Taksi berhenti pelan di depan gedung apartemen Maham. Suara mesin yang meredup menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di antara sunyinya malam musim dingin Istanbul. Udara luar tampak memutih, napas orang-orang yang berlalu lalang akan terlihat jika ada yang cukup berani keluar jam segini. Tapi di dalam taksi, kehangatan palsu dari AC tak mampu mengusir rasa dingin yang masih membekas dalam d**a Maham.
Maham duduk dalam diam, memandangi kaca jendela yang mengembun. Air matanya sudah mengering, tapi jejaknya masih tertinggal di pipi. Dia menghela napas pelan lalu membungkuk mengambil dompetnya.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya lirih, menyodorkan selembar uang ke supir taksi yang sejak tadi hanya sesekali melirik dari kaca spion tengah.
Supir taksi menoleh dan menggeleng pelan. “Tuan yang tadi sudah membayarnya, Nona.”
Maham sontak menoleh. Hatinya langsung berdegup lebih cepat. “Y-yang mana, Pak?”
“Pria berambut coklat, pemilik restoran yang Anda datangi tadi. Tuan Murat Demir,” jawab supir itu, nada suaranya hati-hati seolah tahu Maham sedang dalam ketegangan.
Maham menggigit bibir bawahnya. Untuk sesaat dia sempat mengira Sinan. Hatinya sedikit tenang karena nama itu tapi cemasnya tetap belum benar-benar reda.
“Saya mengerti. Terima kasih banyak, Pak,” ucap Maham dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.
Dia hendak membuka pintu taksi saat supir itu kembali berkata, “Nona, Tuan Murat berpesan, kalau ada sesuatu Anda bisa menghubunginya. Atau langsung ke polisi.”
Perlahan Maham mengangguk. Tak sanggup menjawab. Dia tahu maksud pesan itu: Murat khawatir. Bukankah pria itu sudah melihat semuanya dari awal?
Sungguh memalukan!
Begitu turun dari taksi, angin malam langsung menyapa wajah Maham dengan kasar. Coat panjang yang membungkus tubuhnya tak mampu menghalangi gigil yang menjalar hingga ke tulang. Dia memeluk tubuhnya sendiri, berjalan pelan ke pintu masuk gedung apartemen.
Langkahnya lambat, seperti ditahan oleh bayangan-bayangan gelap yang masih melekat di benaknya. Lantai dasar kosong. Hening.
Kakinya melangkah pelan menuju tangga di ujung lorong, menginjak satu per satu anak tangga yang dingin dan berdebu. Setiap langkahnya menggema pelan, membuat keheningan malam terdengar semakin nyata.
Langkah Maham terhenti di depan pintu Timur. Pintu itu masih saja dingin menyambutnya.
Maham mengangkat tangannya, ragu-ragu. Lalu dia mengetuk pelan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras. Masih tidak ada sahutan. Tidak ada suara langkah mendekat dari dalam. Tidak ada bunyi kunci diputar.
Tangannya bergerak sendiri, mengetuk lebih cepat dan lebih keras, sampai detak jantungnya terdengar bersamaan dengan bunyi ketukan itu.
“Timur…” bisiknya. Suaranya tercekat. “Ini aku, Maham.”
Tetap tak ada jawaban. Seolah pintu itu dan pemiliknya tidak pernah mengenalnya.
Air mata yang sempat berhenti kini kembali mengalir. Maham perlahan terjatuh ke lantai. Dia bersandar pada pintu dingin itu, lututnya terlipat dan wajahnya disembunyikan di antara kedua lengan yang melingkari kakinya.
Dalam isaknya, kata-kata itu pecah pelan, seperti doa yang terlambat,
“Kau di mana, Timur? Aku membutuhkanmu…”
*
Beberapa hari berlalu seperti lembaran kertas kosong yang terus terisi dengan kehampaan. Sejak malam itu, Maham merasa seperti separuh dirinya hilang. Tak ada kabar dari Timur. Tidak satu pesan pun. Tidak satu panggilan pun. Semua upayanya untuk menghubungi pria itu berakhir sia-sia. Nomor teleponnya tidak aktif, semua sosial medianya lenyap tanpa jejak. Seolah Timur menghapus dirinya dari dunia.
Apa yang terjadi sebenarnya? Maham sungguh tidak mengerti. Mereka baik-baik saja hari itu dan hari-hari sebelumnya.
“Apakah aku tidak sengaja membuat kesalahan yang membuatnya jadi seperti ini?”
Maham berbicara kepada dirinya sendiri. Bertanya-tanya. Lagi, tidak ada jawaban yang pasti.
“Apa karena aku menolak lamarannya?”
Ingatannya kembali pada hari saat mereka mengikuti tur Selat Bosphorus beberapa waktu lalu. Itu adalah satu-satunya kemungkinan yang dapat dia pikirkan. Sayangnya, itu tidak cukup kuat.
“Tapi setelah hari itu hubungan kami tetap seperti biasanya.”
Ketidaktahuan yang membelenggunya sungguh mencekiknya. Menyiksanya bersama dengan kesedihannya karena rasa rindunya kepada Timur.
Maham hidup seperti bayangan. Makan seadanya, tidur tidak pernah benar-benar terlelap. Hatinya terus memanggil, Timur, kau di mana?
Atau, Apa kesalahan yang sudah kulakukan?
Sampai hari di mana kelas Timur tiba.
