Reyhan tidak berdiri. Berdiri akan menarik perhatian. Ia tetap duduk, menundukkan kepala ke buku, membiarkan kacamata tebal dan postur bungkuk Arif Santoso melakukan tugasnya. Dari sudut matanya, ia melihat Pram berhenti di tengah rak, memutar kepala mencari, wajahnya berkeringat. Dua pria berjaket gelap berpencar — satu ke ujung kiri rak, satu ke kanan, mengepung tanpa terburu-buru.
Pram tidak datang sendiri. Entah ia dipaksa, entah ia berkhianat. Reyhan tak punya waktu untuk memilah mana. Yang pasti, kode "warung mana, aku bawa garam" telah dibocorkan atau dipantau. Dan itu berarti satu kebenaran pahit: bahkan sahabatnya pun tak bisa ia percaya lagi.
Ia bangkit pelan, menyelipkan buku ke rak, dan berjalan — tidak ke tangga utama, melainkan ke pintu darurat di ujung lorong yang sudah ia tandai sejak tadi. Langkah lelah Arif Santoso, tidak terburu, tidak mencolok. Salah satu pria berjaket menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan. Wajahnya tak cocok dengan foto yang mereka bawa. Reyhan menahan diri untuk tidak mempercepat langkah. Disiplin. Disiplin adalah perisai.
Ia mencapai pintu darurat, mendorongnya, dan menuruni tangga beton yang berbau lembap. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia berlari. Di lantai dasar, ia membaur dengan rombongan anak sekolah yang sedang study tour, keluar lewat pintu samping, dan menyeberang jalan dengan kepala tertunduk. Di seberang, ia menengok sekali. Pram berdiri di jendela lantai dua, menatap ke jalan, wajahnya — Reyhan terkejut — bukan wajah pengkhianat yang puas. Itu wajah orang yang ketakutan. Orang yang menyesal.
Reyhan menyimpan gambar itu dalam ingatan dan terus berjalan.
Malam itu, di kontrakan Jatinegara, ia duduk dalam gelap dan menghitung. Siapa saja yang tahu kode dirinya dengan Pram? Hanya mereka berdua, dan instruktur pelatihan yang dulu mengajari sandi-sandi itu. Jika sistem organisasi yang membocorkan, berarti pengkhianat punya akses arsip pelatihan. Jika Pram sendiri yang membocorkan, berarti Pram ditekan oleh seseorang yang sangat kuat. Kedua kemungkinan menunjuk ke arah yang sama: pengkhianat ada di posisi tinggi.
Ia memikirkan semua orang yang ia kenal di organisasi. Damar si logistik, yang nomornya muncul malam pertama. Instruktur. Koordinator wilayah. Dan Bu Laras. Setiap kali pikirannya sampai pada Bu Laras, ada yang menolak di dalam dadanya. Tapi logika tak peduli pada perasaan. Bu Laras adalah satu-satunya yang tahu seluruh rencana malam pertama — kafe, paket, kos. Bu Laras adalah simpul tempat semua benang bertemu.
Reyhan menutup matanya. Ia teringat hari pertama bertemu Bu Laras, lima tahun lalu, di kantor polisi tempat ia ditahan karena perkelahian gang. Perempuan berpakaian rapi itu masuk, membaca berkasnya, lalu berkata, "Kau terlalu pintar untuk membusuk di sini." Bu Laras yang membayar dendanya, yang membiayai sekolahnya, yang melatihnya menjadi seseorang. Mungkinkah orang itu kini ingin ia mati?
Ia tak punya jawaban. Dan ketidaktahuan itu lebih melelahkan daripada pengejaran fisik. Tubuh bisa berlari; pikiran tak punya tempat sembunyi.
Di luar, kota berdengung dengan suara klakson dan azan Isya yang bersahutan. Reyhan membuka jendela sedikit, menghirup udara malam. Ia menyentuh sol sepatunya — kartu memori masih di sana. Sandi masih di kepalanya. Selama dua benda itu tak menyatu di tangan musuh, ia masih punya nilai. Dan nilai berarti ia masih dibutuhkan hidup-hidup. Untuk sekarang.
Ia memutuskan satu hal: ia tak akan menghubungi siapa pun lagi secara membabi buta. Ia akan memburu balik. Jika ada pengkhianat, pengkhianat itu meninggalkan jejak. Dan Reyhan, anak gang yang dibesarkan untuk membaca jalanan, tahu cara mengikuti jejak. Ia hanya perlu satu petunjuk pertama. Satu nama. Satu retakan di dinding kebohongan ini.
Esok pagi, ia akan mulai mencarinya.