London, United Kingdom, 2021
Musim dingin di London selalu membawa kehampaan yang tenang. Jalanan di sekitar kampus London School of Economics dibalut kabut putih tipis. Pohon-pohon tanpa daun berdiri diam dan suara langkah kaki terdengar lebih berat di atas permukaan aspal yang beku.
Timur melangkah masuk ke gedung departemen Hubungan Internasional. Sore itu, dia punya janji dengan Profesor Steven — dosen pembimbingnya dalam penelitian doktoral sekaligus seseorang yang mengenalnya sejak masa awal studi di Inggris.
Di ruang kerja Prof. Steven yang hangat dan rapi, Timur duduk dengan tangan menyatu di pangkuan, tubuhnya tegak tapi matanya kosong.
“Jadi, Cihan... bagaimana progresnya? Masih mendalami teori resolusi konflik?” tanya Prof. Steven sambil membuka berkas di laptopnya.
“Ya, Prof. Saya sedang menganalisis kerangka perbandingan antara masyarakat pasca-konflik di Sub-Sahara Afrika dan Balkan. Tapi saya juga memperluasnya ke kasus-kasus di Timur Tengah.”
Prof. Steven menyipitkan mata, menatap Timur. “Ambisius juga. Tapi dulu kau selalu tersenyum saat bicara soal hal-hal seperti ini. Sekarang kamu terdengar seperti sedang membaca buku panduan.”
Timur terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.
Steven bersandar sambil tertawa pelan. “Apa kau masih Cihan yang sama dengan Cihan yang saya ajar enam tahun lalu? Yang dulu suka berdebat bahkan soal catatan kaki di kelas?”
Timur tersenyum kecil. “Saya masih saya, Prof. Hanya saja, sudah lebih tua.”
Steven memandangi wajahnya lebih lama. “Bukan. Kau bukan lebih tua. Kau kosong. Apa pun yang terjadi padamu, Cihan, jangan biarkan itu memadamkan semangatmu. Riset itu memang soal pertanyaan, tapi juga butuh hidup — bukan hanya pengetahuan.”
Setelah pertemuan itu, Timur tidak langsung pulang. Dia menghabiskan waktu hingga malam di perpustakaan LSE, membaca tanpa menyerap apa pun. Tangannya mencatat, tapi pikirannya kosong.
Pukul sebelas malam, Timur akhirnya sampai di apartemennya yang tenang di Bloomsbury. Meski tinggal di negara berbeda, suasananya tetap sama: kosong, gelap, dan hampa.
Dia masuk ke kamar dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu meja kerja di sudut ruangan.
Pandangan Timur jatuh pada pigura kecil di atas mejanya. Sebuah foto dengan sosok yang tersenyum lembut di dalamnya. Maham.
Senyum getir terbit di bibirnya. Sudah sebulan sejak dirinya memutuskan untuk pergi dan tak lagi menghubungi siapa pun. Tapi pikirannya tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan Maham. Gelisah itu tinggal bersamanya, tidur bersamanya, hidup bersamanya. Begitu pula dengan rasa cintanya untuk gadis itu, masih bercokol kuat pada hatinya.
“Aku merindukanmu, Maham. Sangat. Andai semuanya tidak seperti ini. Aku selalu berharap kau akan memilihku,” dia berbicara sendiri-sendirinya. Seolah Maham ada di hadapannya saat ini.
Ponselnya bergetar. Sebuah email masuk.
From: d_murat@gmail.com
Subject: penting, hubungi aku
Aku susah payah dapat email barumu ini. Ada sesuatu yang penting yang harus aku katakan padamu terkait Maham. Kalau kau masih mau menyelamatkan apa yang bisa kau selamatkan, hubungi aku.
Timur menatap layar cukup lama. Dia sudah memutus semua kontak dengan siapa pun yang berkaitan dengan hari itu. Tapi pesan itu… terdengar terlalu putus asa.
Apa lagi yang harus aku selamatkan? Bukankah semuanya sudah selesai?
Timur pun menaruh ponsel tanpa membalas, lalu berbaring. Tapi tidur segera tak datang.
Menjelang pukul 4 dini hari, barulah dirinya perlahan terlelap. Baru sebentar matanya terpejam, Timur bergerak gelisah di atas ranjangnya.
Mimpi buruk menghampirinya.
Maham. Berlari. Wajahnya penuh ketakutan. Tangannya berlumuran darah. Gadis itu berteriak meminta tolong kepadanya, memanggil namanya, tapi Timur tak bisa bergerak. Maham terus menjauh dan menghilang di dalam kegelapan.
Timur terlonjak bangun. Nafasnya memburu, tubuhnya basah oleh keringat.
“Maham…” bisiknya.
Tangannya meraba nakas, mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya dengan tangan gemetar. Mimpi yang barusan terasa begitu nyata.
