Timur tak bernapas. Jantungnya serasa ditarik paksa dari rongga dadanya.
Kalimat itu — “Dia sudah tidak ada hubungannya denganku lagi” — menampar batinnya dengan keras. Suara Maham menyelinap masuk dan menghancurkan sisa-sisa harapan yang diam-diam disimpannya.
Dia berharap Maham hanya marah. Dia berharap masih ada ruang baginya untuk menjelaskan. Yang nyatanya terjadi… Dia tak lagi melihatku sebagai bagian dari hidupnya? Begitukah?
Waktu berhenti. Detik-detik terasa panjang dan menyiksa. Merambat melumpuhkan dirinya bak racun paling mematikan.
Timur berdiri diam di depan pintu yang tertutup, seperti seseorang yang tersesat di tengah reruntuhan yang dia ciptakan sendiri.
Suara Ara terdengar lagi, “Kabari aku bila kau sudah sampai rumahmu, oke? Aku akan segera mencari tiket tercepat untuk ke Istanbul.”
Dan suara lembut Maham menyusul, “Kau tetaplah di sana bersama Mirach. Situasimu juga sedang tidak aman. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu.”
Tak lama, sambungan kedua sahabat itu berakhir, dan tak ada lagi suara selain desir salju di luar jendela. Timur menghela napas panjang. Butuh keberanian yang besar hanya untuk mengangkat tangannya dan mengetuk pintu. Dia merasa seluruh dadanya dipenuhi bara api, rasa bersalah yang membakar habis ketenangannya.
Tiga ketukan pelan tapi penuh beban. “Ini aku, Maham.”
Tak lama, pintu terbuka. Maham berdiri di baliknya dengan wajahnya pucat. Sepasang mata indahnya menyambut Timur dengan pandangan dingin yang menusuk hati.
“Dia sudah pergi,” ujar Timur pelan.
Maham hanya mengangguk tipis, lalu menjawab kaku, “Terima kasih banyak atas bantuanmu. Aku tidak akan merepotkanmu lagi ke depannya. Selamat sore.”
Maham melewati Timur. Dapat pergi dari sana secepatnya adalah satu-satunya hal yang diinginkannya saat ini.
Sepasang mata zamrud Timur memandang punggung Maham yang semakin menjauh, langkah demi langkah. Dia ingin menghentikannya. Nyatanya tubuhnya terpaku. Lidahnya kelu. Banyak hal yang ingin dikatakannya kepada gadis itu, yang seharusnya dikatakannya dan...
“Maham, apakah itu benar?”
Sebuah kebenaran yang ingin didengarnya langsung dari Maham. Bukankah dia harus memulai dari sana dulu? Semua kesalahpahaman yang telah terjadi...
Maham menoleh, bingung dan curiga. “Aku tidak mengerti?”
“Semua yang aku dengar tadi... tentang kau dan b*****h itu. Semua pembicaraanmu dengan Ara.”
Raut wajah Maham berubah tegang. Di sisi tubuhnya jemarinya mengepal. Bibirnya bungkam, tidak menjawab.
“Itu bukan urusanmu,” desisnya akhirnya, suaranya gemetar. Lalu bergerak secepatnya untuk meraih pintu.
Timur melangkah maju, mencegah langkah Maham.
“Maham, tolong... aku hanya ingin tahu yang sebenarnya.”
Maham menatapnya, mata hitamnya yang basah menyala akan amarah. “Apa urusanmu dengan semua itu?! Menyingkirlah, Cihan.”
Cihan?
Bahkan sekarang pun Maham sudah mengubah panggilan terhadapnya.
Timur tak bergeming. “Tolong jawab aku. Apakah benar selama ini kalian —”
“DI MANA KAU SELAMA INI?!” suara Maham meledak.
Pertanyaan itu menampar Timur lebih keras dari apapun. Napasnya tercekat. “Maham, aku...”
“KAU TIDAK ADA!” Maham memotong, napasnya memburu karena emosi. “Aku tidak tahu ke mana kau pergi! Aku juga tidak bertanya apapun kepadamu! Jadi sekarang... jangan tanyakan apa pun tentang hidupku.”
Timur ingin menangis. Tapi dia tahu air matanya tak pantas jatuh di hadapan perempuan yang sudah dia kecewakan. “Tanyalah, Maham. Tanyalah aku apa saja. Aku akan jawab semuanya.”
“Tidak ada yang ingin aku ketahui tentangmu lagi.” Maham berusaha melewati Timur.
Dengan refleks, Timur menahan pergelangan tangan Maham. “Menikahlah denganku, Maham.”
