Happy Reading
Terngiang-ngiang pada permintaan gadis desa itu.
Aku masi tidak menyangka ia akan mengajukan persyaratan itu. Berani sekali ia memerintah seorang Samuel.
Apa ia tidak tahu siapa aku. Jelas tidak, ia kan gadis desa yang pasti ketinggalan berita terupdate.
Mana tau ia tentang dunia bisnis dan orang-orang di dalamnya. Baiklah, untuk kali ini aku akan mengikuti permintaannya. Kali ini saja.
Dari pada ia mengenakan gaun kampungan dihari pernikahan. Aku tidak bisa membayangkannya.
Aku segera meraih ponsel, mencari kontak Dodi lalu menghubunginya, agar segera ke ruanganku.
"Katakan pada Ambar__
" Mawar, tuan namanya Mawar bukan Ambar."
Berani sekali Dodi menyela ucapanku.
"Mawar Ambarwati Dodi, jadi tidak salah bukan, jika aku memanggilnya Ambar. Itu jauh lebih cocok untuk gadis desa sepertinya," kataku dengan kesal, menatap tajam Dodi.
"Baiklah. Terserah anda saja."
"Bilang padanya aku akan menemaninya, satu minggu lagi kau jemput dia."
"Bagus, anda memang harus menerima syarat yang di ajukan. Apa tuan tau, Nona Mawar juga berkata jika anda menolak, maka ia akan memaksa tuan."
Dodi berkata dengan serius.
Huh, apa-apan.
Mana bisa seorang Samuel di paksa. Sepertinya gadis itu cukup berani.
Baiklah, kita lihat saja nanti. Aku pastikan kau takkan berani menantangku lagi.
Ais dasar gadis desa menyebalkan.
*jika ia menolak. Maka aku akan memaksanya*
"Dengar, aku tak pernah berbohong," kata Dodi kembali menyimpan ponselnya.
Suara menyebalkan itu lagi. Apa sih Dodi ini. Mengapa harus memutar rekaman suara gadis desa menyebalkan.
"Berhenti memutar rekaman itu Dodi." ketusku entah mengapa ada getaran dalam diriku ketika mendengar suara merdunya itu.
hei, mengapa jadi memuji suaranya, biasanya suara bagus orangnya pasti jelek. kebanyakan seperti itu.
"Kenapa Tuan, apa suaranya sangat merdu." Kekeh Dodi, terlihat puas mengerjaiku.
Tanpa pikir panjang aku mengambil tisyu di atas meja. Lalu melemparkannya pada Dodi.
Semakin menyebalkan saja.
Dodi memang begitu, kami cukup akrab jadi ia tak akan sungkan melawanku.
"Ke luar! jika tidak aku akan memecatmu." Ancamku, yang di sambut galak tawa oleh Dodi. Kemudian berlalu begitu saja tanpa beban.
Bisa tekanan kalau lama-lama bersama Dodi.
***
Sedang di tempat lain. Mawar terlihat sibuk dengan rutinitas kesehariannya. Membantu Fia tantenya, sedang merapikan dagangannya. Fia memiliki kios kecil yang berisi pakaian dan berbagai barang yang sedang tren dan viral. Mereka berjualan secara online juga offline. Sesekali Mawar akan melakukan life di sosial media.
"Mawar tolong antarkan ini. Sekalian jemput Lia," kita Fia menyerahkan plastik beresikan pesanan.
Selain berjulan di rumah. Mawar juga kerap kali mengantarkan pesanan para langganannya. Berperang sebagai kurir.
"Baik Bun, kalau gitu Mawar jalan dulu."
"Hati-hati sayang."
Mawar mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Sembari bersenandung ria.
Ia begitu menikmati pekerjaannya itu.
Setelah mengantar pesanan, di beberapa alamat. Mawar kini menuju sekolah Lia.
Lia adalah adik Mawar, lebih tepatnya anak Fia. Mawar sudah menganggap Lia seperti adik kandung, sebab sedari kecil ia bersama Lia.
Lia kini berusia 11 tahun, sedang duduk di kelas enam Sekolah Dasar.
Karena sangat asik Mawar sampai tidak menyadari ada mobil dengan kecepatan lumayan cepat. Mobil itu seperti ingin mendahului Mawar. Namun, sedikit mengambil jalur Mawar.
Mawar yang kaget akhirnya melakukan rem mendadak, hingga kehilangan keseimbangan, dan berakhir jatuh.
Shit "Apa kau tidak bisa membawa mobil dengan benar." Kesal orang itu
"Cepat turun bantu gadis itu," titahnya lagi
Mawar meringis memegangi sikunya yang lecet. Kini memerah mengeluarkan darah, tidak banyak. Namun, sangat perih.
