Petunjuk itu datang dari arah yang tak ia duga: dari Pram.
Tiga hari setelah perpustakaan, sebuah pesan masuk ke ponsel Arif Santoso — ke nomor yang ia kira tak diketahui siapa pun. Reyhan membekukan diri saat membacanya. "Aku tahu kau marah. Aku tak punya pilihan. Mereka pegang adikku. Sebelum mereka sadar aku kirim ini: cari nama operasi 'Camar'. Bu Laras bukan yang kau kira. Hati-hati pada orang yang paling kau percaya. — P"
Reyhan membaca pesan itu sampai hafal, lalu menghapusnya. Jantungnya berlomba. Bagaimana Pram tahu nomor ini? Lalu ia mengerti, dan rasa dingin menjalar di tengkuknya. Nomor baru ini memang anonim, tapi ia tak pernah benar-benar bersih. Ia memakainya untuk membalas kode Pram saat pertemuan di perpustakaan tempo hari — "Warung mana? Aku bawa garam" masuk lewat akun lama mereka, dan setiap balasan meninggalkan metadata: nomor pengirim, jam, menara pemancar terdekat. Pram bekerja di arsip; ia punya akses ke log komunikasi internal. Ia tak perlu menebak siapa Arif Santoso — ia tinggal menarik nomor yang membalas sandi pelatihan mereka tiga hari lalu, sandi yang hanya mereka berdua tahu. Jejaknya logis, bukan ajaib. Dan itu berarti satu hal yang membuat Reyhan waspada: jika Pram bisa menariknya dari log, siapa pun yang mengawasi Pram pun bisa.
Tapi Pram memilih mengirim peringatan alih-alih melaporkan posisinya. Itu berarti Pram, meski terjebak, masih di pihaknya. Atau ini jebakan berlapis untuk membuatnya percaya. Reyhan menyimpan kedua kemungkinan, dan bertindak berdasarkan yang bisa diverifikasi. Yang pasti, ia harus mengganti nomor ini secepatnya.
Operasi Camar. Nama itu tak ada dalam pengarahan mana pun yang pernah ia terima. Ia membutuhkan akses arsip, dan ia tak bisa masuk lewat pintu depan. Tapi anak gang punya pintu sendiri. Reyhan teringat seorang kenalan lama, Bang Topan, mantan teknisi yang sekarang mengelola kios servis ponsel sekaligus, secara diam-diam, menjual jasa "menggali" data bagi yang mau membayar. Bukan kelas atas, tapi cukup untuk menggali catatan publik dan setengah-rahasia.
Di kios sempit berbau timah solder, Bang Topan menatapnya lewat asap rokok. "Lama nggak ketemu, bocah. Kau kelihatan kayak orang yang dikejar setan." Reyhan tersenyum tipis, meletakkan uang di meja. "Aku butuh apa pun soal nama 'Camar'. Operasi, perusahaan, yayasan, apa saja. Diam-diam." Bang Topan mengangkat alis, mengambil uangnya, dan mulai mengetik.
Butuh dua jam. Yang muncul bukan dokumen rahasia negara — Bang Topan tak punya akses itu — melainkan jejak samar di dunia legal: sebuah yayasan bernama Camar Nusantara, terdaftar resmi, bergerak di bidang "pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia". Pendirinya tercantum dengan nama yang tak berarti apa-apa. Tapi salah satu pengurusnya, di akta lama yang sudah dicabut, tercatat sebuah nama yang membuat napas Reyhan tertahan: Laraswati Dewi.
Bu Laras.
Reyhan menatap layar lama-lama. Yayasan ini didirikan dua belas tahun lalu, jauh sebelum ia mengenal Bu Laras. Tujuh tahun lalu, Bu Laras mundur dari kepengurusan — tepat di tahun ia mulai bekerja penuh di organisasi intelijen. Camar Nusantara sendiri masih aktif, dengan kantor di sebuah ruko mewah di kawasan selatan kota.
Apa hubungannya dengan Sandi Merah? Reyhan belum tahu. Tapi ia tahu satu hal: Bu Laras menyembunyikan masa lalu. Seorang handler tak pernah menceritakan seluruh hidupnya pada agennya — itu wajar. Tapi yayasan bernama "Camar", nama yang muncul dari mulut Pram sebagai peringatan, bukan kebetulan.
"Yayasan ini," Reyhan bertanya hati-hati, "masih jalan?" Bang Topan mengangguk. "Aktif. Tapi aneh. Dana masuk besar, kegiatan sosialnya nyaris nol. Yayasan yang cuma jadi kulit." Yayasan boneka. Cangkang. Reyhan mengenal istilahnya — wadah legal untuk memindahkan uang atau menyembunyikan kegiatan yang sebenarnya.
Ia keluar dari kios dengan kepala penuh. Untuk pertama kalinya sejak malam itu, ia memegang sesuatu yang nyata. Bukan amplop, bukan sandi, tapi sebuah benang. Camar Nusantara. Dan benang itu, entah bagaimana, melingkar di sekitar perempuan yang membentuk dirinya.
Hati-hati pada orang yang paling kau percaya, tulis Pram. Reyhan tahu siapa yang dimaksud. Tapi mengetahui dan mempercayai adalah dua hal berbeda. Sebelum ia menuduh Bu Laras, ia butuh bukti. Bukan bisikan, bukan firasat. Bukti.
Dan bukti itu, ia yakin, ada di balik pintu kaca ruko Camar Nusantara. Ia akan masuk ke sana. Sebagai Arif Santoso, atau sebagai siapa pun yang perlu ia jadi. Esok malam.