Layar ponsel Maham masih menyala. Di dalamnya, sebuah pesan dari Timur tetap terbuka, terkunci dalam ruang waktu yang tak lagi bergerak.
Aku ingin memberimu sesuatu yang tak bisa kita lupakan. Bukan sekarang. Sebentar lagi.
Itu pesan terakhir dari Timur.
Setelah itu, hanya ada rentetan pesan Maham. Panjang. Penuh tanya. Semuanya dibaca. Lalu… berhenti di satu centang. Diblokir.
Maham menatap layar itu lama, tubuhnya terasa hampa.
Dia teringat kata-kata Murat malam itu di klub panahan. “… hari itu dia akan melamarmu.”
Tangannya gemetar saat dia menyentuh layar ponsel.
“Jadi kejutan yang kau katakan adalah itu?” bisiknya lirih.
Air mata turun. Satu per satu. Diam-diam. Lalu deras.
“Lalu kenapa, Timur? Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu padaku dan pergi begitu saja?”
Isakannya mulai terdengar.
“Aku juga tidak tahu kalau Sinan akan melamarku. Aku juga tidak tahu… Kenapa kau tidak menanyakannya padaku, dan memilih untuk meninggalkanku seperti ini?”
Tubuhnya mulai terguncang. Napasnya tak beraturan. Seperti ada yang menekan dadanya dari dalam. Tangisnya pecah.
“Aku mencintaimu…” suaranya serak dan pecah. “Tapi sekarang bagaimana aku melanjutkan semuanya setelah ini? Hidupku? Hatiku?”
Air matanya membasahi pipi, leher, dan akhirnya jatuh ke bantal yang dia peluk erat. Tangannya mengepal, memukul-mukul dadanya sendiri.
“Kenapa rasanya sakit sekali?”
*
Entah jam berapa tangisnya berhenti. Maham tertidur dengan posisi meringkuk di sofa ruang tamu. Matanya sembab, wajahnya basah, dan tubuhnya terasa berat.
Dia terbangun saat cahaya pagi menyusup lewat celah tirai.
Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi baru muncul. Dia mengambilnya dengan tangan yang masih lemas.
Puluhan panggilan tak terjawab. Semuanya dari Esra.
Beberapa pesan masuk. Dia membuka salah satunya.
Maham, aku harap kita masih bisa berteman setelah hari itu. Tolong jangan jauhi aku ya? Ayo, kita bertemu besok.
Maham memandangi teks itu tanpa berekspresi. Lalu menatap waktu pengiriman pesan. 20.03. Malam sebelumnya.
Dia menurunkan ponselnya. Menoleh ke arah jendela. Menatap ke luar sejenak. Kemudian mendongak ke langit-langit. Matanya kosong.
Selama itu kah aku tertidur?, pikirnya.
Hening. Lalu perlahan, tanpa suara, air mata itu kembali turun. Tidak seperti semalam, kali ini diam. Lebih dalam. Seperti perasaan yang tak bisa lagi diceritakan dengan kata.
“Aku tidak bisa terus seperti ini…” gumamnya pelan.
Maham duduk perlahan. Tangannya bergerak lemah. Dia mengambil kembali ponselnya, menatap percakapannya dengan Timur sekali lagi.
Semua kenangan itu — semua kalimat, tawa, janji — ada di sana. Tapi tidak lagi hidup.
Dengan satu tarikan napas panjang, Maham menghapus seluruh percakapan mereka.
Layar kosong.
Satu halaman baru.
Lantas membuka pesan dari Esra. Membacanya ulang. Kemudian menjawab:
Baik. Di mana?
Setelah mengirim pesan itu, Maham memejamkan matanya sejenak.
Hatinya tidak membaik. Tapi dia tahu, diam di tempat bukan pilihan.
Bertemu Esra… Entah itu keputusan yang benar atau tidak, dia belum tahu. Satu hal yang diketahuinya: dia harus berjalan ke depan. Bahkan jika lututnya gemetar. Bahkan jika seluruh dunia masih gelap.
*
Salju menutupi seluruh permukaan jalanan Istanbul. Udara dingin menyelinap lewat sela-sela mantel, tapi hari itu terasa lebih lembut dibanding biasanya. Langit kelabu dan angin bertiup pelan, seolah menahan napas untuk sesuatu yang belum terungkap.
Esra mengajak Maham ke sebuah taman kota di kawasan Bukit Salju — taman kecil yang jarang dikunjungi orang saat musim dingin. Mereka duduk berdua di bangku kayu yang menghadap ke kolam beku. Di samping mereka, sebuah termos teh dan dua cangkir plastik mengeluarkan uap tipis.
“Aku harap udara segar membuatmu merasa lebih baik,” ucap Esra sambil menuangkan teh ke dalam cangkir. Suaranya pelan, nyaris setengah berbisik.
