Nada dering ponsel membelah keheningan malam di ruang tamu yang hanya diterangi lampu meja. Suara angin yang menampar kaca menambah sunyi yang terasa aneh. Esra, masih berselimut selimut wol di sofa, menghela napas berat sebelum menjawab.
“Bagaimana kabar kakakmu?” suara Ibo terdengar dari seberang.
Ibo — Ibrahim — adalah manager Sinan.
Esra melirik ke lantai dua, ke arah tangga yang berujung di kamar Sinan. Ruangan tertutup rapat, sama seperti sebelum-sebelumnya.
“Masih sama, Kak Ibo,” jawabnya pelan.
“Masih sama bagaimana?” suara Ibo terdengar mulai curiga. “Sinan sungguh sakit, kan?”
“Kak Ibo, pertanyaan macam apa itu?” suara Esra terdengar lebih tajam dari biasanya. “Kami sudah mengantarkan surat dari dokternya.”
“Tapi kalian tidak mengizinkan kami untuk datang menjenguk.”
“Itu karena kakakku butuh istirahat. Tanpa beban. Tanpa tuntutan pekerjaan. Tanpa skrip yang harus dibaca atau wajah-wajah yang mengingatkannya pada dunia yang ingin dia tinggalkan sementara.”
“Kami tidak datang untuk memberinya skrip, Esra. Kami hanya ingin melihat keadaannya.”
“Melihat wajah kalian saja sudah cukup untuk membuatnya teringat pada tuntutan. Kau lihat sendiri, bahkan saat istirahat pun kau meneleponku terus-menerus. Ini baru seminggu. Artinya, baru separuh dari izin yang kakakku minta. Bisa tidak, kalian memberinya waktu?”
“Aku akan tetap datang ke rumah kalian,” ucap Ibo, suaranya datar.
“Datang saja. Tapi jangan salahkan kami kalau kak Sinan memutuskan keluar dari drama Pertempuran Harga Diri itu. Dia bilang tak masalah membayar penalty jika haknya untuk tenang diganggu.”
Ibo terdiam beberapa detik. Lalu pelan bertanya, “Esra… kalian tidak menyembunyikan sesuatu, kan?”
Esra diam. Sekejap. “Apa maksudmu?”
“Apa saja. Gelagat kalian aneh. Atau jangan-jangan Sinan bukan sakit, tapi kecelakaan?”
“Jangan sembarangan, Kak! Kau sedang menyumpahi kakakku?”
“Bukan begitu —”
“Sampai jumpa seminggu lagi, Kak Ibo. Jangan telepon lagi.” Esra menutup sambungan sebelum Ibo sempat menjawab.
Esra membuang napas kasar, meletakkan ponsel ke meja. Kepala terasa berat. Dadanya sesak. Menjadi satu-satunya penyangga kakaknya di dunia ini, kadang membuatnya ingin menangis diam-diam. Sekarang bahkan dia harus memainkan peran sebagai juru bicara Sinan bahkan dari managernya sendiri.
Esra bangkit dari sofa. “Sudah bagus-bagus jadi arsitek malah banting setir jadi artis! Sekarang jadi tidak punya privasi, kan?!” gumamnya sambil berjalan menaiki tangga.
Tangannya mengetuk pintu kamar Sinan, “Kak, apa aku boleh masuk?”
Tidak ada jawaban. Sejenak Esra menunggu.
“Kak, aku. Masuk,” katanya ketika tak kunjung ada sahutan.
Begitu membuka pintu, ruangan itu kosong. Tirai tertutup. Lampu mati. Bahkan tempat tidur masih rapi.
Esra berdiri di ambang pintu, matanya mengerjap pelan. Lalu menutup pintu dan berjalan menyusuri lorong lantai dua yang lebih gelap dari biasanya. Dari jendela, dia bisa melihat bagaimana di luar angin mengetuk keras, mencoba untuk memasuki rumah mereka.
Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu berwarna coklat tua dengan gagang berukir. Itu adalah satu-satunya ruangan di rumah mereka yang memiliki pintu berbeda. Satu-satunya ruangan di rumah itu yang tak pernah dibuka untuk siapa pun sejak kepergian ibu mereka.
Tanpa mengetuk, perlahan Esra memutar kenop dan mendorong pintu.
Ruangan itu gelap. Bau lavender tua menyambut hidungnya. Di dalam, hanya ada lampu kecil di sudut, menerangi satu lukisan besar yang tergantung di dinding. Seorang wanita dengan rambut brunette panjang bergelombang dan gaun putih, berdiri di tengah taman lavender.
Sinan duduk di sofa tunggal yang menghadap lukisan itu. Bahunya tegak, kedua lengannya berada pada lengan sofa. Dia tahu Esra datang. Tapi tidak menoleh.
