Aroma tumis bawang putih menyebar ke seluruh dapur mungil bergaya minimalis itu. Timur mengenakan apron hitam polos, satu tangannya sibuk mengaduk saus pasta, sementara tangan lainnya meraih gelas kopi yang sudah setengah dingin. Di luar, langit Istanbul mulai menurunkan butiran-butiran salju yang menjatuhi menara-menara masjid dan blok apartemen modern.
Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja makan. Panggilan video call dari Ibunya.
Timur mendesah kecil. Dia tahu panggilan ini tak akan berlangsung sebentar.
Dengan satu tangan yang masih memegang spatula, dia menjawab sambil menyandarkan ponsel di penyangga.
“Selamat sore, Ibu.”
Wajah ibunya muncul duluan. Nyonya Nezahat, dengan wajah khas wanita aristokrat Turki, tersenyum manis dari balik layar.
“Halo, Timur.” Ayahnya, Tuan Mustafa, menyusul masuk ke dalam frame dengan suara beratnya.
“Bagaimana kabarmu, Nak? Kau sedang apa?” tanya Nyonya Nezahat.
“Memasak untuk makan malam.” Timur sedikit menggeser ponselnya untuk menunjukkan kegiatannya. “Bagaimana kabar kalian?”
“Kami baru saja pulang dari mengunjungi Bibi Emine di rumah sakit. Sudah sejak sebulan lalu beliau protes kenapa kami jarang sekali bertamu ke tempatnya,” jawab Nyonya Nezahat.
Bibi Emine adalah bibi Ibunya.
Timur mendengarkan sembari mengaduk saus tomat di panci. “Kalau bertemu lagi dengannya tolong sampaikan salamku.”
“Kami juga ingin menyampaikan salam dari Tuan Osman,” suara ayahnya.
Timur melirik ke arah ponselnya. Tahu betul bisa Tuan Osman yang dibicarakan ayahnya adalah dekannya sendiri. Untuk apa atasannya menyampaikan salam padanya yang jelas-jelas setiap hari kerja bisa ditemui? Jadi Timur tahu itu hanya sebagai pembuka dari pembicaraan yang akan berlangsung setelahnya.
Dan tentu saja dia benar.
Ayahnya, “Kemarin kami berbincang dengannya.”
“Apa ada laporan masuk tentangku?”
Nyonya Nezahat, “Tidak, Sayang. Sebaliknya beliau bilang kau sangat berdedikasi. Kami bangga padamu.”
Timur tahu bila obrolan mereka tidak mungkin hanya sampai di situ. Lagi-lagi dia benar.
“Kami memintanya untuk mencarikan pasangan,” sambung Ibunya.
Timur terdiam sejenak. Sendok kayu di tangannya berhenti bergerak. “Untuk siapa?” tanyanya kemudian.
“Untukmu tentu saja. Usiamu sudah 30 tahun dan kau hidup sendirian.”
Timur berhenti total kali ini. Tangannya menekan handle kompor, mematikan api kecil di bawah pancinya.
“Apa aku terlihat seperti pria yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri?” balas Timur dengan nada setengah bercanda.
“Memang kau bisa mengurus yang satu ‘itu’ sendiri?” seloroh ayahnya.
Nyonya Nezahat langsung menoleh tajam. “Mustafa!”
Timur tidak bisa menahan senyum. “Aku cukup baik, terima kasih. Tidak butuh jasa biro jodoh dari dekan kampus.”
“Nah, masalahnya…" Ibunya menyipitkan mata, “Tuan Osman menolak.”
Timur diam. Jantungnya mulai tak karuan.
“Katanya tidak mungkin memunculkan orang ketiga,” sambung ibunya. “Jadi apa kami melewatkan sesuatu, Timur?”
Timur mengerang pelan. “Kenapa tidak langsung tanya saja ke Prof. Osman, Bu? Lebih praktis.”
“Kau ini!” Sang Ibu menjentikkan jarinya ke layar. Jelas sekali ingin mencubit putranya. “Tuan Osman bilang soal itu sebaiknya kau sendiri yang menjelaskan. Jadi kami bertanya... dengan baik-baik.”
Ayahnya ikut menimpali dengan nada ringan, “Ya, kami hanya ingin tahu apakah dalam waktu dekat harus membuat syukuran karena akhirnya ada yang mau dengan anak kami?”
*
Sebuah kafe kecil di sudut Karaköy menjadi tempat Timur duduk menunggu. Aroma kopi sangrai memenuhi udara, berpadu dengan wangi kayu dari interior rustic yang hangat. Di luar, musim dingin mulai menunjukkan taringnya. Uap hangat keluar dari setiap napas, dan jendela kafe sedikit mengembun oleh perbedaan suhu.
Tak lama kemudian, pintu kafe terbuka. Seorang wanita tinggi dengan senyum hangat masuk, mengibaskan salju tipis dari coat wol abu-abunya.
“Timur!” sapa Aliye ceria.
“Kak Aliye,” Timur berdiri, memeluknya singkat. “Selamat pulang.”
“Terima kasih,” jawab Aliye sambil duduk di hadapannya. “Tempat ini sangat nyaman. Belgia tidak punya banyak kafe sehangat ini. Semua terasa serba dingin dan praktis.”
“Kau terlihat bahagia. Bagaimana kabarmu dan suamimu?”
Aliye tertawa. “Kami baik. Arif betah bekerja di Leuven. Aku juga sedang proses untuk bisa mengajar bahasa Turki di universitas lokal sana. Perlahan semuanya mulai terasa seperti rumah.”
Timur mengangguk. “Kau memang selalu bisa beradaptasi.”
