“Astaga! Di mana benda itu?”
Di dalam ruangan, Maham mengacak-ngacak koper dan kardus yang belum sempat ditatanya. Tangannya menyibak tumpukan buku, kertas, map lusuh, tapi tidak juga menemukan buku catatan yang dicarinya.
“Kalau tidak ada, bagaimana aku mengejar ketertinggalanku?”
Sekarang dia mulai frustasi karenanya.
Dengan kesal, Maham mendudukkan dirinya ke atas karpet. Meringis kecil ketika tangan kirinya yang masih terbalut perban menghantam permukaan lantai.
Ini adalah hari keempat Maham tidak masuk kampus. Tepatnya, sejak kejadian itu.
Sejak dunia kecilnya dihancurkan oleh orang-orang yang dulu dia pikir adalah temannya.
Sekarang, dia tidak bisa bersembunyi lagi. Tidak dari kuliah. Tidak dari kenyataan. Tidak dari trauma yang masih menempel seperti jejak dingin di jendela.
Maham menarik napas, mencoba mengingat ulang di mana dia meletakkan buku tersebut. Hatinya pun langsung mencelos.
Buku itu masih tertinggal di apartemen lama. Di tempat yang dulunya jadi rumah bagi perasaannya yang lembut, tempat di mana Timur mengukir tawa-tawa kecilnya, dan tempat terakhir dia merasa aman. Sebelum semuanya runtuh.
Dia menggigit bibir. Mendadak kesal pada dirinya sendiri, Bagaimana kau bisa melupakannya di sana? Dasar bodoh! Sekarang apa yang akan kau lakukan?!
Jelas, Maham tidak ingin kembali ke sana. Bukan hanya karena kenangan Timur masih membekas setiap bagian gedung apartemen itu. Tapi juga karena ancaman Sinan yang masih menggema di telinganya.
Kenangan itu menghantamnya seperti angin musim dingin yang menusuk. Kamar Esra. Bau parfum yang terlalu manis. Wajah Sinan yang gelap. Tubuhnya yang terlalu dekat. Tangan kasar yang sempat menariknya dan hendak membuka paksa dirinya. Suara kasar penuh amarah dan hasrat…
“Jangan pikir kau bisa kabur dariku, Maham. Kau milikku! Aku akan menemukanmu di manapun kau bersembunyi!”
Detik berikutnya, lampu tidur melayang menghantam wajah Sinan. Jeritan pria itu memecah malam.
Mungkin Maham berhasil menyelamatkan dirinya. Namun ketakutannya tidak ikut pergi bersama suara itu. Ketakutannya tetap tinggal, tertanam di tubuhnya.
Tubuh Maham limbung. Tangan kanannya tertekan keras di atas karpet demi menahan berat tubuhnya. Nafasnya terengah.
Karena ancaman itulah dia pindah terburu-buru. Mengemasi semua barang-barangnya secara asal tanpa tahu akan ke mana. Beruntung, Arsia — teman lain dari Indonesia — membantunya.
Kini Maham tinggal di apartemen milik kenalan Arsia, seorang pria Turki yang entah bernama Selim atau Salim. Lokasinya sedikit lebih jauh dari kampusnya. Tak mengapa, yang jelas apartemennya sekarang lebih aman. Setidaknya sampai Sinan benar-benar tidak bisa menemukannya.
Sekarang, satu-satunya hal yang membuatnya harus keluar dari persembunyian adalah buku catatannya. Maham butuh itu. Mata kuliah yang dia ambil terlalu teknis untuk diingat tanpa catatan.
Siapa yang bisa aku mintai tolong untuk mengambilkannya?
Maham menimbang — tidak ada. Satu-satunya kunci hanya ada padanya.
Dengan berat hati, dia meraih baju berlapis, hoodie, syal, dan masker.
*
Maham turun dari bus dengan tubuh yang hampir tak bisa digerakkan. Langkahnya berat.
Angin berhembus agak kencang. Refleks Maham merapatkan jaketnya, wajahnya hampir tenggelam dalam syal wol yang dililitkan erat. Pandangannya memindai sekeliling. Matanya membulat oleh rasa takut ketika memandang ke arah tikungan. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Sinan.
Berdiri di dekat kios roti simit, mengenakan mantel hitam panjang. Matanya menatap ke sekeliling seperti serigala lapar yang mencari mangsanya. Separuh wajah Sinan memang tertutup oleh masker. Namun Maham tidak akan salah dalam mengenali postur serta gestur pria tersebut. Trauma yang ditorehkan oleh Sinan memaksa Maham harus benar-benar mengenali segala gerak-geriknya.
Bahkan dalam penyamarannya pun Maham langsung menunduk, napasnya terputus-putus. Tubuhnya seakan terkunci di sana.
Tidak… Jangan berhenti, ayo bergerak. Aku mohon, pintanya kepada dirinya sendiri.
