Aku menatap Alex penuh pertimbangan. Saat ini, dia sedang mengantarkanku berangkat kerja, tepatnya kami BERANGKAT BERSAMA. Ini gila! Saat kemarin dia yang berubah dan menginginkan hubungan ini berakhir. Dia malah semakin aneh sekarang. Dia tak mengatakan apapun selain, "beri aku waktu." Entah apa maksudnya Alex. Yang jelas, jika dia tak mengusirku dari hidupnya itu tak masalah. Perlahan aku tersenyum saat meneliti garis rahang Alex yang kokoh. Dia memang pria yang tak banyak bicara.
"Kau tak berniat orang kantor tahukan?" Ingatku agar Alex menepikan mobilnya didepan halte dekat perusahaan. Dan sekarang halte itu sudah lewat, membuatku harus menatap halte itu kesal dan berpaling pada Alex yang santai. Gemas sendiri aku melihat wajah datarnya.
"Alex!" Panggilku kesal.
"Jangan berisik! Kau membuatku sakit kepala," omelnya. Spontan aku membulatkan mata. Ini tak ada sangkut pautnya dengan sakit kepala pria itu. Yang jelas, aku harus bertindak.
"Aku akan loncat, jika kau tak mau memberhentikan mobil ini," ancamku. Namun, sialnya Alex malah menantang dengan menambah kecepatan mobilnya.
"Kau gila, Lex!," Geramku.
"Jangan berisik, atau kau benar-benar akan kutendang dari sini." Dia malah mengancam balik. Membuatku mencebikkan bibirku. Dia selalu tahu bagaimana menjadi orang egois yang baik. Alex benar-benar!
Saat mobil Alex sudah terparkir ditempatnya. Cepat-cepat aku mengeluarkan beberapa berkas dari tasku. Ini akan berguna untuk melakukan penyamaran. Ya, setidaknya map ini bisa menutupi wajahku.
Aku mengintip kesekitar, berharap tak ada yang menganggapku bandit. Tepat saat aku melihat pintu masuk perusahaan. Aku tak sengaja melihat Mbak Asri tampak melihat kearah sini penuh dengan sorot penasaran. Mau apalagi wanita dengan keingintahuan tingkat dewa itu?
Saat aku hendak melirik kearah Mbak Asri lagi. Alex malah mengejutkanku dengan membuka lebar pintu mobil dan menyuruhku untuk keluar.
"Keluar, ra," pintanya. Aku menatap kesekeliling takut-takut. Ini melebihi film horor karena teriakan yang memekakan dan penuh keingintahuan divisiku itu lebih kepada bencana. Aku orang yang tak ingin membicarakan segala sesuatu panjang lebar.
Saat aku lengah. Alex malah menarik lenganku kuat. Hingga aku terhuyung kedepan membentur dadanya. Aku melirik kilatan kekesalan dari mata Alex. "Kau manja!" Desisnya dan langsung meninggalkanku.
Persetan dengan penutup wajah atau penyamaran apapun. Yang jelas saat ini aku harus bersembunyi dibalik punggung Alex. Berjaga-jaga jika ada yang menginterogasiku, Alex akan siaga menjawab apapun itu. Ya kuharap begitu, jika sifat egoisnya tak muncul.
Langkah Alex cepat membuatku harus berlari untuk mensejajarkannya. Wajahku tebal, sungguh. Semua orang yang melihatku memberikan tatapan horor.
Hingga saat kami memasuki lift yang sesak padat, itu semakin membuatku serba salah. Aku dihimpit antara Alex, dan Raffi. Ini mengesalkan. Belum lagi saat Raffi tiba-tiba menyunggingkan senyum hangatnya padaku. Membuatku menahan nafas agar Alex tak bertindak bengis.
Seolah tahu dengan tawanannya. Alex sekarang melingkarkan tangannya dipinggangku, Raffi terlihat tak percaya. Ada sorot lirih dan tak terima yang kulihat. Semakin lama Alex kian menghimpit tubuhku tak berjarak. Raffi kini sedang memalingkan wajahnya dariku. Lebih memilih menatap depannya yang tampak menarik untuknya.
Saat lift terbuka. Aku menghembuskan nafas kuat, Alex melirikku bingung akan itu.
"Jangan bilang, kau merasa bersalah padanya?" Cerca Alex menatap punggung Raffi yang sudah berlalu.
Aku tak menjawab apapun selain langsung berjalan lebih dulu agar sampai diruanganku. Yang jelas aku butuh tempat duduk.
-000-
"Ra, kau bercandakan? Bagaimana bisa kau bersama Pak Alex?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut sibuknya mbak Asri saat aku baru saja melewati pintu ruangan itu. Dudukpun belum. Bernafas dengan lancarpun belum. Dasar si singa betina ini!
Aku tak berminat untuk menjawab. Dan langsung melesat duduk di kursi kerjaku. Sudah aku bilang, sekarang aku butuh tempat duduk!
Berbondong-bondong mereka menghampiriku. Dari mulai mbak Asri, hingga Rina yang biasanya tampak pendiam itu kini sudah bertengger di depan mejaku.
"Kau ada sesuatu dengannya?" Tanya Ardi terdengar putus asa. Hey, maksudnya apa itu? Dia cemburu dan menyukai Alex?
"Kau beruntung sekali, Ra," timpal Rina tersenyum senang. Aku serba salah jadinya.
Aku menggaruk tengkukku salah tingkah. Mata mbak Asri mendelikku seperti meminta penjelasan.
"Bukan begitu," sangkalku cepat.
"Lalu bagaimana? Kau membuat kami penasaran," gemas mbak Asri. Hampir saja kedua pipiku menjadi santapannya untuk dicubit.
