“Percayalah padaku.”
Kata-kata itu meluncur dari bibir Timur. Lembut namun cukup untuk melukainya.
Maham tertegun. Jantungnya tercekat seketika. Itu bukan kalimat yang ingin didengarnya dari pria itu — setelah semua yang terjadi. Setelah hari itu.
Namun, langkahnya tak punya arah lain. Situasinya telah mendorongnya sampai ujung tebing dan Timur adalah satu-satunya pijakan yang tersedia. Maham menarik napas, menunduk, lalu mengikuti Timur dalam diam.
Maham masih terpaku saat pintu kamar itu tertutup pelan di belakangnya. Hening menyergap. Matanya berusaha untuk beradaptasi dengan tempat itu. Memandangi sekeliling.
Ruangan itu bersih, rapi, dan tenang. Nuansa kayu gelap mendominasi dan aroma samar dari parfum Timur menyelimuti udara — aroma maskulin yang dulu menenangkan, kini hanya memancing gelombang kecemasan dalam dirinya. Jantungnya berdetak terlalu kencang. Seolah tubuhnya tahu ini bukan tempat untuknya.
Maham mencoba mengabaikan keberadaannya di sana. Saat ini dia harus tahu apa yang terjadi di luar sana. Dia pun menajamkan pendengarannya.
Dan saat suara pintu depan terbuka terdengar, tubuhnya sontak menjengit.
Langkah yang menghantam lantai koridor. Berat dan berani.
Lalu terdengar suara itu. Parau. Licik. Menyeringai lewat nada.
Sinan.
Maham membeku. Tubuhnya bergetar. Lututnya lemas dan napasnya tercekat. Di balik pintu kamar, dia mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Tenanglah, Maham. Tenanglah. Semua akan baik-baik saja.
Namun air mata tak bisa dia tahan. Ketakutan merambati relung hatinya. Tubuhnya mulai gemetar pelan.
Lalu suara kedua pria itu terdengar — Timur dan Sinan. Tegang, rendah, tapi jelas. Maham menggigit bibirnya. Dia mendengarkan… dan semakin mendengarkan… sampai tangannya mengepal di d**a.
Maham takut. Yang mencengangkan adalah dia tidak takut untuk dirinya sendiri. Bahkan setelah semua yang terjadi, dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk mengkhawatirkan Timur lebih daripada dirinya saat ini.
Bagaimana jika Sinan berbuat gila? Bagaimana kalau Sinan menyakiti Timur? Bagaimana kalau Timur tidak mampu melawan? Sinan pria gila, bukan?
Kecemasan demi kecemasan itu menyergapnya.
Seharusnya aku tidak datang kemari. Seharusnya aku tidak melibatkannya. Bagaimana kalau… bagaimana kalau…
Air matanya tumpah. Tubuhnya menyusut di sudut kamar, duduk di lantai, menunggu dengan rasa sesak yang tak tertahankan. Waktu serasa membeku. Setiap detik menjadi siksaan panjang. Ruangan sunyi, kecuali degup jantungnya yang menggelegar di telinga.
Sampai pintu itu tertutup.
Maham menahan napas. Tidak ada suara ribut. Tidak ada darah. Tidak ada teriakan. Tidak terjadi apa pun.
Syukurlah.
Seketika seperti ada ikatan dalam dirinya yang terlepas. Dia menghela napas pelan, menggenggam kedua tangannya untuk menenangkan diri.
Lalu terdengar suara lembut dari balik pintu kamar Timur.
“Maham… Ini aku.”
Maham buru-buru menyeka air matanya, berdiri dengan gemetar, lalu membukakan pintu.
Dan di sana, sepasang mata zamrud itu menyambutnya. Hangat, namun dibalut rasa bersalah. Ketika mata mereka bertemu, Maham langsung menunduk. Hatinya mencelos. Terlalu tahu bila saat ini Timur tengah menatapnya dengan segala rasa yang pernah mereka bagi — dan pria itu hancurkan.
Dia yang pergi, bukan aku.
Dia yang memilih menjauh, bukan aku.
Dia yang membiarkan semuanya runtuh tanpa penjelasan, bukan aku.
Maham mencoba menguatkan dirinya.
“Dia sudah pergi,” ucap Timur pelan. Suaranya serak, seperti baru selesai berperang dengan emosi dan kenyataan.
“Terima kasih,” jawab Maham. Pelan. Hampir tak terdengar. Matanya tak benar-benar menatap Timur saat berkata, “Maaf sudah sangat merepotkanmu. Aku pulang sekarang.”
“Jangan dulu,” Timur menahan cepat. “Aku akan memastikan sekeliling. Jangan keluar dulu.”
Maham bergeming.
Di satu sisi, dia ingin segera pergi. Ingin menjauh dari Timur, dari semua rasa yang masih bergemuruh di dadanya sebab pria tersebut. Di sisi lain, dia juga takut ditemukan oleh Sinan.
Bayangan akan malam laknat itu masih terlalu dekat dalam ingatannya.
Pilihan yang tersedia hanya dua. Dan keduanya… dia membencinya.
Tidak apa. Tahanlah untuk bersinggungan dengannya. Sebentar saja.
Akhirnya Maham mengangguk kecil.
Timur tersenyum simpul, “Tunggulah. Jangan buka pintunya bila ada yang memencet bel. Aku akan masuk dengan membuka kunci.”
Maham mengangguk pelan mendengar pesan Timur. Berpikir bila pria itu akan segera menghilang dari hadapannya. Nyatanya Timur masih berdiri di sana. Masih menatapnya.
