Happy reading
Pagi yang cerah, tetapi tidak secerah hatiku. Maksudku moodku pagi ini kurang baik.
Aku teringat pada berkas yang di beri Tedi semalam. Tanpa menunggu lama, segera kuriah map itu.
Kubaca dengan teliti setiap info tentang Mawar. Aku sengaja menyuruh Tedi, untuk mencari tahu tentang gadis itu. Dalam waktu dua jam Tedi sudah mengumpulkan informasi yang kuminta. Namun, semalam aku ada urusan mendadak. Sehingga aku baru sempat melihatnya pagi ini. Info yang Tedi dapat sangat dvanya saja ada satu yang tidak bisa aku tahu.
"Mawar Ambarwati."
Nama yang angat unik. Seperti orangnya.
Dia akan segera menikah. Dan ini pilihan orang tuanya. Lebih tepatnya paman dan tantenya. Pantas saja, reaksinya tadi terlihat begitu malas. Saat adiknya menyebut kata calon suami.
Rupanya ia terpaksa. Sudut bibir ini kembali tertarik. Sepertinya ini akan memudahkanku.
Namun, aku merasa sedikit aneh. Pasalnya, tak sedikit pun Tedi dapat mengorek informasi, tentang siapa calon suaminya. Minimal Nama atau marganya, tetapi secuil infopun tak dapat Tedi temukan. Sangat aneh.
Aku sangat yakin, jika sosok itu bukanlah orang sembarangan. Ia bisa menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi. Tedi yang sudah merupakan kepercayaanku saja tidak bisa mendapat informasinya.
Terlalu larut akan rasa penasaran terhadap Mawar, aku sampai tak melihat telfon dari kantor.
Oh shut
Aku lupa ada meeting pagi ini. Ck semua ini karena Mawar. Gadis desa itu sangat...ah sudahlah. Aku akan terlambat.
**
"Wah kak Mawar cantik sekali." Puji Lia antusias,ia menatapku penuh binar. Berbeda dengan aku yang agak kesal.
Bagaimana tidak! Tadi pagi, tiba-tiba ada kurir yang membawa paket. Isinya berupa dress dari sosok angkuh yang tak lain adalah calon suamiku. Kenapa sih dia begitu misteri.
Aku kesal, kenapa harus mengirim dress segala. Yang lebih bikin kesal, ia pun menitip surat. Kalian tahu apa isi suratnya.
Ia bilang aku tidak boleh mengecewakannya dengan tampilanku yang norak.
Ngeselin banget kan. Belum apa-apa udah bikin tekanan saja. Lihat saja, akan kubalas dia.
Dengan terpaksa aku mengganti dressku, Lia dan Bunda justru memuji dres pemberian orang sombong itu.
Aku akui dress ini memang sangat bagus. Pasti harganya juga mahal. Setelah acara ini, apa aku preloved saja. Kan, jiwa bisnisku meronta-ronta lagi.
"Kakak Cantik banget, Bunda yakin nanti calon suami kamu pasti terpesina sama anak Bunda."
Aduh Bunda maaf, aku justru ingin membuat dia ilfeel sama aku.
"Bunda jangan Goda Mawar terus." rengekku pada Bunda.
Bunda hanya terkekeh, mendengarku
Tak berselang lama suara klakson mobil terdengar.
"Nona Mawar." Dodi memasuki Rumah Mawar ia sedikit menunduk. Menyapa Mawar juga Bundanya.
"Pak Dodi. Cepat sekali. Saya bahkan belum siap," kata Mawar.
Matanya memicing, mencari sosok bos dari Dodi.
"Benar Nona, Tuan Samuel meminta saya untuk menjemput anda lebih awal."
Mawar mendengus kesal. "Memang ke mana dia?" tanya Mawar, merasa tak puas. Terlebih mereka sudah sepakat berangkat bersama.
"Tuan masi ada urusan di kantor, jadi Ia akan menyusul ke butik."
Mawar tak lagi mengajukan pertanyaan. Ia segera pamit pada Fia sang Bunda lalu masuk ke dalam mobil Dodi dengan perasaan sedikit kesal.
Ia begitu kesal pada Samuel. Yang selalu seenaknya. Semalam mengiriminya dress untuk Mawar pakai. Sekarang bahkan ia tak datang menjemput Mawar.
Mawar bukan sangat ingin dekat dengan Samuel hanya saja ia menyusun rencana untuk membuat Samuel tidak lagi bertingkah sesukanya.
Sepanjang jalan, Mawar tak banyak bicara, hanya duduk dalam diam. Menatap arah luar jendela.
Dodi tanpa sengaja melihat Mawar dari spion mobil. Ia menyadari ketidak nyamanan gadis itu. Entah apa yang dj pikirkannya.
"Masih jauh ya, Pak?" tanya Mawar. Merasa sudah sangat jenuh dengan situasi seperti ini.
"Sebentar lagi Nona."
"Saya berharap anda bisa merubah Tuan Samuel, agar bisa seperti dulu."
Spontan Mawar menatap Dodi, ia bingun mendengar perkataan Dodi.
"Maksud pak Dodi apa ya?" tanyanya tak mengerti.
"Nona akan tau nanti saat bersama Tuan Samuel."
Bahkan Dodi pun mulai bersikap misterius.
Kenapa orang-orang suka sekali bikin penasaran. Apa mereka tidak berpikir, bagaimana jika aku mati penasaran.
