Restoran milik Murat tampak tak seperti biasanya ketika Timur melangkah masuk. Di jam-jam seperti ini, biasanya pengunjung memadati tiap meja, suara percakapan dan denting gelas saling bersahutan. Namun kini, suasana terasa hening. Pelayan sibuk menata meja-meja dengan taplak putih, lilin panjang, dan rangkaian bunga mawar segar. Aroma khas Mediterania tetap menyambut seperti biasa, tapi atmosfernya berbeda — lebih formal, lebih mewah.
Timur mengamati sekeliling. Salah satu sudut restoran dihias dengan elegan: cahaya hangat dari lampu gantung, kursi-kursi bermantel satin, dan vas kristal berisi bunga mawar merah muda. Tak perlu banyak tebakan untuk tahu: seluruh restoran telah disewa untuk acara istimewa.
Langkah kaki terdengar mendekat. Murat menghampirinya dengan senyum tergesa.
“Timur! Maaf aku tak bisa menemuimu lebih lama. Hari ini benar-benar gila. Tapi kita bisa bicara sebentar. Ayo, duduk.”
Mereka mengambil tempat di pojok restoran yang belum tersentuh dekorasi. Timur meletakkan mantelnya di samping kursi dan duduk.
“Terima kasih sudah mau menemui,” kata Timur.
Murat mengangguk. “Jadi, kau mau minta tolong untuk apa?”
Timur menatap sahabatnya sejenak. Lalu dengan suara pelan tapi pasti berkata, “Aku ingin melamar.”
Murat tersedak udara. “Tunggu... tunggu... bagaimana? Kau mau minta aku melamarkan? Untukmu?”
Timur terkekeh. “Bukan begitu. Aku butuh bantuan. Ide. Bagaimana caranya melamar dengan benar.”
Murat masih memandangnya seolah tak percaya. “Aku tidak salah dengar, kan? Kau punya kekasih? Sejak kapan?”
“Tidak tepat sebagai kekasih. Tapi anggap saja begitu,” sahut Timur, sedikit canggung.
Murat mengerutkan dahi. “Siapa? Kenapa kau tidak pernah mengenalkannya kepada kami?”
“Kalau sudah menerima undangan dariku, kau akan tahu. Sekarang bantu aku dulu untuk melamarnya,” ucap Timur.
Murat menyandarkan punggung. “Beritahu aku dulu siapa dia, baru aku bantu.”
Timur mengangkat kedua tangan, pasrah. “Bro, ayolah. Aku dikejar waktu.”
Murat memelototinya curiga. “Kau... jangan bilang kalau kau sudah menghamilinya?”
“Jangan sembarangan!” tegur Timur cepat.
“Lalu kenapa buru-buru begini?”
Timur menarik napas. “Aku harus ke London bulan depan. Penelitianku di LSE akan dimulai.”
Murat mengangguk pelan. “Ah, baiklah.”
“Jadi?” tanya Timur.
Murat menoleh ke ruangan yang tengah disiapkan. “Kebetulan sekali. Idenya ada di depan matamu.”
Timur mengikuti arah pandang Murat. “Aku kira akan ada acara makan bersama.”
Murat mendecakkan lidah. “Kau ini payah sekali! Bagaimana bisa melamar perempuan dengan kemampuanmu membaca situasi yang sekacau ini?” Dia menggeleng pelan. “Akan ada acara lamaran di sini malam ini.”
“Lamaran?”
“Iya. Kau tahu Sinan Altay? Aktor terkenal itu?”
“Dia yang menyewa seluruh restoranmu?”
Murat mengangguk bangga. “Dan kau tahu siapa yang akan dia lamar?”
Timur mengernyit. “Kenapa aku harus tahu?”
“Karena kau mengenal gadisnya.”
Timur menatapnya curiga. Ada kegelisahan yang menyusup ke dadanya — seperti pertanda bahwa sesuatu yang besar dan tak diinginkan tengah mendekat perlahan, seperti badai yang menunggu waktu untuk pecah.
