“Maham, kau tahu jurusan bis yang harus kau naiki untuk ke kampusmu kan?” tanya Arsia lewat sambungan telepon.
“Iya. Aku sudah mengeceknya tadi di Google Maps,” jawab Maham, suaranya terdengar tenang, meski di dalam hati masih seperti puing-puing yang belum terkumpul kembali.
“Berhati-hatilah. Hubungi aku bila ada masalah,” kata Arsia lagi dengan nada khawatir.
“Terima kasih banyak untuk semua bantuanmu, Ars. Tolong sampaikan terima kasihku juga kepada Tuan Selim.”
Arsia tertawa kecil. “Namanya Salim, Maham. Tapi aku akan sampaikan padanya.”
Sambungan terputus.
Maham menatap layar ponselnya sejenak, kemudian menghela napas panjang. Dia sangat bersyukur karena Arsia bersedia membantunya, padahal mereka hanya kenal dari organisasi mahasiswa Indonesia di Turki. Dunia memang kadang punya