Toko jas bekas di Pasar Senen buka pukul tujuh. Reyhan masuk dengan uang tunai dan keluar setengah jam kemudian sebagai orang lain. Kemeja kantoran lusuh, kacamata berbingkai tebal tanpa minus, tas kerja kulit imitasi, dan rambut yang ia basahi lalu sisir ke samping rapi. Penampilan seorang pegawai administrasi yang membosankan. Orang yang matanya akan melewatimu tanpa singgah.
Identitas palsu pertamanya bukan buatan organisasi. Ia membuatnya sendiri, dari ingatan pelajaran dan insting jalanan. Nama yang ia pakai: Arif Santoso. Nama yang begitu umum sampai terasa seperti tak punya wajah. Ia melatih cara berjalan baru di depan kaca toko — sedikit membungkuk, langkah pendek, bahu turun. Reyhan yang asli berjalan tegak dan waspada. Arif Santoso berjalan seperti orang yang lelah mengejar setoran.
Ia menyewa kamar kontrakan harian di gang sempit kawasan Jatinegara, membayar tiga hari di muka, mengisi buku tamu dengan tulisan tangan yang sengaja ia ubah. Pemilik kontrakan, ibu paruh baya bermata curiga, hanya melihat sekilas. Arif Santoso terlalu membosankan untuk dicurigai. Itulah seninya: menyamar bukan berarti menjadi orang yang mencolok, melainkan menjadi orang yang begitu biasa sampai tak ada yang ingat.
Di kamar itu, Reyhan menyusun rencana. Ia tak bisa lari selamanya. Uangnya akan habis dalam seminggu. Ia butuh sekutu, atau setidaknya informasi. Ia menulis daftar di kepala, tak pernah di kertas. Siapa yang bisa memberi tahu nasib Bu Laras? Siapa yang tahu apa itu Sandi Merah sebenarnya? Siapa pengkhianatnya?
Ia teringat satu nama: Pram. Teman seangkatannya saat pelatihan, satu-satunya orang yang ia anggap sahabat di dunia ini. Pram ditempatkan di bagian arsip, akses ke sistem internal. Jika ada yang bisa mencari tahu siapa yang membocorkan posisinya semalam, itu Pram. Tapi menghubungi Pram berarti membuka pintu — dan setiap pintu yang ia buka bisa menjadi jebakan.
Reyhan memutuskan mengambil risiko terukur. Ia membeli ponsel baru dan kartu perdana dengan identitas Arif Santoso. Lalu, alih-alih menelepon, ia mengirim pesan lewat akun lama yang hanya dikenal Pram, kode mereka dari masa pelatihan: "Si juru masak kehabisan garam." Artinya: aku dalam bahaya, balas hanya jika aman.
Sepuluh menit. Dua puluh menit. Lalu balasan datang: "Warung mana? Aku bawa garam." Aman. Pram aman, dan bersedia bertemu. Mereka menyepakati tempat netral — perpustakaan kota, lantai dua, rak sejarah, pukul empat sore. Tempat umum, banyak pintu keluar, sepi tapi tak mencurigakan.
Reyhan menghabiskan siang dengan memata-matai dirinya sendiri — maksudnya, membayangkan bagaimana pemburunya berpikir. Jika mereka punya akses ke sistem organisasi, mereka bisa melacak wajahnya lewat kamera kota. Karena itu Arif Santoso harus konsisten: kacamata, bungkuk, langkah lelah. Wajah yang sama tapi gerak tubuh yang berbeda kadang lebih efektif daripada topeng.
Pukul empat kurang sepuluh, ia sudah di perpustakaan, duduk di rak sejarah dengan buku terbuka yang tak ia baca. Matanya mengawasi tangga. Empat lewat lima, Pram muncul — wajah familiar itu, sedikit lebih pucat dari biasanya, mata bergerak-gerak gelisah. Reyhan hampir lega. Hampir.
Tapi naluri jalanan yang menyelamatkannya semalam kembali berbisik. Pram tidak pernah gelisah. Pram adalah orang paling tenang yang pernah ia kenal, yang bisa tertawa saat instruktur memarahi mereka. Dan kini, di balik Pram, di tangga yang sama, dua pria berjaket gelap naik dengan langkah yang terlalu teratur untuk pengunjung perpustakaan biasa.
Reyhan menutup buku perlahan. Jantungnya berdegup, tapi tangannya — sekali lagi — tenang. Identitas palsu pertamanya akan diuji lebih cepat dari yang ia kira.