Happy reading
"Mawar Ambarwati"
Aku mendikte nama itu dengan perlahan. Sudut bibirku ini tertarik dengan pelan, tersenyum?
Sepertinya begitu. Tetapi bukan senyum bahagia, aku hanya geli. Mengapa namanya begitu norak. Ah maksudku, nama itu sangat kampungan menurutku.
Wajar saja, ia kan memang gadis desa, wajarlah namanya kampungan.
Jelas berbanding jauh dengan namaku yang begitu kekinian dan elegan. Mengikuti perkembangan zaman tentunya.
Samuel Dirgantara
Itulah namaku. Kren bukan! Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan sosok Samuel.
Jika kalian bertanya siapa Mawar Ambarwati. Dia adalah gadis yang akan aku nikahi, dalam waktu dekat ini.
Bukan di jodohkan. Tapi ini salah satu cara menghindari perjodohan.
Opa memintaku segera menikah. Desakan Opa kali ini tak dapat aku hindari lagi.
Sebenarnya bukan hal sulit bagiku. Aku bisa saja menikahi wanita sesuai tipeku, tetapi zaman sekarang sangat sulit menemukan sosok wanita yang tulus.
Disekelilingku, ada banyak jenis wanita yang mendekatiku. Dan semua tak aku hiraukan, aku sedikit benci jika berbicara perihal perempuan.
Jadilah aku meminta salah satu kepercayaanku. Untuk mencarikan sosok wanita berakhlak baik dan mempunyai latar belakang yang biasa saja. Aku tidak ingin mencari wanita kaya, atau berlatar belakang dari keluarga kelas atas.
Akhirnya orang kepercayaanku membawa satu nama yang sangat unik. Ah menurutku lebih tepatnya Udik.
Dari namanya saja aku bisa pastikan ia tak berwajah cantik. Jelas, aku tak akan berekspektasi tinggi soal rupanya. Yang terpenting dia adalah sosok yang lembut dan tidak gila harta. Juga tetlaten soal pekerjaan, ia juga rajin. Biasanya gadis Desa memang selalu seperti itu. Makanya aku mencari perempuan yang berasal dari Desa saja.
Wajahnya saja aku tidak tahu. Lebih tepatnya sengaja tidak ingin tahu. Lagi pula aku tidak perduli.
Pernikahan ini hanya untuk menepati janjiku pada opa saja.
Aku berjanji pada Opa akan menikah satu bulan lagi. Dan Aku akan menemui Ambar satu minggu sebelum pernikahan.
Namanya Mawar Ambarwati. Namun, aku lebih suka memanggilnya Ambar.
Haha, karena menurutku ia tak mungkin secantik Mawar.
Aku sengaja memilihnya, tentu agar aku bisa mengendalikan hidupnya. Kelak ia akan tunduk pada aturanku.
Kututup map berisikan biodata Mawar Ambarwati, yang tanpa foto itu.
"Dodi kau urus segalanya. Aku hanya akan terima beres saat hari itu tiba. Dan ingat ini tak boleh di ketahui oleh orang lain."
Aku lalu menyerahkan map itu pada Dodi untuk di simpan.
"Baik tuan, em apa tidak ingin menemui Nona Mawar terlebih dahulu?"
Aku terkekeh geli mendengar perkataan Dodi.
Menemui Mawar? Yang benar saja. Untuk apa aku menemui gadi Desa itu. Buang-buang waktu saja.
"Aku percayakan semuanya pada kamu Dodi."
"Oh iya, aku ingin bertanya. Bagaimana bisa gadis itu menyetujui pernikahan ini begitu saja? Dan lagi kau kenal gadis itu dari mana"
Aku yakin tak mungkin gadis itu menerima pernikahan ini tanpa sebab.
Bagaimana pun aku harus tahu semuanya, agar aku bisa memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
"Mawar adalah tetangga pamanku, aku mendapatkan informasi tentangnya dari sana, selain itu, aku juga mengumpulkan informasi secara langsung melalui orang sekitarnya. Hampir semua pendapat mereka sama tentang Mawar. Baik dan tidak neko-neko. Kita datang tepat waktu. Adik dari Mawar sedang sekolah dan butuh biaya. Karena mereka butuh biaya aku pun menawarkan kesepakatan pada paman Mawar dan mereka setuju."
Aku hanya menganggukkan kepala mendengar penuturan Dodi. Sedikit merasa iba pada Gadis itu.
"Em lalu bagaimana respon gadis itu?" tanyaku lagi. Ini bukan kepo. Hanya sekedar ingin tahu saja, Beda! Kan.
"Sempat menolak namun tak punya pilihan lain. Seperti yang saya ketahui dia adalah gadis penurut dan patuh."
"Bagus, dengan begitu saya tak perlu khawatir akan di buat repot olehnya."
Aku sedikit lega. Sepertinya gadis itu tidak begitu sulit untuk aku kendalikan nantinya.
"Kemana orang tua gadis itu?" tanyaku lagi Dodi bilang ia tinggal dengan pamannya.
"Sudah meninggal, kedua orang tuanya sudah tidak ada."
Astga kasihan sekali gadi itu. Batinku
"Oh baiklah."
"Tapi anda harus berhati-hati," kata Dodi.
Membuatku menatapnya dengan bingung.
"Jangan sampai jatuh cinta padanya."
Jatuh cinta pada Ambarwati?
Ya ampun, Dodi ini bisa saja bercandanya. Apa ia sedang mengejekku.
"Pergilah Dodi aku tidak ingin mendengar leluconmu." usirku pada Dodi.
"Tapi bagaimana jika anda benar-benar di buat jatuh cinta olehnya?"
Tidak mungkin!
"Jika itu terjadi maka akan ku naikkan gajimu 3 kali lipat, sana pergilah."
"Deal ya bos,"
Balas Dodi antusias. Semakin ngawur saja. Bagaimana bisa aku di buat jatuh cinta sama gadis desa. Apa Dodi tidak melihat sekitarku, begitu banyak perempuan cantik yang berusaha meluluhkankan hatiku. Namun, tak ada satupun dari mereka yang bisa melakukannya.
Padahal mereka semua tergolong sebagai wanita karir memliki gaya hidup tinggi. Tentu tidak deso seperti Ambar itu.
Apalagi hanya karena sosok Ambarwati. Mana bisa ia meluluhkan hati sosok Samuel.
Sekarang aku tak perlu pusing masalah ini.
Semua telah kuserahkan pada Dodi.