Ada kekhawatiran yang nyata dalam sorot mata Timur. Seolah dia sedang meninggalkan hatinya sendiri di balik pintu kamar itu — Bukan seolah, Maham memang hatiku.
“Aku akan segera kembali,” ucap Timur kemudian.
Maham kembali mengangguk. Dan untuk kedua kalinya, pintu kembali tertutup. Hening.
Maham menghela napas dan melangkah menjauh dari pintu. Baru saat itulah dia menyadari keberadaan koper di sisi lain ranjang. Separuh terbuka. Isinya berantakan, menunjukkan bila baru saja dibuka dengan tergesa oleh pemiliknya. Dalam hatinya, Dia benar-benar baru kembali.
Selama beberapa saat Maham berdiri terpaku menatap koper itu sebelum menarik dirinya kembali ke kesadaran. Itu bukan urusanku.
Langkahnya hampir terangkat ketika semesta seolah menahannya, hendak memberitahu sesuatu kepadanya.
Tanpa sengaja, matanya tertumbuk pada satu benda. Sebuah pigura kecil, terselip setengah di antara lipatan baju di koper itu. Maham menahan napas. Dia tak perlu menariknya keluar untuk tahu siapa yang ada di dalam foto itu.
Perasaannya langsung kalut.
Marah. Sakit. Bingung. Perpaduan semuanya menggulungnya seperti ombak.
Tangannya mengepal. Pandangannya memanas.
Bagaimana bisa Timur menyimpan itu? Setelah semua ini? Setelah pria itu pergi, setelah pria itu membiarkan dirinya tersesat dalam situasi yang bahkan tidak dia pahami?
Kenapa… kenapa harus ada aku di sana?, bisiknya dalam hati.
*
Timur berdiri waspada di depan gedung apartemen. Matanya menyapu sekeliling, menelisik setiap sudut, jendela, dan gang sempit di kejauhan. Nafasnya berat, bukan karena lelah, tapi karena kekosongan. Sejak melihat sendiri apa yang telah terjadi pada Maham, dunia di sekitarnya seolah kehilangan warna.
Dia sudah memeriksa tiga kali. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Sinan. Sunyi. Namun ketenangan itu tidak membuatnya lega. Justru perasaan khawatir mengendap semakin dalam. Haruskah dia memasang CCTV? Tapi untuk apa? Jika Maham tidak akan tinggal di sana lagi bersamanya?
Pikirannya tercekat.
Hanya sebulan…
Tapi segalanya telah berubah.
Sesederhana itu, kenyataan menghantam dadanya.
Langkahnya berat saat menaiki tangga menuju unitnya. Dia membuka pintu perlahan, tak ingin mengejutkan Maham. Tadinya dia hendak langsung mengetuk pintu kamar, memastikan bila Maham baik-baik saja. Namun, langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap suara pelan dari balik pintu.
“… ini bukan salahmu, oke? Kau terlalu baik. Kau adalah gadis paling baik yang pernah aku temui. Kau tidak memiliki pikiran buruk terhadap orang lain. Sinan lah yang psikopat. b******n itu dan adiknya.”
Itu suara Ara.
Timur membeku.
Diikuti suara yang selalu menjadi candu baginya — lebih lemah, terdengar rapuh, seolah jiwa yang patah sedang berbicara, “Aku sudah tidak tahan lagi, Ra. Tidak ada lagi yang tersisa dariku. Dia sudah berusaha untuk menyentuhku. Aku sudah tidak bersih lagi. Aku…”
Kalimat itu menggantung, tak terselesaikan.
Dan hati Timur seketika seperti direnggut dari tubuhnya. Jemarinya menggenggam sisi dinding, mencoba menyangga tubuhnya sendiri. Dadanya sesak. Lidahnya kelu. Setiap kata Maham tadi bagaikan pecahan kaca yang menghujam ke dalam kesadarannya.
Timur memang sudah mendengarnya dari Murat. Tapi sampai beberapa detik yang lalu dia masih berharap bila semua itu hanyalah mimpi. Dan kini ketika dia harus mendengar hal mengerikan itu dari bibir Maham sendiri, keseluruhan dirinya runtuh. Perasaan bersalah yang dahsyat menawannya.
Ara bersuara lagi, tegas namun lembut, “Maham, tidak. Kau berharga. Dan selamanya akan begitu. Aku akan segara kembali, oke? Kau di mana sekarang? Apakah kau sudah kembali ke apartemen barumu?”
“Belum,” jawab Maham pelan. “Aku di rumah Cihan.”
Hening sesaat.
“Cihan siapa?” tanya Ara curiga.
“Timur Cihan. Tetangga depan rumahmu,” suara Maham nyaris tak terdengar.
Timur bisa merasakan darah Ara mendidih dari balik pintu sebelum suaranya meledak, “Astaga! b*****h itu sudah kembali? Kapan?”
“Aku tidak tahu, Ra. Aku terlalu takut sehingga tidak dapat berpikir dengan jernih. Dan mendatangi rumahnya untuk bersembunyi.”
“Di mana dia sekarang?”
“Di luar. Memastikan keberadaan Sinan.”
Ara mendengus. “Sempurna sekali! Dia meninggalkanmu begitu saja dan sekarang bersikap seperti seorang pahlawan?”
Timur menutup matanya rapat-rapat. Ara benar. Semua kata-kata itu benar adanya.
Namun bukan itu yang paling menyakitkan.
Kalimat berikutnya dari Maham seperti palu terakhir yang menghancurkan dinding hatinya.
“Ra… tolong. Aku tidak ingin membicarakannya kembali. Dia sudah tidak ada hubungannya denganku lagi.”
Seluruh sistem Timur terhenti.
Sudah tidak ada hubungannya lagi?