Maham menghabiskan suapan terakhir risotto-nya dengan lambat. Rasa hangat dari makanan tak kunjung mengusir rasa dingin yang menyelinap di punggungnya. Sinan masih duduk di depannya, tenang. Mata pria itu tak pernah benar-benar meninggalkannya.
“Terima kasih atas makan malamnya,” ucap Maham akhirnya, mencoba terdengar sewajarnya.
“Senang kau menyukainya,” jawab Sinan. Dia meneguk sisa minumannya lalu meletakkan serbet makan di atas meja. “Aku ingin menunjukkan sesuatu. Tak lama, hanya sebentar,” katanya kemudian.
Maham menoleh. “Tapi Esra belum kembali.”
“Kita tak perlu menunggunya untuk ini.” Sinan tersenyum samar. Lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. “Aku janji, ini tidak akan membuatmu tidak nyaman.”
Sedikit ragu, Maham bangkit. Dia tidak menyentuh tangan Sinan tapi tetap berjalan bersamanya. Langkah mereka menyusuri lorong kecil yang mengarah ke bagian belakang restoran. Maham memperhatikan lampu gantung yang menurun rendah di atas kepala mereka, memantulkan bayangan panjang ke lantai marmer.
Mereka tiba di sebuah ruangan kecil berbentuk lingkaran yang menghadap ke Selat Bosphorus. Semua dindingnya adalah kaca, yang memberikan ilusi seperti ruangan tersebut berada di tengah selat yang permukaannya tampak tenang malam itu.
Di dalam ruangan, hanya ada piano putih dan satu meja kecil dengan kotak beludru berwarna merah marun di atasnya.
Apa ini? Kenapa dia membawaku ke sini?, bisik Maham pada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja dia meremang. Kedua lengannya refleks memeluk dirinya sendiri.
Sinan mendekati meja dan membuka kotak itu perlahan. Isinya berkilauan segera setelah tertimpa cahaya lampu.
Mata Maham mengenali semua yang ada di dalam kotak tersebut.
“Kau menyukai semua ini,” ucap Sinan.
“Bukankah itu perhiasan-perhiasan yang akan kau masukkan ke katalog?” Maham menatap Sinan tidak mengerti.
Sinan tertawa. “Yang ‘kau pilih’,” dia menekankan.
Hening. Maham mencoba mencerna situasinya.
“Semua ini untukmu,” ucap Sinan kemudian.
“Aku… Aku tidak mengerti, Sinan. Apa maksudnya?” Maham tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Suara Sinan berubah lembut dan lebih dalam saat berkata, “Aku tahu ini mendadak. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, Maham.”
Maham mematung. Dadanya berdebar begitu keras hingga membuatnya merasa sesak.
“Kau datang seperti cahaya dalam hidupku, Maham. Dan aku ingin kau tetap di dalamnya, selamanya.”
Kata demi kata itu menghantam Maham seperti kabut dingin di dadanya. Tatapannya mengikuti gerakan Sinan. Dan saat pria itu berlutut di hadapannya, tubuh Maham seperti kehilangan kendali.
Dalam genggaman Sinan, sebuah kotak kecil terbuka, berisi cincin yang sangat dikenal Maham.
Sebuah cincin bertahtakan berlian berbentuk oval dengan ukiran-ukiran rumit di setiap sisinya.
Cincin yang Maham coba hari itu.
Cincin yang Sinan selipkan ke jarinya waktu itu.
Cincin yang katanya hanya untuk katalog.
Cahaya berliannya seperti memantulkan denyut jantung Maham yang mulai tak teratur. Ruangan itu sunyi, terlalu sunyi, seolah waktu berhenti bergerak bersamaan dengan kotak yang kini terbuka di depan matanya.
Apa yang sebenarnya terjadi?, Maham masih mencoba mencari kesalahan yang dilakukannya.
Dan kalimat itu terdengar,
“Maham, menikahlah denganku.”
Keheningan di sana pecah seperti kaca yang jatuh berkeping-keping.
Dari cincin berlian, Maham menggerakkan tatapannya ke Sinan. Tubuhnya kaku. Semua gerakannya adalah paksaan untuk bertahan di sana tanpa terjatuh.
Maham menelan ludah. Perlahan.
“Aku…” suara Maham nyaris tidak terdengar. “Sinan… aku… aku… tidak tahu harus bilang apa.”
Sinan tersenyum. Masih dengan ketenangan yang membuat Maham merasa asing. “Kau tidak harus langsung menjawab, Maham. Tapi lihat aku. Rasakan apa yang kurasakan.”
Tidak.
Itu yang ingin Maham katakan. Tapi lidahnya kelu. Nafasnya pendek. Ada sesuatu dalam tatapan Sinan yang membuatnya ingin lari. Tatapan itu terlalu dalam. Terlalu terkontrol. Terlalu… tak biasa.
“Kau takut?” pertanyaan itu dilontarkan Sinan tiba-tiba, membuat Maham terlonjak kecil.
“Tidak... aku hanya… aku tidak menyangka,” jawab Maham tergagap.