Maham menerima cangkir itu tanpa banyak bicara. Ujung jarinya masih dingin. Matanya sembab, walau dia sudah mencoba menutupi dengan riasan tipis.
Hari itu, Maham datang bukan untuk bertemu sahabat. Dia datang karena tidak tahu harus ke mana lagi.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” kata Esra pelan, menatap teh di cangkirnya.
“Bagaimana kalau dari ‘maaf’ dulu?” balas Maham tenang, namun nadanya getir.
Esra menunduk. “Aku minta maaf… atas malam itu. Aku sungguh… tidak bermaksud menyakitimu.”
Maham memalingkan wajahnya ke kolam beku. “Kau tahu aku tidak nyaman. Tapi kau tetap pergi. Kau biarkan aku sendiri di ruangan itu dengan kakakmu. Kau bahkan tidak muncul saat aku mencarimu.”
Esra mengangguk pelan. “Aku tahu. Aku tahu dan aku salah. Tapi… ada sesuatu yang harus kau tahu, Maham. Tentang kakakku. Tentang kami. Alasan mengapa aku melakukan semua ini.”
Maham hanya diam. Dia tidak menolak, tapi juga belum memaafkan.
“Kau sudah tahu tentang ibu kami. Satu-satunya orang yang melihat jasadnya waktu itu… adalah Sinan.”
Maham menoleh perlahan.
“Dia trauma, Maham. Waktu itu, kami bahkan tidak bisa mengucapkan kata ‘ibu’ selama bertahun-tahun. Sinan kehilangan bagian dari dirinya. Dan aku? Aku hanya punya dia.”
Suara Esra bergetar. “Kami tumbuh bersama. Aku melihatnya berubah dari anak pendiam jadi remaja penuh dendam. Tapi dia selalu baik padaku. Dia tidak pernah memperlihatkan sisi gelap itu di depan orang lain. Aku tahu orang menganggapnya sempurna, tapi aku tahu sisi lain kakakku. Dan aku menerimanya.”
“Lalu kenapa kau menyeretku ke dalamnya?” tanya Maham, suaranya masih tenang tapi mulai terdengar retak.
“Karena…” Esra menarik napas. “Karena kau membuat kakakku hidup lagi. Waktu dia mulai bicara tentangmu… dia terdengar seperti Sinan yang dulu. Yang masih punya harapan. Yang masih bisa tertawa. Dan aku pikir… kalau kau bisa menjadi bagian dari hidupnya, mungkin itu akan menyembuhkannya.”
Maham menggeleng. “Esra, aku bukan penyembuh. Aku bahkan tidak tahu dia menyukaiku. Kami bahkan tidak pernah berkomunikasi. Bagaimana bisa… Semua ini tidak masuk akal!”
“Aku tahu. Dan aku salah karena berpikir semua ini bisa berjalan alami. Aku terlalu ingin kalian cocok. Aku terlalu ingin punya keluarga yang hangat. Aku… menyukaimu, Maham. Sebagai teman. Sebagai seseorang yang kuharap bisa menjadi saudariku.”
Suasana hening. Hanya suara angin dan denting sendok kecil yang diketukkan Maham pada cangkir teh.
“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan,” ucap Maham akhirnya. “Aku terluka, Esra. Bukan hanya karena malam itu. Tapi karena semuanya terasa seperti jebakan.”
Dan satu-satunya pria yang aku cintai meninggalkanku karena ini, lanjut Maham. Itu adalah bagian yang paling menyakitkan. Dan semakin menyakitkan karena dia tidak bisa mengungkapkannya.
“Aku tahu kau tidak harus memaafkanku. Aku juga tidak memintamu untuk menerima Sinan atau membenarkan semua yang telah terjadi. Tapi... mungkin, dengan melihat ruangan mendiang ibu, kau bisa sedikit mengerti mengapa Kak Sinan menjadi seperti sekarang.”
Maham diam sejenak. Hatinya bertarung antara keingintahuan dan naluri untuk melindungi diri.
Apa dia sedang merencanakan sesuatu?, batin Maham gusar.
Tapi mata Esra, mata itu bukan mata manipulatif seperti milik Sinan. Itu mata seorang gadis yang masih berkabung sejak masa kecilnya.
“Tenang saja, Maham. Kak Sinan tidak ada di rumah. Besok dia baru pulang,” beritahu Esra, membaca kegelisahan pada wajah Maham.
“Baiklah,” ujar Maham akhirnya. “Tapi hanya sebentar.”
Esra mengangguk cepat, seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah. “Terima kasih, Maham.”
Maham meminum sisa tehnya, lalu berdiri. Langit mulai gelap. Salju kembali turun pelan.
*
“Ikut aku,” kata Esra sambil tersenyum.
