Aku menatap pintu besar diruangan kerja Alex dengan kesal, marah, dan bingung. Jangan tanyakan dimana keberadaan Alex, karena pria itu langsung pergi meninggalkanku, membawa sosok wanita bernama Levina itu. Dengan wajah tanpa dosanya. Dia bahkan tak mengatakan apapun sebelum meninggalkanku seperti patung yang tak ada minatnya untuk dilirik. Kesalnya bukan main.
Aku membuang kasar. Menetralkan dentuman yang menggebu dijantungku saat melihat Alex tadi mengenggam jemari Levina dengan lembutnya. Membawa wanita dengan pendiskripsian sempurna itu keluar entah kemana. Mungkin mereka akan menjalankan kencan bersama. Atau mungkin juga Levina itu wanita mainannya Alex yang baru. Sayang sekali, cantik-cantik menjadi boneka.
Tapi, ada yang janggal tadi. Saat cara Alex menatap Levina, dan membawa wanita itu. Biasanya dalam keadaan apapun. Saat aku berasamanya. Alex tak pernah menunjukan keinginannya untuk bersama dengan w*************a itu. Alex selalu mengutamakanku di atas mereka. Namun tadi...
Sudahlah, percuma membaca gelagat Alex yang tak pernah mengatakan apapun tentang hidupnya. Jika dipikir-pikir. Akukan hanya sebatas rasa tanggung jawabnya, bukan kekasih sejatinya.
Aku keluar dari ruangan Alex. Bosan juga menunggu pria itu kembali. Padahal waktu sudah menunjukan habisnya jam istirahat kantor.
Disana di depan ruangan Alex, Givana tampak memasang wajah luyuh, dan kedua tangannya dia jadikan penopang dagunya yang tampak ingin jatuh ke lantai. Dia tampak frustasi sekali. Ada apa gerangan?
"HEY!" Teriakku tepat dihadapannya. Dan dia terkejut bukan main, hingga kursinya tampak berdecit dengan lantai mundur bebeberapa jarak.
"Kau!" Geramnya. Dia berdiri dan membusungkan dadanya tidak terima akan sikapku. Dia juga memasang tinju tepat di depan wajahku. Aku mundur selangkah, dan memasang wajah pura-pura takut.
"Kau patah hati?"
Dia malah mendelik padaku, dan memasang wajah sewotnya tak suka.
"Saranku, kau harus siap-siap patah hati. Kau lihat, wanita tadi lebih sempurna berkali lipat darimu," kataku mencoba memasang wajah prihatin.
Dia membelalak lebar. "Memang kau siapa, hah?" Kesalnya, bibir berlipstick merahnya sudah menipis membentuk garis.
Aku? Aku tunangan atasanmu itu.
Aku mengangkat bahu tak minat menjawab pertanyaannya. "Aku kan hanya memberi saran, nona pemarah," cibirku, menjulurkan lidah mengolok pada wanita ular itu.
Setelahnya aku berlari, meninggalkan Givana dengan mata berkobar amarah. Kau tahu, aku paling suka menjahili nenek lampir seperti Givana itu.
Oh tidak! Mungkin saja, satu persatu wanita mainan Alex akan aku lenyapkan. Muak juga melihat mereka sepertj ular yang melilit ditubuh Alex. Membuatku merasa tercekik melihatnya.
-000-
Aku hanya bagian kecil darimu.
Bagian yang tak memberiku untuk mengaku.
Aku hanya setitik putih diatas hitammu.
Yang tak pernah hilang, meskipun telah terganti.
"Baru pulang?" Aku menoleh kearah samping kiriku dengan raut bingung. "Aku yang kau tabrak di acara pesta perusahaan waktu itu. Ingatkan? Gadis yang tak sengaja aku tabrak karena melamun," lanjutnya tersenyum manis.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Alraffi Kadhafi." Dia menjulurkan tangannya padaku. Membuatku, harus tahu diri untuk menjawabnya. "Clara Larasati."