Aliye mengangkat alis. “Sekarang, ceritakan kabarmu. Kudengar banyak hal menarik tentangmu.”
“Bukankah kau sudah ke Ankara dulu sebelum ke Istanbul? Apa Ibu tidak menceritakan apapun?” Timur meneguk kopinya pelan.
Aliye pura-pura melotot. “Anak kurang ajar. Ada apa dengan tata kramamu ini?”
Timur menyunggingkan senyum. “Jadi benar kan? Kau minta bertemu pasti karena Ibu yang menyuruhmu.”
Aliye tertawa lepas. “Aku memang ingin bertemu denganmu. Sudah hampir setahun tahu! Tapi ya, Bibi Nezahat menitipkan pesan padaku. Karena ternyata kau sudah tahu, jadi aku tidak perlu pura-pura lagi.”
“Harus aku jawab?”
“Menurutmu?! Semua orang di rumah penasaran. Jadi kenapa kau tidak berikan sedikit cerita kepada mereka... dan aku?” Aliye mendesak.
Timur terdiam sejenak, teringat percakapannya dengan orang tuanya beberapa hari lalu. Tentu, dia tidak memberitahu sedikitpun tentang Maham kepada mereka. Belum waktunya.
“Aku menunggu semuanya pasti dulu, baru akan mengabarkan, Kak.”
Aliye menatapnya tajam. “Jadi kabar itu benar?”
“Ya.”
“Seperti apa gadis ini? Aku pikir kau masih menunggu Maham,” Aliye mulai mengorek informasi.
Tanpa kata, sepasang mata zamrud Timur hanya menyorot Aliye.
Aliye hampir tersedak minumnya. “Jangan katakan…”
Tatapan Timur melunak. Mengangguk. “Maham Narawangsa.”
“Astaga! Kalian sungguh bertemu kembali?!” Sepasang mata Aliye membesar saking terkejutnya. Saking bahagianya, tawanya sampai meledak di udara.
Timur menyeruput kopinya. Bagian yang paling mengejutkan belum dia katakan.
Aliye mencondongkan wajahnya. Bersiap mendengar cerita yang paling menarik baginya di sepanjang hidupnya. “Jadi bagaimana kalian bertemu kembali?”
“Sahabatnya adalah penyewa baru di gedungku. Unitnya tepat di seberang apartemenku. Dia bilang temannya akan pindah ke situ. Aku tidak tahu kalau temannya itu adalah Maham, sampai aku lihat Maham turun dari taksi di depan apartemen.”
Aliye menatap antusias. “Ini seperti drama, Timur! Aku yakin kau pasti berjodoh dengannya!”
Timur tersenyum samar.
“Lalu kenapa menyembunyikan hal seperti ini dari keluargamu? Bukankah ini kabar bahagia?”
“Prof. Osman menolak untuk mengatakannya dan meminta Ayah dan Ibu untuk bertanya langsung kepadaku pasti ada sebabnya kan, Kak? Itu karena Maham adalah mahasiswi kami.” Timur berdehem. “Tepatnya, mahasiswi di kelas yang aku ampu.”
Seketika Aliye melongo. “Tunggu.. tunggu… Maksudmu, kalian dosen dan mahasiswi?”
Timur mengangguk.
Air wajah Aliye berubah. Antusiasmenya memudar, digantikan oleh kekhawatiran. “Dan kau tetap memilih menjalin hubungan dengannya?”
“Secara resmi, kami tidak punya hubungan.”
“Tapi kalian berkomunikasi di luar jam kuliah, kan? Berkencan? Atau semacamnya?”
Timur tidak membantah. “Karena itu aku belum memberitahu siapa pun.”
“Tapi kau serius dengannya, kan?”
Timur menatap lurus. “Kak, apakah aku menunggunya selama ini hanya untuk bermain-main dengannya?”
Sejenak Aliye terlihat bingung harus mengatakan apa. “Tolong jangan tersinggung kepadaku, Timur. Tapi kau tahu betapa beresikonya ini untuk kalian berdua. Jadi kalau kau hanya sekedar penasaran saja —”
“Aku sudah berniat untuk menikahinya, Kak,” potong Timur.
“Bagaimana?” Wajah Aliye semakin bingung. “Kalian akan sembunyi-sembunyi? Begitu?”
“Aku tidak akan menempatkan Maham ke dalam posisi seperti itu. Sebulan lalu aku mendaftar posisi sebagai peneliti di kampus lamaku. Sekarang prosesnya sudah tahap akhir. Aku optimis kalau akan diterima.”
“Maham tahu?”
“Belum. Dia tahu aku berniat menikahinya. Tapi soal penelitian ini, aku akan memberitahunya bila hasilnya sudah pasti. Setelahnya, melamarnya.”
Aliye tersenyum lega. “Aku sungguh sangat ingin melihat kalian bersama. Syukurlah kalau kau sudah menemukan jalan keluar untuk hubungan kalian ini. Tapi kalau kau kembali ke London, setelah menikah kalian akan LDM?”
“Hanya setahun. Sampai Maham lulus. Yang penting aku sudah memilikinya sebagai istriku.”
Aliye mencibir gemas. “Mari kita lihat apakah kau bisa jauh-jauhan begitu.”
Timur tertawa kecil. “Kalau tak tahan, London – Istanbul hanya empat jam jaraknya.”
“Ya ya, aku yakin akan segera punya keponakan blasteran yang lucu-lucu. Jelas sekali kau sangat antusias dengan Maham.”
Timur tidak menyangkal. Memang benar, dia menginginkan Maham seutuhnya.