Sejenak waktu berhenti. Dingin Istanbul masuk ke tulang-tulang mereka. Maham menatapnya tak percaya, lalu menghentakkan tangannya keras, dan dalam satu gerakan yang cepat, dia menampar Timur.
“Kau sungguh pria menjijikkan!” desisnya.
Lalu Maham berlari, tak peduli lagi pada bekas salju atau es yang licin di tangga. Timur mengejar, langkahnya berat oleh rasa bersalah yang menusuk setiap sel tubuhnya.
“Maham... Maham! Tolong dengarkan aku dulu! Izinkan aku menjelaskan semuanya… Maham!”
Namun Maham tidak berhenti. Air matanya kembali tumpah. Dia berlari sekuat tenaga, seakan ingin kabur dari seluruh luka yang kini mengejarnya dalam bentuk seorang lelaki bernama Timur.
Begitu keluar dari gedung apartemen, Maham masih terus berlari melewati jalanan di kawasan itu yang sepi. Salju memutih di kiri dan kanannya. Nafasnya memburu, tubuhnya menggigil. Namun langkahnya terhenti mendadak saat dari balik lorong, sebuah tangan menarik tubuhnya dengan kasar.
“Aaah!!” Maham memekik.
“Ssshh... akhirnya aku menemukanmu lagi,” bisik suara rendah yang membuat darah Maham membeku.
Sinan.
Pria itu tersenyum lebar, tangannya menahan erat lengan Maham. “Ternyata sungguh kau, Cintaku. Aku tidak akan salah dalam mengenalimu.”
Lalu dengan santai, Sinan hendak membopong tubuh Maham seperti sebuah boneka.
“Lepaskan aku! Lepaskan !!!” Jeritan Maham menggema di jalanan itu.
Baru saja keluar dari pintu utama, Timur yang mendengar jeritan Maham langsung menoleh. Dan begitu melihat pemandangan di depannya, matanya membelalak.
“Maham!” Timur berlari, napasnya tercekat oleh ketakutan. “Lepaskan dia!”
Sinan menoleh dan tertawa geli. Mengolok, “Lihat, dosenmu datang, Maham.”
Dalam genggaman Sinan, tubuh Maham gemetar hebat. Tangisnya meledak tak tertahan. Dia mencoba menahan tubuhnya agar tidak roboh oleh ketakutan. Air matanya mengalir deras membanjiri wajahnya.
Di balik kabut yang mengambang dari nafasnya yang memburu, Maham melihat Timur. Sorot matanya memohon. Dia menggeleng pelan, berharap Timur tidak mendekat, tidak membuat situasi lebih gila dari ini.
Namun Timur, melihat Maham dalam ketakutan seperti itu, tak peduli pada apapun lagi. Tidak pada dirinya. Tidak pada hukum. Tidak pada Sinan.
“Singkirkan tangan kotormu itu darinya!” serunya garang.
Sinan menyeringai. “Aku? Maham adalah milikku. Bukankah kau yang seharusnya menjauh darinya? Dari kami?”
Timur melangkah maju. Menggeram, “Lepaskan - dia!”
Sinan mendengus. Berkata pada Maham, “Kau lihat dosenmu itu kan? Kalau saja adik kecilku yang bodoh itu tidak menyembunyikan tentang kalian, aku pasti sudah menyingkirkannya jauh-jauh hari. Kalau dia tidak ada, hubungan kita tidak akan seperti ini. Kau menolakku karena b*****h itu kan?"
“Sinan, aku mohon jangan lakukan apapun padanya,” suara Maham begitu pelan, nyaris serupa bisikan.
“Hm. Tentu. Kalau kau ikut denganku,” Sinan berkata santai. Lalu tersenyum pada Maham.
“Ya. Aku akan ikut denganmu.”
“Kau juga akan menikah denganku kan?”
“Ya. Aku akan lakukan apa yang kau mau," Maham menyetujui tanpa pikir panjang. Suaranya seperti milik orang lain. Lidahnya hanya bergerak agar tragedi itu segera berakhir.
"Kalau begitu katakan kalau kau juga mencintaiku."
Isakan Maham semakin dalam. Hatinya teriris. Bagaimana dia bisa mengatakan kalimat itu kepada pria yang membuat perutnya mual seperti Sinan. Itu sama saja dengan dia memberikan bukan hanya dirinya tetapi jiwanya kepada pria b******k itu.
"Maham, jangan katakan apapun padanya," Timur mencegah. Kata cinta itu hanya miliknya dan Maham. Dia tidak akan bisa menerimanya bila Maham mengatakannya kepada selain dirinya, sekalipun itu hanya kebohongan.