"Maaf Nona, lain kali cobalah berhenti-hati, dan perhatikan sekitar anda."
Mendengar ucapan orang tersebut, membuat Mawar mendengus kesal. Bukankah Ia yang bersalah,mengapa justru marah. Mawar lantas bangkit.
"Hei pak. Andalah yang tidak berhati-hati. Anda hampir saja menyerempet saya," kesal Mawar pada orang itu. Yang seharusnya meminta maaf, tetapi justru marah-marah menyalahkan Mawar.
Sosok yang berada di mobil, memperhatikan bagaimana sopirnya, sedang berdebat dengan gadis yang hampir mereka senggol.
Melihat mereka telah menjadi pusat perhatian pengendara lain. Ia segera turun dari mobil.
"Saya akan mengganti rugi, sebagai tanggung jawab saya. Ini kartu nama saya, dan saya sedang terburu-buru. Hubungi saja nomor itu jika terjadi sesuatu."
Setelah mengatakan itu, mereka berdua berlalu meninggalkan Mawar.
Mawar menatap kartu nama yang kini berada di genggamannya.
"Zaki."
Beo Mawar membaca kartu nama itu.
Di sana juga tertera nomor handphone.
Mawar meremas dan merobek kertas itu. Ia tak habis pikir pada sikap orang kaya.
"Apa semua orang kaya bersikap sombong." lirihnya
Apa mereka pikir semua bisa di selesaikan dengan uang. Huh. Benar-benar.
Astaga Lia. Aku harus segera ke sekolah Lia.
Segera kuambil motorku yang tergeletak. Dan melaju ke sekolah Lia.
Untung saja aku belum terlambat.
Kulihat Lia sedang berjalan sendiri, lalu tiba-tiba datang satu anak yang berseragam sama dengan Lia. Aku yakin itu teman Lia, tetapi ada yang aneh, semakin dekat, aku merasa mereka sedang tidak mengobrol. Lebih terlihat seperti seorang musuh.
Oh my good.
Aku segera berlari, menghampiri. Mereka hampir saja saling tarik rambut.
Benar dugaanku. Mereka tengah bertengkar.
Aku pun melerai keduanya.
"Ada apa ini?" Hingga suara bas seseorang menghentikanku. Mereka pun terdiam.
Huh, aku yang sedari tadi mencoba melerai tak di hiraukan.
"Kakak dia yang memulai lebih dulu." Kata anak bekepang dua. Ia mengadu pada kakanya.
Aku tidak terima, jelas yang memulai anak itu. Ia yang datang menghampiri Lia dan berakhir ribut begini.
"Tidak! bukan saya, tapi kamu." Lia akhirnya membela diri.
Aku hanya diam menyimak, ini urusan anak-anak, jika aku ikut campur. Akan kacau, aku juga ingin melihat respon kakak anak itu.
"Kakak dia berbohong bukan Angel yang memulai."kata bocah itu lagi, kali ini ia menangis merengek.
Aku hanya bisa menghela napas kasar.
Ck. Pandai sekali anak itu berdusta. Aktingnya sangat bagus.
Aku masih diam. Selagi kakanya tidak ikut campur, maka masi aman. Kurasa kakaknya tidak melihatku karena posisinya memunggungiku.
"Hai orang kismin jangan bertingkah brutal di sekolah. Ingat kamu itu, masi kecil," katanya tanpa perasaan dan menatap tajam ke arah Lia
What the ***
Tidak bisa di biarkan
"Jaga sikapmu tuan kaya raya, adikmu lah yang mencari masalah lebih dulu. Aku melihat dengan jelas jika adikmu yang lebih dulu menganggunya."
Mendengar ucapanku Ia pun berbalik.
Dan
Shit
Ternyata Ia adalah orang yang sama, yang hampir menabrakku.
Ia terlihat tekejut, tetapi kembali berekspresi datar.
"Tak usah ikut campur. Apa kamu mengikutiku untuk meminta tanggung jawab, ck dasar orang susah lain kali pake trik yang lebih menarik," katanya lagi, sambil menurunkan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
"Sebut saja nominalnya." Sambungnya lalu menyerahkan cek padaku.
"Hubungi aku jika masih kurang."
Plak.
Aku menamparnya dengan keras, bagiku ia sudah keterlaluan.
"Jaga ucapanmu tuan, saya memang orang miskin tapi saya tidak serendah anda." Dadaku naik turun saking emosinya.
Lalu ko sobek cek yang ia berikan dan membuangnya tepat di hadapannya.
"Saya tidak butuh uangmu, Lia ayo kita pulang."
Kutarik Lia untuk menjauh dari orang-orang sombong seperti mereka. Hatiku memanas. Mengapa orang kaya, selalu bersikap semaunya.