“Siapa?”
“Temanmu. Maham.”
Seketika tubuh Timur membeku. Tatapannya kosong. Jantungnya seperti kehilangan irama.
Murat masih mengira Timur hanya kaget biasa. “Kau juga terkejut, ya? Tapi itu wajar. Sinan aktor besar. Mereka pasti menyembunyikan hubungan mereka dari media. Termasuk darimu.”
Timur menelan ludah. Suaranya lirih, “Dari mana kau tahu?”
“Kami diminta untuk menyiapkan tulisan besar: 'Will you marry me, Maham?’” kata Murat ringan. “Tapi sebelum ini, aku juga pernah tak sengaja melihat mereka di toko berlian elit di daerah Levent. Mereka menjajal cincin.”
“Kau yakin?”
“Yakin. Sinan sendiri yang memakaikannya ke jari Maham.”
Tanpa menjawab, Timur langsung bangkit dari kursinya. Wajahnya gelap, matanya tajam namun kosong. Murat memanggilnya tapi Timur tak mendengar. Tepatnya, tak mau mendengar.
Dia melangkah cepat ke luar restoran. Udara dingin menyambutnya lagi. Tapi kali ini, tak ada kehangatan yang menyusul di baliknya. Hanya badai yang mulai tumbuh di dalam dirinya sendiri.
*
Langit Istanbul memudar dalam warna kelabu kebiruan, menyisakan jejak cahaya yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Di kejauhan, denting air dari Selat Bosphorus terdengar lembut, seolah menjadi satu-satunya nyanyian yang menemani kesendirian Timur. Mobilnya terparkir di salah satu sudut terpencil dermaga tua yang jarang dikunjungi, jauh dari keramaian dan kehidupan yang terus bergerak.
Sudah hampir dua jam dirinya duduk diam di kursi pengemudi. Mesin dimatikan, musik tidak menyala, dan ponselnya tergeletak di kursi penumpang, tak tersentuh sama sekali sejak dia keluar dari restoran milik Murat.
Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Tapi di dalam mobil itu, hanya ada keheningan yang menyesakkan dan perasaan yang terus mendesak d**a Timur — sesak, panas, dan getir.
Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi justru yang datang adalah suara tawa Maham. Senyumannya. Tatapan matanya saat berbicara dengan penuh keceriaan.
Tangannya mengusap wajahnya kasar ketika semua potongan hidupnya dengan Maham membanjiri ingatannya, begitu kencang dan derasnya layaknya air bah. Maham yang awalnya tidak langsung menyambut dirinya, Maham yang tidak ingin siapapun mengetahui tentang mereka, Maham yang marah ketika dia melamarnya. Ketika semua itu terjadi, Timur menerima saja, berusaha mengertikan dengan hati terbaiknya dan menganggap bila semua reaksi gadis itu adalah normal adanya.
Lalu terdengar suara Maham ketika dengan tenang menyebutkan nama b*****h itu beberapa waktu lalu:
“Ada. Tapi kakaknya sibuk. Kau tahu Sinan Altay?”
Kala itu Timur tak berpikir apa-apa. Dia tidak menggubrisnya, menganggapnya biasa. Tentu saja Maham dan Esra sering bertemu, mereka berteman. Tapi kini, setelah mendengar dari Murat bahwa Sinan akan melamar Maham malam ini... semuanya mulai terasa masuk akal. Kepingan-kepingan kecil yang dulu diabaikannya kini bersatu membentuk sesuatu yang menyakitkan.
“Tentu saja yang kau temui bukan Esra, tapi bedabah itu,” Timur berbicara seolah Maham ada di hadapannya. Lalu tertawa getir. Menertawakan dirinya sendiri yang baru menyadarinya sekarang.
Dia bersandar ke jok kursi, menatap langit-langit mobil dengan pandangan kosong. Kenangan saat acara panahan di dekat Sultan Ahmet adalah apa yang datang ke pikirannya setelahnya. Kali ini suara Murat yang bergema:
“Kau yakin kalian hanya berteman?”
