Happy reading
Aku menghempas diri ke atas kasur empukku. Ingatanku kembali pada kejadian siang tadi. Gadis itu sungguh berani mengataiku rendahan.
Cih. Menyebalkan. Tetapi wajahnya sangat manis.
Ini semua berawal dari Angel. Niat awalku hanya ingin menggoda teman Angel itu, lagi pula aku juga tau siapa yang salah. Aku hanya ingin menghibur Angelku yang manja, siapa sangka justru menjadi masalah. Membuat gadis itu murka.
Berakhir justru aku yang di maki.
Aku bukannya tidak menyadari kehadiran gadis tadi. Aku hanya sengaja tak menghiraukan kehadirannya.
Aku kira, gadis itu sungguh mengikutiku. Bukan salahku juga, selama ini aku sering berjumpa dengan tipe seperti itu. Berujung meminta pertanggung jawaban berupa materi.
Namun, gadis tadi rupanya berbeda. Ia begitu murka dengan perkataanku. Kupegang pipiku yang tadi di tamparnya. Sudut bibirku terangkat. Mengingat wajah manisnya.
Sial.
Apa yang terjadi padaku. Harusnya aku marah, tetapi justru tersenyum. Mengingat makian gadis itu padaku. Belum lagi, tamparan tangan lembutnya di pipiku. Bukannya merasa panas, pipi justru menghangat.
hais, perasaan apa ini! Mendebarkan saja. ah, maksudku menyebalkan.
Dia adalah wanita pertama menamparku.
"Kau harus bertanggung jawab Nona."
***
Setelah tiba di rumah, segera kuletakkan taskku. Dan bersaip melakukan live di salah satu akun sosmedku. Sudah menjadi rutinitas sehari-hari, setelah menjemput Lia. Aku akan melakukan live streaming.
Kuletakkan semua alat tempur yang akan aku gunakan. Juga menyusun barang-barang yang sedang tren. Begitulah, jika menjadi penjual online maka kita harus pandai menarik konsumen. Biasanya barang viral akan menjadi incaran mereka.
Aku melakukan live kurang lebih dua jam. Alhamdulillah ada banyak pesanan. Segera kupacking, karena kurir akan segera menjemput.
Ya, hari ini aku tidak akan terjun langsung mengantarkan setiap paket. Karena motorku kotor, akibat jatuh tadi, dan aku sedikit lelah.
Mengingat kejadian tadi. Sungguh membuat moodku sangat hancur.
Menyebalkan. Sombong. Tidak berprikemanusiaan.
Itulah gambaran orang yang tadi menyambar motorku. Dengan entengnya memberiku cek tanpa meminta maaf.
Huh. Dasar orang kaya. Suka seenaknya saja.
Hari yang sangat melelahkan. Aku akhirnya memilih untuk tidur.
"Kak Mawar."
"Kakak."
Samar-samar aku mendengar suara Lia memanggilku. Dengan berat aku membuka mata dan beranjak dari kasur kebesaranku.
"Lia, ada apa,"
tanyaku pada Lia, yang kini berdiri di ambang pintu kamar.
"Di depan ada yang cari kak Mawar," kata Lia lagi, lalu meninggalkan kamarku begitu saja, tanpa memberi tahu siapakah gerengan yang mencariku.
Kukucek mataku lagi dengan kesal. Dalam hati mengutuk siapa yang telah menganggu tidur siangku.
Oh my. Mataku membulat melihat jam di layar ponsel, ternyata sudah pukul empat sore. Rupanya aku sudah cukup lama tertidur.
Aku jadi berpikir siapa yang mencariku. Apakah langgananku. Biasanya mereka memang lebih memilih untuk datang langsung ke rumah.
Dengan mode dasteran juga rambut yang hanya kukuncir kuda. Segera kedepan menemui sosok yang mencariku.
"Selamat sore Nona Mawar."
Suara orang itu menyapaku, tunggu! kenapa aku merasa familiar dengan suara itu.
Deg.
Aku terkejut, melihat sosok yang kini ada di hadapanku. Dengan gaya angkuhnya, ia duduk menyilangkan kaki di atas sofa kecil rumahku.
Ia menatap ke arahku dengan tatapan sulit diartikan. Entah, kurasa ia ilfeel melihat penampilanku yang dekil.
Namun, aku tak perduli.
Bagiku dia adalah manusia tak berprikemanusiaan.
Zaki. Ya Dia yang kemarin kutampar.
Entah dari mana ia mendapat alamat rumahku.
