London, United Kingdom, 2021
Orang-orang berjalan cepat di sekelilingnya. Suara langkah kaki bertalu di lantai batu marmer tua yang dingin, berpadu dengan suara anak-anak, bisikan turis, dan sesekali bunyi petunjuk audio guide dari telinga para pengunjung. Tapi Timur tak mendengar apapun.
Dia berdiri di depan lukisan besar karya J.M.W. Turner, The Fighting Temeraire. Kapal tua yang ditarik oleh kapal uap kecil di latar senja. Langitnya terbakar keemasan, nyaris menyentuh warna darah. Sebuah akhir yang agung. Atau pemakaman. Tergantung siapa yang melihatnya.
Di sebelahnya, sepasang turis tengah berbicara pelan. Si pria menunjuk beberapa detail lukisan dan menjelaskan sesuatu kepada perempuan di sisinya. Wajah si perempuan tak terlihat jelas, tapi ia tertawa kecil, mendekatkan kepalanya, menyimak lalu menggenggam tangan laki-laki itu tanpa sadar. Keduanya terlihat penuh cinta.
Timur memperhatikan mereka. Lalu mendengus kecil. Pemandangan yang diciptakan oleh turis itu terasa sangat familiar untuknya. Dan jauh dalam waktu bersamaan.
Sesuatu dalam diri Timur runtuh perlahan ketika kenyataan itu menamparnya: itu dia dan Maham. Dulu.
Dulu dia dan Maham seperti itu. Dulu dia yang selalu menjelaskan, yang menuntun Maham mengenal dunia luar — dunia yang lebih besar dari kampus, dari aturan sosial, dari batasan status.
Kini dia berdiri sendiri, tak ada tangan Maham yang digenggamnya, tak ada wajah teduh yang menatapnya dengan rasa ingin tahu.
Lalu, kenangan itu menyergapnya.
*
Istanbul, Turki, 2020
Timur dan Maham berdiri di depan paviliun Harem, di dalam Topkapı Palace. Hari itu langit Istanbul biru dan lembut, dan mata indah Maham berpendar terang. Bukan karena cahaya matahari yang jatuh menimpanya, tapi karena kebahagiaan yang memancar dari dalam dirinya.
“Ini tempat favoritku,” ucap Timur, sambil menunjuk ke arah koridor panjang di sisi kanan taman.
Maham menoleh. “Kenapa?”
“Aku suka cerita cinta Sultan Süleyman dan Hürrem,” jawabnya. “Mereka saling jatuh cinta di tempat ini. Dan meski saat itu cinta seorang Sultan seharusnya tak berpihak, nyatanya dia hanya mencintai satu perempuan sepanjang hidupnya. Hürrem.”
Maham tersenyum. “Benarkah? Aku tidak pernah mengetahui hal itu.”
“Kau sungguh baru pertama kali mendengar tentang kisah Sultan Süleyman dan Hürrem?” Kening Timur berkerut.
“Kisah cinta menembus masa seperti itu, bagaimana aku tidak pernah mendengarnya?” Maham tertawa kecil. “Maksudku soal koridor itu. Kau menceritakannya seperti kau ada di sini dan melihat kejadiannya.”
“Aku melihatnya, Maham. Tidakkah kau juga? Bahkan dinding-dinding di sini pun menceritakannya.” Timur mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Cinta adalah energi. Energi yang kuat akan bertahan lama. Dan bahkan tetap ada sampai masa berakhir nanti,” lanjutnya.
Maham tidak mengikuti arah pandang Timur. Dia justru terpaku pada pria di hadapannya itu.
“Ada apa?” tanya Timur mendapati Maham demikian.
“Sepertinya aku baru saja melihat sesuatu yang lain darimu.”
Timur menaikkan sebelah alisnya. “Baru sekarang? Jadi kemarin-kemarin kau tidak melihatku ‘lain’ dibandingkan orang-orang lainnya?”
Maham tertawa kecil. “Butuh waktu untuk mengenal seseorang bukan?”
