Ruko Camar Nusantara berdiri tiga lantai, berkaca gelap, dengan papan nama yang sopan dan lampu yang redup. Dari seberang jalan, di balik gerobak kopi malam, Reyhan mengamatinya selama dua jam. Ia menghitung penjaga (dua, bergantian), kamera (empat yang terlihat, mungkin lebih), dan pola lampu yang padam lantai demi lantai saat malam beranjak. Lantai tiga adalah yang terakhir gelap. Di sanalah orang penting bekerja.
Ia masuk bukan dengan mendobrak, melainkan dengan menjadi tak terlihat. Seragam petugas kebersihan yang ia beli bekas, kartu akses palsu hasil kerja Bang Topan yang hanya berfungsi membuka pintu samping lewat celah sistem lama, dan ember pel sebagai properti. Tak ada yang mencurigai petugas kebersihan pada pukul sebelas malam. Mereka bagian dari latar, seperti tong sampah dan lampu darurat.
Lantai satu kosong. Lantai dua gelap. Tangga ke lantai tiga ia naiki dengan napas teratur, ember di tangan, hati waspada. Di lantai tiga, satu ruangan masih menyala temaram. Ia mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Sebuah ruang kerja: meja besar, layar-layar monitor, papan dengan foto-foto orang yang terhubung benang merah. Peta operasi. Dan di salah satu foto di papan itu — Reyhan menahan napas — wajahnya sendiri, dengan tanda silang merah di atasnya.
Ia masuk perlahan, hati berdebar. Di meja, sebuah map terbuka. Ia membacanya cepat: laporan tentang "aset bocor", tentang "paket Sandi Merah", tentang perintah pemulihan dengan segala cara. Ia memotret beberapa halaman dengan ponsel, tangannya bergerak gesit. Inilah bukti yang ia cari. Inilah sarang.
Lalu lampu seluruh lantai menyala terang benderang sekaligus.
"Lama menunggumu, Reyhan." Suara itu datang dari ambang pintu. Seorang pria bertubuh tegap, berjas rapi, tersenyum dingin. Di belakangnya, empat orang berjaket gelap — yang sama dari perpustakaan. Reyhan membeku. Ini jebakan. Map yang terbuka, ruangan yang sengaja ditinggal menyala, foto dirinya yang dipajang mencolok — semuanya umpan. Mereka tahu ia akan datang. Mereka menggiringnya ke sini.
"Kau pintar," kata pria berjas, melangkah masuk. "Tapi terlalu mudah ditebak. Anak gang selalu masuk lewat pintu belakang." Ia mengulurkan tangan. "Serahkan kartu dan sandinya. Kau tak punya jalan keluar. Lantai tiga, satu pintu, dan kawanku ada di setiap tangga."
Reyhan tak menyerahkan apa pun. Otaknya berlari secepat denyut nadinya. Satu pintu, ya — tapi setiap ruangan punya jendela, dan ruko ini bersebelahan dengan ruko lain dengan jarak hanya semeter. Ia teringat genteng kos di malam pertama. Tubuhnya ingat cara melarikan diri lewat ketinggian.
"Kau benar," kata Reyhan tenang, mengangkat tangan seolah menyerah, mundur perlahan ke arah jendela. "Aku anak gang. Dan anak gang tahu satu hal yang tak kalian tahu." Ia melempar ember pel berisi air ke arah lampu — percikan, korsleting singkat, sebagian lampu padam dan ruangan kembali remang. Dalam kekacauan dua detik itu, ia membanting jendela, menjejak kusen, dan melompat ke atap ruko sebelah.
Suara teriakan dan langkah berlari meledak di belakangnya. Sebutir peluru — tanpa suara, hanya desis dan pecahan beton di dekat kakinya — meyakinkannya bahwa mereka kini tak lagi ingin ia hidup. Sandi Merah lebih berharga mati daripada dirinya hidup, tampaknya.
Ia berlari di atas atap, melompati celah, menuruni pipa air, dan menghilang ke jalan-jalan kecil yang ia kenal. Napasnya tercekat, lututnya berdarah, tapi ponsel dengan foto bukti masih di sakunya. Ia lolos. Nyaris tidak.
Di gang gelap, bersandar pada tembok, ia menatap foto yang ia ambil. Di salah satunya, di pojok map, tertera tanda tangan yang mengesahkan perintah perburuan dirinya. Cahaya remang lampu jalan jatuh ke layar ponsel. Tanda tangan itu, inisial yang melingkar khas itu — Reyhan mengenalnya. Ia pernah melihatnya ratusan kali, di bawah setiap laporan, setiap instruksi, setiap pesan yang menyelamatkan dan membentuknya.
Tangannya bergetar. Bukan karena luka di lutut.