Aku berjalan cepat memasuki ruang kerjaku. Sebenarnya ini hanya kerja untuk mengisi waktu luangku selama libur semester. Hari-hari yang seharusnya aku nikmati dengan memanjakan diri, harus merana menangani dokumen-dokumem memuakan ini.
Aku hanya butuh kebebasan. Tapi, Alex tak memberiku akses. Dia ingin memperkecil kemungkinan untuk aku bisa berselingkuh. Dan dia malah tak berperikemanusiaannya memasukanku pada kantornya. Alex mengatakan, selain untuk menghindari kemungkinan aku berselingkuh, dia juga ingin menjagaku. Persetan dengan penjagaan. Aku tidak butuh perisainya. Dia malah orang yang selalu mengintimidasiku. Bukan orang diluaran sana yang tampak lebih menakutkan. Fakta bahwa aku telah gila jatuh cinta pada iblis dingin seperti Alex membuatku meringis.
Aku duduk di meja kerjaku. Masih tak terbiasa karena ini baru hari ketiga aku berkutat dengan pekerjaan kantor. Memang tak memuakan seperti yang kubayangkan. Sedikit menyenangkan memang berkerja sama dengan tim hebat dengan bagian keuangan di kantor Alex ini. Ya, meskipun kedudukannya hanya menjadi direksi keuangan kecil di sudut Kantor Alex yang megah. Semua orang yang berada dalam direksiku tampak selalu beruntung bisa menjabat di Perusahaan Lokomotif terbesar di Asia ini.
Begitu mengagumkannya Alex dimata para karyawannya. Di usia pria itu yang baru menginjak dua puluh enam tahun, Alex sudah berhasil memimpin perusahan besar dengan cabang yang menyebar, menggerogot bak kanker ganas.
Yang mereka tahu Alex selalu memiliki kinerja yang disiplin tanpa cela. Mereka menghormati Alex karena kepemimpinannya yang luar biasa. Aku bahkan sering mendengar terang-terangan para karyawati memuji Alex. Membuatku muak dan mengunci mulut rapat-rapat.
Walau bagaimanapun. Aku yang memberi peringatan pada Alex untuk tak melibatkan masalah pribadi dengan kantor. Aku meminta Alex untuk mengunci rapat-rapat hubungan kami. Dia sempat protes. Karena katanya, aku memanfaatkan kesempatan dengan status sendiriku yang diketahui orang kantor. Namun, aku tekankan agar dia mengerti, membujuknya jika hubungan kami diketahui, mungkin hal itu akan mempersempit hubungannya dengan para gadis yang mengelilinginya. Hingga dia setuju pada akhirnya. Miris memang dia hanya mendengarkan keinginan brengseknya. Aku mengerti. Sikap bermainnya pada wanita, adalah salah satu bagian dari masa lalu yang coba dia hilangkan. Dan aku tak berani untuk mencegahnya. Memangnya aku siapa? Aku hanya mainannya, kan?
Aku sedikit tersentak saat Mbak Asri tiba-tiba sudah berdiri di depan mejaku. Kesalahanku memang selalu melamun, tak mempedulikan keadaan sekitar.
Aku mendongak menatap wanita berumur akhir dua puluh tahun itu sedang menatapku dalam. Apakah ada yang salah dengan wajahku? Apakah ada kotoran atau semacamnya yang membuat Mbak Asri tampak intens menatapku?
"Kenapa Mbak?" tanyaku akhirnya. Risih juga ditatap terus tanpa tanda-tanda dia mau mengakhiri sorot tajamnya itu.
Dia menggelengkan kepalanya pelan. "Hanya penasaran saja. Kau terlalu cantik," jawabnya membuatku sedikit membelalak. Dia pasti bercanda!
Benarkan! Dia tertawa menjengkelkan sebelum menarik kursi kerjanya mendekat kearahku. Duduk dengan wajah penasaran tepat disampingku.
Sepertinya dia tipe wanita yang menyenangkan, meskipun agak menjengkelkan tingkahnya. Tapi, aku sedikit terkekeh geli juga.
"Bagaimana bisa kau masuk ke Perusahaan ini? Maksudku, terkadang bahkan aku lihat sangat tidak mungkin seseorang yang masih kuliah menjabat karyawan di kantor ini. Kau tahukan, bahkan office boy saja harus yang profesional. Mereka harus disaring dulu hingga halus," kata Mbak Asri dengan raut penasarannya. "Kecuali kau ada hubungan kekerabatan dengan petinggi kantor ini. Apa kau memiliki hubungan dengan Pak Gustaf?" Lanjutnya. Dia menyebutkan ketua direksi keuangan ini. Hey, yang benar saja. Aku saja baru mengenal rupanya.