Lalu pesan Murat membayanginya seperti teror — menyelamatkan apa yang bisa kau selamatkan.
“Apa yang terjadi?”
Timur merasakan sesuatu yang tak kasat mata tengah mencekiknya saat ini. Cepat-cepat dia meraih ponsel dan menekan nomor yang ditinggalkan Murat, menghubungi temannya itu menggunakan nomor barunya.
Masih jam 6.30 di Istanbul. Kemungkinan besar Murat masih tertidur dan tak akan mengangkat panggilannya. Namun Timur tak peduli. Dia tidak bisa menunggu.
“Halo?” suara Murat terdengar pelan tapi terjaga.
“Murat, ini aku Cihan,” tergesa Timur berbicara, nyaris menyambar.
“Kau baik-baik saja, Cihan? Suaramu —”
“Jangan tanya keadaanku,” potong Timur cepat, napasnya masih belum teratur. “Katakan apa yang ingin kau katakan.”
Murat terdiam sesaat, menimbang, sebelum akhirnya menjawab, “Aku di sana sejak awal Maham datang sampai Sinan melamarnya, Cihan. Yang terjadi tidak seperti yang kau pikirkan — yang kita pikirkan.”
“Ceritakan semuanya padaku.”
“Maham tidak tahu bila Sinan akan melamarnya malam itu. Dari percakapan mereka yang aku dengar, keduanya bahkan tidak pernah berkomunikasi satu sama lain.”
“Aku tidak mengerti. Dua orang yang tidak pernah berkomunikasi tapi berakhir dengan sebuah lamaran?” Saat ini Timur ingin tertawa. “Murat, kalau kau mengirimiku email hanya untuk menceritakan soal bagaimana Sinan melamar —”
“Esra yang membawa Maham,” potong Murat sebelum Timur mungkin menutup teleponnya. “Aku rasa kau juga tahu Esra kan?”
Rahang Timur mengeras mendengar nama gadis itu. Dia memang belum mendengar kejadiannya tetapi sepertinya dia tahu ke mana pembicaraannya dengan Murat akan mengarah. “Tepatnya bagaimana Esra membawa Maham?”
“Dia yang selalu mempertemukan Maham dengan Sinan. Aku tidak tahu pastinya kenapa kakak beradik Altay bersikap seperti itu — mungkin karena Sinan seorang public figure — tapi yang pasti mereka sudah merencanakan semuanya. Malam itu juga begitu. Maham tidak nyaman berada di sana, hanya berdua dengan Sinan, setelah Esra membawanya ke restoranku dan tiba-tiba saja pergi. Pandangannya terus menyapu sekeliling bahkan saat Sinan mengajaknya berbicara.”
“Dia tidak tertarik?”
“Lebih tepat dibilang waspada dibandingkan tertarik,” timpal Murat. “Saat Sinan melamarnya, Maham sangat ketakutan. Setelah keluar dari restoran, dia tidak berhenti menangis. Dia… berusaha menghubungimu, Cihan. Karena kau di luar jangkauan, aku yang memesankan taksi untuknya dan mengikutinya sampai ke rumah. Situasinya benar-benar tidak beres, Cihan. Aku memintanya untuk menghubungiku kalau ada sesuatu.”
Timur menahan nafas. Mimpi tadi menghantuinya bahkan saat dirinya kini terjaga.
“Apa sesuatu terjadi padanya setelah itu?” tanyanya, ketakutan mulai memeluk jantungnya lagi.
Hening di ujung sana.
“Murat! Katakan!” suara Timur meninggi, panik, seperti seseorang yang kehilangan cengkeraman realitas.
“Maham mengirimkan lokasi kepadaku secara tiba-tiba. Saat aku hampir sampai, aku melihatnya berlari dari rumah itu… dalam kondisi yang tidak seharusnya.”
“Tidak seharusnya bagaimana?!” Timur mendesak.
“Sinan berusaha melakukan sesuatu padanya.”
Kepala Timur bergemuruh. Tangan kirinya mencengkeram kain seprai kasur.
“Apa b*****h itu sudah… melakukan sesuatu pada Maham?!” suaranya nyaris pecah.
“Hampir. Maham terluka tapi syukurlah dia berhasil menyelamatkan diri. Dia memukul wajah b******n itu dengan lampu tidur.”
Timur menutup matanya. Napasnya berantakan. d**a kirinya seperti diremas dari dalam.
“Kapan kejadiannya?” tanyanya dengan suara nyaris habis.
“Tiga hari yang lalu.”
Timur menggeleng tak percaya. Waktu berjalan, menghabiskan satu bulan dan dia tidak tahu. Satu bulan Maham mungkin menangis, ketakutan, sendiri. Dan dia hanya duduk di perpustakaan atau berbaring menatap langit-langit.
