Aku tak menyangka, akan segera melangsungkan pernikahan, pada sosok yang tidak aku kenal sama sekali. kalau di pikir, ini agak konyol.
Sebenarnya ragu. Sangat ragu!
Tetapi paman bilang dia adalah pria baik dan bertanggung jawab. Dengan menikah, aku bisa sedikit membantu adikku menyelesaikan sekolahnya.
Aku jadi berpikir, apa aku sedang menukar kebahagiaanku dengan pernikahan tak kuinginkan ini.
Tetapi tidak boleh egois. Aku hanya berharap ini keputusan terbaik. Paman tak memaksaku menerima ini, tetapi aku telah memutuskan untuk menerimanya.
Aku terus meyakinkan diri ini. Bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun, perasaan itu sirna. Saat aku tahu sosok pria yang ingin menikahiku begitu enggang bertemu denganku.
Bahkan namanya saja, aku pun tidak tau. Ia begitu menutup diri, ini sedikit menyebalkan. Jika tak siap menikah mengapa ia mesti melamarku.
Ia hanya mengutus orang kepercayaannya untuk menghubungiku, dan akan membantu mempersiapkan semuanya. Hingga fitting baju pun, aku harus sendri.
Hal yang biasanya dilakukan berdua dengan pasangan.
Pupus sudah harapanku. Mau bagaimana, aku juga seorang perempuan. Tentu menginginkan pernikahan impian.
Kini harapan itu, harus aku buang jauh-jauh.
"Mawar, mawar."
Suara Bunda Fia memanggilku. Bunda Fia adalah tanteku, dia istri om Bima yang tak lain saudara Papa.
Aku sudah menggapnya seperti ibu kandung. Bunda Fia sudah merawatku sejak aku kecil. Kami hidup pas-pasan. Kendati demikian, aku bersyukur bisa menyelesaikan sekolahku hingga ke jenjang SMA.
Aku segera beranjak untuk membuka pintu kamarku "Ada apa Bun?"
Bunda Fia terlihat menghela napas "Bunda pikir kamu ketiduran, di depan ada pak Dodi utusan Bossnya."
Kan utusannya sudah datang lagi. Kenapa tidak ia saja. Sesibuk itukah. Sampai persiapan pernikahannya saja harus melalui orang lain.
"Baik Bun, aku akan segera ke depan."
Melangkah dengan gontai, untuk menemui sosok utusannya yang tak lain adalah pak Dodi. Aku sudah tahu pak Dodi, sebab sedari awal ia yang berbicara padaku.
"Selamat siang Nona Mawar, saya membawa beberapa Desain gaun pengantin untuk anda," kata Dody sembari menyerahakn tablet miliknya.
Kuambil tablet itu. Di dalam terdapat beberapa gambar gaun pengantin. Semua terlihat mewah dan elegan.
Apa sungguh, aku di suruh memilih gaun ini. Aku yakin harga gaunnya pasti sangat mahal. Dilihat dari gambarnya saja, pastilah di desain oleh seorang desainer profesional.
"Tidak bisakah memilih gaun di butik biasa saja. Ini pasti sangat mahal."
Aku menyerahkan kembali tablet milik Dodi. Ya, sebaiknya memesan gaun biasa. Ini terlalu mahal, lagi pula pernikahan ini tidak spesial.
"Maaf Nona ini perintah tuan, anda tidak bisa menolaknya. Bukankah pernikahan adalah hal yang sakral. Saya rasa setiap orang menginginkan yang terbaik."
Benar!
Aku memang ingin yang terbaik di hari pernikahanku. Hal yang paling ku impikan, karen akan menjadi Ratu sehari. Begitulah istilah orang-orang di kampungku. Jika kita akan menikah maka akan menjadi Ratu sehari.
Namun, situasinya berbeda. Aku akan menikah dengan seseorang yang tak aku kenal.
"Pilih saja desainnya sesuai selera anda, tak perlu memikirkan biayanya. Jika sudah memilih maka saya akan kembali dalam dua hari untuk mengantar anda melakukan fitting baju."
"Baik aku akan memilih desain ini, tapi dengan satu syarat."
Dodi nampak terkejut atas perkataanku.
"Katakan apa syaratnya."
Aku terdiam beberapa saat. Sebenarnya ada rasa takut meminta syarat, takut jika ia tidak akan setuju.