"Aku...aku..."
"Oh, kau pasti memiliki hubungan spesial dengan Pak Alex, iya kan?" tebaknya membuatku menahan nafas sejenak.
"Hey, Mbak. Aku bahkan tak pernah menemuinya. Aku diterima kerja disini karena hasil nilaiku yang memuaskan Pak Gustaf. Aku berniat untuk mandiri. Dan mungkin itu sedikit mengugah hatinya," tekanku. Mbak Asri tampak mengelus dagunya berpikir.
"Benar juga sih apa katamu. Tidak mungkinkan jika kau memiliki hubungan spesial dengan CEO perusahaan ini, sedangkan kau hanya bagian terkecil darinya." Oh, aku harus mengecilkan hati mendengar kata-kata pedas Mbak Asri. Beruntungnya, dia percaya.
"Oh, iya. Meskipun kau karyawan baru disini. Kau harus tahu bahwa setiap pertengahan tahun perusahaan ini selalu mengadakan pesta. Ya, katanya sih, untuk lebih memberikan rasa kekeluargaan bagi para karyawan disini," ujarnya. Sorot mata Mbak Asri tampak berkilau. Dia seperti mendambakan hal-hal yang sempurna akan pesta itu.
"Benarkah? Tapi, sepertinya aku tak berniat datang ke acara itu," ujarku. Benar aku tak akan tertarik jika Alex disana. Ini beda kondisinya jika bukan dalam lingkungan kantor.
"Oh, sayangnya. Ku harap ini bisa menjadi pesta pengenalan yang baik untukmu. Aku berharap kau hadir. Mungkin juga kita akan membeli gaun bersama," tawarnya. Hal itu membuatku sedikit tersenyum risih. Wanita ini benar-benar.
Oh, tidak akan jika Alex masih menjabat sebagai CEO disini.
Aku tersentak saat ponselku bergetar. Ada sebuah pesan disana. Dengan malas aku membukanya. Melirik sekilas jika Mbak Asri benar-benar sudah duduk manis di kursinya. Aku benar-benar tahu. Bagaimana wanita itu akan membahayakan diriku jika dia tahu Alex adalah kekasihku. Mungkin saja rambut wanita itu akan terbakar. Oh, aku berlebihan!
Aku ingin kau menghadiri pesta tahunan itu. Aku sudah membeli gaun dan segala perlengkapanmu. Mereka sudah terletak cantik dirumahmu. Kau mengenalku sayang. Aku tak suka dengan penolakan
-Alexander Melvin-
Oh, ingin sekali aku melempar ponsel ini hingga kandas. Makin lama Alex membuatku seperti memiliki penyakit darah tinggi. Tapi, tetap saja aku tak akan pernah bisa memunculkan kemurkaan itu dihadapannya.
Dan rasanya ingin sekali aku mencabuti helai perhelai rambut Mbak Asri yang sekarang menatapku penasaran. Apakah tampak sekali wajahku yang sedang ingin mengguncang bumi?
-000-
Aku berdiri ditengah keramaian pesta peusahaan yang tampak riuh. Rasanya ingin sekali aku mencopot sepatu bertangkai tinggi ini agar tak menyakiti betisku. Tapi, aku harus waspada. Alex berada disana dikelilingi oleh beberapa orang yang kuketahui merupakan para petinggi perusahaan itu. Tapi, sorot tajam Alex seperti mengawasiku.
Brengsek! Bolehkah aku meraung dan mengadu bahwa ini tidak adil?
Alex dengan santainya duduk bak raja. Apalagi disisi kiri pria itu ada seorang wanita bertengger disana, duduk dengan wajah seperti memberi sorot suka yang lebih pada Alex. Aku mengenal wanita itu. Dia sekretaris Alex, Givana. Dan desas-desus mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan yang intim. Memuakan!
Aku gusar sendiri. Yang bisa kulakulan dalam keadaan normal hanyalah menenggak minuman jeruk ini dengan raut tak berselera. Aku tak berniat mengikuti jejak Mbak Asri yang sedang bercengkrama dengan Pak Gustaf. Lebih baik aku menelan batu daripada melihat Alex mengamuk dihadapan semua orang. Aku mengenal sikap pria itu yang mudah meledak. Dan tak ada pria seposesif Alex.
