Maham duduk di sofa ruang tamunya, memeluk lutut sambil memandang kosong ke arah jendela. Tak ada suara selain detik jam dinding dan dengung samar dari kulkas. Tapi justru dalam keheningan seperti itulah, pikirannya semakin gaduh. Sejak pagi tadi, ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang. Entah apa penyebabnya. Dan hingga kini, kegelisahan itu belum juga mereda.
Ponselnya tergeletak di meja. Layarnya kosong, tanpa pesan, tanpa notifikasi. Sudah dua jam Timur tak bisa dihubungi. Terakhir mereka berbicara siang tadi, hanya sebentar. Timur bilang ada urusan mendesak yang harus diselesaikannya. Tapi kenapa sekarang ponselnya mati?
Tak tahan, Maham meninggalkan sofanya. Melangkah dengan berat ke arah pintu apartemennya. Di hadapannya kini tampak pintu apartemen pria tersebut dengan angka 3 yang menggantung. Tampak dingin dan sunyi seolah hendak memberitahu Maham bahwa pemiliknya masih belum kembali.
Maham menghela napas. Kakinya tetap melangkah ke sana meski dirinya tidak merasakan kehadiran Timur di dalamnya. Tangannya kemudian terulur, mengetuk pintu untuk yang kesekian kalinya sejak 2 jam yang lalu. Lagi-lagi tidak ada jawaban.
Seharusnya Timur sudah pulang. Ke mana dia?, batin Maham menggeliat cemas.
Dengan berat hati, Maham pun kembali ke apartemennya. Namun belum sempat duduk, ponselnya bergetar.
“Halo, Esra.”
“Maham, apa kau sudah siap? Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu,” suara ceria Esra terdengar.
Maham menatap bayangannya di cermin kecil di dinding. Gaun musim dingin berwarna merah marun, riasan tipis, sepatu berhak rendah — semuanya sudah lengkap.
“Sudah,” jawabnya pelan.
Esra tertawa. “Sudah dandan yang cantik, kan?” guraunya.
“Iya.”
Sepasang mata hitamnya kembali menyusuri pada pantulan dirinya. Semuanya sempurna tapi terasa ada yang salah. Lagi, dia tidak tahu apakah itu.
“Kalau begitu tunggu. Aku akan sampai 15 menit lagi.”
Sambungan terputus.
Malam ini mereka akan pergi ke peresmian toko berlian milik keluarga Altay. Sejujurnya, Maham sama sekali tidak ingin ke sana. Terlebih dengan ketiadaan kabar dari Timur seperti sekarang. Bila dia tidak teringat bahwa dirinya sudah setuju untuk menghadiri acara tersebut sejak jauh-jauh hari, pastilah dia sudah membatalkannya sejak tadi.
Tak lama, Esra menelepon lagi. “Maham, aku sudah di depan.”
“Baik, Esra. Aku turun sekarang.”
Keluar dari apartemennya, sekali lagi Maham menatap pintu Timur. Hatinya masih belum tenang. Tapi akhirnya dia tetap melangkah turun.
Mobil Esra sudah menunggu. Mereka berangkat dengan lagu lembut yang mengalun pelan membersamai perjalanan mereka.
“Aku tidak menyangka, akhirnya hari ini datang juga,” celetuk Esra membuka pembicaraan mereka.
“Aku ikut senang untuk usaha baru kalian.”
“Ya, ini pertama kalinya untuk kami. Dan aku juga senang karena itu kau,” balas Esra sambil mendahului mobil yang berjalan lambat di depan mereka.
Maham mengernyit. “Maksudnya ‘itu aku’?”
Esra melirik Maham. Baru menyadari kesalahan yang dibuatnya. Tawa kikuknya pun terdengar. “Maksudku, aku senang karena kau ada di sini, menyaksikan momen keluarga Altay. Kau satu-satunya sahabat yang aku miliki.”
Untuk pertama kalinya sejak dalam hari ini, Maham merasa perasaannya membaik. “Terima kasih karena sudah mengundangku.”