Persetan dengan penolakan, aku akan tetap mengajukan syarat itu.
"Em begini, aku mau ketika fitting baju, bisakah bossmu itu yang menemaniku," pintaku dengan berani
Aku bisa menangkap raut terkejut dari wajah Dodi. Ia menatapku, seolah permintaanku ini tidak dapat di terima.
"Seperti yang anda bilang, pernikahan adalah hal yang sakral. Untuk itu aku ingin membuat pernikahanku ini sesuai impianku. Salah satu impikanku adalah melakukan fitting baju dengan manis bersama calon suamiku. Apa itu salah?"
Huh
Aku sedikit gugup mengatakan ini, tetapi aku juga mau melihat bagaimana tanggapan bos angkuh Dody. kurasa berdrama sedikit tidak ada salahnya kan.
Dody terlihat tidak percaya atas apa yang kuucapkan barusan.
"Ta_tapi Nona tuan begitu sibuk." Dodi masih saja membela bosnya. Aku jadi ragu, akankah bosnya itu bisa menerima keinginanku ini.
"Aku mohon. Sampaikan saja persyaratan ini padanya. Jika ia menolak. Maka aku akan memaksanya."
Terpaksa bersikap dramatis begini. Biar saja, agar ia tahu aku pun bisa bersikap menyebalkan.
"Baik, kalau begitu saya permisi." Dodi setuju, meski besar keraguan yang aku lihat.
Hatiku bersorak senang. Akhirnya Dodi setuju.
Aku bisa merasakan jika bosnya sebenarnya tak menginginkan pernikahan ini. Mana ada orang menikah asal pilih begini.
Apapun alasannya kuharap aku bisa menghadapinya.
***
Brak
Aku mendobrak meja dengan keras.
Tidak habis pikir pada gadi desa itu. Bisa-bisanya ia bersikap melonjak.
Memintaku menemaninya melakukan fitting baju? Heh, apa dia pikir aku akan mau menurutinya.
Dasar gadis desa, banyak maunya.
Apa susahnya si, tinggal memilih desain baju, lalu melakukan fitting sendiri.
"Dodi mengapa kau tak mengatakan jika aku pasti tidak bisa. Begitu saja kau tak bisa, he."
Protesku pada Dodi, ia cukup handal melakukan segala pekerjaan dariku. Mengapa kini, ia bisa kalah, hanya karena gadis desa bernama Ambar itu.
"Maaf tuan, Nona Mawar bilang jika tidak ingin menemaninya. Maka ia akan menggunakan gaun dari butik biasa saja."
Apa-apan. Memakai Gaun dari butik desa. Yang benar saja, bisa hancur reputasiku.
Apa kata dunia jika melihat mempelai wanitaku menggunakan gaun norak. Tidak! Aku segera menggeleng kuat.
"Selain itu Nona ingin mewujudkan impiannya."
Tunggu! impian?
Apa yang gadis desa itu impikan.
"Maksudnya?" tanyaku sedikit penasaran.
Ingat, hanya sedikit.
"Nona bilang ia begitu menginginkan fitting bersama calon suaminya. Itulah yang selama ini ia impikan."
Deg
Mengapa jantungku berdebar mendengar kata suami yang Dodi ucapkan.
Apa benar gadis desa berkata demikian. Dody melihat keraguanku.
Ia lantas mengeluarkan ponselnya dan
*Seperti yang anda bilang, pernikahan adalah hal yang sakral. Untuk itu aku ingin membuat pernikahanku ini sesuai impianku. Salah satu impikanku adalah melakukan fitting baju dengan manis bersama calon suamiku. Apa itu salah*
Aku terpaku pada suara lembut itu.
"Saya sengaja merekamnya, agar anda percaya."
"Akan saya pikirkan, kembali lah."
Aku menyuruh Dodi untuk ke luar dari ruanganku. Aku harus menenangkan jantungku.
"Ingin melakukan fitting baju dengan manis bersama calon suamiku."
Menologku mengulang kata yang terdengar dari rekaman itu.
Mengapa bagian itu terdengar begitu candu. Ah maksudku, suara itu begitu manis di telingaku.
Oh shit
Tidak! Apa yang kulakukan. Mengagumi suara gadis desa itu.
Konyol sekali.
Aku segera menggeleng kuat.