Kebodohanku yang tak bisa kuhindari adalah melamun disaat keadaan yang menggema. Aku tak sengaja menabrak tubuh seseorang, dan menumpahkan minumanku tepat di kemeja putih pria itu. Aku spontan mengeluarkan saputangan dari tas kecilku. Jujur, aku merasa bersalah melihat bagian lengan kemeja pria itu yang kini berubah menjadi kuning.
"Maaf," kataku, masih membersihkan kemeja pria asing itu dengan saputangan. Oh, apa aku gila mengharapkan kemeja itu utuh kembali hanya dengan sapu tangan kecil ini?
Pria itu menghentikan gerakku dengan menggapai lenganku tiba-tiba.
"Tak masalah. Ini hanya noda kecil. Mungkin aku yang salah karena menabrak seseorang yang sedang melamun tadi," kata pria itu. Ada kekehan disana. Aku hanya tersenyum sungkan, sekaligus malu.
Menyadari posisi kami yang tak bisa dibilang jauh. Aku melirik Alex. Memastikan pria itu tak mengawasiku. Tapi, sepertinya malaikat baik hati tampak tak membantuku. Aku disodorkan dengan mata pria itu yang tergumpal amarah dan wajah kaku Alex disana. Aku menelan ludah kaku. Saat sorot mata Alex bergerak kearah pintu keluar. Aku langsung paham. Alex memintaku untuk menghindar dan keluar dari sini
Dengan kepala menunduk. Aku menjauhi pria asing itu. Tak memberikan respon sama sekali saat pria itu bingung dan mencoba memanggilku. Karena aku tahu, Alex akan membunuhku perlahan dengan auranya.
Aku takut. Tanpa kusadari aku memeluk tubuhku sendiri saat memcoba berjalan keluar. Aku takut menghadapi kemarahan Alex meskipun sudah terbiasa.
Hingga aku sudah berada diluar gedung hotel ini. Seseorang menarik tanganku kuat. Aku yakin itu Alex. Aku benar-benar tak ingin dihadangakan dengan wajahnya. Untuk saat ini aku takut Alex.
Alex sudah membawaku kedalam mobilnya. Tentunya dengan sentakan kuat yang masih terdominasi dengan emosi.
"Kau berselingkuh dengannya!" Geramannya terdengar jelas.
"Aku tidak mengenalnya, Alex," jelasku. Aku mencoba jujur dengan situasi. Aku memang tak mengenal pria asing itu. Tapi percuma, yang aku dengar malah desisan sinis Alex.
"Aku belajar satu hal, bahwa orang yang berselingkuh tak akan pernah berterus terang akan kebejatannya." Alex memang keterlaluan. Pria itu menuduhku melakukan kebejatan. Namun, secara terang-terangan pria itu tak pernah memikirkan perasaanku saat dia bersanding dengan wanita mainannya yang lain. Setidaknya sedikit saja pria itu mengerti posisiku.
"Maksudmu apa? Ini hanya masalah sepele," kataku. Dia selalu membesar-besarkan masalah pria yang sedikit saja berdekatan denganku.
"Aku menghafal garis wajahnya. Alraffi Kadhafi, ketua divisi bagian pengembangan. Dia cerdas, dan disiplin. Tapi, sayangnya akan aku pastikan dia lenyap besok dari perusahaanku," sentak Alex tajam membuatku membelalak tak percaya. "Karena dia telah menyentuh milikku," lanjutnya tak gencar dengan raut permohonanku.
"Kau gila? Kupikir selama ini, seluruh bawahanmu begitu mengagung-agungkan nama pemimpin mereka yang tak pernah berkerja egois. Sang pemimpin yang katanya sempurna tanpa cela itu benar-benar pecundang. Kau pecundang yang menempatkan masalah pribadi dengan profesionalitas kerja," kesalku. Untuk pertama kalinya aku melancarkan protesku dihadapannya. Sekarang tak ada kata dalam hati.
"Aku akan melakukan apapun demi menjaga milikku. Termasuk mengancam hidup seseorang yang ingin merampasnya!"
"Kau egois Alex!"
"Dan kau mengecewakan." Suara Alex sedikit berubah. Ada nada ketakutan dan lebih terdengar lirih.
Saat wajah pria itu menghadap kesamping, menatapku dengan sorot datar. Aku seperti tak mengenal Alex saat melihat gurat kesedihan itu.
"Sungguh Alex. Aku benar-benar tak mengenal pria itu," kataku mencoba memberi penekanan disetiap kata.