Langkah pertamanya goyah. Kedua kakinya gemetar seakan hendak runtuh. Namun Maham tetap berjalan.
Maham mempercepat langkahnya. Melewati bangunan-bangunan modern di kawasan itu. Wajahnya tak dia angkat. Setiap pantulan bayangan di kaca jendela toko, setiap suara langkah di belakangnya, membuat napasnya memburu.
Jangan mengikutiku… Aku mohon jangan mengikutiku, Maham merapalnya bak doa pengusir.
Tiba di depan gedung apartemen lamanya, susah payah dia memasukkan kunci. Fokusnya terbagi antara lubang kunci dengan Sinan yang perlahan mendekat ke arahnya. Entah pria itu menyadari penyamarannya atau mendekat karena ada seseorang yang memasuki apartemen Savcı.
Dia mendekat, Maham nyaris menangis memikirkannya.
Setelah pintu terbuka, cepat-cepat Maham membanting pintu utama hingga tertutup dan lari menaiki tangga. Memasuki rumah lamanya bukan lagi tujuannya. Dia tidak bisa ke sana. Sinan pasti sudah siap untuk mengintainya.
Melewati pintunya, Maham menyeberang menuju pintu yang sebenarnya dia sudah bersumpah untuk tak akan mengetuknya kembali. Sialnya, untuk hidupnya, dia tidak ada pilihan lain.
Aku tidak ingin berakhir di tangan Sinan.
Tangannya gemetar saat mengetuk pintu. Sekali. Dua kali. Lalu berkali-kali.
Semuanya sama seperti malam itu. Tak peduli sekeras apa pun dia mengetuk, memukul, pintu itu tetap tak bergeming.
Matanya memanas. Dalam hatinya, hanya satu doa berputar seperti mantra.
Tolong aku… Tolong aku, Timur.
*
Salju masih turun sejak dini hari, seperti kabut halus yang tak ingin berhenti membungkus Istanbul. Udara beku menyelinap ke sela-sela jendela apartemen Timur, menembus kehangatan dalam ruangan yang selama ini dia tinggalkan.
Semalam, Timur tiba. Langsung dari bandara, tanpa melepas mantel, dia menuju apartemen Maham — hanya untuk menemukan tempat itu kosong. Tak ada tanda-tanda kehadiran. Tak ada lampu menyala. Tak ada jejak.
Timur mencoba menghubungi Ara. Berkali-kali. Tapi tak satu pun panggilannya diangkat. Seakan semuanya menutup pintu. Seakan semuanya menyimpan Maham rapat-rapat dari hidupnya.
Siangnya, Timur berdiri di depan cermin, mengganti bajunya. Wajahnya masih lelah, tapi matanya menyimpan satu ketetapan. Hari ini dia akan pergi ke kampus. Mencari Maham. Bertanya pada siapa pun yang mungkin tahu.
Masa bodoh bila nanti semua orang mencurigainya. Atau mengetahui hubungan mereka. Atau menendangnya keluar dari pekerjaannya.
Semuanya tidak ada yang lebih penting dari Maham.
Tiba-tiba pintu apartemennya diketuk. Tidak pelan, tapi terburu-buru. Keras dan tergesa, seperti seruan dari seseorang yang tak bisa menunggu.
Timur mengernyit. Siapa pagi-pagi begini?
Sambil mengenakan sweaternya, dia berjalan ke arah pintu.
Lalu waktunya seakan berhenti di sana.
Meskipun dengan jaket besar, hoodie yang menutupi kepala, dan masker yang menutupi setengah wajahnya, Timur tahu. Dia tahu dari caranya berdiri. Dari sorot matanya yang basah dan memerah.
“Maham…” bisiknya, menyebut nama yang selama ini dia simpan di dadanya tiap malam.
Gadis itu menatapnya sebentar, napasnya terputus-putus. “Tolong sembunyikan aku,” ujarnya pelan namun mendesak. “Sekali ini saja. Aku tidak akan minta tolong lagi padamu.”
Timur tidak bertanya. Tidak sekarang. Saat ini yang ada hanya rasa cintanya yang mendalam kepada gadis itu dan insting untuk melindunginya. Tangannya menarik Maham masuk ke dalam, lalu menutup pintu.
Begitu masuk, Maham segera meloloskan lengan kanannya dari genggaman Timur. “Terima kasih,” katanya tanpa benar-benar menatap mata Timur.
Mata zamrud Timur bergerak di atas Maham. Kerinduannya tertahan di sana.
“Maham, ada apa?” tanya Timur lembut. Pandangannya lalu berpindah dari wajah indah Maham ke tangan kiri gadis itu yang terbalut perban.
Suara Murat kembali terdengar olehnya, “Maham terluka tapi syukurlah dia berhasil menyelamatkan diri.”
“Kau… terluka,” ucap Timur dengan suara yang nyaris bergetar. Begitu saja tangannya hendak meraih tangan Maham yang terluka. Namun Maham segera menghindarinya. Gadis itu mundur selangkah menjauhinya.
