Ruang perawatan dipenuhi aroma alkohol. Di sana, di pojok ruangan, Timur berdiri dengan tubuh tegang dan wajah kusut, memandang Maham yang terbaring di ranjang putih dengan selang infus di tangan.
Seorang dokter perempuan, berambut sebahu dan mengenakan masker medis, selesai memeriksa Maham lalu mencatat sesuatu di clipboard-nya. Ia berbalik ke arah Timur.
“Dia pingsan karena tekanan psikologis yang berat. Kami menduga ini bentuk reaksi tubuh terhadap stres ekstrem yang dialaminya.” Suara dokter tenang namun tegas.
Timur menelan ludah. Suaranya parau saat bertanya, “Apa dia akan baik-baik saja?”
Dokter mengangguk singkat. “Secara medis, dia stabil. Tapi kondisinya tetap perlu perhatian. Kami sudah memberinya cairan infus untuk mengembalikan elektrolit tubuhnya.”
Timur mengangguk pelan