Tidak tidak. Aku segera menggelengkan kepala.
"Silahkan Nona."
Dodi membuka pintu untuk Mawar. Mawar pun turun dengan anggunnya.
Setelah memarki mobil, Dodi menyusul Mawar ke dalam.
Mereka di sambut hangat oleh pekerja toko. Mawar sendiri takjub, melihat betapa besar butik ini.
Matanya terkagum-kagum.
Begitu banyak gaun mewah yang terpampang.
"Nona bisa mencobanya jika tertarik."
Salah satu keryawati menawarkan pada Mawar. Mawar hanya mengangguk kaku.
Mana berani mencoba gaun ini. Takut lecet. Mawar tidak punya uang untuk ganti rugi.
Dodi sudah ke luar, sepertinya ada urusan. Mawar pun paham, tidak mungkin juga Dodi akan ikut bersamanya untuk melihat gaun.
Mawar terus berkeliling, menyusuri butik itu. Matanya begitu berbinar melihat ke indahan gaun-gaun yang terpajang.
"Boleh saya mencoba yang ini?" tanya Mawar. Namun, bukannya menjawab karyawti tersebut justru balik bertanya
"Maaf apa anda Nona Mawar?" tanya dia orang karyawti yang memakai seragam yang sama. Mawar pun mengangguk saja. Meski sedikit bingung.
"Silahkan ikut kami, Kami sudah ada desain baju khusus, untuk anda lihat."
Mawar pun mengikuti mereka.
Sedang di lobi, terlihat sosok berpakaian rapi dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Turun dari mobil mewahnya.
Dia adalah sosok Samuel.
Dodi segera menghampiri bosnya itu.
"Aku pikir anda tidak akan datang." Sindir Dodi.
Samuel mengangkat bahu acuh. "Dodi ku harap kamu tidak banyak bicara. Au sangat malas mendengar ocehanmu itu."
"Terserah Tuan saja. Masuk lah Nona Mawar sudah ada di dalam."
"Jadi Gadis Desa itu sudah ada di dalam?"
"Jika tidak, mana mungkin aku berada di sini."
"Kau tunggu saja di sini." kataku lagi.
Ada apa dengan Dodi? mengapa sekarang ia begitu berani menantangku. Apa ini pengaruh gadis desa itu. Ckk, dasar Dodi baru beberpa waktu, sudah terkontaminasi saja dengan si Ambar.
Ah berbicara soal Ambar Ambar. Aku jadi penasaran. Eh, kenapa juga harus penasaran. Pastilah mukanya biasa saja. Tidak canti atau bahkan jelek.
Aku hanya penasaran pada dres yang kukirim. Apa itu cocok dengan gadis itu.
Harusnya cocok, tetapi ia kan gadis desa. Pakai apapun pasti tetap saja terlihat kampungan.
Kenpa jadi mikirin dia sih. Yang jelas-jelas biasa saja.
Meski belum lihat wajahnya secara langsung. Tapi instingku dan aku yakin seribu persen. Jika Ambar Gadis Desa itu berwajah tidak cantik.
Aku segera ke dalam ingin cepat-cepat melihat gadis... eh maksudku ingin cepat-cepat pulang setelah ini.
***
Mawar masih setia menunggu di ruang ganti. Para pekerja butik, sudah mempersilahkan dirinya untuk mencoba berbagai gaun. Namun, di tolaknya.
Mawar hanya ingin menunggu Samuel datang. Seperti janji Samuel padanya. Tidak begitu memikirkan soal gaun, Mawar merasa tak perlu memilih. Ia akan memakai gaun apa saja, asalkan nyaman saja.
Jam sudah hampir pukul dua belas siang, tetapi Samuel tak kunjung datang.
"Nona Mawar."
Dodi memasuki ruang ganti dengan sedikit tergesa-gesa.
"Apakah sudah selesai? tanya Dodi lagi
"Selesai apa Dodi, aku masi menunggu tuanmu itu." Kesal Mawar, hilang sudah sebutan pak Dodi. Mawar seperti tak sadar, efek kesal. Umur mereka memang terbilang tidak bedah jauh.
Mendengar itu Dodi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi bingung.
"Tapi Tuan Samuel baru saja pergi, aku kira kalian sudah melakukan feetting," kata Dodi lagi. Ia melihat Samuel ke luar dari butik. Dengan sedikit tergesa-gesa.
Dodi jadi sadar akan sesuatu. sepertinya Samuel ada urusan mendadak.
"Maksudmu ia sudah pergi? Ada apa dengan bosmu itu, mengapa sangat angkuh." Mawar begitu jengah pada sikap Samuel.
"sepertinya Nona, saya akan memghubunginya dulu."
Dodi merasa kesal pada Samuel. Karenanya ia jadi kena imbas kemarahan Mawar.
"Bilang pada si angkuh itu, jika tidak bisa memenuhi permintaanku. maka tak perlu melanjutkan pernikahan ini."
Setelah mengatakan itu. Mawar meninggalkan butik dengan langkah cepat. Ia menghiraukan Dodi yang terus memanggilnya.
Mawar tidak peduli lagi pada pernikahan itu. Hatinya merasa dongkol.
"Buang-buang waktu saja."
Mawarpun menaiki taksi untuk segera pulang.
Dodi hanya bisa mengusap kepalanya dengan gusar.
" oh Tuhan kepalaku sangat pusing."