Esra berdecak. “Apa seorang anggota keluarga harus berterimakasih kepada anggota keluarga lainnya saat diundang ke acara keluarga?”
“Kata-katamu membuatku bingung,” balas Maham. Lalu tertawa kecil.
Obrolan mereka terputus di situ. Muncul pemberitahuan panggilan pada layar di dashboard. Nama Sinan tertulis di sana. Esra menggeser tombol terima di layar.
“Kau sudah sampai mana, Esra?” suara Sinan langsung menghambur.
“10 menit lagi kami akan sampai kak.”
“Dengan Maham kan?”
“Aku bilang ‘kami’, Kak,” Esra menjawab dengan nada protes.
Di seberang sana Sinan terkekeh pelan. “Baiklah. Hati-hati.”
Tak lama, mobil memasuki pelataran parkir restoran di tepian Selat Bosphorus itu. Suasananya begitu tenang dengan lampu-lampu taman yang berpendar kuning pekat. Begitu sunyi untuk disebut sebagai sebuah lokasi peresmian. Bahkan selain mobil Esra, hanya ada satu mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di sana — Maham baru menyadarinya setelah turun. Namun dia tidak menggubrisnya.
Keduanya memasuki bangunan utama restoran. Dekorasi bunga mawar dan lilin panjang menyambut mereka — indah dan elegan di waktu yang bersamaan. Namun hanya itu. Maham tidak menemukan manusia lain selain mereka dan tentu saja… Sinan. Pria itu suda berdiri di tengah ruangan, siap untuk menyambut mereka.
Maham berbisik ke Esra, “Apa baru kita yang datang?”
Esra meringis. “Hm, ya. Begitulah.”
Rasa ganjil merayapi Maham. Kembali, dia memilih untuk tak menghiraukannya.
“Selamat datang,” kata Sinan dengan senyum tenang. Kemudian meraih Esra ke dalam pelukannya dan mereka bergantian menempelkan pipi satu sama lain.
Sinan beralih ke Maham. “Selamat malam, Maham. Aku sudah menunggu kehadiranmu.”
Maham mengangguk kecil. “Selamat malam, Sinan. Sekali lagi selamat atas peresmian toko berlianmu,” ucapnya tanpa mendekat ke arah pria tersebut. Dia tidak gila untuk tahu-tahu memeluk Sinan seperti Esra memeluk pria itu.
“Terima kasih karena sudah datang.”
Sejenak, manik biru Sinan tertahan pada Maham. Lalu beralih ke Esra. “Apa kau sudah membawa koleksi yang akan ditunjukkan?”
Seketika Esra menepuk keningnya. “Aku melupakannya di toko, Kak.”
Air wajah Sinan berubah masam. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?”
“Maaf, Kak.” Esra meringis. “Aku akan mengambilnya sekarang.”
Maham berdiri diam di sana, mengamati interaksi kedua kakak beradik tersebut. Tentu bukan salahnya kalau Esra lupa tapi dia juga jadi tidak enak hati kepada Sinan.
“Maham, kau di sini dulu, ya. Aku akan ke toko sekarang.”
Eh, bagaimana? Dengan cepat Maham menoleh ke Esra. “Tapi aku —”
“Kau di sini saja, Maham. Makan malam akan segera siap,” sela Sinan.
Sekarang Maham beralih ke Sinan. Ini bukan situasi yang asing — lagi — baginya ketika berada di tengah-tengah kakak beradik Altay. Pun begitu, tetap tidak membuatnya terbiasa apalagi nyaman.
“Kau tidak akan ikut makan malam?” tanya Maham ke Esra.
“Aku sudah makan sebelum datang kemari.” Esra meringis. “Kau makan saja dengan Kak Sinan. Aku akan kembali secepatnya.”
Dan seperti yang selalu terjadi, kakak beradik Altay memberikan keputusan tentangnya tanpa Maham dapat menyela.
Tatapan Maham mengikuti punggung Esra. Jelas tidak ingin ditinggalkan. Namun Esra langsung melenggang dari sana seolah memang sengaja ingin meninggalkannya.
“Maham,” panggil Sinan lembut.