Sekarang mereka sudah berada di kediaman keluarga Altay.
Maham mengangguk pelan dan mengikuti Esra menaiki tangga ke lantai dua. Langkah kaki mereka bergema pelan di antara lorong rumah yang sunyi. Udara di dalam rumah terasa dingin meski pemanas menyala. Seperti ada sesuatu yang tak terlihat sedang memperhatikan mereka.
Setelah beberapa menit berjalan dalam diam, Esra berhenti di depan sebuah pintu kayu yang berbeda dari pintu lainnya — lebih tua, lebih kokoh. Di atas gagangnya tergantung hiasan berbentuk bunga anyelir kering.
“Ini ruangan ibu kami,” ujar Esra pelan, lalu membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Maham menahan napas.
“Itu ibu kami,” kata Esra sambil berjalan mendekat dan menyentuh bingkai foto besar yang diletakkan di tengah ruangan. “Namanya Feride. Kak Sinan sangat mencintainya. Dia kehilangan segalanya saat ibu meninggal.”
Maham tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada wajah wanita dalam foto itu. Tiba-tiba perasaannya digulung kabut kecemasan yang tak jelas asalnya. Bersamaan dengan rasa simpatinya yang tumbuh untuk kaka beradik Altay.
“Mendiang ibu cantik, ya?” tanya Esra pelan, berdiri di sisi Maham.
Maham mengangguk.
Esra menoleh. “Mendiang ibu mirip denganmu, Maham. Garis rahangnya, senyumnya. Kadang, kalau aku melihatmu dari belakang, aku seperti melihat ibu hidup kembali.”
Kata-kata itu mengguncang d**a Maham dengan cara yang aneh. Dia berusaha tersenyum, tapi rahangnya kaku.
“Kak Sinan juga berpikir begitu,” lanjut Esra dengan suara lirih, nyaris seperti doa. “Itu sebabnya… dia begitu ingin mengenalmu.”
“Aku bisa merasakan kesedihan kalian, Esra. Aku tahu kehilangan itu menyakitkan. Tapi bukan berarti aku bisa menggantikan siapa pun. Apalagi ibu kalian.”
Esra tersenyum lemah. “Setiap kali kakakku merasa kehilangan arah, dia datang ke sini. Duduk di kursi ini... menatap ibu. Kadang dia bicara seolah ibu masih hidup. Kadang dia hanya diam.”
Maham masih diam. Tenggorokannya tercekat.
“Malam ini makan malam di sini, ya?” ujar Esra dengan suara lembut, mencoba menghilangkan ketegangan yang mengendap.
“Aku... Sebaiknya aku pulang saja,” kata Maham pelan.
“Tolong, Maham. Sebagai permintaan maafku.”
Maham terdiam.
“Aku mohon, Maham?”
Akhirnya Maham mengangguk lemah. “Baiklah.”
“Kau bisa tunggu di kamarku. Aku akan mengecek meja makan dulu,” ujar Esra sambil membuka pintu kamar di ujung lorong.
Kamar itu berwarna pastel, dengan ranjang empuk dan rak-rak berisi buku serta pernak-pernik perempuan. Maham duduk di ujung tempat tidur. Napasnya belum stabil. Dia mencoba menenangkan pikirannya.
Sementara itu, Esra menutup pintu dengan perlahan. Raut wajahnya berubah drastis. Senyumnya menghilang, digantikan ketegangan yang dingin. Dengan langkah ringan namun cepat, dia berbelok ke kanan, menuju tangga sempit di ujung lorong yang membawa ke perpustakaan keluarga.
Lampu di perpustakaan menyala remang. Di sana, duduk Sinan. Mengenakan kemeja hitam dan celana abu gelap, wajahnya redup oleh cahaya lampu meja.
Esra berdiri di ambang pintu dan berbisik, “Aku sudah melakukan bagianku, Kak.”
Sinan menoleh perlahan. Matanya, yang sejak tadi kosong menatap jendela, kini mengandung percik kehidupan yang suram.
“Dia di sini?”
Esra mengangguk. “Dia sedang menungguku di kamarku. Aku bilang padanya kita akan makan malam.”
Sinan berdiri. Gerakannya tenang, nyaris anggun. Tapi ada sesuatu yang membungkus tubuhnya — sesuatu yang dingin dan tak bisa dijelaskan.
“Apakah dia sudah melihat ruangan ibu?”
“Sudah,” jawab Esra pelan. “Dan dia terdiam lama.”
Sinan menutup mata. Senyuman tipis muncul di wajahnya, tapi senyum itu tak menyentuh matanya.
“Baik. Sekarang giliran aku.”
Esra menggigit bibir bawahnya. “Kak... aku tahu kau menginginkannya. Tapi tolong jangan lukai dia.”