"Mau kuantar pulang?" Tawarnya, dia pria yang baik dan hangat sepertinya. Aku orang yang baru mengenalnya saja sudah bisa suka dengan sikap pertemanannya.
"Tidak, usah. Aku sedang menunggu seseorang," kataku mencoba tersenyum juga.
"Kau tidak lihat, hari sudah mendung. Mungkin sebentar lagi hujan."
Aku melirik gelisah kesekitar. Alex kemana? Dia yang memintaku pulang bersamanya. Namun saat aku tanya dengan Givana, pria itu masih belum kembali dari kepergiannya bersama Levina. Membuatku gusar saja.
Tidak biasanya dia pergi sebegitu lamanya. Apalagi hanya berkencan dengan wanita-wanitanya.
"Bagaimana?" Aku tersadar dari lamunanku.
"Oh, tidak perlu. Aku sudah ada janji dengan seseorang," jawabku. Raffi tampak mengerti, dia menangguk paham, dan berpamitan pulang sebelum menuju mobilnya yang terparkir. Aku masih seperti orang bodoh yang menunggu Alex di depan gedung perusahaan ini.
Lihat saja nanti, jika lima belas menit tak ada tanda-tanda pria itu datang. Aku tak akan berpikir lagi untuk memberhentikan taksi.
Perlahan, namun pasti. Gerimis turun, hingga menjadi rintik-rintik yang kian lebat. Aku menggerang kesal. Dan langsung berlari ke arah jalan untuk memberhentikan taksi. Yang benar saja! Aku harus menunggu Alex seperti kucing yang menggigil nantinya?
-000-
Aku mengetik kode rahasia apartemenku dengan lesu. Untung saja aku tak bodoh untuk tetap menunggu Alex di kantor tadi. Sekarang hujannya awet sekali.
Saat memasuki apartemen aku merasa aneh dengan lampu yang menyala. Setahuku, aku sudah mematikan lampu itu sebelum berangkat kerja, kecuali jika---
Aku menangkap sosok Alex yang terbaring di sofa panjang ruang tamu. Kedua kakinya menyentuh lantai, dan masih terbalutkan sepatu kerja mengkilatnya. Apakah posisi tidurnya itu tak membuat tubuhnya sakit?
Eh, tunggu dulu. Dia Alex kan? Orang yang sedari tadi kutunggu seperti orang bodoh. Bagus! Dia bahkan berada di aparetemenku sekarang.
Dia melenguh pelan, lalu bergerak perlahan, hingga membuka kedua matanya. Wajahnya tampak lelah sekali. Apa terjadi sesuatu dengannya?
Melihat kondisinya. Aku langsung melangkah mendekati Alex.
"Kau baru pulang?" Tanyanya saat aku berdiri dihadapannya.
Pertanyaan macam apa itu?
"Kau pulang dengan taksi, atau..." kata-katanya menggantung. Membuatku memutar bola mata malas. Masih sempat-sempatnya dia menuduhku berselingkuh?
Aku tak menggubris, dan malah duduk tepat disampingnya. Dia masih memandangku gemas.
"Aku baru saja diantar pulang oleh pria tampan," pamerku, menatapnya tersenyum senang.
Dia malah terkejut dan semakin memajukan posisinya menghimpitku.
"Kau menantangku?" Geramnya.
Aku malah memancingnya dengan mengangkat bahu tak peduli. Sekarang kepalaku sudah aku sandarkan dibahu kanannya, mencium dalam-dalam wangi yang menguar dari tubuhnya, wangi Alex yang sangat menjadi kesukaanku.
"Kau posesif sekali," Cibirku.
Tapi, cibiranku tak memancingnya untuk menjawab.
"Bagaimana bisa aku berdekatan dengan mereka. Jika ada iblis yang selalu mengawasiku."
Dia masih tak bergeming. Aku meliriknya dari sudut mataku.