Timur menatap Maham dengan sorot menimbang. “Sepertinya akan membutuhkan banyak usaha untuk dapat membuatmu terkesan padaku, Nona. Aku akan mengusahakan apapun yang bisa aku lakukan. Hanya saja, aku harus meminta kesediaanmu akan sesuatu.”
Maham mengerutkan keningnya. “Apa?”
“Memberikan waktumu supaya aku bisa membuktikan diriku.”
“Lalu yang sekarang apa? Yang kemarin-kemarin apa?” suara Maham terdengar geli.
“Hm, ya. Kau benar. Lalu bagaimana dengan yang di masa depan? Apakah kau akan tetap akan bersedia memberikan waktumu untukku?”
Malu-malu Maham menjawab, “Ambillah sebanyak yang kau mau.”
“Sungguh? Aku akan menghitungnya sebagai janji.”
“Aku sudah bersedia untuk menjalani fase perkenalan denganmu. Apakah itu tidak cukup?”
“Tentu saja tidak. Aku ingin kau juga berjanji.”
“Astaga! Ternyata kau menyebalkan dan banyak maunya juga!” Maham mengerutkan bibirnya.
“Tapi aku memujamu, Nona. Sangat - memuja - mu. Jadi bagaimana? Aku butuh sesuatu untuk jaminan. Karna kalau kau pergi tiba-tiba, aku pasti mati,” ucap Timur. Sedikit merayu, sedikit bergurau.
“Ya. Baiklah.”
“Aku ambil janjimu. Kalau kau melanggarnya maka aku akan mengejarmu-ngejarmu seperti lelaki gila.”
Maham tidak dapat menahan tawanya. Dia terlihat bebas di sana.
Ada kehangatan yang memeluk jiwa Timur karna pemandangan di hadapannya itu. Maham terlihat begitu bersinar. Dan dia boleh berbangga sebab saat ini, itu karenanya.
“Kita lanjutkan tur kita?” tawar Timur.
Maham mengangguk.
Mereka kini melangkah di koridor panjang yang tadi ditunjuk Timur. Koridor yang senyap dan berlapis marmer tua yang dingin.
“Tempat ini indah, tapi juga penuh beban sejarah,” ujar Timur pelan sambil berjalan di samping Maham.
Maham menoleh. “Aku sudah pernah ke sini waktu pertama kali datang ke Istanbul dan musim panas tahun ini. Tapi entah kenapa, sekarang terasa berbeda.”
“Karena kali ini kau kemari denganku?” timpal Timur.
Maham tertawa kecil. “Mungkin. Tapi bisa jadi karena sekarang aku sudah mengetahui kisah mengenai koridor ini.”
“Hm, aku yakin yang pertama,” Timur menimpali.
“Kau percaya diri sekali!”
“Itu yang paling masuk akal untukku.”
Tawa keduanya terdengar di udara.
Mereka kemudian berhenti di depan sebuah ruangan kecil yang dulunya adalah kamar pribadi Sultan Süleyman. Di dalamnya, artefak-artefak tua terpajang rapi: pena emas, surat-surat, bahkan potret perempuan asing dengan sorot mata tajam namun memikat.
“Ini Hürrem,” kata Timur pelan. “Selir yang jadi ratu. Wanita paling berkuasa di zamannya. Cinta abadi Sang Sultan.”
Maham mengernyit. “Aku pernah dengar. Tapi kenapa dia bisa sedemikian penting? Maksudku, banyak selir yang cantik dan disayang raja.”
Timur menatap potret itu. “Karena Hürrem tidak hanya cantik. Dia cerdas. Berani. Dan yang paling penting, dia mengubah arah sejarah.”
Lantas Timur mengangkat tangan, menunjuk ke satu surat yang dipajang dalam kaca. “Mereka saling berkirim surat saat Sultan Süleyman sedang perang di luar Istanbul. Tapi bukan surat mesra biasa. Mereka bicara soal politik, kekuasaan, keputusan strategis. Hürrem bukan hanya istri, melainkan juga partner. Dan karena Hürrem, Sultan Süleyman melanggar tradisi: menjadikan selir sebagai istri sah.”