Ah, aku jadi lupa ia kan orang kaya. Jadi, bukan hal sulit hanya untuk mendapat alamat saja.
Mataku celingkuk kesana kemari. mencari keberadaan Bunda. Namun, tidak ada.
Kemana Bunda? tanyaku dalam hati.
Jika tau tidak ada Bunda, aku tidak akan keluar menemuinya.
Aku berpikir untuk kabur dari hadapan makhluk sombong ini. Biarkan saja ia menganggapku tak sopan.
Dengan perlahan Kumundurkan langkahku. Sedikit lagi berhasil, tetapi perkataan selanjutnya membuat langkahku terhenti begitu saja.
"Saya hanya ingin meminta maaf. Jadi tolong beri saya waktu untuk berbicara denganmu," katanya lagi, kali ini terdengar lebih tulus. Mungkin saja hanya sandiwara .
Kurasa pendengaranku mulai terganggu. Apa perlu aku ke THT memeriksa kupingku ini.
Aku mendengar ia meminta maaf. Yang benar saja. Ingatanku pada sikap sombongnya kemarin, begitu terekam jelas. Mana bisa sekarang ia meminta maaf.
"Saya sungguh minta maaf, " lagi, ia berkata. kan jadi tidak tega. Beginilah jadinya jika jadi manusia tidak enakan.
Dengan terpaksa aku duduk di sofa, berhadapan dengan sosok angkuh itu.
"Zaki."
Ia mengulurkan tangannya padaku. Apa ini! Apa ia sedang memperkenalkan diri.
Apa ia mengulang sesi perkenalannya.
Kemana sikap sombongnya kemarin? Yang melempar cek berisikan namanya dan sejumlah uang.
Aku tidak boleh percaya begitu saja.
"Mawar." Kuterima uluran tangannya. Namun dengan ekspresi datarku. Lalu segera melepas tautan tangan kami.
"Emm, saya sungguh minta maaf atas kejadian kemarin. Niat saya hanya menggoda Adikmu, maaf."
Enteng sekali ia berkata demikian.
"Tidak apa, lagi pula kami sudah terbiasa dengan sikap orang kaya yang seperti itu." Sengaja menyinggung sedikit.
Raut wajah Zaki terlihat tidak enak.
Sengaja aku berkata demikian, agar ia merasa dan tau. Tidak selamanya orang miskin bisa ia tindas seenaknya.
"Maaf, sekali lagi saya minta maaf."
"Saya sudah memaafkan, saya juga bersalah dalam hal ini."
"Kalau begitu, bisakah kita berteman," ujarnya lagi. Aku sebenarnya sangat malas.
"Tentu saja," jawabku dengan sedikit senyum. Hati dan mulutku selalu saja berkhianat. Harusnya kutolak saja.
"Sebagai tanda pertemanan bisa kah nan...
Ucapannya terhenti karena kedatangan Lia.
"Kak Mawar, Barusan Bunda nelfon. Katanya besok calon suami kakak datang jemput kak Mawar," kata Lia memberitahu.
Mendengar itu, aku jadi semakin pusing saja. Urusan Zaki belum kelar, sekarang Calon suami dadakan itu lagi. Huh kenapa hidupku penuh drama sekali. Tetapi info Lia barusan, cukup membantuku lepas dari Zaki. Meski sebenarnya sama saja.
Mereka sama-sama gak berprikemanusiaan lagi. Kan, jadi sebal.
"Em, ah iya baiklah. Akan kakak ingat."
Aku sedikit merasa canggung. Bagaimana pun ada orang lain di sini.
"Wah selamat, ternyata kamu akan segera menikah. Saya tunggu undangannya."
Zaki tak lagi melanjutkan perktaannya, justru memberiku selamat. Ku balas dengan anggukan saja.
"Kalau begitu saya permisi dulu, sampai jumpa."
Aku akhirnya pamit, dari rumah gadis bernama Mawar itu. Tak menyangka rupanya ia akan segera menikah.
Kubanting stir mobilku dengan kuat. Apa-apan ini, kenapa aku merasa kesal. Mengetahui ia akan segera menikah. Dengan siapa? Siapa lelaki yang bisa melukuhkan hati gadis manis itu.
Tidak mungkin juga aku menyukainya. Namun, tidak bisa aku pungkiri. Aku sungguh tertarik padanya. Dia gadis yang unik dan tidak biasa.
Dia sungguh berbeda.
sial! rupanya aku menyukai calon istri orang.
kulajukan mobilku dengan sedikit cepat. Hatiku benar-benar panas sekarang.