“Cihan,” suara Murat lembut sekarang. “Aku selalu mencari cara untuk menghubungimu sejak malam lamaran itu. Aku tidak bermaksud ikut campur urusanmu. Tapi… sepertinya kau melakukan kesalahan di sini. Kau tidak seharusnya pergi begitu saja.”
Timur tidak menjawab. Karena apa pun yang dia katakan akan terdengar seperti alasan. Dia mengakui kesalahannya.
Malam itu, dia duduk di lantai, punggung bersandar di ranjang. Matanya menatap kosong ke pigura yang masih menatapnya kembali, yang kini berada dalam genggamannya. Rasanya seperti berdiri di tengah hujan salju, tanpa pelindung, tanpa api, dan tanpa arah.
Dia meletakkan pigura itu ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya sejak dirinya meninggalkan Istanbul, Timur menangis. Bukan hanya karena rasa bersalah. Tapi juga karena dia benar-benar takut telah kehilangan seseorang yang dicintainya lebih dari hidupnya sendiri.
Dan jauh di dalam hatinya, satu suara kecil berbisik:
Apa yang sudah aku lakukan padamu, Maham?
*
Bandara siang itu tidak terlalu ramai, tapi hiruk-pikuknya tetap terasa menusuk kepala Timur. Dengan langkah tergesa dan napas yang belum sepenuhnya tenang, dia menyeret koper kabinnya ke konter maskapai. Jemarinya menggenggam ponsel erat-erat, sesekali menekan layar untuk mengecek jadwal keberangkatan.
Dia tidak bisa lagi menunggu. Tidak bisa lagi berpura-pura kuat. Hatinya sudah tidak sanggup memikul semua ini sendirian. Setiap detik terasa seperti duri yang menusuk ke dadanya. Dia harus kembali. Sekarang juga.
“Penerbangan tercepat ke Istanbul. Hari ini. Apa pun jamnya,” ujarnya pada petugas tiket dengan nada tegas tapi terburu-buru.
Petugas itu sempat terkejut, tapi kemudian segera memeriksa layar komputernya. “Ada satu penerbangan lagi dalam waktu tiga jam, Tuan. Masih tersedia beberapa kursi.”
“Pesan satu. Sekarang.”
Setelah urusan tiket selesai, Timur menepi, duduk sebentar di kursi tunggu. Tapi dia tidak benar-benar duduk dengan tenang. Kakinya goyah, tubuhnya gelisah. Dirinya tidak tahu harus memikirkan apa. Yang dia tahu hanya satu: segera bertemu dengan Maham.
Bukan hanya ingin. Dia butuh.
Dalam diam, pikirannya mengulang kembali semua yang terjadi pada hari-hari sebelum keberangkatannya ke London.
Timur mendongak saat pengeras suara mengumumkan boarding untuk penerbangannya. Kakinya segera berdiri, berjalan cepat menuju gate. Tangannya meraih tiket dan paspor tanpa benar-benar memperhatikan siapa pun di sekitarnya. Dunia seperti memudar. Yang ada hanya dirinya dan satu tujuan: pulang.
Setelah melewati pintu masuk, dia menaiki tangga pesawat. Udara dari mesin pesawat membuat rambutnya sedikit berantakan, tapi dia tidak peduli.
Timur masuk ke dalam kabin dan menemukan tempat duduknya di dekat jendela. Tanpa pikir panjang, dia duduk, memasang sabuk pengaman, lalu menatap keluar jendela. Langit sudah mulai berubah warna, keunguan, menjelang malam.
Di dalam saku jaketnya, dia mengambil ponsel dan membuka galeri. Jempolnya menggulir beberapa foto hingga menemukan satu foto Maham yang diambil diam-diam. Waktu itu Maham sedang duduk di balkon, rambutnya terurai, tatapannya kosong menatap langit. Cahaya senja jatuh di wajahnya, membuatnya terlihat seperti lukisan yang sedih. Tanpa sadar, Timur mengusap layar itu dengan ibu jarinya.
Sepasang mata zamrudnya menatap wajah itu dalam-dalam. Wajah yang sejak beberapa bulan ini menjadi rumah, tempat hatinya kembali.
Suara mesin pesawat mulai bergemuruh. Lampu kabin diredupkan. Pramugari memberi aba-aba, dan sebentar lagi pesawat akan tinggal landas. Timur meletakkan ponsel di pangkuannya, tapi foto Maham masih menyala di layar. Dia menoleh ke luar jendela, melihat landasan yang perlahan mulai bergerak.
Detik-detik menjelang lepas landas, tubuhnya sedikit berguncang. Tapi hatinya tidak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya tahu arah. Tidak lagi tersesat. Tidak lagi bimbang.
Dalam hati, dia berkata pelan, hampir seperti doa.
Aku pulang, Maham. Aku akan membawamu bersamaku kali ini.
Pesawat menanjak tinggi di langit yang mulai gelap, membawa Timur kembali ke kota tempat semuanya dimulai. Ke tempat di mana jiwanya tertinggal.