Ada semangat yang kembali tumbuh di sudut hati Maham. Membuatnya bergegas bangun dari tempat tidur dan bersiap ke kampus. Harapannya dapat melihat wajah menawan pria itu membumbung tinggi.
Di depan cermin, Maham memastikan dirinya sekali lagi. Dandanannya dan pakaian yang dipilihnya sudah sangat sempurna. Rambut hitam bergelombangnya dia biarkan tergerai.
Dia menyukai rambutku, bisiknya dalam hati.
Senyum lebarnya terukir di wajah. Membersamai langkahnya hari itu. Hari ini dia sudah bersiap untuk meminta maaf kepada Timur bahkan meski tanpa tahu kesalahan apa yang ada padanya.
Ketika dia masuk ke ruang kelas, suasananya masih sama seperti biasa. Kursi-kursi terisi setengah. Beberapa mahasiswa sibuk menatap layar laptop, yang lain mengobrol kecil. Tapi hati Maham gelisah. Matanya terus melirik ke arah pintu, berharap pintu itu akan membuka dan memperlihatkan sosok yang sudah terlalu lama absen dari hidupnya.
Beberapa menit kemudian, pintu bergerak terbuka. Senyum Maham mulai merekah. Hatinya menyerukan nama Timur. Bahkan, dia berpikir mungkin dia akan melompat kegirangan di sana.
Tetapi satu detik yang sangat singkat itu menghancurkan semuanya.
Kini Maham seperti bunga yang baru mekar dan mendadak layu. Adalah pria muda dengan setelan jas navy dan wajah asing yang memasuki kelas mereka. Rambutnya rapi, disisir ke samping dan kacamata bulat kecil bertengger di batang hidungnya.
Dengan kaku mata Maham mengikuti pergerakan pria tersebut. Tidak… tidak… Ia pasti salah kelas, sangkalnya. Tidak ingin menerima bahwa bukan Timur yang ada di sana.
“Selamat pagi semuanya,” sapa pria itu. Suaranya tenang tapi punya nada otoritatif. “Nama saya Ilhan. Mulai hari ini, saya akan menggantikan Cihan Hocam di kelas ini.”
Maham membeku. Jantungnya berdetak tidak teratur.
Apa yang dikatakannya tadi? Menggantikan? Menggantikan… bagaimana? Tidak. Pasti ada yang salah, batinnya memberontak.
Dosen barunya masih mengatakan sesuatu. Namun Maham tak mendengar sisa penjelasan itu. Kepalanya berdengung. Dia menunduk, tangannya gemetar hebat.
Timur… kenapa dia menggantikanmu?
*
Usai kelas, Katya yang duduk di sebelah Maham menoleh dan menyenggol bahunya. “Mau ke kafeterya dulu? Aku dengar mereka punya sup baru hari ini.”
Maham buru-buru berdiri dan menggeleng. “Maaf, Katya. Mungkin lain kali. Saat ini aku ada urusan yang harus segera aku selesaikan.”
Katya sempat terlihat bingung. Tapi Maham sudah bergegas keluar dari kelas, langkahnya terburu-buru seperti sedang dikejar sesuatu.
Maham menuju ke bagian akademik kampus. Di sana, seorang petugas wanita paruh baya duduk di balik meja tengah menatap layar komputer. Maham bergegas mendekatinya.
“Selamat siang, Nyonya.”
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu ramah.
Maham menelan ludah. “Saya... saya ingin menanyakan tentang salah satu dosen. Cihan Savcı.”
Wanita itu mengangguk, lalu mengetik sesuatu. “Ada keperluan apa ya?”
“Saya belum mengumpulkan tugas saya,” jawab Maham mengarang alasan.
Petugas itu terus menatap layar beberapa detik, lalu menghela napas. "Sayangnya, untuk itu Anda harus menunggu setahun lagi, Nona. Cihan Hocam statusnya nonaktif sementara sebagai dosen di sini. Beliau sedang menjalani penelitian di London.”
“Penelitian…?” Maham bergumam. Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Benar, dimulai minggu ini. Informasinya sudah resmi tercatat sejak Jumat lalu,” tambah petugas itu.
Jumat? Bukankah itu terakhir kali kami berkomunikasi?
Seketika Maham merasa tubuhnya akan oleng. Refleks dia memegang pinggiran meja kayu di hadapannya.
“Terima kasih, Nyonya.”
Keluar dari ruangan itu, Maham berjalan seperti robot. Tidak tahu harus ke mana. Langit di luar mulai mendung dan angin dingin kembali menerpa wajahnya. Maham menunduk dalam diam, mencoba menahan air mata. Tapi begitu dia menutup pintu apartemennya, tangis itu pecah tanpa bisa dibendung lagi.
Dia duduk di karpet ruang tamu, memeluk lututnya. Isaknya nyaring tapi putus-putus.
Cukup lama Maham berada dalam kondisi seperti itu. Sampai ponselnya berdering. Nama Ara muncul di layar.
Maham menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan suara sebelum menjawab. “Halo, Ra.”
“Maham?” suara Ara terdengar cemas. “Kau sedang menangis?”
Maham mengusap air matanya cepat-cepat, meski tahu itu tidak berguna. “Hm.”
“Hei, ada apa? Apa karena jebakan lamaran itu? Apa kau sudah memberitahu Cihan?”
“Aku berharap bisa memberitahunya, Ra. Tapi dia tidak ada?”
Hening sejenak. Di seberang, Ara berusaha mencerna. “Maksudnya… tidak ada?”
“Dia pergi, Ra. Tanpa mengatakan apapun. Dia… meninggalkanku.”