Suara Sinan pelan namun jelas, “Hari ini dia mengenakan maxi dress berwarna putih. Cantik sekali.”
Esra diam. Melangkah perlahan mendekati kakaknya dan berdiri di sampingnya.
Sinan tertawa kecil. Getir. Lalu melanjutkan, “Aku jadi aktor karena ingin bertemu banyak orang. Kupikir, dengan begitu maka aku akan dapat menemukan seseorang yang seperti Ibu. Tapi ternyata aku menemukannya darimu. Tahu begini, aku takkan menjebak diriku sendiri dalam kehidupan yang merenggut ketenanganku.”
Esra menahan napas. Matanya menatap lukisan itu, mencoba menahan perasaan yang muncul lagi — perasaan ditinggalkan, direnggut paksa oleh kepergian ibu mereka yang memilih mati.
Dia masih ingat hari itu. Usia mereka masih terlalu muda untuk memahami kematian. Sinan menemukannya lebih dulu — ibu mereka tergantung di langit-langit kamar belakang, mengenakan gaun putih yang kini tergambar dalam lukisan itu. Sejak hari itu, sesuatu di mata Sinan padam. Kakaknya tetap hidup, tapi dengan cara yang tak sama.
Dan Esra… Esra selalu mencoba menenangkan badai dalam diri kakaknya. Karena hanya mereka yang saling memiliki. Dunia tak bisa memahami bagaimana kehilangan itu mencabik mereka dari dalam.
“Apa dia makin mirip dengan Ibu sekarang?” tanya Esra, suaranya pelan.
Sinan menoleh perlahan. Matanya tajam, tapi kosong. “Ya.”
Hening.
“Aku harus memilikinya, Esra. Aku mulai lelah hanya mengikutinya dari jauh. Aku butuh dia di sampingku.”
“Kau sudah memikirkan apa yang akan kau lakukan, Kak?”
Sinan mengangguk. “Tentu. Dan aku butuh kau membantuku.”
Esra tak menjawab. Tapi hatinya retak perlahan.
“Kak…” akhirnya dia bersuara. “Maham bukan Ibu.”
“Aku tahu,” jawab Sinan cepat. “Tapi dia bagian dari Ibu yang kembali. Aku tahu itu sejak pertama kali melihatnya. Cara dia menunduk saat bicara. Cara dia menyentuh benda dengan pelan seolah takut menyakitinya. Bahkan suara napasnya…”
Esra tahu ini bukan cinta biasa. Ini obsesi yang tumbuh dari luka yang tak pernah sembuh. Dan selama ini dia membiarkannya tumbuh karena Sinan adalah satu-satunya orang yang membuatnya merasa tidak sendirian. Jika dunia menganggap Sinan aneh, maka Esra memilih untuk menjadi dunianya. Karena hanya dengan begitu, dia tak akan kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya.
“Kau yakin dia akan menerimamu kali ini?” bisik Esra.
“Aku tidak akan memberinya pilihan,” jawab Sinan pelan, penuh keyakinan yang dingin. “Aku akan benar-benar memilikinya kali ini. Dia tidak akan bisa menolaknya.”
Esra menatap mata kakaknya. Tatapan itu kosong, tapi dalamnya seperti jurang. Dia takut. Tapi juga merasa dibutuhkan. Dicintai. Jika membiarkan Sinan hancur, maka sebagian dari dirinya juga ikut hancur.
“Baiklah,” bisiknya, hampir tak terdengar. “Aku akan membantumu. Katakan apa yang harus aku lakukan, Kak?”
Sinan tersenyum. Senyum kecil yang membuatnya tampak seperti anak kecil lagi. Anak kecil yang kesepian dan haus akan kasih sayang.
Malam itu semakin gelap. Di luar, salju mulai turun perlahan.
*
Jam di tangan Maham menunjukkan pukul 18:53 ketika dia melewati jalan setapak menuju klub panahan. Udara musim dingin menusuk kulitnya, membuat napasnya membentuk kabut tipis. Tapi rasa dingin yang menggigil tubuhnya bukan hanya berasal dari suhu udara. Ada sesuatu yang lain — sesuatu yang tak kasat mata — yang membuat bulu kuduknya meremang. Seperti firasat, atau bayangan gelap yang diam-diam mengikuti dari kejauhan. Entahlah. Yang pasti itu membuat Maham mempercepat langkahnya.
Maham menarik napas panjang ketika melihat gedung klub panahan yang lampunya sudah menyala dari kejauhan. Ini kedua kalinya dia datang ke sana dalam seminggu — saat kunjungan pertamanya, dia tidak menemukan yang dicarinya.