"Kau kenapa?" Kesalku akhirnya, menatap wajah Alex yang masih bersandar lesu di kepala sofa. Harusnya aku yang marah karena terlalu lama menunggunya. Tapi, ya sudahlah.
Dia meliriku lebih lama, kemudian menghembuskan nafas berat. "Aku minta maaf jika selama ini aku mengekangmu dengan segala sikap otoriterku. Aku tahu, kau muak. Tapi, seandainya waktu bisa aku kendalikan. Aku akan meminta agar kita tak pernah bertemu sama sekali," ujarnya. Aku menatap dengan sorot yang tak percaya akan kata-katanya. Dia terlihat lemah dalam berpikir. Alex yang selalu tegas, dan keras kepala itu sekarang malah memikirkan bagaimana perasaanku. Itu terlambat! Sungguh, benar-benar terlambat saat auranya sudah membuat hatiku bertekuk lutut padanya. Dia tak perlu begini.
"Hey, kau kenapa?" Tanyaku cepat dan memeluk lengan Alex kuat.
"Aku hanya merasa bahwa aku salah. Kita salah. Dan seharusnya aku tidak egois," jelasnya.
Dia membahas tentang perjodohan satu tahun silam?
Ini terlambat Alex. Setelah kau memporak-porandakan hatiku. Membuatku meraung kesakitan beberapa bulan karena asing dengan duniamu, sakit dengan sikapmu, dan akhirnya jatuh dalam pesonamu. Beberapa bulan kemudian, aku terhanyut karena kau selalu ada. Karena kau bersikap sebagai pria kepada gadisnya. Meskipun sedikit saja, kau tak pernah menyanjungku dengan manisnya sebuah kata cinta. Aku tak butuh itu. Bagiku cinta yang aku jalani bersamamu adalah sikap kedewasaan yang tak perlu ada ungkapan. Tapi, dengan bangganya kau mengakui diriku sebagai kekasihmu di depan teman-temanmu. Kau menganggapku itu sudah cukup. Aku tahu itu kekuranganmu, yang masih diam membisu dengan masa lalu yang tak ingin kau ceritakan padaku. Aku mengerti. Dan aku ingin kau merubah sedikit cara pandangmu. Bagaimana aku bukan lagi gadis yang menentang perjodohan kolot ini. Aku tak akan berontak seperti dulu. Aku akan menjadi orang pertama yang memperjuangkan, arti kita.
"Maksudmu apa? Aku tak mengerti." Aku hanya pura-pura bodoh dan tak ingin mendengar kata-katanya yang mungkin akan mencabikku
"Aku ingin kita berakhir."
Aku sedikit menjauh darinya, menatapnya miris, dan menghembuskan nafas panjang yang diliputi akan ketidakpercayaan.
Katakan ini hanya mimpi!
"Kau---" kata-kataku menggantung seiring dia juga menegakan duduknya. Menatapku dengan wajah lelahnya.
"Mulai sekarang. Kau bisa menjalani hidup seperti yang kau inginkan dulu. Tanpa aku, kekanganku, dan hubungan menyakitkan ini," tandasnya. Kau baru mengajukan penawaran sekarang setelah lama aku terbiasa dengan segala duniamu?, jeritku dalam hati.
"Aku tak ingin lagi menyakiti lebih banyak orang lagi," suaranya parau.
Entah sudah berapa banyak oksigen yang aku hirup dalam-dalam. Namun itu percuma untuk membiasakan rasa terlukaku.
"Dia kembali, dengan luka lama yang sudah aku tancap dalam." Matanya seperti mengeluarkan luka disetiap katanya. "Fransiska kembali." Sudah cukup! Aku benci jika nama wanita itu keluar dari bibir Alex. Aku mengharamkannya! Apakah aku egois karena ingin priaku membuang nama wanita pecundang itu untuk menjauh tanpa sisa? Apa aku salah mempertahankan hubungan yang ada hatiku didalamnya? Apa aku salah ingin egois dalam memiliki Alex seutuhnya? Aku salah?