"Maham?" Sinan menuntut. Menunggu. Seringainya muncul saat Maham tak kunjung mengatakan sesuatu yang ingin didengarnya.
Sinan mendekatkan wajahnya pada Maham. Membuat Maham semakin gemetar di tempatnya. "Kau tahu aku tidak akan segan menyingkirkan apapun yang menghalangi jalanku," suaranya lembut. Namun jelas itu sebuah ancaman.
Maham tersentak oleh bahaya yang akan mengincar Timur. "Ya, Sinan."
"'Ya' apa, Mahamku Sayang?"
"Aku mencintaimu."
Sinan langsung tertawa kegirangan, tak ubahnya seperti seorang anak yang berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
Di sisinya, Maham memejamkan matanya. Pikirannya terlalu kalut. Dia tidak bisa memikirkan apapun selain menghentikan Sinan dan menjauhkan Timur dari bahaya.
Sinan pada Timur, “Kau dengar kan, Cihan Hocam? Maham milikku.”
"Maham tidak mencintaimu!" bantah Timur.
Timur tak tahan lagi. Begitu saja dia menyerbu Sinan. Menarik lengan Sinan dari tubuh Maham dengan sekuat tenaga. Sinan terhuyung mundur, tidak menyangka akan serangan Timur barusan.
Mereka bertatapan. Dua pria. Satu gila karena obsesi, satu patah oleh cinta dan rasa bersalah.
“Jangan sentuh dia lagi! Dia bukan milikmu!” Timur menggeram. Sebelah tangannya mencengkeram kerah Sinan. Menyempitkan jalan nafas sang aktor.
"Milikku!" Sinan murka, lalu melayangkan pukulan.
Timur berhasil menghindar di detik terakhir dan balas mendorong tubuh Sinan dengan keras. Sinan terjatuh dengan tubuh yang menghantam cukup keras ke atas salju.
Timur menggunakan kesempatan itu untuk menarik Maham ke balik punggungnya. Matanya memindai dengan cepat keseluruhan Maham dari ujung kepala hingga kaki. “Kau baik-baik saja, Maham?”
Maham tidak mampu menjawab. Hanya sebuah anggukan kecil yang diberikannya di tengah rasa syoknya.
Tawa Sinan terdengar. Posisinya sudah terduduk di atas salju. Dengan agak sempoyongan dia mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
“Ah, aku sudah berjanji pada Maham untuk tidak melakukan apapun kepadamu. Tetapi kau tidak memberiku pilihan lain,” kata Sinan pada Timur.
Dalam sekejap, semuanya berubah menjadi situasi yang mengerikan bagi Maham. Timur dan Sinan saling memukul, saling mendorong. Darah mengalir dari bibir Timur, tapi dia tak peduli.
“Hentikan! Aku mohon hentikan!” Di sisi jalan Maham berteriak hingga suaranya tak terdengar lagi.
Dari arah jalan utama, sebuah mobil hitam bergerak ke arah mereka. Berhenti tepat di sisi mereka. Tiga orang pria turun dan dengan sigap menarik Sinan menjauh dari Timur. Dua di antara pria tersebut memegang erat kedua lengan Sinan. Menguncinya dan menariknya ke arah mobil.
“Lepaskan aku, kalian b******n! Lepaskan! Aku harus mengambil calon istriku!” Sinan berteriak, meronta, mencoba melepaskan diri. Gerakannya semakin lama semakin menggila.
Pria yang tidak memeganginya lantas menyuntikkan sesuatu ke lengan Sinan. Tak lama, gerakan Sinan mulai melemah sebelum akhirnya jatuh pingsan.
Timur dan Maham melihat semuanya. Keduanya berdiri di tepi jalan dengan Timur yang menggenggam lengan Maham erat.
Lalu salah satu dari ketiga pria itu menghampiri mereka. Berkata, “Kami adalah anak buah dari Tuan Levent Altay, ayah Tuan Sinan. Tuan Levent sudah mengetahui permasalahan yang terjadi antara Tuan Sinan dengan Nona Maham. Beliau akan menyelesaikan semuanya dan menghubungi Nona Maham. Selamat sore.”
Setelah orang-orang itu pergi, Timur menengok Maham.
“Maham —”
Belum sempat Timur mengatakan sesuatu, tubuh gadis itu limbung. Dengan sigap dia menangkap tubuh Maham ke dalam pelukannya. Matanya bergerak nyalang dalam kepanikan yang sangat.
“Maham!!!”
Maham tak bergerak.