"Pak Alex itu..."Aku menatap kesegala arah agar tak menatap mereka. "Ya, Pak Alex itu sepupuku," sangkalku cepat.
Mereka tampak terlihat bingung. Setelah itu mbak Asri membuka mulutnya lebar. Aku harap tak akan ada lebah yang masuk.
Ardi mendesah lega. Lalu menatapku berbinar. "Syukurlah," ujarnya puas. Maksudnya apa itu? Dia benar-benar naksir dengan Alex?
Mbak Asri tampak masih tak percaya. "Kau benar-benar!" Katanya gemas. Aku tak mengerti dan langsung menatapnya. "Kenapa kau tidak bilang dari awal. Jika kau adalah sepupunya Pak Alex, hah? Aku kan bisa mengandalkanmu untuk mendapatkan tanda tangannya," lanjutnya dengan nada yang membuat telingaku hampir meledak. Suaranya seperti desahan yang menggelikan.
"Bahkan aku bisa membantumu mendapatkan ciumannya," tawarku sembari menaik-turunkan alisku menggodanya. Setelahnya dapat aku saksikan, Mbak Asri terlihat tanpa harga diri meluruhkan tubuhnya ke lantai. OH!
-000-
Hujan dengan derasnya turun saat aku berniat pulang. Rasanya sakit sekali tubuhku bekerja hingga malam seperti ini. Salahkan perusahaan ini yang terlalu mengutamakan kesuksesan proyek daripada nasib para karyawannya.
Aku mengetuk-ngetukkan separu fantopelku ke lantai. Mungkin tidak akan buruk menunggu di lobby perusahaan ini hingga hujan reda. Mungkin tidak akan buruk jika Alex benar-benar ada kabarnya. Aku mengumpat dalam hati saat mengingat beberapa saat lalu aku menuju ruangan Alex dan disodorkan sikap sinisnya Givana itu. Givana bahkan tak memberi tahuku dimana pria itu. Kau tahu apa yang dia katakan? 'Memangnya kau siapa?' Ketusnya waktu itu dan membuatku ingin menjambak rambut gelombangnya.
Hembusam nafas kasar aku keluarkan untuk yang kesekian kalinya, melihat layar ponsel yang sama sekali tak ada gunanya. Beberapa kali aku menelpon Alex. Berkali-kali juga suara operator itu membuatku muak.
Hingga aku merasakan keberadaan seseorang disampingku. Aku mendongak menatapnya. Dan tersenyum saat melihat Raffi hendak bersiap pulang.
"Sedang menunggu?" Tanyanya. Dia melirik hujan yang turun cukup deras. "Kau tahu ini sudah malam dan hujan. Mungkin akan pulang bersama?" Tawarnya membuatku gemas, tak kuasa menolaknya. Mungkin tidak buruk pulang bersama orang sebaik Raffi. Tapi masalahnya adalah pria posesif bernama Alex itu.
Aku melirik jam. Ini sudah cukup malam untuk pulang jika aku masih menunggu hujan benar-benar berhenti.
"Apa tidak apa-apa?" Sebenarnya pertanyaanku lebih menjurus kepada reaksi Alex. Namun bagaimana bisa aku sepaham dengan pikiran Raffi yang bukan cenayang?
Dia tersenyum hangat. "Tenang saja. Aku akan mengantarmu hingga rumah dengan selamat, nona manis," godanya, lalu terkekeh pelan melihat wajah bimbangku.
Aku mengangguk setuju. Dan berjalan beriringan bersamanya. Dapat aku lihat senyum puas diwajah tampannya.
"Kau mengenal Pak Alex?" Tanya Raffi saat kami sudah memasuki mobilnya.
Aku menatapnya langsung. Lebih tepatnya memikirkan apa yang harus aku jawab. "Oh, tentu saja hanya sebatas atasan dan bawahan," kilahku. Aku juga tertawa renyah.
"Sedekat itu?" Tanyanya. Oh aku tahu. Dia pasti ingin tahu kejadian saat pagi tadi. Saat Alex dengan gamblangnya memeluk pinggangku posesif. Sungguh, aku benar-benar tak berniat menjawabnya.
Saat beberapa detik berlalu dan aku memutuskan untuk menatap jalanan di depan. Aku bisa mendengar hembusan nafas Raffi. Aku tahu dia bukan orang yang pemaksa.
"Kuharap kita bisa menjadi teman baik," katanya. Aku mengangguk sekilas. Masih tak bisa beradaptasi dengan cuaca malam yang dingin. Aku sangat sensitif dengan udara malam. Apalagi hujan seperti ini.
Saat lampu merah ditengah perjalanan. Keadaan sekitar lebih menarik minatku. Hingga saat aku benar-benar merasa penasaran pada satu titik fokusku. Aku semakin menyipitkan mataku untuk sekedar lebih melihat jelas seseorang di dalam mobil sport putih itu. Aku kenal, dia Alex. Tapi, mengapa ada seseorang di dalam sana. Seorang wanita yang mengusik ketenanganku. Aku tak berharap Alex berhenti dengan cara dia bermain pada wanita. Aku tahu itu butuh waktu. Semuanya butuh proses. Namun, saat aku dapat melihat dengan jelas. Bagaimana guratan kesedihan itu hadir diwajah Alex. Aku mengernyit bingung. Wanita disebelah Alex itu menangis. Dia seperti melontarkan kalimat-kalimat yang membuat Alex memejamkan kedua matanya erat.
Dan saat itu juga. Aku baru mengetahui satuhal. Bahwa wanita itu adalah Fransiska Evelyn.
Bersambung...