mata. “Kau kenal ayahku?”
“Dari wajahmu saja sudah ketahuan. Ayahmu Marsekal Mustafa Savcı, bukan? Beliau sering datang ke acara pertunjukan senjata.”
Mirach kemudian berdiri. “Sudahlah. Aku pergi dulu.”
Timur tidak menghentikannya. Tapi alisnya langsung terangkat saat melihat Mirach melangkah ke arah pintu apartemen Maham. Dia segera bangkit dan keluar. Dengan cepat mencengkeram lengan Mirach yang hendak mengetuk pintu Maham.
“Jangan macam-macam! Kalau tuduhan adalah garis batasmu, maka Maham adalah garis batasku. b*****h dengan siapa dirimu!”
Mirach mengangkat kedua tangannya. Senyum tengil muncul di wajahnya. “Bikinkan aku kopi kalau begitu. Tanpa gula.”
*
Maham berdiri diam di depan gedung apartemen dengan matanya sembab. Ara berdiri di hadapannya, menenteng koper, mengenakan coat panjang berwarna krem, syal biru melilit lehernya.
Mereka tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat. Akhirnya, Maham yang lebih dulu memeluk Ara. Erat. Seakan tak rela melepaskan.
Tangis kembali pecah.
“Jaga dirimu baik-baik ya, Ra...” bisik Maham, suaranya serak tertahan.
Ara mengangguk di pelukan Maham. “Kau juga harus janji kalau kau akan baik-baik saja.”
Maham menghela napas, lalu menjauhkan wajahnya sedikit dari pelukan itu. “Jangan memikirkanku. Uruslah dirimu. Jangan menggila di sana.”
Ara tertawa kecil di tengah isaknya. “Akan aku usahakan.” Dia mendekatkan wajahnya lalu berbisik, “Apa kau tidak lihat dia pria yang menyebalkan?”
Maham menoleh sebentar ke arah Mirach yang berdiri di dekat mobil, bersandar dingin di pintu kendaraan. Tangan pria itu masuk ke dalam saku mantel. Wajahnya tampak datar, tak menunjukkan emosi apa pun. Khas tentara. Kaku, disiplin, tapi ya, menyebalkan.
“Hanya dia yang tersedia,” jawab Maham datar, matanya masih basah tapi bibirnya tersenyum kecil.
Mirach melirik arlojinya. “Apakah kita sudah bisa pergi sekarang?”
Ara melirik Maham, menaikkan satu alis. “Kau lihat kan?”
Maham tak tahan, dia tertawa pelan di tengah isak. Mereka pun akhirnya melepaskan pelukan, saling menghapus air mata masing-masing dengan telapak tangan yang dingin. Maham kemudian melangkah mendekat ke arah Mirach.
“Tolong penuhi janji Anda untuk menjaga Ara, Tuan.”
Mirach membalas tatapannya dengan tenang. “Saya tidak pernah ingkar janji, Nona.”
Di sisi lain, Timur berdiri beberapa langkah di belakang Maham. Ara menoleh ke arahnya dan melangkah mendekatinya.
“Terima kasih karena sudah membiarkan kami tinggal di sini,” ucap Ara tulus. “Aku titip Maham padamu. Tolong jaga dia.”
Timur menatap Ara sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. Suaranya pelan tapi yakin, “Dia akan baik-baik saja.”
Ara tersenyum lalu berpaling satu kali lagi ke Maham. Wajahnya mencerminkan perasaan yang bercampur: sedih, khawatir, tapi juga lega karena tahu Maham tidak benar-benar sendirian.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ara masuk ke dalam mobil. Mirach membukakan pintunya dengan gerakan cepat dan tenang. Setelah semuanya siap, dia menutup pintu dan mengitari kap mobil untuk duduk di kursi pengemudi.
Mobil itu perlahan menjauh, menyisakan suara salju lembut yang hancur di bawah ban.
Setelah Ara pergi, Maham menghabiskan waktu lebih lama berdiri di depan gedung. Hatinya kosong. Timur menyentuh lengannya lembut.