Maham melepaskan dirinya dari Esra. Menoleh pada Sinan yang entah sejak kapan sudah menarikkan kursi untuknya.
“Silakan duduk.”
Maham menurut, membawa tubuhnya untuk duduk meski dengan gerakan canggung. Dia sempat menjengit ketika merasakan sentuhan kecil Sinan pada bahunya.
Sekarang pria itu duduk di hadapannya. Tampak sangat berbeda dari Sinan yang beberapa kali ini ditemuinya. Terlalu formal dengan tuxedo hitam dan rambut blonde gelapnya yang disisir klimis. Maham tidak tahu apakah memang seharusnya Sinan berpenampilan seperti itu — dia belum pernah ke acara kelas atas sebelumnya. Tetapi bila dia boleh jujur, penampilan Sinan membuatnya semakin gelisah — dalam artian yang buruk.
“Kita makan malam dulu ya? Kau pasti lapar,” ujar Sinan lembut.
“Apakah kita tidak akan menunggu tamu undangan yang lainnya? Kenapa belum ada yang datang?”
Tawa renyah Sinan terdengar. “Karena kita harus makan malam dulu sebelum acara utamanya mulai.”
Jadi acaranya belum dimulai?, Maham tidak mengerti. Yang disampaikan kepadanya hanyalah sebuah undangan peresmian beserta jamnya. Dan saat itu adalah jamnya. Namun Sinan sudah lebih dulu menjentikkan jarinya sebelum Maham sempat memahami apapun.
Beberapa pelayan segera muncul membawa deretan menu. Meletakkannya ke atas meja mereka dengan gerakan sigap. Semuanya adalah hidangan mewah seperti salmon panggang dengan lemon dan thyme, risotto jamur truffle, serta souffle coklat hangat.
“Silahkan, Maham. Aku harap kau suka hidangannya.”
Maham mengangguk pelan. Kemudian mulai mencicipi hidangan yang tersaji di hadapannya satu per satu. Seperti kata Sinan, dia memang menyukainya.
Tapi rasanya tidak seenak masakan buatan Timur.
Terpikirkan tentangnya membuat hati Maham kembali menjadi tidak baik-baik saja. Ponsel di dalam tas tangannya pun masih tetap diam.
“Bagaimana, Maham? Apa kau menyukainya?” tanya Sinan, memecah keheningan di antara mereka.
“Semuanya sangat lezat. Terima kasih.”
“Restoran ini adalah restoran terbaik di Istanbul. Bukan hanya dari lokasinya namun juga hidangannya.” Sinan mengulas senyumnya. “Yang mana yang paling kau sukai?”
“Salmon panggangnya. Sepertinya mereka memiliki resep rahasia untuk ini. Rasanya begitu khas.”
“Aku tebak, kau lebih suka seafood daripada menu daging?”
Maham mengangguk pelan. “Dari mana kau tahu?”
“Dari semua hidangan yang ada, kau terlihat lahap sekali saat menyantap salmonmu. Dan aku juga kenal seseorang yang seperti dirimu.”
“Oh ya?”
“Coba tebak.”
Menebak?
“Tapi aku tidak mengenal orang-orang di sekitarmu, Sinan?”
“Kau mengenalnya, Maham”
Seseorang yang aku dan Sinan kenal? Siapa?
Maham memikirkannya. Namun sejurus kemudian menghentikannya.
Lupakan siapa. Kenapa kami harus main tebak-tebakan seperti ini? Dan apakah aku harus mengetahuinya? Seseorang yang katanya seperti diriku itu? Apakah itu penting?
Yang diinginkan Maham adalah agar makan malam ini cepat berakhir.
“Maham?” Sinan memanggil saat dilihatnya gadis itu hanya diam.
“Esra?” Maham tetap menjawab meski tanpa antusiasme.
Sinan tertawa kecil. “Esra tidak suka seafood. Dia bahkan sangat membencinya.”
“Aku tidak tahu, Sinan.”
Mata biru Sinan menatap Maham intens. Lalu,
“Ibuku. Kau mirip dengannya.”