Maham terdiam lama. “Apa menurutmu cinta seperti itu… benar?” tanyanya akhirnya.
Timur tersenyum kecil. “Aku percaya, saat seseorang mencintaimu dengan seutuhnya, dia tidak akan membiarkanmu tersisih. Kalau perlu, dia akan melawan tradisi. Termasuk bila tradisi itu mengatakan bahwa dosen dan mahasiswi tidak boleh saling jatuh cinta.”
Maham menoleh. Sepasang mata hitamnya menatap ke dalam mata Timur. Mencari sesuatu dari diri Timur sebelum akhirnya tersenyum lembut.
*
London, United Kingdom, 2021
Timur terdiam. Pandangannya kembali pada lukisan di hadapannya, tapi fokusnya kabur. Kerongkongannya terasa kering, dan ada sesuatu yang hangat menggenang di matanya.
Kakinya kini melangkah ke bangku kayu yang menghadap ke sebuah lukisan. Duduk. Menghela napas panjang.
Sepasang mata zamrudnya bergerak menatap lukisan di depannya. Warna merah menyala dan biru kelam seperti menyatu dalam badai. Lukisan itu tidak tenang. Seperti hatinya.
Di atas pangkuannya, tangannya terkepal.
Ingatannya barusan bagaikan minyak yang dituang ke dalam api. Dalam sekejap amarah membakar dadanya.
Hari itu kau menengokku dengan mata yang seolah percaya. Kau berkata aku boleh mengambil waktumu sebanyak yang aku mau. Tapi nyatanya, bahkan sebentar pun tak pernah ada. Yang tersisa hanya jejak janji yang tak pernah bernapas, Maham.
Lalu setelah semuanya habis terbakar, dia akan memanggil Maham kembali dalam diam.
Hatinya ingin Maham di sini. Duduk di sampingnya. Mendengarkan apapun yang diceritakan olehnya. Bertanya padanya dengan mata hitam gadis itu yang berpendar indah dengan rasa penuh ingin tahu. Dan menggenggam tangannya saat dunia terlalu dingin. Sama seperti hari itu.
Seharusnya ini kisah kita, Maham. Tapi kau memilih menjadikannya cerita milik b*****h itu.
Rencana itu — London bersama Maham — telah dia bayangkan berkali-kali, selayaknya film indah yang tak bosan-bosannya dia putar. Dia membayangkan menggandeng tangan Maham di Hyde Park, memesan teh hangat di Notting Hill untuk mereka berdua, membelikan syal untuk gadis itu di Portobello Market.
Dia membayangkan bila mereka akan ada di sana bukan lagi sebagai sepasang anak Adam yang berlari dari peliknya sebuah pelanggaran etik, melainkan sebagai sepasang jiwa yang telat terikat dalam sebuah kesakralan.
Namun sekarang di sanalah dia. Terjebak. Di kota besar. Di galeri lukisan yang sunyi tapi juga bising. Dikelilingi kenangan dan bayangan yang tidak bisa dia hapus meski terus melukainya.
Kini semua harapannya itu tidak lebih dari sekedar angan, yang pecah berkeping-keping dan melukai siapapun yang melihatnya. Pun begitu, dia tetap kembali ke sana lagi dan lagi untuk melihatnya meskipun darahnya mengucur.
Rasa sesak menjeratnya.
Timur — dirinya yang sekarang adalah lelaki yang tetap mencintai Maham namun juga mengutuki rasa cintanya. Seorang lelaki yang mana dunia di sekelilingnya tak lagi menyentuh hatinya.
Berulang kali Timur terjebak dalam ruang kosong di antara ‘yang seharusnya’ dan ‘yang terjadi’.
Kita pernah punya kesempatan, Maham. Tapi saat aku mengusahakannya, kau justru berjalan menjauh. Menuju hidup yang tak menyisakan ruang untukku.