"KAU TAK AKAN MENGERTI PERASAANKU, CLARA!" Alex menjerit tepat dihadapan wajahku. Membuatku tercengang dan takut. Aku sedikit bergerak mundur. Menatap Alex yang masih ingin mengeluarkan emosinya itu dengan makian yang memekakkan.
"Kau tak akan pernah mengerti perasaan seseorang yang selalu dihianati. Kau tak akan pernah tahu," lirihnya. Tapi Alex seperti seseorang yang sedang meracau dalam tidurnya. Dia gelisah.
Aku harus menguatkan batinku sekarang. Tidak mungkin aku meninggalkan Alex dengan nelangsanya. Hatiku sedikit miris. Priaku tampak tak gagah seperti biasanya. Wajah tampannya memudar. Dia seperti membayangkan kilasan kejadian lampau.
"Maafkan aku Alex. Aku salah," kataku mencoba berlapang d**a. Perlahan tubuhku mendekat kearahnya. Memeluk pria itu dengan hangat. Semarah apapun Alex. Pelukan Alex adalah rumah yang akan aku singgahi karena selalu menenangkan jiwaku.
Aku yakin. Pergejolakan emosi Alex ada kaitannya dengan masa lalu kelam pria itu. Alex tak pernah berbagi ceritanya padaku. Tapi, Alex selalu mengharapkanku untuk terbuka tentang hidupku.
Alex priaku yang egois, priaku yang posesif, dan pria yang aku cintai tanpa sadar.
Aku mengelus punggung Alex, menenangkan. Dan Alex kini sudah memelukku erat, sangat erat membuatku susah bernafas dengan normal. Namun, aku diam tak berani bersuara, apalagi mendesah tak ingin.
-000-
Aku berjalan kesal menuju ruangan Alex. Rasanya aku ingin meremukkan wajah-wajah yang berada dalam divisiku waktu mereka menatapku penuh minat, saat tiba-tiba Pak Gustaf mengatakan bahwa aku dipanggil sang CEO. Kalian tahu apa yang direspon oleh para penghuni divisiku? Menjengkelkan! Ada yang menahan nafas mereka tak percaya, tersenyum menggoda, bahkan Mbak Asri hendak mencubit pipiku karena terasa mimpi. Berlebihan sekali mereka.
Oh, astaga! Dia Alexander Melvin. Pria itu juga manusia biasa yang kebetulan menjadi pemimpin perusahaan ini. Tapi, mereka malah mengatakan, 'Ini keajaiban Clara. Kau satu-satunya karyawan dari divisi keuangan kecil di perusahaan ini yang dipanggil si bos besar,' teriak mereka heboh. Bahkan Pak Gustaf menimpalinya dengan anggukan setuju.
Kesalku bukan main. Harusnya aku sudah menyantap makan siangku. Bukan malah main ke kandang singa.
Saat aku sudah tiba dihadapan ruang kerja Alex. Disini aku disodorkan oleh Givana, sekretarisnya Alex yang asik dengan cermin ajaibnya. Seolah cermin itu bisa mengatakan bahwa dialah wanita tercantik sejagad raya ini. Givana bahkan tersenyum, seperti senang dengan rupanya dari cermin itu. Ingin mempesona Alex dengan wajah berbedak tebalmu itu, hah?
Demi profesionalitas kerja. Aku menghadap pada Givana. Walau bagaimanapun aku harus mencerminkan kedisiplinanku untuk menghargai Givana sebagai sekretaris Alex, bukan sebagai sainganku.
"Permisi, Pak Alexnya ada?"
Givana mendongak. Dia meneliti wajahku, pakaianku, hingga postur tubuhku. Oh ayolah, tubuhnya yang montok itu tak akan sebanding denganku yang kecil dan pendek ini. Baiklah aku merasa kalah akan hal ini. Dan kalian jangan mentertawakanku. Tinggi tubuhku yang hanya 157 sentimeter ini setidaknya lebih baik daripada tinggi badan Mbak Asri yang pendek dan gempal itu. Oh, bodohnya membandingakan dengan yang tak istimewa.
"Kau mau apa?" Dia memasang sikap waspada.
"Oh, tenang aku tak akan mengambilnya darimu. Dia yang memanggilku," terangku tak sabaran.
Givana tak percaya. "Pak Alexnya sedang tidak ada," katanya menguji kesabaranku. Enak saja dia mengatakan tidak ada. Dia sudah merusak jam makan siangku!