Fransiska Evelyn, nama yang cantik bukan? Ya, seperti rupanya. Aku mengakui itu. Betapa mempesonanya wanita itu meski dari figur lama yang aku tatap.
Alex sama sekali tak memberiku izin untuk memberitahu masa lalunya. Namun, mamanya Alex-lah yang turut andil memberiku sedikit cerita tentang bagaimana karakter Alex yang keras itu tumbuh.
Fakta bahwa perempuan bernama cantik Fransiska itu adalah bibit dari segala masalah perubahan sikap Alex.
Dia meninggalkan Alex. Beralibi bahwa wanita itu tak bisa bersama pria yang tak pasti. Alex bukan tak pasti. Dia hanya meminta wanita bernama Fransiska itu untuk mengerti posisinya yang bertanggung jawab membangun perusahaan yang baru dia rintis di usia muda waktu itu. Dia hanya ingin Fransiska bersabar sedikit saja.
Saat itu, ekonomi keluarganya tidak sekuat ini. Dia hanya Alex yang sederhana. Yang memiliki obsesi untuk membuat orang disekitarnya bahagia. Itu saja. Dia hanya ingin mengutamakan kepentingan orang tuanya waktu itu. Dia hanya ingin kelak orang tuanya hidup dengan layak seperti sekarang, baru dia akan membangun sebuah hubungan yang lebih serius dengan Fransiska.
Mendengar omongan mamanya Alex membuatku semakin muak dengan wanita bernama Fransiska itu.
Tidak sampai disitu. Perkataan mamanya Alex yang lain lebih mengejutkanku. Waktu itu Fransiska sempat-sempatnya mengambil uang milik Alex dalam nominal yang tak sedikit. Uang bermilyaran Fransiska bawa kabur bersama kekecewaan dan luka Alex yang mencekik sisi gelap pria itu. Alex tidak kecewa akan sikap Fransiska yang membawa kabur uangnya. Dia hanya kecewa pada gadis itu, pergi setelah mengatakan bahwa wanita tak berhati itu sudah bosan dengan Alex yang tak pernah memikirkan perasaannya.
Hingga saat bagian mama Alex menceritakan, pernah suatu hari Alex melihat Fransiska bersama dengan pria lain. Alex berhari-hari menjadi sosok pria yang dingin. Alex tak hangat lagi seperti dulu. Itu membuatku memejam mata erat-erat, ingin sekali mencongkel kedua mata Fransiska hingga dapat.
Alex menjadi bermain-main dengan wanita, menjadi posesif terhadapku hanya karena aku bagian dari miliknya, bukan aku bagian dari tanggung jawabnya.
Lalu haruskah wanita itu hadir lagi? Tapi untuk apa? Untuk menjadi peran antagonis dalam kisahku bersama Alex? Lalu, dia akan menghilang atau mati seperti film-film kebanyakan, karena pada akhirnya hanya putrilah yang bersanding dengan pangerannya. ITU FIKSI!
"Kau memikirkan perasaannya? Sedangkan aku?" Aku terpancing emosi melihat sikap Alex yang lemah. Dia bukan Alex-ku.
Alex menggelengkan kepalanya samar. "Bukan, aku hanya ingin kau bahagia,"jelasnya.
Tapi kebahagiaanku bersamamu, ALEX!
"Aku hanya ingin menebus kesalahanku terhadapnya, Ra. Mengertilah!" Menebus apa? Wanita jalang itu yang salah, bukan kau!
"Kau memintaku untuk mengerti? Baik aku akan mengerti. Tapi, tidak dengan mengakhiri hubungan ini. Sampai kapanpun aku akan mempertahankan hubungan ini. Biarkan aku tetap disisimu."
Aku sudah menahan air mata sialan ini agar tidak menangis. Aku tidak ingin terlihat lemah dihadapan Alex yang juga lemah.
Bersambung...