Sinan berdiri. Sebelah tangannya menutup kotak beludru berisi cincin lamarannya.
“Kenapa tidak menyangka? Aku sudah memperlakukanmu dengan sebaik mungkin. Aku melihatmu, Maham. Aku memperhatikanmu,” nada suaranya mulai berubah. Lebih keras, lebih memaksa meski masih dibalut senyum.
Aura Sinan begitu dominan. Membuat Maham refleks mundur beberapa langkah.
“Tapi ini tidak benar, Sinan. Kita bahkan tidak pernah berkomunikasi secara personal. Bagaimana kau bisa —”
“Bukan tidak pernah, Maham. Hanya belum. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Kita bisa melakukannya setelah kita menjadi suami istri. Aku berjanji kau tidak akan kekurangan komunikasi personal dariku. Dan juga cinta.”
Di sisi tubuhnya, tangan Maham mulai bergetar pelan.
“Sinan, selama ini aku menghormatimu sebagai kakak dari Esra. Tidak lebih.”
Tatapan Sinan berubah. Sekilas. Tapi Maham menangkapnya. Sesuatu yang dingin dan gelap menyelinap di balik sorot matanya.
“Kau hanya sedang bingung saat ini, Maham. Aku bisa menunggu. Tapi ketahuilah satu hal, tidak ada yang bisa mencintaimu seperti aku.”
Maham berjalan mundur. “Aku harus pergi.”
Sinan tidak menahannya. Tapi dia tahu bila sepasang mata pria itu terus menatapnya.
Langkahnya semakin cepat, nyaris berlari di lorong restoran yang kosong. Matanya mencari pintu keluar. Maham tak peduli lagi apakah dia terlihat tidak sopan. Dia harus pergi. Sekarang. Hanya itu yang diketahuinya.
Saat tangannya mendorong pintu kaca, udara dingin Bosphorus langsung menyambut wajahnya. Tapi Maham tak berhenti. Dia terus berlari menuruni anak tangga kecil, ke arah parkiran. Ada sesuatu yang lebih mengerikan yang baru saja menyentuhnya — sesuatu yang tak bisa dia namai.
*
Malam itu tidak berakhir di dalam restoran. Di balik tirai dapur dan lorong pelayan, Murat berdiri dalam bayang-bayang. Dia menyaksikan semuanya. Terlalu ‘memaksa’ untuk disebut romantis.
Murat tidak tahu pasti apa yang tengah terjadi di antara mereka tapi instingnya sebagai pria dewasa cukup tajam untuk memahami satu hal: Maham tidak nyaman. Sama sekali tidak. Gadis itu bahkan ketakutan.
Saat Maham berlari pergi, Murat berjalan cepat melewati dapur, menyusuri koridor sempit menuju pintu belakang yang mengarah ke area servis di luar. Udara dingin menggigit kulit begitu dia keluar, tapi langkahnya tak melambat.
Di kejauhan, tepat di dekat pagar besi tempat kendaraan katering biasa berhenti, dia melihat Maham berdiri memeluk tubuhnya sendiri. Gadis itu bergetar. Pundaknya naik turun dan dari cahaya lampu yang temaram, Murat bisa melihat air mata gadis itu membasahi pipinya.
“Maham,” panggilnya pelan.
Maham terkejut, menoleh cepat. Wajahnya pucat, matanya merah.
“Murat?” suara Maham nyaris tak terdengar.
Murat melangkah lebih dekat tapi tidak terlalu cepat. Dia tahu bila saat ini Maham seperti kucing kecil yang ketakutan — satu gerakan tergesa bisa membuat gadis itu lari.
“Maaf aku menyusulmu. Aku hanya... aku melihat wajahmu tadi. Kau terlihat tidak baik.”
Maham mengangguk cepat, menunduk lagi. Tangannya gemetar saat menyeka air mata yang terus mengalir. “Bisa kau tolong panggilkan taksi untukku?” katanya lirih. Suaranya pecah, seolah dia menahan tangis sejak lama.
Murat mendekat, kini berdiri hanya satu langkah darinya. “Maham, kau tidak baik-baik saja. Biarkan aku yang mengantarkanmu. Aku tidak akan bertanya apa pun, aku janji. Aku hanya ingin kau sampai di rumah dengan selamat.”
Maham menggeleng dengan cepat. “Tidak. Aku… aku tidak bisa. Tolong… tolong panggilkan saja taksi. Aku tidak bisa menghubungi Cihan. Ponselnya mati.”
Kata-kata terakhir itu meluncur disertai isak. Maham menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tubuhnya makin bergetar.
Melihat itu, hati Murat terhimpit. Bukan hanya karena ketakutan Maham tapi karena dia tahu betul bahwa ada sesuatu yang sangat salah malam ini.
“Baik,” ucap Murat akhirnya. “Tunggu di sini. Aku akan panggilkan taksi.”
Maham mengangguk, masih dalam tangis. Murat menoleh sekali lagi ke arah pintu restoran yang baru saja dia tinggalkan. Wajahnya mengeras.