Tanpa menunggu reaponnya, aku langsung bergegas memasuki ruang kerja Alex. Sudah muak melihat kilauan lipstick Givana yang semerah darah itu.
"Hey, kau mau apa?"
Givana mencoba mencegahku. Namun terlambat pintu itu sudah kubuka. Dengan cepat Givana langsung berjalan mendahuluiku menghadap Alex yang berkutat dengan lembaran dokumen yang bertumpuk dimejanya.
"Mohon maaf pak. Dia memaksa masuk," katanya menunduk.
Alex mengalihkan perhatiannya menatap kami. "Aku yang menyuruhnya masuk, Givana," ujar Alex memunculkan seringaian kemenangan diwajahku.
Givana tampak salah tingkah. Sekilas aku melihat Givana mengigit bibir bawahnya menggoda. Sialan w************n ini!
"Tapi pak..."
"Dia tamuku Givana. Kau tidak berhak mengaturnya," tegas Alex yang tak lepas menatapku.
Aku tersenyum kemenangan sebelum menjulurkan lidahku saat Givana melewatiku, hingga dia menghilang dari pintu yang sedikit terhempas. Tampaknya dia akan membenarkan tatanan rambutnya yang seakan terbakar, atau paling tidak menebalkan bedak diwajahnya yang sudah dicucuri keringat dingin.
"Kau senang?" Alex melangkah mendekatiku.
Aku menatap pria itu. "Ya, aku seperti menghancurkan mainanmu yang tak ada gunanya," kataku puas.
Alex terkekeh. Jemari Alex mengelus lembut rambutku, membuatku tanpa sadar memejamkan mata menikmatinya.
"Kau harus mengganti sekretaris murahan itu!"
"Kau yang mengatakan agar aku bersikap profesional dengan pekerjaan, sayang." Alex melangkah menuju sofa di pojok kiri ruangan kerjanya.
Sungguh aku tak pernah menyangka ruang kerja Alex akan semenakjubkan ini. Luas, bersih, lengkap. Wow!
"Kupikir ini rumah, bukan kantor," sindirku saat mataku melihat alat gym Alex bertengger di pojok ruangan besar ini.
Alex tak peduli. Dia mengangkat kedua bahu acuh dan lebih memilih duduk di atas sofa itu dengan santainya.
Aku menyusul, memposisikan duduk lebih dekat disamping pria itu.
"Bagaimana?"
"Apanya?" Tanya Alex bingung. Lengan Alex merangkul bahuku. Membuat kami tak ada jarak.
"Bagaimana jika kau memecat si Givana itu?"
"Oh, kau yang menyuruhku untuk tak menjadi pecundang," ingatnya membuatku cemberut. Iya, benar. Tapi, ini beda kasusnya dengan si ganjen Givana.
"Bagaimana jika kerjaan si wanita centil itu hanya berdandan di luar sana? Oh, dia benar-benar merusak mataku dengan bedak tebalnya," aduku.
Alex tampak memiringkan wajahnya menatapku. "Akan aku pertimbangkan," putusnya.
"Hanya itu?"
"Oh, sudahlah tak usah bicarakan dia. Aku menyewamu kesini untuk menemaniku makan siang."
"Dan karenamu. Aku jadi bahan olokkan di divisiku," kesalku menatap makanan di meja depan dengan nelangsa. Karena makanan itu Alex memanggilku. Bukan! Tapi ini karena sikap tukang perintah Alex.
Perlahan aku membuka bungkusan makanan itu. Setelahnya aku memberikannya kepada Alex. Membiarkan pria itu makan dengan lahapnya. Aku tahu betapa mengenaskannya jam makan yang sering dilewatkan oleh Alex.
Suara ketukkan pintu membuat keterpakuaku pada Alex berpindah. Aku bersumpah! Jika yang muncul dari sana adalah Givana. Aku tak segan melemparlan makan siangku ke wajah sialan wanita itu.
Namun, aku terpukau sesaat. Ketika seorang wanita masuk dengan pakaian semi formal yang elegan. Dia sempurna, itu penilaianku terhadap sosoknya.
Tapi, aku merasakan tubuh Alex menegang disisiku. Aku menoleh pada Alex dan sungguh diluar dugaan. Alex menatap wanita sempurna itu dengan sorot yang tak bisa aku definisikan.
"Levina---" Alex menggumamkan nama itu dengan gemetar.
Levina?
Siapa Levina?
Apa dia?...
Bersambung...