Dan kini Maham berdiri di sana, dengan harapan sederhana untuk menutup satu bab yang masih menggantung di dalam hatinya.
Pintu kaca terbuka perlahan. Kehangatan ruangan langsung menyambut tubuhnya yang menggigil. Suara anak panah yang mengenai papan target terdengar samar dari dalam. Seseorang yang dicarinya berdiri di sisi ruangan, sedang berbicara dengan anggota klub lainnya. Saat melihat dirinya, pria itu langsung berpamitan pada orang itu dan menghampirinya.
Murat.
“Maham,” suaranya tenang, hangat. “Kau datang.”
“Aku... ingin bicara sebentar. Kalau tidak mengganggu.”
“Tidak sama sekali. Anak-anak sudah mengatakan padaku kalau kau mencariku. Ayo ke ruang tamu.”
Mereka duduk di sudut ruangan yang jarang terpakai — sederhana tapi cukup hangat. Maham menggenggam tangannya sendiri, berusaha menenangkan perasaan yang masih mengambang.
“Terima kasih karena sudah membantuku malam itu, Murat,” ucap Maham akhirnya.
Murat mengangguk. “Kau bisa menghubungiku kapanpun bila ada masalah… karena malam itu.”
Maham tersenyum simpul. Ringkih, tapi tulus.
Keheningan turun sejenak. Suara angin di luar dan denting panah menjadi latar samar yang ganjil. Lalu tiba-tiba Murat berkata pelan, “Cihan sudah di London.”
Maham menunduk. “Aku tahu.”
“Kau bisa menghubunginya?”
Maham menggeleng. “Bagian akademik yang memberitahuku. Dia… Aku tidak bisa menghubunginya lagi.”
“Aku juga tahu dari temannya yang lain,” sahut Murat.
Maham mengangkat alis, kaget. “Temannya? Kau… juga tidak bisa menghubunginya?”
Murat menarik napas. “Maham, sebenarnya aku sempat bertemu Cihan sebelum dia pergi. Dia meminta bantuanku… untuk melamar seseorang.”
Tubuh Maham menegang. “Melamar?”
“Iya. Dia bilang kalian hanya berteman tapi…” Murat ragu. “Maaf, Maham. Aku hanya ingin mengkonfirmasi hal itu sebelum aku bicara lebih jauh.”
“Secara resmi kami memang tidak memiliki hubungan apapun,” jawab Maham pelan. “Tapi kami... status kami adalah dosen dan mahasiswa jadi kami... kau mengerti, kan?”
Murat mengangguk. “Jadi benar hari itu dia akan melamarmu.”
Maham memejamkan mata sejenak. “Aku tidak tahu, Murat. Timur pernah mengajakku untuk menikah. Tetapi itu tidak mungkin dengan status profesional kami yang seperti itu. Yang masih seperti ini. Aku tidak menolaknya… tetapi kami harus punya cara lain untuk terlepas dari pelanggaran etik seberat ini.”
Murat menatap Maham lama. “Sekarang aku mengerti. Hari itu Cihan bilang kalau dia tidak punya banyak waktu karena harus segera pergi ke London untuk penelitiannya. Dia sudah menemukan cara untuk kalian dan ingin segera melamarmu. Dia ingin membuatnya sebagai kejutan untukmu.”
Kata-kata itu seperti gumpalan es yang jatuh ke dalam d**a Maham. Dia terdiam, mencoba mencerna semuanya.
“Tapi dia pergi, Murat?” suaranya lirih. “Tanpa mengatakan apapun…”
Murat ragu, lalu berkata, “Cihan tahu soal Sinan yang akan melamarmu, Maham. Hari itu kami bertemu di restoranku dan dia melihat semua persiapannya.”
Waktu seakan berhenti.
Maham menatap Murat. Sorot matanya mulai berkaca. Dan seperti pecahan kaca yang tak bisa lagi dipasang utuh, air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipi pucatnya. Buru-buru dia mengusapnya.
“Aku mengerti, Murat. Terima kasih untuk semuanya.” Maham berdiri, hendak pergi.
Murat ikut berdiri, khawatir. “Maham, apa kau baik-baik saja? Biar aku antar pulang.”
“Aku merasa sangat buruk sekarang,” jawab Maham, suaranya bergetar. “Tapi aku bisa mengatasinya sendiri. Sekali lagi, terima kasih.”
Murat hanya bisa menatap punggung Maham yang perlahan menjauh ke pintu. Langkah Maham pelan. Tubuhnya gemetar. Tapi dia tetap berjalan.
Di luar, langit musim dingin memeluk Istanbul dalam kegelapan pekat. Dan di dalam hati Maham, satu ruang yang sempat hangat kini berubah beku.