Dan rasa tak nyaman yang mengendap di dasar dadanya waktu itu mungkin adalah pertanda dari apa yang akan dilaluinya hari ini dan hari-hari berikutnya.
“Maham, ayo,” suara Luca riang, seperti biasa.
Begitu mudah bagi Luca membawa suasana santai ke ruangan yang dilingkupi keseriusan. Tapi bagi Timur, nada itu terdengar seperti bunyi gesekan logam di atas kaca.
Timur tidak menoleh ketika langkah mereka mendekat. Matanya tertuju pada peta Kirala di meja, tapi telinganya mendengar setiap gesekan sepatu di lantai, setiap tarikan napas dari arah pintu. Dalam hatinya, dia berdecih.
Luca berhenti tepat di sisi meja, menatap Timur dengan senyum lebar. “Tumben kau datang awal, Cihan. Biasanya kau akan menghisap benda beracunmu dulu.”
Tanpa mengangkat wajah, Timur menjawab datar, “Kau yang terla