Waktu itu Timur tertawa, menganggap pertanyaan itu menggelikan. Tapi sekarang, apa yang bisa dia tertawakan?
“Semua orang mengetahuinya, Maham. Kecuali aku,” kembali dia bermonolog.
Mungkin memang dirinya yang bodoh. Terlalu percaya. Terlalu yakin.
Timur menarik napas panjang. “Tentu saja kau akan memilih seseorang seperti dia.” katanya kepada Maham yang kini berdiri menatapnya dalam pikirannya. “Siapa aku? Hanya seorang dosen. Sehebat apapun pencapaianku, aku tetap bukan siapa-siapa dibandingkan b*****h itu.”
Tangannya mengepal di atas kemudi. Rasa marah mulai menyelinap, bukan hanya pada Maham tapi juga pada dirinya sendiri.
“Aku yang bilang ingin mengenalmu. Aku yang bilang ingin mencintaimu, Maham. Tapi ternyata kau sudah lebih dulu memilih b*****h itu!”
Timur menggeram.
Di antara amarahnya, Timur teringat sesuatu. Di kursi belakang, sebuah kantong belanjaan berwarna navy dengan logo emas dari toko berlian ternama terlihat mencolok. Hatinya mencelos. Perlahan dia mengulurkan tangan, menarik kantong itu ke pangkuannya. Tangannya menarik tali pita di atasnya dan mengangkat sebuah kotak beludru biru tua dari dalamnya.
Tangannya gemetar saat menyentuh permukaannya. Terhantam kenyataan bila dirinya belum sempat memberikannya pada Maham. Belum sempat berbicara. Dan kini, tidak akan bisa.
“Lalu apa yang sudah kita lalui selama ini, Maham?” bisiknya lirih.
Dunia seolah mengejeknya.
Tangan kirinya menutup kembali kotak itu dengan pelan. Kemudian, seperti orang kehilangan akal, Timur membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Udara dingin menusuk kulitnya, tapi dia tak peduli. Langkahnya berat namun tetap membawa dirinya ke tepi dermaga.
Laut berkilau samar di bawah sinar lampu kota. Udara asin menerpa wajahnya.
Timur berdiri di sana beberapa saat. Lalu, dengan satu helaan napas panjang, menengadah ke langit. Tangannya menggenggam kotak itu erat.
“Untuk apa semua ini?” suaranya pecah, lalu berubah menjadi teriakan, “Kau sama sekali tidak pernah menganggapku! Dosen dan mahasiswi? Kau tidak ingin orang lain tahu? Semua ini hanya perkenalan!”
Timur mendengus. Teriakannya terhenti namun rasa sakitnya semakin menjadi. “Kau hanya mempermainkanku, Maham. Kau tidak pernah memilihku sejak awal,” lirihnya.
Air mata mengalir tanpa dia sadari. Hatinya terasa seperti dihantam ombak berulang kali, tak sempat pulih dari luka pertama sebelum luka lain kembali datang.
Dia menatap pada kotak beludru biru yang masih tergenggam kuat. “Aku bodoh, Maham. Bodoh karena berpikir kau akan memberiku kesempatan. Bodoh karena berpikir aku cukup untukmu.”
Dan seketika, tubuhnya goyah. Timur menunduk, kedua lututnya nyaris roboh. Tapi dia bertahan. Genggaman pada kotak itu justru semakin erat. Seolah seluruh harapannya masih tersimpan di dalam benda kecil itu.
“Kenapa…?” gumamnya dengan suara parau. “Kenapa kau melakukan ini kepadaku, Maham?”
Satu embusan angin membawa suara deru ombak yang menyapu karang. Tapi tak ada jawaban. Hanya kesunyian yang semakin menyiksa.
Timur berdiri di sana untuk waktu yang entah berapa lama. Dalam diam, dalam kecewa, dalam patah yang dia tak tahu bagaimana harus merangkainya kembali. Dunia yang selama ini terasa penuh cahaya bersama Maham, kini terasa suram. Sepi. Kosong.