Timur membeku.
Seakan udara di antara mereka tiba-tiba mengeras menjadi kaca tipis. Rapuh, dingin, dan nyaris tak tertembus. Tatapan Maham bukan marah, bukan benci. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan dari itu: kehati-hatian. Jarak.
Timur menarik kembali tangannya, perlahan.
“Maham —” suaranya tercekik di tenggorokan. Kata-kata berikutnya tak sempat keluar.
Bunyi bel mengisi seluruh sudut rumah itu.
Mereka berdua terdiam. Keheningan yang mencekam menguasai.
Timur menoleh ke arah pintu, lalu ke Maham. Gadis itu sudah memalingkan wajahnya ke arah pintu. Tubuh Maham tegang. Matanya membulat, penuh air mata yang belum sempat jatuh.
Dengan tatapan yang terkunci pada pintu, Maham menggeleng. Napasnya mulai tak beraturan.
Keseluruhan reaksi Maham memberitahu Timur tentang siapa yang ada di balik pintunya saat ini.
“Masuklah ke kamarku,” kata Timur cepat. “Aku akan mengurusnya.”
Saat dia melangkah, Maham menggenggam lengannya. Erat. “Jangan buka…”
Timur menunduk. “Tidak akan ada apa-apa. Tunggulah di sini.” Lantas menuntun Maham ke kamarnya. “Percayalah padaku.”
Setelah memastikan pintu kamar tertutup, Timur membuka pintu depan. Angin dingin masuk bersama siluet pria tinggi yang sepantaran dengannya.
“Maaf mengganggu,” ucap Sinan dengan nada ramahnya yang terdengar ganjil. “Apakah kau melihat calon istriku? Dia tinggal di apartemen seberang.”
Timur diam sejenak. Jantungnya berdentum. Wajah Sinan terluka — pelipis sampai pipi atasnya dibalut perban. Pembicaraannya dengan Murat semalam mengisi ingatannya lagi.
“Dia memukul wajah b******n itu dengan lampu tidur.”
Dan sekarang b*****h itu berdiri di depan pintunya, menyebut Maham sebagai ‘calon istrinya’ seakan tidak terjadi apa-apa.
Ini pertama kalinya Timur bertatap muka dengan aktor tersebut. Dan dia langsung tahu, b******n ini sakit jiwa.
Timur mengepalkan tangan. Menahan diri. Seandainya tidak ada Maham yang harus dilindunginya, tinjunya sudah pasti akan melayang ke wajah Sinan. Namun Maham begitu ketakutan di dalam sana. Membuat keributan dengan Sinan hanya akan membuat Maham — gadisnya — semakin terpuruk.
“Tidak,” Timur menjawab dingin.
“Kau yakin?”
“Aku baru saja kembali dari luar negeri.”
Sinan terkekeh pelan, geli sendiri. “Calon istriku itu suka sekali bermain petak umpat. Silakan datang ke pernikahan kami… bila aku sudah menemukannya.”
Timur tak mengatakan apapun. Rahangnya mengeras. Sepasang mata zamrudnya dengan tajam mengawasi punggung Sinan sampai pria itu hilang dari pandangannya.
Saat ini susah payah dia membiarkan Sinan pergi, bersikap seolah dia tidak mengetahui apapun. Tetapi bila b*****h itu berada di sana sedikit lebih lama lagi, Timur tidak bisa menjamin bila dia akan mampu menahan dirinya. Sejak tadi batinnya sudah berperang untuk tidak terbawa emosi dan tetap menjadikan Maham sebagai prioritasnya.
Dari sela-sela besi pembatas, Timur mengintai Sinan yang melewati pintu utama. Suara pintu besi berat yang tertutup pun menggema di sepanjang koridor. Baru setelahnya dia menutup pintu apartemennya sendiri.
Amarahnya berganti dengan rasa khawatir ketika dia melangkah ke kamarnya. Garis wajahnya melembut.
“Maham… Ini aku,” beritahunya dengan suara selembut mungkin. Berhati-hati untuk tidak menakuti gadis itu.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Wajah Maham sembab. Gadis itu mungkin tetap berdiri namun terlihat begitu rapuh.
Melihatnya, Timur ingin sekali meraih Maham ke dalam pelukannya, sama seperti hari di mana gadis itu menangis saat dia mengajaknya untuk menikah. Hari itu, saat mereka mengikuti tur Selat Bosphorus.
Seketika Timur merasa sebagai pria paling b******k di dunia. Perasaan bersalahnya terhadap Maham menghantamnya dengan keras, sangat keras. Membuatnya meragukan apakah dirinya pantas. Bahkan hanya untuk sebuah pelukan.
Benar. Kau tidak pernah berkata tidak. Kau hanya ingin kita menikah dengan bahagia. Apa yang sudah kulakukan, Maham?