“Ayo, makan malam di luar. Aku tahu tempat yang nyaman.”
Maham menoleh. Wajah Timur serius tapi lembut.
Maham mengangguk.
*
Restoran kecil itu tenang dan hangat. Lampu kuning temaram, aroma sup hangat, dan suara musik klasik rendah yang menyelusup di antara percakapan pelanggan lain. Mereka duduk di dekat jendela, melihat lalu lintas yang mulai padat. Di luar, udara tetap menggigit. Tapi di dalam, Maham bisa bernapas sedikit lebih lega.
Dia memainkan sendoknya pelan. “Rumah akan sepi tanpa Ara.”
Timur menyesap tehnya sebelum menjawab, “Bagus, lah. Ara selama ini kelihatan tidak suka dengan hubungan kita.”
Maham menoleh dengan ekspresi antara geli dan tak setuju. “Timur!”
“Apa? Aku hanya jujur.” Timur menyeringai. “Tiap aku datang, dia menginterogasiku seperti aku ini seorang serial killer.’”
Maham tertawa kecil. Lalu suaranya melembut. “Tapi kalau bukan karena dia, kita tidak akan bertemu. Aku sudah beberapa kali mengunjungi Ara dulu tapi kita tidak pernah saling bertemu, kan?”
Yang itu, Timur tidak bisa menyangkal. Kalau hari itu dia menolak permintaan izin Ara yang hendak membawa temannya, tentu dia tidak akan bertemu dengan Maham yang selalu ditunggunya selama ini.
“Tentu. Kalau selama ini aku tidak menanggapi aksi gilanya, itu karena dia yang menjadi jalan bagi takdir untuk membawamu kembali ke hadapanku.”
Maham tersenyum kecil mendengarnya. “Saat aku baru pindah — baru turun dari taksi — bagaimana kau bisa langsung ada di sana?”
“Gedung apartemen itu milikku, Nona. Jadi secara teknis, aku bisa berada kapan saja di sana.” Timur menaikkan sebelah alisnya. “Tapi aku mengerti maksudmu. Memang ‘kebetulan sekali’. Aku baru saja parkir saat melihatmu turun dari taksi hari itu. Selama beberapa detik aku berdiam diri mempertanyakan diriku apakah aku sedang berhalusinasi karena setelah 9 bulan berlalu, aku masih terpikirkan tentangmu. Bahkan sampai aku mendekatimu dan menyapamu, aku masih berpikir mungkin aku gila.”
“Jadi benar,” Maham bersedekap. “Hari itu kau berbohong soal tahu namaku dari Ara.”
Timur mengangkat kedua tangannya seolah tertangkap basah. “Kalau aku langsung katakan yang sebenarnya, apa kau tidak akan lari?”
“Tidak separah itu.” Maham menatapnya datar. “Paling aku akan menendangmu. Seperti aku menendang mantan kekasih Esra, karena kau seperti penguntit.”
Timur menahan tawa. “Setampan ini kau bilang penguntit?”
Maham menaikkan satu alis, menahan senyum.
“Tapi —” Timur mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya lebih pelan, “— kalau aku harus jadi penguntit untuk mendapatkanmu maka aku akan melakukannya.”
Maham mendecak pelan. Menoleh ke jendela sambil menahan tawa. “Jangan gila.”
“Serius.” Timur tetap menatapnya. “Aku mungkin keras kepala, tapi aku tahu yang aku mau.”
Maham tak menjawab. Tapi wajahnya memerah sedikit.
Setelah beberapa detik keheningan, Timur menggeser piring roti ke arahnya. “Kau belum makan banyak. Nanti masuk angin lagi. Ara pasti akan menerorku kalau tahu.”
“Dia mempercayakan aku padamu.”
“Dan aku akan menjaga kepercayaan itu. Tapi —” Timur memiringkan kepala. “— kau juga harus menjagaku.”
Maham melirik. “Menjagamu bagaimana?”
“Dari jatuh cinta semakin dalam kepadamu.” Timur tersenyum nakal.
Maham pura-pura menghela napas berat. “Kenapa aku harus makan malam denganmu?”